Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Van Berg's POV_


__ADS_3

Selama dikamp, aku tidak bertemu dengannya, rinduku sangat membuncah, hatiku selalu cemas, aku takut setiap mendengar berita tentangnya selama di kamp. Aku takut dia terluka atau bahkan meninggalkanku.


Hingga suatu hari, aku mendengar Vander Plass mengatakan Sri dibawa ke rumah bordir. Perasaanku semakin sakit, aku merasa marah kepada orang Jepang itu, yang berani menghinakan Sri. Tapi kemudian semua berubah saat aku tahu, Sri bermesraan dengan seorang komandan Jepang.


Meski aku tidak tahu, Sri secara sukarela melakukannya atau terpaksa. Aku selalu mengawasi Sri melalui orang-orangku. Hingga aku memberanikan diri mengirim surat padanya, tapi surat yang aku kirim tak kunjung mendapatkan balasan.


Aku masih berharap selama bertahun-tahun Sri akan membalas surat itu, hingga harapan itu berakhir menjadi sebuah kebencian dan kekesalan padanya, karena aku merasa disini hanya aku yang tergila-gila padanya.


Saat harapan terbebas dari kamp semakin terlihat, setelah pihak sekutu mengalahkan Jepang. Pada bulan Desember 1945 aku dibebaskan dari kamp oleh AFNEI. Aku tahu, saat ini di Jawa Barat tengah terjadi kekacauan karena mabuk kemerdekaan, para pemuda begitu semangat menghalau setiap orang yang ingin merampas kemerdekaan.


Ketika sekutu mengirimkan ultimatumnya, aku tahu betapa besarnya kemarahan para pemuda, selain itu kebiasaan bawahanku membuat hubungan dengan pemuda Indonesia semakin runyam.


Ketika aku terbebas, yang aku ingin temui hanya Sri, aku sengaja mendatangi rumahnya dengan pasukanku. Saat aku melihat rumah itu nampak sepi membuatku ragu, aku hampir berbalik arah, tapi aku melihat dibalik jendela kamar yang ditempati Sri, gadis itu sedang memasukan pakaian ke dalam koper.


Aku segera melangkahkan kakiku besar-besar, aku mengetuk pintunya tidak sabar, aku mendengarnya membuka pintu, hatiku sangat berdebar kencang ketika menemukan wajah yang sangat aku rindukan berada dihadapanku, aku sangat ini menerkamnya saat itu juga.


Dia tersenyum sambil berlinang air mata dan memelukku, hatiku merasa damai mendapatkan pelukannya, aku ingin menghentikan waktu, aku ingin membalas pelukannya dengan eratnya, tapi disana ada Vander Plass yang mengawasiku. Dia ditugaskan oleh komandan yang juga mertuaku, agar hubunganku tidak terjalin lagi dengan Sri.


Selama ini komandan yang sudah mengembalikan semua pangkat dan kehormatanku, bahkan dia yang menjamin aku bebas dan tunjangan untuk keluargaku tetap mengalir sebagai imbalannya aku harus menikahi anaknya kembali. Mengingat hal tersebut, terpaksa aku lepaskan tangan Sri yang melingkari tubuhku.


Tidak ku sangka, dorongan tanganku membuatnya terjatuh ke lantai. Aku tahu itu sangat menyakitkan. Sri nampak terkejut dengan sikapku, aku berbicara sangat ketus padanya. Dia terlihat kecewa, aku mengikutinya masuk ke kamar. Dia nampak sudah merapihkan kopernya, aku menghentikan tangannya, karena aku sangat ingin memegang tangan itu begitu lama, tapi aku mencengkramnya kuat sehingga dia kesakitan.


Saat dia mengatakan sakit, aku menyadarinya. Tapi entah setan apa, aku mendorongnya ke atas kasur, aku ingin memuaskan diriku yang sudah rindu setengah mati padanya. Aku tidak tahan melihat wajah mungil dan bibir semerah cerry itu dihadapanku.

__ADS_1


Aku tidak menghiraukan penolakannya, aku meraksek menyalurkan emosi dan nafsuku menyapu bibirnya dengan hasrat ku yang memuncak. Aku tidak mau menahannya lagi seperti dulu, aku mengumpatinya karena mengingat disela aku menikmati moment itu, bayangan dia bermesraan dengan Ryosuke muncul. Lalu dia mengigit bibirku saat itu, membuatku sadar telah menyakitinya. Aku merasa malu, tapi maluku ku alihkan pada amarah.


Hari itu juga aku menikahinya, hatiku senang akhirnya dapat memilikinya dan menjadikan dia tetap berada disampingku. Kebetulan saat itu, Vander Plass sedang tidak ada, sehingga aku lancar menikahinya. Namun, lambat laun Vander Plass akan tahu dari bawahanku, jadi setelah mengucapkan ikatan pernikahan yang sudah aku hapalkan dari dulu, aku menemuinya dan berbicara dengannya.


Aku mengatakan pada Vander Plass aku hanya ingin menyiksanya, dan aku akan menikahi Madelief setelah ini. Akhirnya dia percaya meski dia terlihat ragu. Tentu ucapanku akan sangat menyenangkan komandan mertuaku.


Aku kembali ke rumah Sri, di dalam kamar aku mendapati Sri yang sangat cantik dan Sri memang selalu cantik, aku mendekatinya dia menunduk malu, aku mengangkat wajahnya, aku ingin menatap bola mata indahnya, aku menciumnya sepuasnya, dia juga menikmatinya. Sri masih mencintaiku, tapi aku sangat marah mendapati dia menyimpan foto kebersamaannya dengan Ryosuke.


Aku sangat marah, emosiku membuatku menelanjanginya, dia menangis sama seperti hatiku juga menangis karena dia berani menyimpan lelaki lain dalam hidupnya. Aku melihat tubuhnya putih mulus, sangat mengodaku. Aku hampir melewatkan malam dengannya dilantai dingin itu, tapi Vander Plass sudah tiba dirumah. Aku terpaksa menghentikannya dan menemui Vander Plass.


"Van Berg, semua gedung penting sudah dibakar oleh para pemuda!" ucap Vander Plass gusar.


"Mereka benar-benar cerdik juga," ujarku.


"Lalu bagaimana komandan pasukan RAF?" tanyaku.


"Kita masih diskusi, dan aku juga perlu mendiskusikan mengenai penyerangan ke daerah lainnya, pasukan yang di Bojongkokosan mendapat kendala," ujar Vander Plass.


"Iya aku sudah mendengarnya, pasukan yang akan dikirim ke sini mereka dicegat oleh jebakan para pemuda," jawabku.


Kami pun berdiskusi hingga tengah malam menanggapi permasalahan negaraku agar mampu mengambil alih kekuasaan di tanah Hindia Belanda ini. Setelah aku diskusi dan Vander Plass pulang, aku kembali ke kamar. Sri sudah terbaring di kasurnya, dia terlelap karena lelah menangis, aku membelai wajahnya, aku kecup keningnya begitu lama, dan aku tidak menyadari aku telah meneteskan air mata.


Pagi yang indah, aku memeluk Sri sepanjang malam, aku takut Sri hilang, aku takut diri ini sedang bermimpi. Sri terbangun lebih dulu, tangan halusnya menyentuh tanganku. Pagi itu sentuhan Sri cukup membuatku terangsang, aku perlahan membuka kacing bajunya, aku ingin menuntaskan hasratku dan mengambil hakku pada isteriku Sri.

__ADS_1


Aku tidak menampilkan sikap kasarku, sehingga Sri nampak luluh dan membiarkanku menikmati tubuhnya, tapi suara dibalik pintu membuat pagiku gagal lagi mengambil hak sebagai suami. Aku tahu anakku datang, aku membenci ibunya tapi aku tidak membenci anaknya yang juga darah dagingku. Aku kembali berpura-pura jahat padanya.


Sesuai janji aku menikahi Madelief, aku berusaha kasar pada Sri, agar Madelief tidak menyakiti Sri, Dengan begitu, semua yang aku lakukan penuh kebohongan dan kepura-puraan. Aku membawa Madelief ke rumah Sri, itu atas permintaan Madelief ingin membuat cemburu Sri. Benar saat aku mencium kening Madelief, Sri terlihat muram.


Saat malam tiba, Madelief terus menempliku, aku merasa risih, dia sudah memakai pakaian seksinya tapi aku sama sekali tidak tergoda.


"Van Berg, kau tidur denganku! aku sudah pakai pakaian seksi untukmu," ujar Madelief mengodaku.


"Aku harus rapat," jawabku malas menanggapi Madelief.


"Ini malam pertama kita, atau jangan-jangan kamu masih mencintai Sri!" tuding Madelif curiga.


Aku pun akhirnya terpaksa tidur dikamarnya malam itu, dan Madelief memaksaku untuk menunaikan kewajiban sebagai suami. Aku memberikannya dan aku merasa kesal karena dia mengeluarkan suara manja yang dibuat-buat dengan setengah berteriak. Aku tahu Sri pasti mendengarnya. Maafkan aku Sri. Kau harus tau Sri, selama detak jantungku masih berdetak, selama itu pula engkau miliku. Selama darahku masih mengalir selama itu pula cintakku takkan berakhir.


_


_


_


_


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2