Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Di Poligami Sehari Setelah Pernikahan


__ADS_3

Seorang lelaki kulitnya putih, terbaring disebuah gubuk kecil ditengah hutan. Kilasan bayangan kehidupannya dan sosok wanita yang dicintainya hadir tiap hari dalam mimpinya. Pemuda itu mengerang merasakan dadanya sakit.


"Hey, anak muda kau sudah siuman?" suara kakek-kakek memenuhi telinganya.


Matanya masih terpejam, seluruh badannya terasa sangat sakit. Dia tidak membuka suara, namun terasa bahwa kini badannya telah diperban.


"Istirahat saja kembali anak muda," kini ujar kakek tersebut.


Lelaki tersebut mengikutinya, karena memang merasa tidak ada kesanggupan untuk beranjak bahkan sekedar membuka mata saja tidak mampu.


*****


Disebuah kamar, Sri Utami tertidur pulas diatas ranjang setelah semalaman menanggis, ia tidur menyamping. Sayup-sayup suara bedug ditabuh membangunkannya, matanya mengerjap. Satu tangan kekar melingkari perut.


Sri Utami meraba tangan tersebut, hembusan nafas lembut menerpa lehernya, Van Berg tidur sambil memeluknya. Sri Utami tidak menyadari tangan tersebut sudah membuka beberapa kancing kebayanya.


Tangan besar itu masuk ke balik pakaiannya. Merasakan adanya sentuhan mengenai kulitnya. Sri Utami tercekat.


"Van Berg!" ucapkanya pelan menahan tangan yang berada dibalik pakaiannya.


"Hmm," suara serak bangun tidur memenuhi telinganya.


Sentuhan bibir mengenai leher jenjangnya dengan lembut, Sri Utami merasakan jantungnya berdebar. Van berg membalikan posisi Sri Utami agar menghadapnya. Tatapan Van Berg sangat lembut saat bangun tidur, membuat Sri Utami terbuai sejenak, membiarkan tangan Van Berg bergeriliya.


"Van Berg sudah pagi," ucap Sri Utami pelan dengan semburat kemerahan merasa malu ketika tangan Van Berg menyentuh kulitnya.


"Sepuluh menit saja," suara serak Van Berg berhembus depan wajahnya.


Tidak menunggu persentujuan dari Sri Utami. Bibir Van Berg menyaput lembut bibirnya, tangannya mengelus lembut punggung polos Sri Utami dan membuka pengait bra.


Tok


Tok


Tok


"Dady!!" suara anak kecil dibalik pintu menghentikkan aktivitas Van Berg. Ia bangkit menyibak selimut dan berjalan membuka pintu. Seorang anak kecil dengan rambut dikepang dua langsung menghambur dalam pelukannya. Sri Utami segera merapikan kebayanya. Mata anak perempuan itu menangkap Sri Utami di atas kasur.


"Dady? who she is?" ucap anak kecil tersebut.


Van Berg pun menoleh menatap Sri Utami dengan senyuman mengejek.


"Wanita pengoda," ucapnya sambil mengandeng anak tersebut keluar dari kamarnya.


Sri Utami mengepalkan tangannya, air matanya membuncah kembali, Van Berg selalu memandang dirinya rendah. Sri Utami pun bangkit dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi.


Kembali ke kamar memakai kebayanya, Van Berg masuk tanpa suara, dan menyender ditembok memperhatikan gerakan Sri Utami mengenakan pakaian.


"Seksi!" ucapnya membuat Sri Utami terkejut.


"Apa maksudmu!" ujar Sri Utami membalikan badan kemudian memicingkan matanya.


"Aku akan menikahi Madelief lagi!" ucap Van Berg sambil memasukan kedua tangannya ke saku.


Sri Utami kembali menatap Van Berg, wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya tersebut nampak serius.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan jika aku tidak suka dipoligami!" tegas Sri Utami merapihkan rambutnya.


"Aku tidak peduli denganmu, aku tidak ingin anakku terlantar," ucap Van Berg dengan wajah dingin dan keluar dari kamarnya.


Sri Utami hanya bisa menepuk dadanya yang sesak, air matanya sudah kering. Sri Utami sejak dulu menentang keras poligami, itulah yang menjadi alasannya masuk organisasi Isteri Sedar.


Bayangan ibunya yang menanggis tersedu-sedu saat ayahnya menikah lagi. Setiap hari ibunya melamun, setiap hari tidak ada aura kehidupan hingga penyakit batinnya tersebut merenggut nyawanya.


*****


Semalaman Rahman sudah mengintai rumah tersebut, ia menyadari Sri Utami disekap dirumahnya, terlalu banyak orang Belanda berkeliaran depan rumah Sri Utami.


Gadis yang dicintainya nampak berjalan ke pekarangan dan menjemur pakaian. Rahman berjalan mengendap-ngendap mendekati Sri Utami.


"Sri!" seru Rahman membuat Sri Utami membulatkan matanya.


"Rahman! kamu... " ucap Sri Utami.


"Ayo kita pergi!" Rahman memberanikan diri mengandeng tangan Sri Utami.


"Mau kemana kamu!" suara keras membuat Sri Utami dan Rahman membalikan badan.


"Ayo Sri!" Rahman langsung menyeret Sri Utami yang mematung.


Dor!


Tembakan tertuju ke samping badan Sri Utami membuatnya terhenti.


"Sri, ayo!" tarik Rahman.


Dor!


"Kamu mau meninggalkan suamimu?" ujar Van Berg.


Rahman menoleh memandang Sri Utami meminta penjelasan.


"Rahman, aku sudah dinikahinya," renggek Sri Utami membuat Rahman melemas badannya.


Van Berg melangkah mendekati dua sejoli tersebut, dan menodongkan senapannya tepat ke dahi Rahman.


"Mencuri gundikku!" ujar Van Berg sambil menarik perlahan pelatuknya.


"TIDAAAK!" ujar Sri Utami tidak ingin melihat kematian depan matanya.


"Hentikan Van Berg, aku tidak akan ikut dengannya," ujar Sri Utami melepaskan gengaman Rahman lalu bersimpuh dihadapan Van Berg.


"Tidak Sri! jangan kau tundukan dirimu pada penjajah ini!" tegas Rahman menarik Sri Utami yang sudah bersimpuh.


"Rahman cepatlah pergi, kau harus selamat! aku titip ibu sama kamu," ucap Sri Utami.


Rahman dengan tidak berdaya, melangkah gontai meninggalkan Sri Utami, hatinya sakit sekali.


*****


Madelief tersenyum bahagia setelah mendengar Van Berg mengucapkan janji pernikahan. Hatinya merasakan kebahagian kembali.

__ADS_1


"Van Berg, mari jangan ada perceraian lagi antara kita," ucap Madelief sambil menguraikan senyuman.


"Aku janji, kita akan hidup bersama selamanya," ucap Van Berg.


"Bagaimana dengan Sri?" tanya Madelief memancing emosi Van Berg.


"Dia tidak berarti apa-apa, aku hanya akan menjadikannya gundik!"ucap Van Berg membuat Madelief tersenyum lebar.


Mereka berdua pun menyatukan kedua bibirnya dengan hasrat yang penuh.


******


Sri Utami melihat rumahnya sudah lengang hanya ada dua orang yang berjaga. Pintu rumahnya terbuka menampilkan tiga orang yang tersenyum.


"Sri!" ujar Madelief dengan ramah memeluk Sri Utami.


"Maaf kau harus berbagi suami!" lanjut Madelief.


"Kau siapkan air mandi untuk kami bertiga!" perintah Van Berg.


Sri Utami mengeryitkan dahinya, merasa heran sikap Van Berg yang berani memerintah saat ini. Sri Utami menyadari dirinya diajarkan untuk patuh pada perintah suami, hanya menghembuskan nafasnya.


"Sayang, tidak apa biar aku saja!" ucap Madelief sambil mengecup pipi Van Berg.


"Kamu memang isteri terbaikku," ujar Van Berg sambil mengecup kening Madelief dihadapan Sri Utami.


Madelief tersenyum kemudian berlalu meninggalkan ruangan.


"Kamu wanita pengoda kan? jangan sekali-kali merebut ayahku, " ujar anak perempuan tersebut dengan tatapan tajam.


Sri Utami hanya terdiam, pikirannya terlalu kalut untuk menanggapi ocehan setiap orang di rumahnya saat ini.


"Sini Rapunzel, dia tidak akan merebut ayahmu," ujar Van Berg sambil menarik anaknya duduk dipangkuannya.


"Panggil dia momy Sri, okey?" ucap Van Berg pada gadis tersebut yang disambut anggukan.


"Hai momy Sri!" ujarnya.


"Hai juga, what is your name?" tanya Sri Utami mendekat ke arah gadis tersebut sambil tersenyum dan mensejajarkan badannya dengan gadis yang berada dipangkuan Van Berg.


"Rapunzel," jawab gadis tersebut singkat.


Van Berg merasakan getaran dan desiran di jantungnya, perasaan terhadap wanita dihadapannya masih ada. Ingin rasanya memeluk dan mencium wanita tersebut, tapi egonya masih diatas segalanya.


*****


Malam pun tiba, Sri Utami terbaring diatas kasurnya, namun masih gelisah karena suara berisik dari kamar disampingnya. Van Berg dengan Madelief tengah menghabiskan malam.


_


_


_


_

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2