
Sri Utami tertidur dalam kesunyian tanpa kehangatan. Setitik air matanya mulai mengalir, setelah sekian lama baru memahami rasanya kesepian, kecemburuan, dan tidak ingin dibagi cinta. Mungkin inilah yang membuat ibunya dulu frustasi.
"Kau benar bu! nasib wanita hanya menjadi budak pemuas lelaki! aku marah pada diriku bu!" lirik Sri Utami sambil terbaring dikasurnya.
"Aku ingin menjadi seseorang yang hidup dengan satu cinta saja! aku tidak suka terkekang seperti saat ini!" lirih Sri Utami terus meracau mengeluarkan semua emosinya.
"Aku merasa bosan seperti ini! aku tidak bisa terus begini!" ucap Sri Utami.
Sri Utami akhirnya tertidur kembali diantar oleh kesedihannya. Keluh kesahnya hanyut dibawa mimpi-mimpinya.
Suara ayam jago membangunkan Sri Utami dari tidurnya, Sri terkesiap menatapn Madelief yang sudah bertolak pinggang dihadapannya.
"Enak sekali dirimu tidur sampai siang!" ejek Madelief.
Sri Utami menghela nafasnya menyibak selimutnya, dia mengeluyur hendak ke kamar mandi, namun tiba-tiba Madelief menjambak rambutnya dan menyeretnya keluar.
"Aww.. Madelief lepaskan!" jerit Sri Utami sambil meringgis memegangi rambut dikepalanya.
"Hah? Aku tidak mendengarnya!" teriak Madelief sambil terus menyeret Sri Utami.
Van Berg melihat kedua isterinya tampak tidak akur terkejut. Sri Utami memohon iba pada Van Berg agar membantunya, Van Berg sedikit terenyuh namun diurungkan niatnya ingin membantu Sri Utami yang dijambak sampai ke kamar mandi dan ditenggelamkan wajah Sri Utami dalam bak berisi air.
"Ini untuk sikap kamu yang menghina anakku!"
Blus
Sri Utami ditenggelamkan wajahnya beberapa detik, Sri Utami meronta-ronta. Madelief mengangkat kepala Sri Utami sekali lagi.
"Dan ini karena kamu mengoda suamiku!"
Blus blubuk blubuk
Sri Utami ditenggelamkan lagi kepalanya ke dalam air dibak mandi. Sedikit lebih lama Madelief menenggelamkan wajah Sri Utami kali ini.
Setelah itu Madelief mengangkat kepala Sri Utami lagi dan membantingkan ke tembok.
"Itu peringatan untukmu!" teriak madelief sambil beranjak keluar kamar mandi.
Sri Utami kesal bercampur sedih diperlakukan kasar oleh Madelief. Sambil menanggis ia mengguyur badannya. Semakin kesal Van Berg sama sekali tidak peduli padanya.
--------*****--------
Sri Utami sudah berpakaian rapi, Van Berg, Madelief dan Rafunzel sedang bercengkrama diruang depan. Hatinya merasa sangat marah. Sri Utami keluar dari kamarnya.
"Sri! Ambilkan teh!" teriak Madelief melihat Sri Utami keluar kamar.
Sri Utami yang masih kesal langsung menghampirinya dan memberikan tatapan dingin pada Madelief.
__ADS_1
"Aku tidak mau mengambilnya! Aku bukan pembantu! dan ini rumahku!" ujar Sri Utami tajam.
Madelief tidak mau kalah ikut bangkit dan menatap Sri Utami juga. Sebuah tamparan melayang keras dipipi Sri Utami.
Plak
Sri Utami mendapatkan tamparan dari Madelief, hatinya yang masih panas karena perlakukan tadi, membuat Sri Utami berani melayangkan balasan pada Madelief.
Plak
Plak
Sri Utami meluapkan emosinya menampar Madelief dua kali, sambil mengigit bibir bawahnya. Madeleif sudah berurai air mata mendapatkan tamparan dari Madelief.
Plak
Satu tamparan melayang dipipi Sri Utami, bukan tangan Madeleif yang menampar tapi Van Berg, Sri Utami sangat terkejut, tangan Van Berg bergetar setelah menampar Sri Utami. Ada rasa sakit masuk ke hatinya bukan karena tamparan tapi sakit karena seseorang yang dicintainya bertindak kasar padanya.
"Cukup!" hanya itu yang keluar dari Van Berg.
"Iya cukup Van Berg!" itu pun yang keluar dari bibir Sri Utami air matanya mengalir.
Sri Utami tertunduk merasa ngilu dihatinya, Madelief tersenyum penuh kemenangan melihat Sri Utami diperlakukan kasar oleh Van Berg. Seorang tentara datang melapor pada Van Berg, lalu mereka berdua langsung pergi. Van Berg tidak melihat sedihnya Sri Utami.
Sri Utami pun langsung kembali ke kamarnya, menanggis sepuasnya, selama ini tidak pernah ada yang menamparnya. Jika tamparan itu berasal dari Madeleif, dia tidak akan sesakit ini.
---------******----------
Sejak 20 Januari 1946 nama TKR sudah berubah menjadi TRI, dan tepat 23 Maret 1946 Ultimatum dilayangkan kedua kalinya oleh Sekutu, yang menyebabkan berbondong-bondong rakyat mengungsi dari kota Bandung.
Bandung bagian selatan setelah itu berubah menjadi lautan api, dari jalan pangeran sumedang, kopo, cibadak, bahkan penerangan sudah diputus di Banjaran, Cicalengka dan Ciperu. Hanya Pangalengan yang penerangan masih menyala.
Pada tahun 1946 Bandung bagian selatan telah diserah dari Sekutu kepada tentara Belanda Brigade V pimpinanan kolonel Meier. Pihak laskar perjuangan Bandung Selatan membentuk Majelis Persatuan Perjuangan Priangan di Baleendah.
Baleendah merupakan tempat terdepan yang berhadapan langsung dengan markas tentara Belanda di Dayeuhkolot. Batas pemisahan pos pertahanan RI dengan Belanda hanya dipisahkan sungai Citarum.
Para Laskar Hizbullah disana Rahman ikut tergabung dalam operasi, berserta Laskar Benteng Barisan RI yang didalamnya terdapat Mohammad Toha. Sudah bersiap siaga dalam operasi peledakan gudang mesiu. Sekitar 11 orang ikut operasi dengan menyelami sungai Citarum lalu bergerak ke terowongan.
Perlahan-lahan ke sebelah orang itu memasukin terowongan. Namun tiba-tiba...
Kreet!
Bludak!
Rajau terinjak oleh beberapa orang salah satunya tentara terjebak ranjau, keadaaan ini membuat panik pasukan. Rahman beserta Mohamamd toha tetap maju meski sebagain tentara mundur.
Pasukan Belanda mendengar adanya ranjau langsung bersiap siaga. Van Berg juga berada disana menjaga ketat gudang mesiu. Beberapa pasukan Belanda langsung menyerang pasukan laskar RI tersebut, pertempuran hebat terjadi.
__ADS_1
*Dor
Dor
Dor
Jlub Bucrat*
Ramdan yang menghadang tentara mengawal Mohammad Toha meledakan gudang mesiu terkena peluru panas.
Gubrak
Ramdhan terjatuh ke tanah dengan mengucur darah segar, pandang sudah memudar dan kemudian menutup matanya. Dengan kesediahan mendalam Mohmmad Toha tetap melanjutkan usahanya memasuki gudang mesiu.
Ditengah kekacuan, Mohammad Toha melihat rekan-rekannya mulai terdesak mundur. Mohammad Toha justru langsung berlari ke arah gudang Mesiu dan mengunci dirinya didalam sana.
"Open the Door!" teriak Van Berg yang melihat Mohammad Toha.
Mohammad Toha tidak memperdulikan teriakan tentara Belanda. Sekitar 1.100 ton senjata dan mesiu berada dalam gudang tersebut. Tepat siang hari 12.01.
Bludak
Bludak
Ledakan mesiu dengan bau darah perjuangan memuncrat mewarnai langit. Sang pahlawan telah gugur, membuktikan baktinya pada negara.
Sri Utami yang sedang melarikan diri, terkejut mendengar ledakan hebat, Ia langsung berjalan mencari tahu, kepulan asap tebal memenuhi langit. Saat hendak mendekat ke arah api yang mengepul. Tiba-tiba...
Greb
Seseorang membekam mulutnya dan membawanya bersembunyi dengan menyenderkan badan mempet ke dinding serta lelaki dihadapannya pun begitu dekat dengan tubuhnya berada dihadapannya. Terdengar langkah kaki para tentara Belanda yang berhamburan.
Perlahan tangan yang membekam Sri Utami mengendor, wajah itu sangat jelas dihadapan Sri Utami karena siang bolong.
"Ini tidak mungkin Ryosuke!" lirih Sri Utami cukup terdengar Ryosuke.
Mata coklat itu menatap intens wajah gadis dihadapanya. Mereka diam dalam keheningan, suara angin menerpa wajahnya dan semakin membakar api gudang mesiu.
_
_
_
_
To Be Continue....
__ADS_1