
Cuaca langit sudah mendung, sebentar lagi akan menumpahkan airnya ke bumi. Sri Utami masih duduk termenung di pinggir sungai, mengingat tindakan yang dilakukannya, ia membayangkan betapa marah ayahnya. Bayangan Van Berg terlintas dipikirannya, ia masih menimbang keputusannya apakah dia salah jika memilih bersama Van Berg.
Selagi masih memikirkan Van Berg, terdengar dari arah belakang orang yang berjalan. Sri Utami langsung bangkit, ia melihat seorang kakek dan nenek tengah memikul kayu bakar dari hutan. Sepasang suami isteri tua itu melihat ke arah Sri.
" Nyai geulis kunaon aya didieu? naha diacuk siga panganten ieu teh aki?" (Kenapa Nyai cantik ada disini? kenapa berpakaian seperti pengantin begitu ya kek?) ujar si nenek ke arah suaminya.
"Nya muhun nyai, nuju naon didieu? atuh loba reungit, hayu ngiring ka aki we jeung nini!"
(Iya betul Nyai, lagi apa disini? disini banyak nyamuk, ayo ikut sama kakek dan nenek aja!) ujar si aki.
"Abdi nuju kabur tibumi, ayeuna teu gaduh tujuan ni aki, teu nanaon pami abdi ngiring sareng aki nini?" (Saya sedang kabur dari rumah, sekarang tidak punya tujuan ke nek, tidak apa-apa kalau saya ikut dengab nenek dan kakek) ucap Sri Utami sambil tersenyum ke arah nenek dan kakek tersebut.
" Nya atuh, hayu pan diajak ku aki sareng nini tadi ge, kabeneran yeuh aki tadi meunang hayam leuweung, urang beuleum." ( Iya, ayo kan tadi diajak sama kakek dan nenek juga, kebetulan kakek dapat ayam hutan, kita bakar) jelas si kakek.
"Hayu atuh Nyi, yap!" ( Ayo, Nyai) ajak si nini dengan ramah.
Sri Utami memanjatkan syukur kepada Ilahi bertemu orang yang peduli kepadanya, air matanya menetes karena terharu, ia pun membawa kudanya mengikuti kakek dan nenek.
" Ki, nini, eta suluhna kadieu disimpen wae dina kuda, meh teu beurat," (Kakek nenek kayi bakarnya disimpan diatas kuda aja, biar tidak berat) tawar Sri Utami.
" Wios we nyai, tos biasa, hayu gura giru bisi hujan manten." ( Sudah tidak apa-apa Nyai, udah biasa, ayo cepat-cepat takut keburu hujan) ucap Nenek.
Ketiga orang tersebut pun berjalan dengan sedikit dipercepat menuruni bukit menuju ke pinggiran kampung.
****
Heeeak Heeaaak
Kuda dipacu dengan cepat oleh sekitar 15 orang penunggang kuda untuk mencari jejak Sri Utami, namun yang dicari tidak ditemukan, baunya sekali pun tidak ada. Kuda diberhentikan ditengah perjalanan dekat hutan bambu karena melihat cuacana mendung.
" Pangeran, bagaimana ini kita tidak bisa menemukan Raden Sri Utami?" ujar salah satu pengawalnya.
" Dia tidak mungkin sudah pergi jauh, dia tidak bisa menunggang kuda, dia pasti sedang bersembunyi." Ujar Pangeran Arya menahan emosinya.
" Iya Pangeran. Sebaiknya sekarang kita kembali dulu pangeran, besok kita lanjutkan lagi pencarian dan biar nanti saya juga akan bertanya ke penduduk setempat," ujar pengawal yang lebih tua dari pangeran.
__ADS_1
" Baiklah Wijaksono, kau benar, kita pulang. Dan umumkan siapapun yang menyembunyikan Sri Utami atau membantunya kabur dia akan mati!" ujar Pangeran Arya sambil mengepalkan tangannya.
Orang-orang tersebut kembali memutar kudanya, kembali ke peristirahan pangeran Arya.
****
Van Berg ketika datang ke rumah Sri Utami, ternyata pernikahan sudah bubar, beberapa orang yang berjalan pulang dari rumah Sri Utami mengunjingkannya.
" Waduh, Nyi Sri ini ya, kurang apa Pangeran Arya! ganteng, kaya, anak menak pula." ucap seorang wanita gendut.
"Ya, bu namanya anak muda sekarang, udah pinter ngeberontak, kalo gak suka," ucap ibu disebalahnya.
" iya, didikan sekolahan kolonial itu bikin anak kita jadi suka ngeberontak ya, untung anak saya tidak disekolahkan, jadi dia itu manut sama saya," timpal ibu yang gendut.
Van Berg yang mendengar secara sekilar obrolan ibu-ibu tersebut langsung turun dari kudanya, serta menyapa ibu-ibu itu. Nampak para ibu yang disapa malah jadi genit ke Van Berg.
" Eh, ada yang tampan". ucap seorang ibu sambil ketiganya cekikikan.
" Maaf ibu, apa yang terjadi dengan pernikahan Raden Sri Utami dengan pangeran Arya?" tanya Van Berg.
" Oh begitu, kira-kira ibu tahu kemana arah perginya Raden Sri?"tanya Van Berg.
" Kayaknya masuk ke hutan bambu yang banyak begalnya itu tuan. Soalnya kalau masih dijalanan raya pasti ketahuan." ucap ibu yang sebelahnya.
Mendengar penuturan para ibu tersebut, Van Berg segera pamitan dan kembali menunganggi kudanya. Setiap orang yang ditemuinya ditanyai hal yang sama.
Apa mungkin Sri benar-benar pergi ke hutan itu.
Sri kenapa kau nekat sekali, kenapa tidak menunggu aku menjemputmu. batin Van Berg.
Tanpa berpikir panjang, Van Berg menerobos Hutan Bambu tersebut, yang lebih ditakutkannya bukan begal tapi keselamatan kekasihnya. Hujan menguyur, hutan menjadi gelap karena hujan, sangat sunyi hutan tersebut.
Sri kamu pasti ketakutan, tenanglah aku akan menjemputmu. batin Van Berg sambil tidak terasa air matanya menetes.
"Sriiiiiiiiiii...Sriiiiiiiiii....Aku disini Sriiiiiii keluarlah, ayo ikut denganku",teriak Van Berg disertai isaknya didalam hutan pikirannya sudah benar-benar kalut. Ia sudah berjalan jauh ke dalam hutan tapi tidak menemukan apapun.
__ADS_1
****
Di gubuk milik kakek dan nenek, dapur mengepul mengeluarkan asap, kakek sedang membakar ayam tersebut dan nenek membuat nasinya. Raden Sri hanya melihat kedua pasangan tua tersebut tersenyum, karena mereka terlihat hidup damai. Ia membayangkan bisa hidup selayaknya pasangan tua tersebut, hidup sederhana tanpa kemewahan tapi banyak kebahagiaan.
" Hayu urang taruang ieu hayam tos asak. celukan nyai Sri, Ni" (ayo kita makan, ini ayamnya sudah matang, panggil Nyai Sri, Ni)ujar kakek ke nenek.
" Nyai yap kadieu geura tuang! (Nyai ayo kesini kita makan)" Panggil nenek ke Sri Utami.
Sri Utami yang dipanggil langsung menghampiri, kakek dan nenek. Ia melihat makanan sudah tersaji nasi, lalapan daun singkong rebus, sambal dan ayam bakar. Ketiganya langsung memanjatkan doa ke sang Illahi kemudian langsung melahap makanan tersebut, sambil bercengkrama sekalian mendengarkan cerita Raden Sri Utami.
Setelah itu, Raden Sri Utami memilih duduk diberanda rumah melihat gerimis. Kemudian dari jauh dia melihat seseorang melaju dengan kudanya sangat kencang melewati gubuk nenek dan kakek tersebut. Sekilas Sri dapat menangkap wajah pemuda tersebut.
" Tuan...Tuaaaaaan...Tuaaaaan" teriak Sri Utami sambil mengejar kuda yang terus melaju.
Sri berlari mengejarnya, tapi kuda tersebut berlari cukup kencang, Sri sambil menitikan air matanya, kakinya sangat lelah tanpa alas kaki mengejar Van Berg. Sri pun berhenti, dan hanya bisa menangis, tapi kemudian dari arah berlawan kuda berjalan kencang lagi. Dan si penunggang kuda langsung turun lalu memeluk Sri Utami. Ia langsung dinaikkan ke atas kudanya, Sri hanya bisa menatap wajah si pemuda tersebut tersipu malu dan tangannya masih merangkul lehernya. Semua yang melihat pemandangan tersebut merasa langsung berbunga-bunga.
****
" Van Berg, ga je weg? (Van Berg, apa kau sedang kawin lari)" ujar Vander Plass melihat kedatangan Van Berg dengan wanita.
" Je, (Iya)." jawab Van Berg singkat.
Van Berg menurunkan Sri Utami terlebih dahulu kemudian mengendongnya. Sri menolaknya tapi Van Berg bersikukuh mengendongnya sampai ke dalam kamar. Ia kemudian mengobati kaki Sri Utami yang terluka karena tidak memakai alas kaki. Sri hanya tersenyum melihat kekasihnya begitu perhatian kepadanya.
" Kau sudah makan?" tanya Van Berg masih mengoleskan salep kaki Sri Utami.
" Hmm.. Sudah." jawab Sri Utami masih anteng mengamati wajah Van Berg.
"Istirahatlah, kamu pasti cape, tenang saja aku akan menjagamu, hanya aku yang masuk ke kamar ini."kata Van Berg memandang Sri Utami agar tidak cemas.
"Terima kasih tuan sudah mencariku. Aku sangat takut sendirian," ucap Sri Utami sambil mengembangkan senyumannya.
Van Berg hanya mengangguk, Sri Utami pun membuka sangulnya dan membaringkan tubuhnya diatas kasur tentara tersebut, Van Berg membantu menyelimutinya, kemudian mengelus rambutnya Sri Utami sampai tertidur, yang akhirnya Van Berg tertidur pula disamping ranjang Sri Utami.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Kalau suka dengan ceritanya silahkan tinggalkan like and comment.