
Di sebuah rumah, Sri Utami tengah mengukur badan Ryosuke dengan meteran. Ryosuke memintanya untuk membuatkan pakaian terakhir kalinya. Padangan Ryosuke terus mengikuti gerak gerik Sri Utami yang sibuk memindahkan tali ukur di badannya. Senyuman mengembang di wajah Ryosuke.
"Sri, " ujar Ryosuke.
"Iya?" jawab Sri Utami sambil mengalihkan pandangannya dari tali ukur menatap wajah Ryosuke.
"Kenapa kau belum menikah?" ujar Ryosuke.
"Aku tidak tahu," jawab Sri Utami asal sambil mengindikkan bahunya.
"Aku serius bertanya padamu, " ujar Ryosuke menghentikan tangan Sri Utami yang akan mengukur lebar sadanya dengan mengengamnya.
Sri Utami hanya terdiam dan tertunduk, pikirannya masih berkecambuk dengan pertanyaan Ryosuke. Ryosuke menatap wajah tersebut, dan mengangkat dagu Sri Utami dengan tangannya.
"Kau tak bisa terus sendirian Sri, " ujar Ryosuke sambil tersenyum.
"Kalau begitu apa kau akan menikahiku? " Sri Utami dengan menatap tajam.
"Itu tidak mungkin Sri! Aku akan ikut kamikaze, dan aku tidak mau kamu jadi janda muda, " ujar Ryosuke dengan serius.
Sri Utami terkekeh sedangkan Ryosuke mengeryitkan dahinya karena Sri Utami malah tertawa dengan perkataannya.
"Ada yang salah dengan ucapanku? " tanya Ryosuke.
"Tidak, kau lucu," ujar Sri Utami sambil mengulum senyumannya.
"Kenapa kau harus ikut kamikaze? apa kau tidak takut dengan kematian?" ujar Sri Utami wajahnya berubah serius.
"Apa yang harus ditakutkan Sri, aku merasa bangga dapat mengorbankan diri untuk negaraku, itulah tugas seorang samurai, berbakti pada Tenno, " jawab Ryosuke sambil tangannya memegang kedua bahu Sri Utami dan matanya menatap lekat manik indah Sri Utami.
"Jika aku mengatakan kau jangan ikut, apa kau tidak akan ikut?" ucap Sri Utami menelisik ke wajah Ryosuke.
"Sri, saat pimpinan memilih orang untuk dikorbankan, kita tidak akan menolak. Karena mati untuk Tenno lebih baik daripada lari dari perang. Kita bahkan harus berani melakukan hara kiri saat kita kalah perang." Ujar Ryosuke sambil menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
Sri Utami hanya bisa menelan salivanya, menyesali ucapan yang baru terlontar, seolah dia meminta Ryosuke menjadi seorang pengecut. Sri Utami hanya dapat menundukan wajahnya. Ryosuke memahami yang dipikirkan Sri Utami. Ia pun mendaratkan kecupan hangat dikening Sri Utami, sehingga pemiliknya terkejut dan menatap Ryosuke.
"Arigatou Sri sudah mengkhawatirkanku, wajahmu akan aku ingat saat detik aku menemui ajalku nanti," ujar Ryosuke sambil tersenyum.
"Kau jangan bersedih Sri. Aku yang memilih jalan ini, aku tidak takut kematian mendatangiku, aku lebih takut membuat malu negaraku, " lanjut Ryosuke menangkup wajah Sri Utami.
Sri Utami sudah berkaca-kaca dan terisak menanggis. Ryosuke pun menarik Sri Utami kedalam pelukannya, mengelus punggungnya.
"Maafin aku, tidak memahamimu. Kau luar biasa berjuang untuk negaramu. Aku malu tidak bisa melakukan hal seberani sepertimu," ujar Sri Utami yang dibalas elusan di kepala Sri Utami yang mengunakan konde bertulisan Jepang.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu? " ujar Ryosuke melepaskan dekapannya.
"Apa?" ujar Sri Utami menengadah melihat wajah Ryosuke.
"Aku ingin mendapatkan kecupan, pelukan dan tidur denganmu, " ujar Ryosuke membuat Sri Utami terperajat.
"A.. Aku bu.. kan pelacurmu, aku tidak mau! " ujar Sri Utami menjauh dari Ryosuke.
"Apa yang kau pikirkan, aku hanya ingin tidur bersama saja, aku tidak memintamu melayaniku, kecuali kau memang ingin melakukannya, aku tidak akan menolak," ujar Ryosuke sambil tersenyum memiringkan kepalanya dengan tangan terlipat di dada.
"Kamu bisa pegang janji seorang samurai, " ujar Ryosuke sambil tersenyum.
Sri Utami hanya menghembuskan nafasnya, Ryosuke melangkah dengan cepat dan mengendong Sri Utami, tindakan tersebut membuat Sri Utami memekik karena kaget, tangannya melingkar di leher Ryosuke.
Disebuah kamar yang rapih bernuansa putih, Ryosuke menurunkan Sri Utami diatas ranjang. Kedua tangan Ryosuke berada diantara kepala Sri Utami. Wajah gugup terlihat jelas dari wajah Sri Utami yang matanya tidak tenang. Ryosuke pun tersenyum dan berguling ke samping Sri Utami, wajahnya menatap langit-langit kamar.
"Sri, biasanya jika aku membawa wanita ke kamar, aku tidak membiarkannya tidur, " ujar Ryosuke membuat Sri Utami bangkit terduduk.
"Kau menjebakku? " Sri Utami menatap nanar Ryosuke.
"Huh, Sri kau ini begitu ketakutan. Aku tentu saja memegang janjiku, " ujar Ryosuke ikut terduduk.
Hening diantara keduanya, Ryosuke nampak gugup tidak seperti biasanya ketika bersama wanita. Sri Utami juga hanya terdiam menatap Ryosuke. Keduanya saling berpandangan, Sri Utami mendekatkan wajahnya pada Ryosuke dan mengecup bibir Ryosuke sekilas, namun Ryosuke menahan tengkuknya sehingga Sri Utami tertahan menerima sapuan lembut dari Ryosuke, konde di kepalanya dilepaskan oleh Ryosuke, rambut Sri Utami pun tergerai.
__ADS_1
Keduanya hanyut dalam cumbuan tersebut, hingga Sri Utami tidak menyadari posisinya sudah terbaring dengan Ryosuke masih menyapu bibirnya dengan lembut. Setelah merasa puas, Ryosuke pun melepaskan tautan bibirnya dan memeluk Sri utami hingga tertidur.
*****
Ditengah kondisi Jepang yang semakin terpojok dalam perang Asia Pasifik, perlawanan dari bangsa Indonesia terhadap imperialisme Jepang justru semakin marak. Perlawanan dilakukan oleh berbagai kalangan, baik dari kalangan petani, agama dan militer seperti anggota PETA.
Salah satu bangunan di kota Bandung Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) Santo Aloysiusdi Heetjansweg ini adalah salah satu saksi bisu yang menjadi penyulut pemberontakan PETA di Jawa Barat.
Gedung Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs Santo Aloysiusdi Heerjansweg adalah markas Kempei *** yakni polisi militer Jepang. Banyak kekejaman Kempei *** yang dilancarkan pada setiap pemberontak, salah satunya penderitaan dialami oleh anggota- anggota PETA Dai Ichi Chudan ( satu Kompi) Pangalengan yang bermarkas di Desa Cileunca.
"Kita harus melakukan perlawanan! Rakyat kita disini sangat menderita! kita juga diperlakukan semena-mena oleh orang Nippon itu!" amarah membuncah Amar Sutisna yang berkedudukan sebagai Budancho.
"Benar bung! saya akan berjuang bersama anda!" ujar seorang prajurit bawahannya.
"Kami hanya tinggal menunggu perintah untuk mengangkat senjata! " ujar seorang yang lain.
"Tunggu, tahan dulu emosi kita jangan gegabah! " ujar Poniman selaku komandan peleton.
"Kenapa komandan? apa saudara tidak bersedia melawan?" ujar Amar Sutisna.
"Tenang dulu kawan-kawan! kita tidak boleh gerasa gerusu, saya setuju dengan niat kawan-kawan melawan tentara Jepang! Tapi kita juga perlu menilai kekuatan tentara kita! tentara kita masih lemah!" ujar Poniman.
"Kapan kita akan melawan kalau begitu?" ujar Amar Sutisna emosinya sudah tidak meledak-ledak lagi.
"Tunggu waktu yang tepat, kita buat rencana yang matang, kita harus belajar dari kegagalan pemberontakan di Blitar!" tegas Poniman sambil menatap semua bawahannya yang manggut tanda sepemahaman.
"Baik sekarang bubar, rencana kita jangan sampai terendus oleh tentara Jepang," lanjut Poniman.
Semua tentara PETA yang berkumpul pun membubarkan diri. Poniman menepuk pundak Amar Sutisna sambil keluar dari ruangan tersebut.
BERSAMBUNG...
Warning!!!
__ADS_1
Percakapan Amar Sutisna dan kawan-kawannya hanya ilustrasi saja berdasarkan gambarann dari sumber bacaan.
Terima kasih selamat membaca ✊...