
"A-aku.. " Sri Utami membuka suaranya
cup
Van Berg mengecup bibir Sri Utami dan seketika rona diwajahnya muncul, Sri Utami langsung menunduk malu.
"Bicaralah Sri." Kata Van Berg.
Bukannya mengikuti perkataan Van Berg, Sri Utami justru langsung membalikan badannya, menutupi rasa malunya. Van berg tersipu melihat tingkah Sri Utami yang malu-malu. Van Berg langsung memeluk Sri Utami dari belakang.
"Kalau begitu nanti saja bicaranya, kita istirahat saja!" Ucap Van Berg.
Tangan kekar itu ditelusupkan ke bawah kepala Sri Utami, membuatkan Sri Utami beralaskan bantalan tangannya. Tidak ada penolakan Sri hanya menikmati perlakuan tersebut. Pelukan Van Berg begitu erat dan terdengar hening. Sri Utami mengira Van Berg sudah terlelap.
"Van Berg, kau tahu bukan aku tidak suka poligami! Kenapa kamu justru memperlakukan aku seperti ini!" Ucap Sri Utami pelan.
Di belakang sana Van Berg mendengarkan keluhan Sri Utami. Dia tahu betapa dalamnya luka yang sudah diberikannya. Namun ada keadaan memaksanya melakukan hal tersebut. Meninggalkan Madelief dan anaknya tidaklah mungkin dilakukan oleh Van Berg karena itu memyangkut kehidupan keluarganya di Belanda dan juga menyangkut nyawa Sri Utami.
"Aku sudah kehilangan segalanya! Aku kehilangan harga diriku, keluargaku, sahabatku! Kamu dan negeramu merebut kebahagian kami!" Keluh Sri Utami dengan berapi-api.
"Apa yang bisa aku lakukan sekarang! Aku sekarang menjadi budak penjajah!" Geram Sri Utami.
Semua keluh kesah Sri Utami cukup sampai ke ulu hatinya. Bukan keinginannya melakukan penghacuran dinegeri ini. Perlahan pelukannya semakin erat.
"Maaf Sri," Bisik Van Berg.
"Semuanya tidak bisa kembali hanya dengan kata maaf! Kamu juga membunuh Ryosuke!"Isak Sri Utami menanggis menjadi-jadi.
"Shut up! Jangan sebut nama itu Sri!" Bentak Van Berg kini terbakar emosinya karena cemburu.
Van Berg bangkit dari tidurnya kini posisinya duduk diranjang tersebut, Sri Utami yang sedang menanggis terhenti karena bentakan Van Berg, tangannya meremas kain seprai kuat.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu menyelamatkan Sri Utami dari suasana mencekam. Van Berg meraih celananya yang berserakan di lantai dan segera memakainya. Masih dengan bertelanjang dada dia berjalan membuka pintu.
"What happen?"
"Madam Madelief here!"
"Damn it! Suruh dia menunggu!"
"Baik Sir!"
Segera pintu ditutup kembali dengan rapat, Van Berg langsung memungguti pakaiannya yang berserakan dilantai. Dia mengancingkan bajunya dengan tergesa-gesa. Sri Utami bangkit duduk dikasur sambil memegangi selimut di dadanya, dia memperhatikan Van Berg yang mengenakan seragamnya lagi.
Setelah selesai mengenaikan seragam beserta atributnya, Van Berg mendekati Sri Utami lalu duduk dipinggir ranjang. Tangannya diletakan didahi Sri Utami.
" Sudah ku duga kamu demam! Tunggulah disini! Aku akan segera kembali!" Ucap Van Berg dan mengakhirimya dengan kecupan dikening.
__ADS_1
Lalu Van Berg melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk menemui Madelief yang tiba-tiba menemuinya. Senyuman merkah terukir jelas dibibirnya menyambut Van Berg.
********
"Disini!" Teriak seorang anak muda berwajah lokal.
Rahman yang berhasil menyusul menyusur ke lokasi terjadi ledakan digedung mesiu. Berlari kearah anak muda yang menemukan seorang lelaki berwajah Jepang.
"Ryosuke!" Ucap Rahman dengan nafas memburu.
Tanganya segera diletakkan dibawah hidung Ryosuke, wajah Ryosuke sudah memucat dan bersimbah darah.
"Ini masih bisa ditolong! Ayo bawa dia ke basecamp!" Ucap Rahman.
Beberapa orang langsung mengotong tubuh Ryosuke yang bersimbah darah.
"Bertahanlah Ryosuke!" Ucap Rahman yang melihat pergerakan tangan Ryosuke.
Segurat senyuman terukir dibibir Ryosuke yang pucat, meskipun matanya masih tutup. Langkah kaki yang mengotong dipercepat menuju basecamp. Beberapa orang yang melihat Rahman membawa satu korban langsung memburunya.
"Cepat tolong dia! Siapa disini yang bisa membedah?" Teriak Rahman pada pasukannya.
Semua anggota yang memburu tersebut saat melihat seseorang uang ditolongnya langsung mundur.
"Dia nippon! tidak perlu ditolong!" Ucap seorang anak muda.
"Rasa kemanusiaan tidak perlu melihat kebangsaan bung! Kebencian kita pada penjajah jangan sampai menutup mata hati kita! Cepat tolong dia!" Teriak Rahman.
"Dia bakal banyak kehilangan darah! Siapkan pendonor!" Ucapnya sambil memeriksa denyut nadi Ryosuke.
"Kita tidak tahu golongan darahnya?"
"Dia golongan darah B!" Katanya sambil memeriksanya.
"Tolong siapapun yang bergolongan darah B! Berkumpul sekarang!" Perintah Rahman.
Beberapa orang langsung mengecek berkumpul ditempat lain untuk mendonorkan darahnya. Sementara pemuda lulusan Stovia dan Rahman mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Ryosuke.
"Saya takut dia akan kejang-kejang setelah ini!" Seru pemuda tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Rahman.
"Saya akan mencoba agar tekanan darahnya tidak meningkat saat pengoprasian ringan ini! Dia akan kesakitan karena tidak kita bius!"
"Baiklah aku percayakan padamu Bung!"
Perlahan pemuda tersebut mulai membuat robekan disekitar dada untuk membuat akses mengambil peluru. Terlihat beberapa kali Ryosuke merespon badanya bergerak kejang.
"Tenangkan dia!" Ucap anak muda tersebut.
__ADS_1
Rahman mengangguk, dan beberapa orang mulai mengumpulkan benda-benda medis kehadapan pemuda tersebut.
********
Dihotel Bandung Utara
Sore itu, Sri Utami masih duduk termenung menatap ke jalanan melalui jendela. Dia mengenakan kembali kebaya yang sudah terlepas seluruh kancingnya dan robek.
Pada hari ini, peristiwa perjuangan bandung lautan api menemui puncaknya dengan aksi heroik seorang pemuda berdarah sunda yakni Muhammad Toha yang meledakan gedung mesiu.
Sri Utami mendengar itu dari suara orang-orang yang berbincang dibawah sana. Mereka tentara Belanda begitu euforia sekaligus terlihat getir membicarakan hal tersebut.
Senyuman pahit terukir jelas dibibir Sri Utami. Berada dalam sangkar penjajahan sangat menyakitkan, dirinya terjebak cinta dan hanya bisa menatap dari kejauhan menyaksikan perjuangan bangsanya tanpa bisa ikut bergabung.
"Kapankah semuanya akan berakhir?" Ucap Sri Utami menatap sendu pada pepohonan yang tertiup angin.
Ceklek
Pintu terbuka seseorang melangkah tegas menghampirinya. Sri Utami tidak berniat melihat kedatangannya. Bukan karena membencinya, tapi dia membenci dirinya sendiri yang tidak kuasa berbuat apapun saat ini. Ada perasaan berdosa dalam hatinya hidup berdampingan dengan seorang lelaki yang menjajah negerinya.
"Sri!"
Tangan kekar itu memeluknya dari belakang sambil dagunya bersandar dipundak Sri Utami. Tangan itu menelusup mengelus lembut perut datar Sri Utami.
"Jangan memakai pakaian ini lagi! Terlalu mengairahkanku Sri!" Suaranya berat berhembus ditelinga Sri Utami.
"Tidak ada pakaian lain" Ucap Sri Utami datar.
"Aku membawanya" Ucap Van Berg.
Senyuman tipis terukir dibibir Sri Utami, Van berg mengendus leher jenjang Sri Utami. Lalu membalikan badan Sri Utami menghadapnya. Hanya ditempat inilah Van Berg merasa bebas berduaan dengan Sri Utami.
"Jangan bersedih Sri! Aku juga tidak mau menghancurkan negerimu! Aku juga tidak ingin membunuh Ryosuke! Tapi percayalah Ryosuke tidak akan mati dengan mudah!" Ucap Van Berg sambil mengangkat dagu wanita berwajah ayu itu.
Tidak ada respon dari Sri Utami hanya tatapan kosong dan mata yang penuh dengan kesedihan. Van Berg sangat benci aura itu dari gadisnya yang bermata jeli.
"Kedamaian akan segera hadir Sri!" Kata Van Berg membuat Sri Utami mendongkakkan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...