Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Isteri Sedar di Ujung Tanduk


__ADS_3

Anggota Isteri sedar sudah masuk kembali ke ruangan kongres Perserikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII). PPII adalah salah keberhasilan perempuan Indonesia membuat perkumpulan yang disahkan pada 25 Desember 1928 di Yogjakarta, awalnya organisasi ini bernama Perserikatan Perhimpunan Perempuan Indonesia atau disingkat PPPI. Kemudian berubah nama pada tahun 1935 menjadi PPII, organisasi ini merupakan gabungan dari organisasi-organisasi perempuan yang bermunculan dizaman pergerakan.


Kembalinya anggota Isteri Sedar disambut para hadirin, namun para lelaki dibaris belakang masih saja mengoda emosi anggota ini dengan mengeluarkan suara ayam jago.


Kukuruyuuuk...Kukuryuuuk


Anggota Isteri Sedar kembali duduk di barisan fraksinya. Ketua Perserikatan kemudian membuka kembali kongres yang sempat ricuh. Semua kembali hening, dan khidmat. Perwakilan dari Isteri Indonesia memberikan pernyataan.


"Kami perwakilan dari Isteri Indonesia sangat mengakomodasi pendapat kaum perkumpulan Islam dari pada isteri sedar. Kami juga menghendaki monogami, tetapi kami tidak ingin menentang pendirian perempuan Islam," ujar Maria Ulfah dengan tenang.


Mendengar nama organisasinya disebut lagi, Suwarni langsung angkat bicara. Tapi kali ini lebih tenang, dia berdiri.


"Kami tidak mempercayai perbedaan agama, dan bekerja sama dengan organisasi sayap perempuan Islam hanya akan melemahkan sikap organisasi yang anti -poligami, bukankah dasar dari organisasi ini adalah menolak upaya poligami dan pernikahan dini," tegas Suwarni.


"Jika perempuan hanya diajarkan berpikir pernikahan sebagai tujuan hidupnya, rumah tangga adalah tanggungjawabnya, maka artinya mereka tidak didik dengan cerdas secara tubuh dan otaknya. Perempuan yang didik otaknya dengan cerdas dia akan mengembangkan perekonomian." lanjut Suwani.


Semua yang hadir tidak ada yang menyahuti perkataan Ny.Suwarni yang terbilang wanita galak ini. Kemudian gadis remaja jelita Sri Utami ikut membantu bersuara, membela ketuanya.


" Saya menambahkan pendapat Ny.Suwarni, perempuan dan laki-laki adalah insan yang sama dikeluarkan dari tempat yang sama. Lantas mengapa lelaki harus merasa dirinya lebih tinggi dan berkuasa atas perempuan. Menikahi perempuan sebanyak yang diinginkannya. Saya pribadi yang menyaksikan dan merasakan kepahitan poligami, jelas saya sangat menentang poligami. Kepada ketua perhimpunan yang terhormat, mohon membuat keputusan yang tegas, masalah poligami harus dituntaskan. Terima kasih " ujar Sri Utami dengan tenang dan hormat.


Para pemuda yang melihat Sri berbicara langsung terpukau. Mereka membuat kegaduhan dengan bersiul.


Witwiwww...


" Mohon tenang saudara-saudara, baik terima kasih atas masukan dari rekan-rekan semua. Kami disini ingin menjadi wadah untuk kita semua bukan untuk berdebat," ujar ketua kongres.


"Baiklah saya rasa, PPII dengan organisasi Isteri Sedar tidak dapat berjalan beriringan. Saya sebagai ketua memutuskan keluar dari PPII ini. Terima kasih," tegas Suwarni


Semua yang hadir menjadi riuh, mendengar keputusan dari organisasi isteri sedar. Ketua kongres ikut kebingungan menanggapinya.


" Baik, mungkin kita bisa membicarakan masalah ini secara pribadi dengan anggota Isteri Sedar. Saya rasa kongres hari ini cukup. Kita tutup dengan hamdallah."

__ADS_1


Runtutan penutupan dilakukan, semua anggota kongres langsung membubarkan dirinya keluar dari gedung. Sri Utami berjalan beriringan dengan Soendari.


" Sri, menurutmu apa tidak salah keluar dari PPII?" tanya Soendari.


" Mau bagaimana lagi Soen, jika memang tak sejalan bukankah lebih baik berpisah, " ujar Sri.


Dihalaman kusir delman keluarga milik Wiranatakusumah sudah terparkir menunggu tuannya. Sri yang melihat jemputannya sudah datang langsung berpamitan kepada Soendari.


"Soen, aku sudah dijemput, duluan ya. Daaaaah." Sri melambaikan tangannya kepada Soendari.


Soendari membalasnya dengan senyuman, Sri naik ke atas delman. Si kusir langsung menancap kudanya berjalan menerobos jalanan yang sedikit bercampur kerikil. Dari kejauhan Van Berg mencari wanita yang membuatnya terpikat pada pandangan pertama, karena terlalu banyak yang keluar dari gedung, sehingga ia kesulitan mencarinya. Van Berg kehilangan jejak gadis itu, kini harapannya, sang gadis dapat menemuinya di dekat danau sore ini.


***


Sri telah sampai di pekarangan rumahnya, dia turun dari delmannya, Sri melihat ayahnya ada di rumah. Pikirannya sudah memgetahui tujuan kedatangan ayahnya. Sri masuk kedalam rumah dan menghampiri ayahnya serta mencium tangannya.


" Kau masih saja ikut organisasi kebarat-barat itu, Sri!" ucap ayahnya penuh ketidaksukaan.


" Bapak, sudah lama datang?" tanya Sri alum.


" Sudah dari tadi sejak si Ujang disuruh menjemputmu! sudah ku bilang kau keluar dari organisasi seperti itu, organisasi itu gak bener, cuma ngajarin wanita keluar dari kodratya, "ujar ayahnya.


Sri hanya diam tidak berani membantah perkataan ayahnya, dia biarkan ayahnya mengeluarkan emosinya.


" Ah,, Sri besok kau tak boleh kemana-mana, kau sudah waktunya di pingit. Bapak sudah menemukan orang yang cocok bakalan jadi suamimu," jelas ayahnya Sri.


"Sri, sudah katakan kepada bapak, tidak perlu bapak mencarikan Sri suami. Biar Sri mencari sendiri," ujar Sri.


" Halaaah, mau cari yang bagaimana Sri! bapakmu lebih tahu yang bibit beber bobotnya cocok dengan keluarga kita," sela ayahnya.


" Jika bapak masih memaksa Sri menikahi laki-laki beristeri lagi, Sri juga akan tetap menolak. Sri tidak mau seperti ibu. Sri ingin menjadi wanita yang merdeka, " tegas Sri.

__ADS_1


" Ini ajaran orang barat bikin kau tidak hormat sama orang tua! " ayahnya naik pitam, hendak menampar Sri.


Namun, Sri lebih gesit berlari ke kamarnya, dan mengunci diri didalam kamar. Sri sangat tidak suka dengan ayahnya yang temperamen. Sri masih kesal kepada ayahnya dia mengurung diri, hingga akhirnya bi Iyem mengetuk pintu mengajaknya makan malam. Sri pun keluar kamar pergi ke kamar mandi hendak mencuci tangan sebelum makan. Sri baru menyadari, pemuda Belanda itu mengajaknya bertemu. Sri hanya termenung, kemudian mencuci kembali tangannya hingga bersih. Hati Sri berkata:


Biarlah hilang, toh kita belum tentu jodoh tuan Belanda. Jangan menantiku disana, aku tidak akan datang.


****


Van Berg masih duduk ditepi danau berharap gadis itu sudi menemuinya. Tapi malam semakin larut tidak ada tanda-tanda gadis itu akan muncul. Yang datang justru malah sahabatnya.


"Wat doe jij hier? "(Sedang apa kamu disini) sapa sahabatnya Vander Plass.


"Wachten op iemand, maar het lijkt erop dat hij niet komt." (Menunggu seseorang, tapi sepertinya dia tidak akan datang), ujar Van Berg dengan lesu


"wie? een meisje?" ( siapa? seorang gadiskah? tanya Vander Plass sambil menyodorkan alkohol.


Van Berg meraih botol berisi alkohol itu, kemudian menengak alkoholnya Sensasi alkohol sudah memenuhi tubuhnya.


"ja, ze is een mooi meisje dat zich bij de vrouwenorganisatie heeft aangesloten. Ik ben vergeten om zijn huisadres te vragen" (ya, seorang gadis cantik yang ikut organisasi wanita. Aku lupa tidak meminta alamat rumahnya).


"Vergeet het maar, je kunt een ander meisje vinden" (lupakan saja, kamu bisa mencari gadis lain) ujar Vander Plass sambil tertawa, Van Berg ikut tertawa juga.


"het meisje is anders"( gadis itu berbeda), bela Van Berg.


"alle meisjes zijn hetzelfde, wat is er anders. Heeft hij echt grote borsten?" (Semua gadis sama saja, apa yang berbeda, apa dia punya d*d* yang besar?) diikuti gelak tawa keduanya.


"nee, nee..hij is speciaal" ( tidak.. tidak.. dia istimewa) ujar Van Berg.


"Ok, ok. laten we teruggaan naar de kazerne, de generaal zal ons straffen als we onduidelijk worden,"(baiklah, baiklah. Ayo kita kembali ke barak, Jenderal akan menghukum kita, kalau ketahuan keluyuran tidak jelas) ajak Vander Plass.


Van Berg dan Vander Plass kemudian bangkit keduanya sambil sempoyongan efek dari alkohol, keduanya berjalan saling merangkul menyusuri gelapnya malam.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2