Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Ijab Kobul di bawah kepulan api kota Bandung


__ADS_3

Pekikan kemerdekaan yang baru direngkuh pada 17 Agustus 1945, itu terancam terusik oleh bangsa kolonial. Kisah Rahman dengan Sri Utami yang akan melangsungkan pernikahan tertunda, karena kondisi pasca kemerdekaan yang kacau.


Sekutu datang ke tanah air dengan membawa NICA, mereka berlindung dibawah naungan AFNEI. Kedatangan itu membawa angin segar bagi tawanan tentara KNIL, mereka dibebaskan dari kamp dan dipersenjatai untuk menegakakan kembali kekuasaannya.


Pasukan sekutu dibawah pimpinan Mc.Donald datang ke kota Bandung pada bulan Oktober 1945, mereka menduduki hotel Preanger dan Homan. Para pejuang Indonesia pada saat itu tengah gencar merebut senjata dari tangan Jepang. Hubungan pemerintahan RI dengan pasukan sekutu tidak berjalan mulus.


Ketika sekutu baru datang di Bandung kekuatan militer Belanda di Indonesia belum pulih, sehingga tentara Inggrislah yang harus menahan serangan dari pejuang-pejuang Indonesia. Serangan demi serangan terus dilancarkan pejuang Indonesia ke daerah yang diduduki pasukan Inggris termasuk ke markas pasukan sekutu di hotel Preanger dan Homan.


 “Terbangkan Dakota! Sebarkan ultimatum kita!”Ujar Mc. Donald dengan emosi masih memburu karena mendapatkan serangan dadakan dari bangsa Indonesia.


“Siap laksanakan!” jawab bawahannya bergegas memenuhi perintah atasannya.


Tidak menunggu lama sebuah Dakota milik RAF (Angkatan Udara milik Kerajaan Inggris) melayang-layang dikota Bandung menurunkan ribuan lembaran kertas.


Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan kota Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 2400 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer


Rahman yang membaca lembaran tersebut geram, dia meremas lembaran kertas tersebut. Seorang lelaki berusia 93 tahun menepuk punggungnya.


“Kenapa anak muda?” tanya lelaki tersebut.


Rahman hanya tersenyum dengan terpaksa menyerahkan lembaran tersebut pada lelaki yang sudah tidak muda lagi. Rahman adalah salah satu pejuang dari Laskar Hizbullah, dia menatap lelaki tua yang sangat dihormatinya setelah membaca lembaran tersebut, giginya gemertak disertai darahnya mendidih dengan mata penuh api kemarahan.


“Kami ini dianggap apa sama Inggris? Tanah, tanah kami sendiri. Negeri, negeri kami sendiri. Mengapa harus ikut perintah mereka? Ujar lelaki tua tersebut.


Semua yang hadir disana betapa marahnya mendapatkan ultimatum dari Inggris. Suasana panas darah juang masih membara membuat keadaan semakin mencekam. Ardiwinangu sebagai ketua KNI datang menghadap Perdana Menteri RI Sutan Syahrir.


“Apa yang harus kami lakukan bung?” tanya Aryawinangu.


“Sependapatku para pejuang sebaiknya memenuhi ultimatum sekutu.” Ujar Sutan Syahrir membuat


Aryawinangu dan Mashudi saling melepar pandangan, Sutan Syahrir pun melanjutkan ucapannya.


“Tapi kalau saudara-saudara tidak setuju, terserah apa yang mau saudara-saudara lakukan. Mau membumihanguskan kota Bandung, Ya terserah. Bumihanguskan saja!” ujar Sutan Syahrir.


*****


Keadaan menjadi genting, banyak penduduk yang merasa khawatir memilih meninggalkan rumahnya bahkan membakarnya, meskipun belum ada perintah resmi dari pemerintah pusat maupun dari TKR.


“Bu! Soen! mau kemana?” tanya Sri Utami mengamati Soendari dengan mengendong anaknya dan ibunya merapihkan pakaian.

__ADS_1


“Mau kemana lagi Sri, kita harus keluar dari kota ini!” ujar Soendari sambil sibuk memasukan pakaiannya ke dalam tas.


“Kenapa kita harus pergi? Kita tidak diperintahkan untuk pergi, kita harus bertahan!” ujar Sri Utami.


“Sri, kamu mau nunggu di bom dulu oleh pasukan Inggris itu baru pergi !” ujar Nyai Dasimah dengan tatapan tajam pada Sri Utami


“Bukan begitu bu! Kita belum diperintahkan meninggalkan kota ini! Kita harus tenang, lagi pula di radio Howthorn bilang kita harus tenang meninggalkan tempat kita sampai periode tertentu bu,” jelas Sri Utami mengamati ibunya dan Soendari yang masih sibuk merapihkan barang-barang.


“Sudah Sri! Sekarang kau mau ikut pergi atau tidak, itu terserah kamu!” uajr Nyai Dasimah sambil menjinjing tas besar.


“Ibu mau pergi kemana?” tanya Sri Utami mengikuti langkah kaki Nyai Dasimah sampai pintu depan.


“Kemana pun Sri, yang penting aman,” ujar Nyai Dasimah menatap Sri Utami.


“Sebaiknya jangan terlalu banyak berpikir Sri! Cepatlah berkemas,” ujar Soendari yang menyusul Nyai Dasimah.


“Baiklah aku akan menyusul kalian, berangkatlah dulu!” ujar Sri Utami yang disambut anggukan oleh Soendari dan Nyai Dasimah.


Sri Utami pun menutup pintunya, kembali ke kamarnya menatap sekeliling rumahnya, ia segera menarik tas besar yang disimpan diatas lemari. Sri Utami membuka lemarinya mengambil beberapa pakaian dan barang-barang berharga dan memasukannya ke dalam tas.


Tok


Tok


Tok


“Van Berg? Kamu kenapa?” ujar Sri Utami berkaca-kaca.


“Kau akan pergi meninggalkan tempat ini?” ujar Van Berg dingin melangkah masuk ke dalam rumah.


“Iya,” ujar Sri Utami pelan sambil bangkit dan pandangannya kaget melihat banyak tentara berseragam militer Belanda di depan rumahnya.


“Jangan harap kau bisa meninggalkan rumah ini!” ujar Van Berg menatap dingin Sri Utami.


“Apa hakmu melarangku?” ujar Sri Utami menanggapi sikap Van Berg.


Van Berg terdiam tidak menjawab, Sri Utami melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya dengan mata berkaca-kaca, hatinya sakit dengan sikap Van Berg yang dingin. Tanpa disadarinya Van Berg mengikuti langkah kaki Sri Utami ke kamar.  Saat Sri Utami hendak membawa tas, tangannya dicengkram kuat oleh Van Berg.


“Lepaskan Van Berg!” ujar Sri Utami menatap wajah datar Van Berg namun cengkraman ditangannya justru semakin kuat.

__ADS_1


“Sakit, Van Berg!” lirih Sri Utami menitikan air mata.


Van Berg pun mendorong tubuh Sri Utami sehingga terbaring di ranjang, tatapan tajam Van Berg membuat Sri Utami bergindik, Van Berg dengan sigap menekan tubuh Sri Utami agar tetap terlentang di ranjangnya, sedangkan tangannya yang lain dengan tergesa-gesa membuka kancing bajunya. Sri Utami gelagapan melihat tindakan Van Berg. Sri Utami berteriak sekuatnya sambil menanggis.


“Diam!” bentak Van Berg membuat Sri Utami sejenak terdiam karena kaget.


“Tidak! Tidak Van Berg!” ujar Sri Utami sambil berontak bangkit namun Van Berg memeluknya erat dan menekan bahunya tetap terbaring.


“Diam *****!” bentak Van Breg membuat Sri Utami terganga mendengar perkataan kasar tersebut.


Sri Utami emosinya membuncah mendorong kuat tubuh Van Berg yang berada diatasnya, dengan air mata mulai menetes.


“Pergi kamu Van Berg! Aku benci kamu!” teriak Sri Utami dengan bibir bergetar serta tangannya terus memukul dada bidang Van Berg.


Van Berg tidak mengindahkan perkataan Sri Utami, Ia justru melahap bibir Sri Utami dengan kasar, Sri Utami merasa sedih diperlakukan kasar, ia mengigit kuat bibir bawah Van Berg hingga mengucurkan darah. Seketika Van Berg bangkit mengelap bibirnya yang berdarah.


“Panggilkan penghulu sekarang!” teriak Van Berg memberi peribtah pada bawahannya yang langsung muncul diambang pintu.


“Siap laksanakan!” ujar bawahan tersebut.


Van Berg tersenyum menyerigai menatap Sri Utmi yang terduduk diatas ranjangnya dengan air mata terus mengalir karena merasa kecewa begitu dalam. Van Berg kemudian menarik tangan Sri utami turun dari ranjang.


“Kau mau apalagi Van Berg?” ujar Sri Utami.


“Membuatmu merasa menjadi wanita terhormat,” ejek Van Berg menatap Sri Utami.


Seorang penghulu dengan dipaksa oleh tentara Belanda berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah, kopiahnya miring dengan pakaian belum lengkap, ia bertelanjang dada dengan bawahan sarung terlihat gemeteran.


“Duduk pak! Nikahkan saya dengan wanita ini!” ujar Van Berg.


Penghulu tersebut dengan gugup mengangguk dan menjabat tangan Van Berg, ijab kobul pun dilaksanakan, Van Berg dengan lantang mengucapkan ijab kobul.


"Saya terima nikahnya Raden Sri Utami binti Raden Sugeng Wiranatakusumah dengan mas kawin 20 gram dibayar tunai." ucap Van Berg dalam satu tarikan.


“Bagaimana saksi sah?” ujar penghulu tersebut.


“Saah!” seru para tentara militer Belanda sambil bersorak.


Tidak lama suara ledakan demi ledakan dari gedung-gedung yang dibakar oleh tentara Indonesia yang meninggalkan kota Bandung terdengar. Kobaran api mengepul dikota Bandung. Sri Utami menatap kosong, pikiranya melayang bagaimana Rahman jika mengetahui hal ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2