Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Malam yang Mencekam


__ADS_3

Sri Utami merasakan aura yang berbeda di rumahnya, ia mendapati kuda delmannya sudah terpengal, matanya membelalak. Sri Utami berlari memasuki rumahnya, di ruang tamu ia tersentak seorang noni Belanda didamping dua tentara duduk dikursi menatap dirinya.


" Sudah puas melayani calon suamiku?" tanya Madelief dengan sinis.


" KELUAR DARI SINI! ANDA TIDAK SOPAN MEMASUKI RUMAH TANPA IJIN TUANNYA!" ucap Sri Utami marah pada Madelief.


Madelief bangkit dari kursinya dan melayangkan tamparan, namun ditepis oleh Sri Utami, tangan itu dipelintir dan diseret keluar dari rumah. Dua tentara yang mengikutinya hendak menyerang Sri Utami.


" Berani mendekat, akan aku patahkan tangan ini! ujar Sri Utami kepada dua tentara sambil memegang tangan Madelief.


" Sri..Sri.. Lepaskan sakit!" Ringgis Madelief.


Sri Utami segera melepaskannya dan melemparkan Madelief keluar dari rumahnya. Kedua tentara tersebut menghambur ke arah Madelief yang tersungkur.


" Tangkap dia b*d*h! Seret dia dan p*rk*s* dia dihadapan ku Sekarang!" ujar Madelief.


Mendengar perintah tersebut dua tentara langsung berlari mendobrak pintu yang sudah ditahan Sri Utami, ia tidak kuat menahan pintu tersebut segera lari ke dapur, matanya terbelalak melihat Ujang sudah terpengal kepalanya, badannya gemeteran melihat hal tersebut. Air matanya tidak tertahankan, namun langkah kaki dua tentara bergerak cepat ke dapur menyadarkan Sri Utami yanh segera meraih pisau dapur dirak piring, dua tentara datang menyerigai melihat Sri Utami. Satu pisau Sri Utami layangkan menembus salah satu dada tentara dan ia meraung darah mengucur, tentara satunya bergerak menyerang. Sri Utami segera meraih katel besar dan dilemparkan mengenai kepala tentara tersebut. Sri Utami segera berlari menuju pintu belakang, namun pintu terkunci, ia mencari kuncinya di lemari. Dua tentara tersebut mengunakan kesempatan untuk mencengkram Sri Utami, kedua tertara menarik Sri Utami dan mengotongnya hingga ia lentangkan dilantai. Tapi kedua kaki Sri Utami terus bergerak menendang kearah bagian sensitif tentara tersebut.


Beug!


Satu tendangan mengenai area sensitif tersebut, tentara tersebut meraung dengan keras, satu kaki Sri Utami dihantamkan ke kepala tentara yang memegang tangannya, Sri Utami lalu melakukan salto. Ia segera keluar melalui pintu depan mendapati Madelief ketakutan, Sri memukul leher wanita tersebut hampir patah. Sri segera mengambil kudanya yang sedang makan rumput di belakang rumah. Sati Tentara mendobrak pintu belakang berlari mengejar Sri Utami. Namun Kuda dipacu dengan kencang oleh Sri Utami meninggalkan pekarangan untuk meminta pertolongan.


" Tidak perlu kau kejar!" ujar Madelief sambil memegang lehernya.


" Baik nona, apa yang akan kita lakukan?" tanya Fredrik.


" Bakar rumah ini!" ujar Madelief.


Mendengar perintah tersebut, segera mereka menggasak isi rumah, mengambil barang berharga, lalu isi rumah dibuat acak-acakan. kompor minyak di tumpahkan ke setiap sudut ruangan, lampu dirumah dinyalakan untuk membuat rumah semakin cepat terbakar. Kedua tentara tersebut menyalakan korek api kemudian keluar berlari menjauh dari rumah tersebut.


BLEDUUUG!

__ADS_1


Ledakan keras dari rumah tersebut membuat konsleting listrik ditetangganya, api merebet berkobar dirumah tersebut. Madelief tersenyum puas, namun ia segera berlalu melihat banyak orang berhamburan dari rumahnya karena mati lampu dan mendengar suara ledakan.


"Kebakaraaaaan.... Kebakaraaaaaan" teriak seorang laki laki.


" Api...Apiiiiiiiiiiii" disambut teriakan dari arah lain juga.


Sri Utami dari kejauhan mendengar suara ledakan langsung berbalik menuju rumahnya, ia kaget melihat rumahnya hangus terbakar, orang-orang berusaha memadamkan apinya, Sri Utami turun dari kudanya hendak menerobos kerumunan, namun tangan besar menarik dan membekam mulut Sri Utami, ia meronta-ronta Sri Utami dibawa dengan kuda memasuki hutan dan berhenti disatu gubuk kecil ditengah hutan. Ia diturunkan dari kuda tersebut. Sri Utami segera memasang aba-aba melihat pemuda yang membawanya.


" Ini aku Sri!" kata pemuda tersebut.


" Kang Danu!" jawab Sri Utami terperanggah segera kembali ke posisi normal.


" Iya Sri. Ayo kita masuk!" ajak Kang Danu.


Sri Utami mengikuti guru beladirinya memasuki rumah kecil yang beratapkan ilalang. Ia mengamati isi gubuk tersebut hanya terdapat 3 ruangan yang disekat bilik.


" Ini tempatku, memang tidak sebaik rumahmu." ujar Kang Danu sambil mengisi air dari teko dan menyodorkannya pada Sri.


"Aku selalu mengamati muridku, aku tahu kamu dalam masalah Sri!" ujar Kang Danu.


Sri Utami masih mengamati gelas yang terbuat dari bambu tersebut. Ia masih kaget dengan segala yang terjadi barusan. Ujang dan rumahnya kini sudah tiada. Tatapan dan harapannya menjadi kosong.


" Sri!" ujar Kang Danu menepuk pundaknya.


" Iya, kang?" jawab Sri Utami terperajat.


"Istirahatlah dikamar!" ujar Kang Danu menunjukan satu ruangan.


" Terima kasih kang." Ucap Sri Utami.


Sri Utami segera bangkit menuju ruangan yang ditunjukan oleh Kang Danu. Ia melihat terhampar samak diatas ranjang yang terbuat dari bambu. Sri Utami menyimpan panahnya, ia langsung merebahkan badannya. Sorot sinar bulan memasuki kamar melalui jendela yang terbuka, tepat cahaya tersebut menerpa wajah Sri Utami. Ia pun memandang bulan yang sempurna tersebut. Tidak terasa air mata mengalir dipelupuk matanya.

__ADS_1


Bu aku rindu, aku lelah menjalani semuanya, kenangan bersama ibu sudah hilang. Batin Sri Utami sambil menatap bulan.


Angin malam berhembus menerpa pohon bambu, suara bambu itu memberikan suara yang mencekam, burung hantu memainkan suaranya, Sri Utami kelelahan berpikir dan menangis. Hingga akhirnya ia terlelap.


****


" Aaapaaaaa? Nyi Sri Utami meninggal? ikut kebakar di rumahnya?" ucap Bi Iyem tidak percaya.


hiks hiks hiks, ia menangis disamping ranjangnya. Rahman yang memberikan informasi tersebut hanya membisu. Ia juga tidak percaya dengan berita yang terhembus dikoran pagi.


****


Di rumah Nyai Dasimah dengan Raden Sugeng bergegas terburu-buru mencari kusir untuk segera ke rumah Sri Utami.


" Nyai, gak percaya kang!" ujar Nyai Dasimah.


" Tapi kenyataanya begitu, Nyai. Rumahnya hangus, disana juga ada tengkorak yang gosong kemungkinan itu Sri Utami," ujar Raden Sugeng dengan bergetar menahan rasa sedih.


Hiks hiks hiks Nyai Dasimah menangis menjadi-jadi, Raden Sugeng merangkulnya menenangkan sang isteri, meski air matanya keluar juga disudut mata.


" Kenapa gadis pembangkang itu tidak lari," ujar Raden Sugeng sambil menangis, ia juga sangat menyayangi Sri Utami di sudut hati paling kecilnya.


****


Di gedung mewah berhiaskan bunga-bunga indah. Dua orang mempelai tengah berhadapan dengan seorang pendeta. Mereka mengucapkan janji pernikahan. Vander Plass berjalan perlahan mendekat ke arah Van Berg berbisik diteliganya. Van Berg terkejut, ia segera melihat Vander Plass yang menganggukkan kepalanya. Van Berg hendak meninggalkan ruang pernikahan tersebut, tapi ditahan oleh Madelief yang menariknya sehingga ia berciuman, namun Van Berg segera melepaskannya. Ia ingin segera mengakhri pesta pernikahan tersebut, pikirannya sudah tidak berada ditempatnya. Saat Madelief hendak mengajaknya berdansa, rupanya Van Berg sudah menghilang di sampingnya, membuat Madelief mendengus kesal.


Van Berg disertai Vander Plass menungangi kuda dengan cepat ke rumah Sri Utami. Tiba dipekarangan rumah Sri Utami, rumah sudah gosong dilahap api. Mereka turun dari kudanya. Van Berg segera berjalan menuju rumah tersebut, bau karet terbakar menusuk indra penciumannya. Matanya menatap setiap sudut rumah sambil menitikan air mata. Van Berg tersungkur menanggis didepan rumah tersebut Vander Plass hanya mengamati sahabatnya yang merasakan kepiluan ditinggalkan oleh wanita yang sama-sama mereka cintai.


" Srii...Sriiiii.. Kenapa kamu melakukan ini... Sriiii!" teriak Van Berg, sambil bersimpuh diatas tanah.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2