
Hujan menguyur bumi pertiwi dibulan Desember ditahun 1941. Bangsa Asia sudah memunculkan taringnya pada kolonialisme barat. Bangsa kulit kuning itu tidak terima atas embargo yang dilayangkan Amerika Serikat. Dibawah Jenderal Isoroku Yamamoto serangan hebat pun menghancurkan Pangkalan militer Amerika, di Hawai.
Kegetiran menyelimuti pasukan blok Sekutu. Cengkraman terhadap bumi pertiwi lambat laun akan terlepas. Di samping itu, para nasionalis saling bertentangan pendapat menghadapi kehadiran tamu imperialisme baru, sikap lunak atau keras yang akan disodorkan membuat para nasionalis terpecah belah.
Sri Utami sudah berdiri cukup lama menghadap keluar jendela. Suara hujan meneduhkan hatinya. Ia mengamati tetesan hujan seraya pikirannya memikirkan nasib bangsanya yang terjajah. Sudah hampir tiga setengah abad bangsanya dijajahan oleh negeri kincir angin itu. Tangannya memegang buku berjudul history Of the American Revolution.
" Kang Hardi, apakah bangsa ini akan merdeka?" ujar Sri Utami seorang diri.
Hardi sudah lama meninggalkannya, dia pergi tanpa pamit pada Sri Utami. Nyi Dasimah tetap bungkam setiap ditanya mengenai Hardi. Kakaknya tersebut hilang tepat setelah Soendari bertamu. Air matanya meluncur, rasa kesepian merasuk jiwanya. Pertanyaan Hardi masih tergiang mengenai seseorang yang disukai Sri Utami.
" Siapa orang yang kau sukai,Sri?" ujar Hardi menatap lekat Sri Utami dibawah rembulan.
Sri Utami tidak pernah mengatakannya, dia ingin mengubur perasaannya terhadap orang yang telah merebut hatinya, tapi itu tidak pernah berhasil membuatnya berhenti mengharapkan Van Berg.
"Van Berg, dia orangnya!" ujar Sri Utami menjawab pertanyaan dalam bayangan yang belum sempat diucapkan sambil meneteskan air mata.
Sekelebat bayangan hitam menlintas dibawah derasnya hujan. Sri Utami yang melihat selintas terhenti, jantungnya berdegup membayangnya sesuatu yang buruk. Ia segera menarik daun jendela, namun dua tangan kekar menahannya, kepala seorang lelaki perlahan naik hingga berhadapan dengan Sri Utami. Wajah Sri Utami menegang saat menatap wajah tersebut, lelaki itu menyerigai membuat bulu kuduk Sri Utami berdiri, mundur perlahan tapi tangannya ditahan lelaki itu. Sri Utami meronta-ronta, lelaki itu menarik Sri mendekat ke wajahnya.
"Kau ingat aku, nona manis?" Ujar Fredrik.
Fredrik mencoba mencium Sri Utami, namun Sri Utami meludahi wajah Fredrik, sehingga membuatnya marah dan menarik Sri Utami lebih dekat lagi. Saat Fredrik mencoba mentautkan bibirnya Sri Utami membenturkan kepalanya, membuat Fredrik sempoyongan, Sri Utami langsung mengigit kedua tangan yang mencengkramnya. Ia menarik keras daun jendela sehingga membentur kepala Fredrik. Pintu jendela langsung dikunci. Nyai Dasimah yang mendengar suara jendela yang ditutup keras langsung mengetuk pintu kamar Sri Utami.
"Sri, apa yang terjadi?" tanya Nyai Dasimah khawatir.
" Tidak ada apa-apa bu," ujar Sri Utami sambil tersenyum.
" Ya sudah, cepat tidurlah jangan bergadang." ujar Nyai Dasimah tersenyum sambil sesekali menguap.
"Iya bu." ujar Sri Utami tersenyum.
Nyai Dasimah pun beranjak kembali ke peraduannya. Sri Utami menutup pintu kamarnya, ia membaringkan diri diperaduannya, namun terdengar suara ketukan. Ia bangkit membuka pintu, ternyata suara ketuakan berasal dari jendelanya. Sri Utami jantungnya berderu cepat, keringat dingin membasahi wajahnya. Tangannya mencengkram ujung kebaya. Ketukannya kini terdengar suara seseorang lirih memanggil namanya.
"Srii...Sri.. ini aku," ujar suara dibalik daun jendela.
Sri Utami perlahan mendekat ke jendelanya, dan membuka daun Jendela, satu wajah yang dirindukannya hadir dihadapannya dengan senyuman mengembang. Lelaki itu meloncat masuk ke kamar Sri Utami, bajunya setengah basah kuyup, Sri Utami mematung menyaksikan yang baru dilihatnya. Air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Kau menangis?" tanya Van Berg.
__ADS_1
" Kenapa kau kemari! keluarlah" ujar Sri Utami berjalan ke arah Van berg .
"Aku ingin bertemu denganmu," ujar Van Berg menatap lembut Sri Utami dihadapannya.
Sri Utami mendorong Van Berg keluar dari kamarnya, tapi badannya Van Berg seperti akar pohon yang mencap kuat. Sri Utami pun memukul mukul dada bidang Van Berg sambil air matanya terus mengalir. Van Berg pun mencengkram kedua tangan Sri Utami dan menatap wajah elok itu.
"Kau merindukanku Sri?" tanya Van Berg.
"Tidak!" ujar Sri Utami tertunduk.
Van Berg pun menarik tubuh Sri Utami ke dalam dekapannya. Sri Utami tidak memberikan balasan.
"Kau sudah menikah! pulanglah!" ujar Sri Utami.
"Aku merindukanmu, biarkan aku memelukmu sekarang," ujar Van Berg mengeratkan dekapannya, sambil air matanya ikut mengalir.
Sri Utami tangannya membalas pelukan tanpa disadari, ia juga merindukan Van Berg. Sri Utami membenamkan wajahnya didada bidang pemuda itu, detak jantung Van Berg begitu tenang. Kerinduan itu membuatnya lupa akan status Van Berg. Setelah cukup lama berpelukan,Van Berg melepaskannya, ia menatap wajah Sri Utami.
"Setelah perang usai, aku akan menikahimu!" ujar Van Berg sambil tersenyum.
"Pernikahanku sudah berakhir!" ujar Van Berg sambil menghembuskan napasnya.
"Artinya tuan menyuruhku menunggu?" ujar Sri Utami menyungingkan senyuman.
"Iya, aku minta maaf memintamu menunggu!" ujar Van Berg.
Sri Utami hanya membalas dengan senyuman sembari mengangguk. Van Berg kembali menarik tubuhnya ke dalam dekapan.
"Terima kasih," ujar Van Berg.
"Kenapa harus berterima kasih," ujar Sri Utami.
Van Berg merengangkan dekapannya, ia mengamati wajah Sri Utami yang sudah bersemu merah pipinya. Hal itu membuat Van Berg tersenyum melihatnya, ia mengusap pipi Sri Utami.
"Ayo tidur bersama!" ujar Van Berg merebahkan tubunya di kasur.
"Tidak! itu tidak boleh!" ujar Sri Utami membulatkan matanya.
__ADS_1
Van Berg tidak mendengarkan ucapan Sri Utami, ia langsung berbaring dikasur, tanganny menyilang didada sambil memejamkan mata. Sri Utami masih terpaku melihat tingkah Van Berg. Karena merasa diperhatikan Van Berg membuka matanya dan mengangkat satu alisnya. Kemudian menepuk tempat kosong disebelahnya.
"Ayolah tidur! ini sudah malam, aku tidak akan melakukan apapun." ujar Van Berg sambil tersenyum nakal.
"Mana aku percaya, tuan tidak akan melakukan apapun." Ujar Sri Utami sambil menyilangkan tangan didadanya.
" Aku tidak akan melakukannya, ini bukan waktunya!" ujar Van Berg sambil terkekeh.
Sri Utami berjalan sambil menghembuskan nafasnya, perlahan menaiki ranjangnya dan membaringkan badannya jauh dari Van Berg.
"Kau tidak percaya aku?" tanya Van Berg menatap Sri Utami.
"Iya! sangat tabu tidur bersama sebelum menikah!" ujar Sri Utami.
" Aku hanya ikut istirahat sebentar disini, percayalah!" ujar Van Berg menyakinkan Sri Utami.
Sri Utami hanya mengangguk kemudian mencoba tertidur. Van Berg menariknya menjadikan tangan kekarnya sebagai bantalan Sri Utami, seketika Sri Utami matanya membulat.
"Tuan!" ujar Sri Utami mengerjitkan dahinya.
"Tidurlah," Ucap Van Berg sambil tersenyum.
Sri Utami mencoba terlelap, Van Berg terus mengamati wajahnya, tangannya mengelus wajah Sri Utami. Tatapannya jatuh bibir Sri Utami yang semerah buah cerry, Van Berg mendekatkan wajahnya hampir menyentuh bibirnya, mata Sri Utami langsung terbuka, Van Berg terkejut langsung mengesekkan hidung mancungnya ke hidung Sri Utami sambil tersenyum. Sri Utami sangat terkejut dan wajahnya sudah semerah udang goreng.
*****
Sri Utami terbangun dari tidurnya tidak mendapati seseorang disampingnya, sejenak ia berpikir kejadian semalam hanya mimpi. Sri Utami segera beranjak membersihkan diri. Selesai mandi ia mengenakan kebayanya, tangannya menangkap tulisan dikertas ditahan bunga mawar.
Tunggu aku kembali, peganglah janjiku!
Van Berg
Senyuman mengembang di wajah Sri Utami, ia segera membuka jendela kamarnya membiarkan udara masuk. Ia menghirup udara pagi dalam-dalam.
~Jangan pernah ucapkan selamat tingggal, karena dia yang mencintaimu akan kembali datang sewaktu-waktu~
BERSAMBUNG...
__ADS_1