
Eudaimonisme adalah pandangan hidup yang menganggap kebahagiaan sebagai tujuan segala tindak tanduk manusia. Namun, pada dasarnnya memang manusia hidup mencari titik kebahagian, ada yang menganggap kecantikan tolok ukur kebahagiaan tapi itu salah, jika kecantikan tolak ukur kebahagian Cleopatra tidak akan bunuh diri dengan mengigitkan ular kobra ke tangannya. Apakah cinta adalah sumber kebahagiaan? Kalau begitu kenapa banyak yang terluka karena cinta?
Sri Utami memiliki paras cantik, banyak cinta yang datang, tapi dia terluka juga oleh cinta tersebut, bahkan harus menderita karena cinta.
" Sri?" suara pemuda dibelakangnya memanggil namanya.
Sri Utami yang sedang menunggu kalimat yang hendak diucapkan Rahman, seketika ia menoleh melihat raut wajah pemuda dewasa yang tersenyum. Dalam sekejap Sri Utami bola matanya membesar karena kesenangan. Seutas senyuman terukir memamerkan sebaris giginya.
"Kang Hardi!"teriak Sri Utami sambil menghambur memeluknya.
Rahman yang melihat hal tersebut, wajahnya berubah masam, ada ketidaksukaan akan kehadiran saudara tirinya Sri Utami, kalimat yang hendak disampaikan ditarik kembali, tubuhnya mematung menyaksikan gadis pujaanya berada dipelukan lelaki tersebut. Hardi melonggarkan pelukannya menatap wajah Sri Utami dibawah sinar rembulan.
"Sri, aku disuruh ibu menjemputmu! Ayo kita pulang!" ajak Kang Hardi menekan.
"Rahman, aku pulang dulu ya." Ujar Sri Utami melambaikan tangan dan mengandeng lengan Hardi dan berjalan bersama kakaknya.
"Sri, yang tadi pacarmu?" tanya Hardi.
"Bukanlah Kang, Sri gak punya pacar!" ujar Sri Utami.
"Oya, benarkah? Kau tidak menyukainya?" tanya Hardi.
"Kenapa akang nanya-nanya terus,!" ujar Sri Utami cemberut.
"Emangnya akang gak boleh tau gitu orang yang Sri suka," ujar Hardi menelisik.
" Udah ah kang!" ujar Sri Utami enggan membahas masalah perasaannya.
"oke!" ujar Hardi.
*****
Sri Utami yang kini tinggal dirumah Nyai Dasimah, menempati kamar yang biasa dipakai oleh Hardi selama Hardi kuliah ke Belanda. Kepulangan Hardi membuat Nyai Dasimah kebingungan menempatkan Hardi. Namun, Hardi memilih mengalah menempati kamar tamu.
Sang mentari memancarkan sinarnya, Sri Utami masih di kamarnya membuat desain pakaian. Pintu diketuk dari luar, Sri Utami segera bangkit membuka pintu, wajah Hardi tersenyum di balik pintu.
"Boleh masuk?" tanya Hardi.
"Silahkan ini kamar kang Hardi juga," jawab Sri Utami melebarkan daun pintu.
Hardi memasuki kamarnya yang sudah berubah menjadi kamar nuansa wanita, parfum wanita tercium jelas. Hardi menenteng satu buku, matanya menangkap goresan di kertas meja belajar.
"lagi bikin desain?" tanya Hardi memegang kertas tersebut.
" Iya kang!" ujar Sri Utami berbinar.
Hardi lalu duduk di samping ranjang kasur menghadap jendela, ia menepuk tempat disampingnya meminta Sri Utami ikut duduk disebelahnya. Sri Utami duduk menuruti permintaan Hardi.
" Sri, dulu kita gak pernah seakur ini," ujar Hardi menatap wajah Sri Utami.
" Iya, aku sangat benci kamu kang, karena merebut bapak dariku!" ucap Sri Utami sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku juga benci kamu banget, bawel dan cengeng!" ujar Hardi membuat keduanya tergelak tertawa mengingat masa kecilnya.
Nyai Dasimah yang melintas depan kamar Sri Utami tersenyum, hatinya lega melihat Sri Utami kembali bahagia. Ia membiarkan anak bujangnya bersama anak sambungnya menghabiskan waktu.
Kembali lagi ke Hardi dan Sri Utami didalam kamar.
"Sri, aku punya sesuatu untukmu!" ujar Hardi menyerahkan buku yang dipegangnya.
"Buku Revolusi Amerika?" ujar Sri Utami mengambil buku yang disodorkan.
"Iya, Sri. Amerika salah satu negara yan bisa bebas dari kolonialisme bangsa Inggris. Bukankah itu luar biasa! bisa keluar dari kolonialisme, padahal mereka awalnya bukan satu bangsa, melainkan berupa koloni koloni?" ujar Hardi menyakinkan Sri Utami.
" Iya kang! lalu apa lagi yang terjadi?" tanya Sri Utami.
" kau kan sudah gede, baca sendirilah! buat apa akang kasih bukunya, kalau akang ceritakan!" ujar Hardi sambil cengegesan.
"Ih dasar akang nih!" ujar Sr Utami cemberut.
"Sri kamu cantik!" ujar Hardi membuat Sri Utami terperajat.
Sri hanya terdiam, menghela nafasnya. Bukan tidak senang dikatakan cantik. Semua wanita menyukai pujian akan kecantikan dirinya.
"Kang tahu? Hanya sekedar cantik bukan berarti dunia sudah berada dalam gengaman kita," ujar Sri Utami.
"Maksudmu Sri?" ujar Hardi keheranan.
" Terlalu berat pujian kang Hardi. Banyak wanita yang lebih cantik didunia ini seperti Zulaikha" Ujar Sri Utami.
"Kang, Zulaika adalah wanita tercantik di Mesir yang mencintai budaknya, Yusuf. Zulaikha memiliki harta, martabat dan gelar kecantikan. Tapi ada satu yang tidak dimilikinya yaitu Yusuf. Namun saat dia tidak memiliki segalanya bahkan dia sudah tua renta, kecantikan sudah memudar, dia mendapatkan Yusuf." ujar Sri Utami.
"Apa hubungan pujian akang sama kamu?" ujar Hardi sambil cengegesan
"Kang, aku tak ingin dipuji karena sekedar cantik!" Karena setelah semua itu hilang orang tidak akan memujiku lagi, semua orang akan meninggalkanku dan melupakanku" Ujar Sri Utami sambil memoyongkan bibirnya.
"Dasar bocah! bawel" ujar Hardi sambil mencubit pipi Sri Utami sebelum melengangkan kakinya keluar dari kamar. Sri Utami merasa terhibur dengan keberadaan kakak sambungnya tersebut, sosok ayah berasa hadir kembali walau beda sikap dan wujudnya.
****
Tujuh purnama sudah berlalu, namun cinta Sri Utami belum juga sirna pada Van Berg, hatinya selalu berdesir setiap menyebut namanya. Sri Utami memang sudah tidak pernah menjumpai Van Berg lagi. Tapi, dunia terlalu sempit untuk mereka saling sembunyi. Senja itu sebuah mobil melintas dan berhenti didepan gedung Volksraad. Sri Utami keluar dari gedung.
"Sayang, kenapa menjemput segala kesini," ujar Van Berg pada Madelief yang terlihat perutnya tengah hamil besar keluar dari mobil.
Sri Utami menyaksikan hal tersebut didepan matanya, Van Berg memapah Madelief keluar dari mobil dan didudukan di satu kursi dibawah pohon. Terpancar kebahagiaan dari pasangan tersebut.
Bohong jika Van Breg tidak mencintai Madelief, batin Sri Utami.
Jika harus jujur Sri Utami merasa teriris hatinya, kemesraan didepan matanya membuat panas bergemuruh di dadanya. Tapi apa hak Sri Utami, cemburu saja tidak boleh, merindukan dan mencintainya pun sudah terlarang.
"Sri ayo pulang!" ajak Soendari sambil menepuk bahunya.
"Hm.." jawabnya matanya masih memperhatikan Van Berg.
__ADS_1
" Pemuda yang pernah mengejarmu! kau jatuh cinta padanya?" ujar Soendari yang mengekori pandangan Sri Utami.
" Sepertinya," jawab Sri Utami menundukan pandangannya.
" Lupakan dia, dia sudah beristeri!" ujar Soendari menarik lengan Sri Utami.
"Aku pun sedang melupakannya, " jawab Sri Utami menyesejajarkan langkahnya dengan Soendari.
"Kalau sedang melupakannya jangan terus menatapnya." Gerutu Soendari.
"Iya. " jawab Sri Utami.
"Sri, kang Hardi masih dirumah mu? ujar Soendari tersipu malu.
" Iya, tentu saja itu kan rumahnya, dia udah beres studinya di Belanda." ujar Sri Utami.
"Berarti dia akan di Indonesia selamanya! Yes!" ujar Soendari kegirangan.
"Kenapa kamu Soen?" tanya Sri Utami
" Boleh aku ikut main ke rumahmu? aku juga ingin ketemu kang Hardi." ucap Soendari.
Sri Utami paham Soendari menyukai Hardi dari sejak sekolah di AMS. Sri menyambut keinginan Soendari dengan membawanya ke rumah. Kebetulan Hardi sedang diruang tamu membaca buku saat Sri Utami datang. Sri Utami mencium tangannya Hardi, yang diikuti Soendari.
"Eh ngapain Soen?" tanya Sri keheranan.
"Hehehe" jawab Soendari cengegesan dan menahan malu
"Ya udah duduk dulu Soen, aku buatkan minuman dulu. Kang Hardi ini Soendari temen Sri." ujar Sri.
Hardi hanya menoleh sebentar dan mengangguk ke arah Soendari, kemudian kembali fokus ke bukunya. Sri Utami pergi ke dapur membiarkan mereka berbicara.
"Kang Hardi suka buku tentang perang?" tanya Soendari hati-hati.
"hm." Jawab Hardi masih tengelam dalam bukunya
" Perang apa kang?" tanya Soendari.
"dunia!" jawab Hardi tanpa menoleh sedikit pun pada Soendari.k obrri
Soendari memutar otaknya untuk bisa mencairkan suasana bersama Hardi yang bersikap acuh.
"Kang Hardi, kriteria perempuan yang disukainya seperti apa?" tanya Soendari malu banget mengutarakan dengan lancang pertanyaan tersebut.
"Seperti SRI!" jawabnya dengan penuh kemantapan.
Sri Utami sudah mematung berada disana membawa minuman. Seketika wajah Soendari sudah berubah masam. Hardi menyadari keberadaan Sri Utami hatinya bergetar seperti sudah menyatakan perasaannya langsung pada Sri Utami.
sudah ku katakan cinta membawa penderitaan dan kekecewaan, hanya memberi sedikit kebahagiaan bagi yang berhasil memusnahkan penderitaan dalam cinta.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1