
Samsara adalah lingkaran kesengsaraan yang tiada akhir. Hidup ini adalah sebuah kesengsaraan yang akan terus bergulir hingga berhenti pada satu titik, pelepasan diri dari jiwa. Bertahan atau memberontak dari samsara sama sama menyakitkan.
Dua orang yang berbeda kedudukan, yang satu seorang yang angkuh namun penjajahan duduk dikursi mengangkat satu kakinya. Sedang yang satunya berpakaian seorang wedana duduk dengan tegap menatap tajam orang dihadapannya.
" Tuan Jenderal apa masalah anda dengan putri Hamba?" tanya Raden Sugeng, namun suara tawa keras membungbung mengisi ruangan tersebut.
"Putri anda mencuri milik putri saya!" ujar Jenderal dengan penuh emosi.
" Dia tidak pernah mengambil yang bukan miliknya! ujar Raden Sugeng keheranan.
" Anda tidak mengenal puteri Anda!" jawab Jenderal tajam.
" Tentunya puteri Anda sudah mencuri miliknya lebih dulu, jika puteriku melakukannya." Ujar Raden Sugeng.
" Sebuah kekejian apa yang dilakukan terhadap anak saya! puteri anda menghancurkan jiwa, raga dan hartanya. Bukankah dia harus bertanggungjawab? Saya tunggu anda menyerahkan puteri anda sendiri!" ujar Raden Sugeng dengan penuh emosi.
Raden sugeng beranjank dari rumah tersebut, namun tidak berapa lama. DOR! suara peluru meluncur dari mocong senapan menghantam jiwa peminta keadilan.
****
Seorang wanita dengan pakaian kebaya sederhana dan rambutnya disanggul berjalan bersama seorang lelaki berpakaian pangsi. Mereka berjalan menyusuri hutan mencari jalan keluar menuju perkampungan. Lelaki berpakaian pangsi kemudian menghentikan langkahnya.
" Sri, aku hanya sampai disini menemanimu. Kau bisa melanjutkan sendiri perjalanannya!" ujar Kang Danu.
"terima kasih Kang Danu sudah menolong Sri," ujar Sri Utami tertunduk.
" Sri, kekuatan dan ilmu bela diri bukan untuk balas dendam, gunakan kekuataan dan kemampuan bela diri disaat kamu ditindas atau menolong orang!" ujar Kang Danu berpesan pada Sri Utami yang dibalas dengan anggukan
Sri pun berjalan meninggalkan Kang Dianu, tidak lama kemudian Kang Danu memanggilnya, membuat langkah Sri terhenti dan menoleh.
"Sri!"
"Iya, kang"
Kang Danu terdiam memandang Sri Utami. Lalu senyuman dilemparkan ke arahnya, Sri Utami membalasnya dengan senyuman, kemudian pergi melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalan setapak menuju perkampungan.
__ADS_1
Sri Utami menunjukan wajahnya setelah dua hari bersembunyi. Seorang lelaki sedang mengembala kerbaunya melihat Sri Utami langsung tidak sadarkan diri dipematang sawah. Sri Utami merasa keheranan, tetapi tetap melanjutkan perjalanannya, namun semua orang dipagi itu melihat Sri Utami langsung berlarian kompat kampit dan memasuki rumahnya. Sri utami menghela nafas.
Sri Utami berjalan menapaki jalan raya yang memperhatikan orang yang mengunjingkannya, langkahnya terhenti disebuah danau, matanya memperhatikan sepasang orang Belanda yang sedang memadu kasih. Bayangan pertemuan dengan pertama dengan pemuda yang kini berada didepannya muncul, danau tersebut tempat yang ditulis ditelapak tangan pemuda itu. Hatinya terasa sesak.
Jika aku tidak pernah mencintaimu, tak seharusnya menjalin kasih dengan penjajah negeri ini, aku telah melukai diri sendiri dan bangsaku, batin Sri Utami.
Sri utami melanjutkan perjalanannya, hingga tiba. di sebuah rumah yang sudah dikerumuni banyak orang. Ia segera menghambur memasuki rumah. Semua mata memandang ke arah Sri Utami, ada yang jatuh tak sadarkan diri, tapi Sri. Utami hanya memperhatikan dua jasad dibalik kain itu. Ia membuka perlahan kain penutup, air matanya sudah mengalir, ia menanggis tanpa suara. Beralih ke jasad di sampingnya, matanya semakin tidak kuat hingga jatuh tak sadarkan diri.
****
Pemakaman telah dilaksanakan tanpa keberadaan Sri Utami yang masih tidak sadarkan diri. Sri Utami terbangun dari kasur menatap poto dihadapannya kembali menangis lalu jatuh takut sadarkan diri lagi. Selalu begitu selama seminggu membuat Nyai Dasimah khawatir. Ia memutuskan membawa Sri Utami berjalan-jalan menikmati udara pagi.
Sinar kebahagiaan sudah redup dimata Sri Utami. Kehilangan seseorang yang dicintai adalah penderitaan yang panjang. Nyai. Dasimah membelai rambutnya yang tersanggul dan bunga mawar merah terselip di sanggulnya. Sri Utami masih menatap kosong ke arah pematangan sawah yang terhampar, memperhatikan para pekerja sawah membajak sawahnya, semilir angin berhembus, seorang pemuda Belanda menghampiri.
"Hoe gaat het?" tanya Vander Plass.
Nyai Dasimah undur diri memberikan ruang pada Sri Utami dengan Vander Plass untuk berbicara. Hembusan angin menerpa wajah Sri Utami, ia memejamkan matanya menikmati. Vander Plass tersenyum ia mengikuti Sri Utami memejamkan mata dengan kedua tangan menyilang di dada.
"Bukankah banyak waktu yang aku lewatkan dengan sia-sia?" ujar Sri Utami.
"Kenapa menemuiku?" tanya Sri Utami.
"Van Berg ingin bertemu denganmu." ujar Vander Plass.
" Untuk apa??" tanya Sri Utami.
"Aku hanya menyampaikan pesannya." ujar Vander Plas.
"Pergilah, aku tidak mau berurusan dengannya!" ucap Sri Utami.
"Kalau begitu terima aku dihatimu!!" ujar Vander Plass dan Sri Utami membuang pandangannya.
"Aku tidak akan menikah sampai negaramu pergi dari negeriku!" ujar Sri Utami membuat Vander Plass tertuduk.
****
__ADS_1
Sri Utami menatap tiga gundukan tanah merah, ia memanjatkan doa, kemudian pergi keluar dari pemakaman. Disisi lain seseorang memperhatikannya. Sri Utami berjalan menuju kantor organisasinya. Pemuda tersebut mengikutinya. Namun hanya sampai pintu gerbang saja. Sri Utami mulai menjalankan kesehariannnya, ia menyibukan diri melatih kaum wanita menyulam.
Menjelang sore, Sri Utami menutup pintu kantor. Seorang pemuda berdiri dibelakangnya, Sri berbalik dan menatap pemuda tersebut, berjalan melewatinya. Tangannya dicengkram, Sri terhentii langkah kakinya
"Sri, kau membenciku?" ujar Van Berg.
"Kenapa kau tidak berhenti menemuiku?" tanya Sri Utami tidak menatap Van Berg.
"Aku tidak bisa!" ujar Van Berg.
"Mari jangan saling bertemu!" ujar Sri Utami melepaskan tanganya dari cengkraman Van Berg.
Jatuh Cinta adalah bagian dari ke sengsaraan yang tidak bisa dihentikan. Menghentikannya berarti menghentikan kehidupan. Itulah Cinta yang membunuh setiap jiwa yang berusaha menggengamnya dengan erat. Cinta selalu butuh pengorbanan, jika Ken Arok saja menebus cintanyqa dengan darah dari keris kutukan, maka Sri Utami sudah menebus cintanya dengan darah bangsanya.
***
Bulan purnama menghias langit malam itu, gadis bermata jeli dengan sanggulnya menatap bulan, ada kerinduan, kehampaan, dan kerapuhan merasuki jiwanya. Ia tidak seorang diri menikmati keindahan alam itu.
" Rahman bagimana rapatmu di gerindo?" tanya Sri Utami.
" Penolakan terhadap petisi soetardjo, membuat kami marah!" ujar Rahman.
"Hanya untuk memberikan penolakan harus menunggu setahun." ujaar Sri Utami.
" mereka tidak berniat hengkang dari negeri ini!" ujar Rahman.
"Sampai kapan akan seperti ini?" ujar Sri Utami.
"Sampai mereka bosan dengan perlawanan kita!" ujar Rahman tersenyum pada Sri Utami.
Sri Utami menatap Rahman lelaki yang berahang tegas itu, dia pemuda yang religius dan juga sangat anti kolonialisme. Senyuman pemuda dihadapannya itu cukup mampu meruntuhkan hati wanita yang melihatnya, Rahmaan tidak murah senyum pada wanita. Tapi untuk wanita sekelas Sri Utami cukup mengoyak jiwanya, membuatkan tidak bisa mengendalikan diri.
"Sri," ujar Rahman menatap Sri Utami yang memandangnya.
" Hmm," jawab Sri Utami sambil tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG....