
Sang mentari menyapa dipagi hari, Sri Utami seperti biasa kembali melakukan kebiasaanya membaca koran di depan rumah. Sedangkan Si Ujang sibuk membersihkan kuda. Setiap orang yang berlalu lalang didepan rumah mengunjingkannya. Sri Utami tidak memperdulikannya, hanya tetap fokus pada koran yang dibacanya. Senyumannya terukir tatkala ia membaca informasi terbaru, partai Parindra sudah mengusulkan petisi di Volkraad. Petisi Sutardjo yang menghendaki adanya pemerintahaan sendiri selama 10 tahun bagi Indonesia. Nafas lega dibuangnya bersamaan ia menutup korannya.
" Ujang! carikan aku guru beladiri dan kuda untuk aku tungangi. Tapi hari ini antarkan aku ke pasar dulu." Ujar Sri Utami.
" Baik, Nyi. Tapi Nyi tidak apa-apa belanja sendirian di pasar? apa sebaiknya ditemani sama Nyai Dasimah?".
" Tidak perlu Ujang, hari ini aku hanya akan membeli sayuran dan pakaian untuk Bi Iyem." Ujar Sri Utami.
" Oh iya baik,Nyi." Seru Ujang.
" Baiklah, aku bawa dulu dompet dan tas belanjanya." lanjut Sri.
Sri Utami tidak berapa keluar dengan membawa tas belanja dan menaiki delman. Kuda pun dipecut oleh Ujang berjalan keluar dari pekarangan menuju pasar. Sekitar 15 menit delman berhenti dipinggir jalan. Hiruk pikuk pasar sudah dirasakan. Sri Utami turun dari delman dan melangkahkan kakinya ke dalam pasar.
Sri Utami biasanya pergi ke pasar bersama bi Iyem. Tapi kali ini harus seorang diri, Sri Utami mulai membeli beberapa sayuran segar dan buah-buah. Setelah itu berjalan ke penjual pakaian, Sri mulai memilihkan pakaian untuk bi Iyem, ia ingin menghiburnya.
Sayup-sayup terdengar orang yang bercengkrama dengan bahasa Belanda, Sri Utami meliriknya. Benar saja, Madelief ditemani Van Berg sedang memilih pakaian, beberapa kalo Madelief meminta pendapat Van Berg mengenai baju yang dipilihnya. Sri Utami pandangannya terasa panas menyaksikan berkali-kali orang terkasihnya dengan yang lain. Ia segera menyudahi belanjanya langsung membayar satu setelan pakaian kebaya dan bawahanya. Sri segera berjalan cepat keluar dari pasar dan naik delman. Sepanjang jalan air matanya mengalir, Sri Utami terus menyusutnya secara kasar.
****
Sudah berhari-hari Sri Utami tidak keluar rumah setelah menjenguk Bi Iyem, ia hanya menghabiskan waktu dengan bukunya sepanjang hari, ia mengalihkan luka dihatinya dengan buku-buku biografi dan politik. Ditengah kekusyuannya membaca buku tentang feminisme, Ujang masuk ke rumah.
" Nyi, saya sudah menemukan guru beladiri dan kudanya." ujar Ujang.
Seketika Sri Utami langsung menutup bukunya, dan tersenyum senang. Ia bangkit dari kursinya mengikuti Ujang yang menunjukan kuda yang baru dibelinya dengan membawa seorang guru beladiri.
" Oh ini Nyi Sri Utami? ternyata aslinya lebih cantik dari namanya." ujar seorang pemuda berumur 33 tahun.
" Iya, terima kasih. Kalau begitu mari silahakan duduk." ajak Sri Utami
" Oh terima kasih Nyi." ucap Pemuda yang dipanggil guru.
__ADS_1
Mereka pun duduk dikursi depan rumah, Nyi Sri Utami mengambilkan segelas air kopi di sajikan untuk tamunya.
" Jadi begini untuk tujuan apa Nyi belajar beladiri?" tanya guru beladiri.
" Saya belum mengenal nama guru, kalau boleh tau namanya siapa?" tanya Sri.
"Oh iya saya lupa, saya Danureja. Panggil saja kang Danu, jangan guru." jawab Danureja.
" Oh, baik kang Danu, saya mau belajar beladiri karena terlalu banyak kaum hawa dilecehkan kaum adam." Jawab Sri Utami mantap singkat dan jelas.
Mendengar penjelasan tersebut Danureja mangut-mangut. Semenjak pertemuan hari itu, Sri Utami menghabiskan waktunya dengan berlatih beladiri di hutan bambu. Sri Utami mulai berlatih kuda-kuda, menendang dan menangkis. Disertai Sri Utami diajarkan menunggang kuda.
Sri Utami saat itu belajar membawa kudanya ke jalanan raya, tapi mendapati kudanya belum jinak dikendalikan oelh Sri Utamis sehingga kuda tersebut berlari kencang dibawah kendali Sri Utami, sampai akhirnya di arah berlawanan kereta kuda tersentak dan terguling karena beraduan dengan kuda yang ditunggani Sri Utami. Tali kuda ditarik oleh Sri Utami sehingga kuda berhenti. Sri segera turun dari kudanya bermaksud menolong orang yang terjatuh dari kereta dan terlempar ke lumpur sawah. Ketika dilihat ternyata Madelief yang terkena nasib tersebut.
Sri Utami tidak pandang bulu tetap menghampiri Madelief dan mengulurkan tangannya, namun hal tersebut dibalas dengan tatapan nanar, Madelief berdiri dari lumpur dan mengambil pecut kuda kemudian dipecutkan ke punggung Sri Utami berkali-kali. Sri Utami hanya meringgis, dan berusaha menghindar, ia berdiri merebut pecut tersebut dan akan mengayunkan pecut ke arah Madelief, namun tangan kekar menghalanginya. Sri Utami melihat sosok itu Van Berg, yang menatapnya tanpa ekspresi dan dingin. Pecut direbut dari tangan Sri Utami, Madelief menghambur memeluk Van Berg.
" Van Berg, dia jahat. Dia mau memecutku, dia juga menjatuhkan aku dari kereta. Lihatlah bajuku kotor." Adu Madelief sambil tersedu-sedu.
" Jangan ganggu calon isteriku! Jangan menyakitinya hubungan kita sudah berakhir." Ucap Van Berg dingin sambil menatap Sri Utami.
" Kalianlah para penganggu dan yang menyakiti orang-orangku, jangan berlagak jadi korban!" Ucap Sri Utami dengan kesal berlalu kembali menaiki kudanya dengan tenang. Lagi-lagi Sri Utami belum bisa mengendalikan emosinya.
****
Dipagi ini, Sri mulai beraktivitas kembali mengunjungi organisasinya. Sudah cukup lama Sri tidak berkecimpung di Isteri Sedar rasanya, walaupun sebenarnya baru dua minggu. Tapi Sri Utami mengembang amanah di majalah Sedar yang harus selalu update berita. Sri kini duduk diruang ketiknya, mengetik beberapa paragraf tajuk hari ini. Dalam tulisannya, Sri banyak mengkritik sikap kaum adam yang bertindak semena-mena terhadap wanita. Ia melampirkan kejahatan seksual yang menimpa wanita kalangannya.
Majalah Sedar tersebar diberbagai kalangan, akibatnya semakin gencar kisah pemerkosaan yang dilakukan kaum kolonial diberitakan.
Semakin hari semakin banyak orang yang berempati kepada Sri Utami. Surat berdatangan setiap harinya menumpuki meja Sri Utami. Ia hanya sesekali membacanya, kemudian menyampaikan ucapan terimakasih dalam tajuknya. Terkadangan Sri Utami juga mendapatkan kiriman bunga dari kaum adam. Seperti hari itu juga, seorang bocah kecil membawakan bunga untuknya.
" Nak manis, terima kasih. Ini dari siapa?" tanya Sri Utami.
__ADS_1
" Dari tuan berjengot tipis itu!" ucap di anak sambil menunjukan ke arah pemuda yang sedang bersender disalah satu tembok. Yang ditunjuk langsung tersenyum ke arah Sri Utami yang dibalas dengan senyuman pula.
" Ok, kaka ada permen untukmu." ucap Sri Utami.
Sri Utami memgeluarkan permen dari sakunya, sambil berjongkok ia membukakan kepalan tangannya ke arah bocah. Si anak ini matanya berbinar-binar. Meraih permen tersebut, kemudian berlari kegirangan. Sri tersenyum melihat tinggak anak kecil tersebut. Namun kemudian matanya terhenti menatap seorang pemuda berdarah Belanda datang menghampirinya.
" Sri." Sapa Van Berg.
" Ada apa kemari?" tanya Sri Utami.
" Kau tidak pernah membalas suratku. Aku memutuskan menemuimu secara langsung." ujar Van Berg.
" Kenapa saya harus membalas surat anda?" ujar Sri Utami.
Van Berg hanya menelan ludah menghadapi Sri Utami, yang nampak tidak bersahabat padanya, tidak ada senyuman terukir diwajahnya, hanya ada kekecewaan dan benci.
" Bagaimana kabarmu Sri" ucap Van Berg dengan bergetar bibirnya menahan sedih.
" Baik, seperti yang anda Lihat!" ujar Sri Utami.
"Apa kamu kembali ke rumah?" kata Van Berg.
" Tentu saja!" jawab Sri Utami.
Van Berg menyerah berbicara dengan Sri Utami. Ia menundukan kepalanya, hatinya sesak melihat perubahan sikap Sri Utami kepadanya.
" Sri, Maafkan aku." ucap Van Berg pelan.
Sri Utami hanya terdiam menahan air matanya yang akan segera meluncur. Wajahnya tetap menatap Van Berg yang berada didepannya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Jangan lupa ya di vote, like and Comment kalau suka cerita ini😍. Tetap semangat menjalankan puasanya