Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Kau adalah seorang penjajah


__ADS_3

Suasana diruang makan itu begitu hening, Sri Utami membuat empat piring nasi goreng. Wajahnya nampak murung dan seperti kurang tidur.


"Kau seperti kurang tidur, Sri?" tanya Madelief menatap Sri Utami sambil tersenyum.


"Iya, semalam suaramu menganggu tidurku," jawab Sri Utami datar.


"Memangnya suara apa?" Madelief pura-pura tidak paham sengaja untuk memancing Sri Utami.


Sri Utami yang sedari menunduk, mengangkat wajahnya menatap Madelief sambil menghembuskan nafasnya.


"Jangan menganggu sarapan pagi dengan obrolan tidak berguna," ucap Sri Utami merasa kesal.


"Hey, hey Sri. Apa saat ini kau sedang cemburu buta?" pancing Madelief dengan senyuman puas.


"Iya aku cemburu! kupingku hampir robek mendengar desahanmu! kau seperti sedang memberikan pengumuman Madelief. Dan aku peringkatkan kau! disini ada anakmu tolong jaga sikapmu," ujar Sri Utami dengan nada tinggi akibat kurang tidur dan Madelief terus memancing emosinya.


Van Berg yang sedari tadi menikmati nasi goreng, sudut bibirnya tertarik membuat senyuman, hatinya merasa senang dengan perkataan Sri Utami. Sedangkan, Madelief merasa terpancing dengan ucapan Sri Utami.


"Kau tidak perlu marah seperti itu! atau selama ini kau belum disentuh oleh Van Berg? Wah luar biasa, sepertinya kau memang tidak ada apa-apanya lagi dimatanya. Kau seorang yang menjijikan yang tidur dengan para hidung belang," ujar Madelief sambil tersenyum sinis merasa puas.


"Cukup Madelief, hati-hati dengan ucapanmu. Kau pun sama bukan? kau menjadi pelayan nafsu para perwira?" ujar Sri Utami membalikan kata-kata dan tersenyum.


"JAGA MULUTMU SRI! bentak Van Berg.


"Tidak sadarkah, disini ada anakku!" sambung Van Berg yang sedari tadi diam saja angkat bicara.


Sri Utami terdiam menelan nasi goreng dengan kasar, ludahnya terasa kering, ingin rasanya dia menangis saat itu juga dan membela dirinya, namun diurungkan, jika dia melakukannya Madelief akan semakin bahagia seperti saat ini yang dia tengah tersenyum penuh kemenangan.


******


Usai sarapan pagi tadi, Sri Utami menanggis sesegukan didalam kamar. Suara pintu kamar diketuk membuat Sri Utami menghapus air matanya, dan berjalan membuka pintu. Van Berg tengah berada dihadapannya.


Sri Utami menatap Van Berg melihat lehernya kemerahan, langsung menarik tangannya ke dalam kamar. Van Berg terkejut.


"Aku hanya mau memberikan uang biaya hidup, kenapa kau menarikku? saat ini aku sedang tidak bernafsu!" ujar Van Berg dingin dan datar.


Sri Utami tidak memperdulikan perkataan Van Berg, menyuruh Van Berg duduk di ranjangnya. Lalu dia mengambil kotak bedak tabur dengan dicampurkan air mawar. Sri Utami menunduk mendekati leher Van Berg.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Van Berg menjauhkan lehernya dan mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


Sri Utami tidak menjawabnya tapi memberikan tatapan tajam dan menarik leher Van Berg dengan satu tangannya. Lalu mengolesan bedak yang sudah mengental tersebut dengan rata dibekas warna disana.


"Kau tidak boleh dipermalukan didepan bawahanmu karena hal seperti ini," ujar Sri Utami.


Van Berg terdiam menyadari yang akan dilakukan Sri Utami, tanpa sepengetahuan Sri Utami, ia tersipu malu dengan sikapnya. Hatinya merasa senang Sri Utami begitu perhatian, aroma laverder menyeruak memenuhi hidungnya saat badan Sri Utami begitu dekat dengannya.


Van Berg hampir kehilangan fokus karena melihat belahan kebaya Sri Utami, ia berkali-kali menelan salivanya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan.


"Sudah, sekarang tidak terlihat lagi, kau harus memperhatikan penampilanmu tuan, " ujar Sri Utami sambil menjauhkan badannya dan beralih melihat wajah Van Berg.


"Kau kenapa? demam? kau... " tanya Sri Utami sambil menyimpan telapak tangannya di kening Van Berg.


"Sudah, aku mau ada urusan!" ujar Van Berg menepis tangan Sri Utaminyang berada di keningnya.


Kamu yang membuatku demam Sri! Kau tidak sadar itu! batin Van Berg sambil menormalkan badannya dan menyimpan uang dikasur kemudian keluar tanpa suara. Sri Utami hanya menatap heran pada Van Berg.


*******


Rapunzel duduk diruang depan sambil membuka buku. Madelief sendiri sibuk melakukan perawatan. Rapunzel setengah berteriak memanggil Sri Utami.


"Kenapa kau memanggilku sambil berteriak itu tidak sopan," ujar Sri Utami mendekati Rapunzel yang sedang cemberut.


"Kenapa kau tidak memintanya baik-baik, bukan dengan berteriak-teriak nak, itu akan membuatmu semakin lapar," ujar Sri Utami melembutkan suaranya meski darahnya sudah mendidih.


"Kau ini! momy Sri bukankah kau wanita rendahan? oh orang pribumi itu memang lebih rendah dari bangsaku! kau tidak ada hak memberikan nasihat padaku, aku adalah tuanmu!" ujar. Rapunzel emosi.


"Kenapa bisa kau memandang dirimu lebih tinggi dariku Rapunzel, haruskah momy Sri memberitahu sesuatu?" ujar Sri Utami mencoba tetap tenang.


"Memangnya apa?" masih dengan nada tinggi Rapunzel berbicara pada Sri Utami.


"Ibaratkan kamu memiliki rumah, kemudian datang orang bertamu ke rumahmu. Tapi kemudian tamu itu dengan seenaknya mengambil semua barang dirumahmu. Mengambil boneka, mengambil cemilanmu, mengambil pakaianmu. Bahkan kau disuruh-suruh untuk mencuci pakaian si tamu itu! Bahkan mereka menganggap rumahmu sebagai rumahnya. Apa yang kamu rasakan? " tanya Sri Utami.


"Tentu saja aku marah!" ujar Rapunzel.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sri Utami.


"Aku akan mengusir tamu itu sejauh mungkin agar tidak datang lagi!" Rapunzel menjawab dengan puas.


"Bagus! itupun yang ingin momy lakukan!" ujar Sri Utami sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa maksudnya? aku tidak paham!" ujar Rapunzel berkerut dahi.


"Kau tahu, yang momy katakan bahwa tamu itu adalah kalian. Nak Rapunzel kau itu orang Belanda yang bertamu ke negara momy, tapi kemudian kalian dengan congkak dan sombong mengambil harta benda dirumah kami. Momy dan orang disini tentu akan mengusir kalian suatu saat. Kalian adalah penjajah negara ini, "ujar Sri Utami menjelaskan dengan rinci pada Rapunzel.


Rapunzel terdiam murung mendengarkan ucapan Sri Utami. Dia merasa sedih ingin menanggis mendengarnya.


********


Di sebuah desa Rawagede, Nyai Dasimah ditemani Soendari diam disebuah rumah kecil yang dibangun oleh suadaranya Nyai Dasimah. Selama berada disana, pikirannya tidak tenang karena Rahman tidak kunjung menemuinya.


Sepanjang hari, Nyai Dasimah enggan makan karena tidak tenang belum mendapat kabar tentang Sri Utami. Hal itu, membuat Soendari resah karena takut Nyai Dasimah sakit.


"Sudah bu, makan dulu," rajuk Soendari.


"Tidak Soen, aku tidak ingin makan," ucap Nyai Dasimah menolak suapan dari Soendari.


"Ayolah bu, makan dulu. Percayalah padaku, Rahman pasti sedang membawa Sri kemari," ujar Soendari.


"Aku akan percaya kalau Rahman membawa Sri kehadapanku, Soen." Ujar Nyai Dasimah.


Tok


Tok


Tok


"Sebentar bu, aku bukakan pintu," ujar Soendari mengapai pintu.


"Siapa Soen," tanya nyai Dasimah.


"lihatlah bu, siapa yang datang" ujar Soendari sambil tersenyum.


_


_


_


_

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2