Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Tahun pemberontakan part II


__ADS_3

Suara riuh terjadi di ruang makan Kempei ***, seorang prajurit PETA bawahan Komandan Poniman tengah disidak dihadapan semua tentara.


"Kamu pasti yang mencuri jatah makanan itu kan!" bentak Prajurit Jepang.


"Tidak! saya tidak mencurinya!" dengan lantang Soetrisna menjawab.


Pelatih Jepang Letda Yamamoto nampak sudah gelap mata tidak mendengarkan sanggahan dari Soetrisna.


"Apa hukuman yang pantas untuk seorang pencuri?" ujar Letda Yamamoto sambil berjalan mengelilingi Soetrisna.


"Bagi setiap pencuri akan dihukum tembak!" seorang prajurit membacakan hukuman yang akan ditimpakan pada Soetrisna.


"Baik, hukuman tembak, siapa disini yang berani menjadi eksekutornya!" ujar Letda Yamamoto dengan lantang.


Tiba-tiba seorang prajurit PETA berkedudukan sebagai chudanco maju ke depan dengan tegap.


"Saya yang akan menghukumnya, Chui!" ujar Chudanco Omon Abdurahman.


Semua anggota Peta nampak terkejut dengan sikap pimpinan PETA tersebut. Hal itu berbanding terbalik dengan Letda Yamamoto yang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengadu domba antar prajurit PETA.


"Saya juga," ujar Astika Legono Syarif seorang prajurit PETA maju lagi ke depan.


"Bagus! kalian adalah orang yang tegas!" ujar Prajurit Jepang.


Soetrisno sudah berdiri dengan jarak 100 meter menghadap Chudanco Omon Abdurahman dan Astika Legono Syarif. Pelatuk pistol akan segera ditarik oleh kedua orang tersebut.


"Tunggu!" teriak komandan Poniman menghentikan dua orang tersebut yang hendak menembak.


"Ada apa Ko Taico? " tanya Letda Yamamoto.


"Saya menolak hukuman Soetrisna, dia tidak bersalah! Apa seorangan Samurai selalu bertindak gegabah, menjatuhkan hukuman tanpa ada bukti?" ujar komandan Poniman dengan tenang.


Semua yang ada disana terdiam mendengar perkataan dari komandan Poniman. Namun Letda Yamamoto nampak terlihat marah dengan ucapan komandan Poniman.


"Ini hanya karena jatah makanan, jika tuan prajurit memang makanannya dicuri, silahkan ambil bagian saya sebagai gantinya, " ujar komandan Poniman.


Prajurit Jepang tersebut nampak malu sekaligus marah. Semua tentara nampak begitu hormat pada Komandan Poniman yang datang menengahi pertengkaran.


"Hukuman dibebaskan!" ujar prajurit tersebut membuat Letda Yamamoto geram dan meninggalkan ruangan tersebut.


*****


PLAK


Seorang prajurit PETA ditampar keras oleh Letda Yamamoto karena melakukan kesalahan.


"Yang seperti ini saja kau masih salah, " ujar Letda Yamamoto.


Sebuah tamparan akan dilayangkan kembali, namun belum sempat tangan itu mengenai pipi prajurit PETA tersebut.


BUGH


Pukulan keras menghantam muka Letda Yamamoto, dengan deru nafas memburu Amar Soetisna memberikan pukulan berkali-kali pada Letda Yamamoto yang selalu bertindak semena-mena pada anggotanya.


Letda Yamamoto tersungkur, dia memegangi bibirnya yang mengucurkan darah sambil mengumpat pada Amar Sutisna.

__ADS_1


"Aku akan melaporkan perbuatanmu pada atasan!" ujar Letda Yamamoto sambil menjauh dari Amar Sutisna.


Yamamoto bergegas pergi ke Cimahi untuk menemui atasannya dan melaporkan pelakuan Amar Sutisna terhadapnya.


*****


Sri Utami menatap dirinya diatas ranjang tersebut, pakaiannya masih lengkap, dengkuran halus Ryosuke menerpa lehernya, tangan kekar itu melingkari pingang Sri Utami. Ia mencoba beranjak dari ranjang tapi Ryosuke semaki mengeratkan pelukannya. Sri Utami pun mengela nafasnya.


"Kau mau kemana? " suara serak Ryosuke terdengar di telinganya.


"Ini sudah pagi, aku harus pulang!" ujar Sri Utami.


Ryosuke membalikan badan Sri Utami agar menghadapnya. Semburat merah muncul dikedua pipi Sri Utami karena ditatap oleh bola mata Ryosuke yang tajam tapi lembut.


"Kau.. Tidak boleh pulang, siapkan sarapanku!" ujar Ryosuke.


"Aku sudah memenuhi permintaanmu tuan, membuat sarapan tidak ada dalam perjanjian kita," ujar Sri Utami.


Kedua alis Ryosuke bertautan sambil menatap Sri Utami. Ryosuke mengeratkan pelukannya, sehingga Sri Utami memukul lengan kekar Ryosuke.


"Tuan! Lepaskan!" ujar Sri Utami berontak.


"Kau perhitungan, jadi aku buat perhitungan juga denganmu! " ujar Ryosuke membenamkan wajahnya diceruk leher Sri Utami.


Tok


Tok


Tok


Ryosuke pun melepaskan pelukannya pada Sri Utami, wajahnya terlihat kesal sambil menyibakkan selimut turun dari ranjangnya membuka pintu. Wajah pembantunya tertunduk.


"Suruh tunggu 10 menit, " ujar Ryosuke lalu menutup pintunya kembali, lalu bergegas mandi.


Sri Utami langsung bangkit dari kasurnya dan merapihkan kasur tersebut. Ia merapihkan rambutnya dan menyanggulnya kembali. Ryosuke keluar dari kamar mandi melihat Sri Utami langsung tersenyum. Kemudian memeluknya dari belakang.


"Mandilah dulu, baru kau pulang ke rumah, " ujar Ryosuke membuat Sri Utami tersenyum.


Ryosuke kemudian melepaskan pelukannya segera mengenakan pakaiannya, lalu pergi menemui tamunya yang ternyata Letda Yamamoto.


"Ada apa Chui datang kemarin? " ujar Ryosuke.


"Kau akan ikut kamikaze? " tanya Yamamoto.


"Tentu saja!" ujar Ryosuke.


"Hmm.. Orang Indonesia sudah mulai melawan kita! kita harus hati-hati! " ujar Yamamoto.


"Kenapa wajahmu? " ujar Ryosuke menatap wajah Yamamoto.


"Ah ini perbuatan anak PETA itu, " umpat Yamamoto.


*****


"Saya tidak bisa berdiam diri terus! Lihat mereka semakin semena-mena," ujar Amar Sutisna.

__ADS_1


"Apa yang yang harus kita lakukan?" tanya seorang prajurit.


"Kita tidak akan menunggu lagi untuk memberontak! Gyu-hei Sodki! Gyu-hei Patah," seru Amar Sutisna.


"Siap Danco! " seru keduanya.


" Malam ini bunuh Letda Yamamoto!! "ujar Amar Sutisna.


"Siap Laksanakan!" ujar kedua orang tersebut lalu pergi berlalu.


******


Pagi berdarah Hara Gocho ditemukan tewas dengan kepala hampir putus dengan bagian kepala hancur. Peristiwa pembunuhan tersebut membuat tentara Jepang geram. Tangsi PETA dikepung oleh Kempei *** dengan Tank dan panzer bersenjata 12,7 dari segala arah.


DOR


DOR


Perlawanan sengit pun dilancarkan oleh anggota PETA dengan kemampuan yang ada. Semua tentara PETA bersiap siaga menghindar dari serangan panzer Jepang, tank terus berjalan mengepung tangsi PETA. Pekikan demi pekikan pejuang Indonesia memenuhi langit hari itu untuk mengobarkan semangat juang anggota PETA.


Namun, akhirnya tentara PETA berhasil dibekukan oleh tentara Jepang yang sudah mengepung tangsi tersebut. Semua Budancho dikumpulkan dan dilucuti senjatanya. Sedangkan anggota Chudan diangkut ke Markas Daidan di Cimahi.


Anggota yang terlibat langsung dibawa ke markas Kempei ***. Mereka berjumlah tujuh orang dijebloskan ke sel yang berada di lantai dasar. Sedangkan, prajurit PETA yang lainnya dihukum romusha membangun benteng-benteng pertahanan di Kalijati, Subang.


Sementara, prajurit PETA yang dibawa ke markas Kempei *** diintrogasi sambil disiksa dengan kejam.


"Siap yang merencanakan ini, "ujar Prajurit Jepang.


"Saya tidak tahu! " ujar Budancho Astika Legono.


BUGH!


Perutnya ditendang keras, Budancho Astika Legono tersungkur.


"Mata dibalas dengan mata!" bentak prajurit Jepang.


BUGH


Kepala Budancho Astika Legono dibentur oleh benda keras hingga wajahnya tidak dikenali lagi. Darah segar mengalir dari kepala yang hancur dengan mata hampir keluar. Sementara Amar Sutisna pun mendapatkan perlakuan yang sama disiksa dengan kejam.


*****


Soendari mendengar suaminya Hardi yang merupakan prajurit PETA juga menangis tersedu-sedu mendengar kabar buruk. Sri Utami memeluk kakak ipar yang sekaligus temannya tersebut.


"Kang Hardi sekarang hanya dipekerjakan di romusha saja, Soen," ujar Sri Utami.


"Sri, tentara Jepang itu sangat kejam, " ujar Soendari.


"Tidak ada yang akan yang terjadi dengan kang Hardi, aku akan memastikannya tenanglah," ujar Sri Utami.


BERSAMBUNG....


Warning!


Percakapan Amar Sutisna dan beberapa adegan hanya ilustrasi saja.

__ADS_1


__ADS_2