Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Persembunyian


__ADS_3

Suara kicauan burung membangunkan sosok gadis cantik ditengah hutan. Sudah dua hari Sri Utami berada di gubuk milik Kang Danu. Jendela kamar dibuka memberikan ruang angin segar memasuki bilik. Langit masih gelap gulita, Sri Utami melangkahkan kakinya dari bilik kamar. Ia mendapati Kang Danu sedang khusyuk bersembahyang pada yang Maha Kuasa. Sri Utami menunggu Kang Danu menyelesaikan sembahyangnya.


"Assalamulakum warohmatullohi wabarakoatuh," ucap Kang Danu sambil kepalanya menoleh ke sebelah kanan dan kiri kemudian mengusap wajahnya.


Kang Danu memanjatkan doa, setelah itu berdzikir sebentar. Lalu ia melipat sejadahnya terus menoleh pada Sri Utami dan melemparkan senyuman.


" Kau mau sholat Sri?" tanya Kang Danu.


Sri Utami tersipu malu, sudah lama sekali dirinya tidak menjalankan ibadah seorang muslim.


" Sri ambillah wudhu dibelakang dekat dapur ada pancuran dari pohon bambu. Pakailah sarungku untuk menutupi kepalamu." Ujar Kang Danu.


Sri Utami tidak banyak berkomentar, ia segera ke belakang mengambil air wudhu, meski sudah lama tidak melakukannya, tapi masih suka sesekali sembahyang sehingga ia masih mengingat tata cara berwudhu. Sri Utami kembali ke dalam bilik mengenakan sarung Kang Danu yang terlipat di rak lemari kayu, Ia gunakan untuk menjadi penutup kepala. Takbir ia kumandangkan, kemudian larut dalam ibadah tersebut. Hatinya begitu tenang dan damai tatkala menyelesaikan ibadahnya. Sri Utami diseru oleh kang Danu untuk duduk bersama didepan gubuk tersebut. Teh hangat sudah tersaji, Kang Danu menatap langit yang perlahan memancarkan warna kebiruannya. Sri Utami melangkah dan duduk disamping Kang Danu.


" Kau tau Sri, hutan adalah tempat bagi jiwa yang ingin kedamaian. Aku pun dulu mengalami nasib sepertimu!" ujar Kang Danu sambil menyeruput teh.


" Apa yang terjadi dengan Kang Danu," tanya Sri Utami memandang Kang Danu.


" Bapakku seorang anggota PKI, Sri. Ketika tahun 1927 PKI menjadi partai terlarang, orang-orang PKI ditangkap dan dibuang ke Bovel Digul. Ibuku dip*rk*s* oleh orang yang menyeret bapak. Hingga akhirnya dia bunuh diri. Orang mengenalku sebagai anak PKI, dan semua anak-anak PKI itu dibunuh. Aku jadi buronan, akhirnya aku bersembunyi dihutan ini." Ujar Kang Danu.


" Jadi kang Danu ikut organisasi PKI juga?" tanya Sri Utami hati-hati.


" Tidak Sri, aku bukan orang komunis. Dalam satu keluarga kami berbeda organisasi. Ibuku anggota kautamaan isteri, ayahku anggota komunis dan aku anggota PNI. Tapi kau tahu sendiri PNI juga pecah sejak bung Karno ditangkap. Aku ikut PNI-baru tapi anggotanya lagi-lagi ditangkapi Sri. Aku pun memutuskan bersembunyi." Ujar Kang Danu.


" Iya Belanda sangat keras menindak organisasi yang berdiri tahun 1920-an Kang, mereka takut ancaman kekuatan rakyat menumbangkan kolonialismenya." Ujar Sri Utami.


" Benar Sri. Oh, hari ini aku akan pergi ke pasar! Aku perlu membeli pakaian untukmu." Ujar Kang Danu.


*****


Satu lubang dipemakaman sudah disiapkan untuk menguburkan jenazah yang tinggal tengkorak yang sudah gosong. Tangisan histeris sanak saudaranya mengiringi kepergian jasad yang sudah tidak berbentuk itu. Raden Sugeng, Nyai Dasimah, Nyai Rukmini, Nyai Sartini, bi Iyem, Rahman, Van Berg, Vander Plass dan orang-orang terdekat Sri Utami ikut mengantarkan jasad ke liang lahatnya. Kuburan ditutupi oleh tanah merah, bunga ditaburkan diatasnya. Van Berg menutupi kesedihannya dengan mengunakan kecamata hitam.


" Nyi selamat jalan, hiks hiks hiks," ujar Bi Iyem sambil menaburkan bunga.

__ADS_1


" Nak, semoga tenang disana. Bu akan selalu mendokaan keselamatanmu." ujar Nyai Dasimah menguyurkan air ke gundukan tanah tersebut.


"Anaking, anak bapak. Hampura bapak tidak bisa menjagamu." ujar Raden Sugeng sambil menangis pilu.


*****


Sri Utami berjalan menapaki semak-semak dihutan sambil membawa busur panahnya, seekor kelinci melompat-lompat, ia mengejarnya lalu perlahan busur panah dilepaskan, namun gagal mengenai sasaran. Ia melihat rumput ilalang bergoyang-goyang Sri Utami mendekat, ia mengira ada hewan dibalik rumput tersebut, ia berjalan merangkak helai demi helai rumput ilalanh yang tinggi itu disingkap. Namun matanya terbelalak saat melihat sesuatu yang tidak layak dipagi hari. Pipinya panas menahan malu. Ia tidak menganggu dua insan yang sedang berc*nt*, perempuannya berkali-kali mendesah membuat si pria bersemangat. Mereka tidak menyadari Sri Utami berada disana.


Setelah aksi mereka beres, kaget bukan main sesosok wanita berbaju hitam dan setengah wajahnya ditutupi kain memandangi mereka. Sri Utami sangat mengenal lelaki yang menjadi kekasih bi Iyem tersebut. Ia melepaskan dua anak panah tempat dikedua paha lelakinya. Si perempuannya ketakutan dia memohon pada Sri Utami untuk tidak melukainya. Sri menatap tajam wanita tersebut.


" Berikan aku pakaianmu! maka aku tidak akan melukaimu!" kata Sri Utami.


" Ta..ta...pi bagaimana a..ku, ti...ti..dak!" ucap perempuan yang rambutnya sudah urak-urakan.


" Baiklah kalau tidak mau!" Sri Utami bersiap menarik busurnya. Si Perempuan segera melepaskan pakaiannya.


"Ini silahkan, jangan bunuh aku!" ujar si perempuan sambil menyerahkan bajunya.


Sri Utami tersenyum menyerigai kesenangan, ia meraih pakaian tersebut. Si perempuan terduduk lesu dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, si laki-laki masih meringgis kesakitan panahnya menancap dalam di kedua pahanya.


" Aku malu keluar dari sini, bagaimana orang akan melihatku tidak mengenakan pakaian... hiks hiks hiks," ujar si perempuan sambil menanggis.


" Kau punya rasa malu? Ciih! kenapa kamu tidak malu berbuat zina disini nona! Kau juga tidak malu dengan Tuhan, tapi kau malu dengan manusia" ujar Sri Utami merasa kesal, ia segera meninggalkan orang tersebut yang masih menanggis dan merintih kesakitan.


Sri Utami berjalan menyusuri hutan bambu lebat, ia melihat anak bambu segera mengambil panahnya untuk mengambil anak bambu namun ia kesulitan, ia mencoba menariknya dengan dua tangannya. Seorang lelaki dari belakangnya berseru.


" Bukan begitu cara mengambilnya, kau harus mengunakan ini!" ujar Kang Danu segera mengambil posisi dan memangkas anak bambu dengan golok.


" Nih! aku mendapat info di pasar, orang mengira kamu sudah mati Sri!" ujar Kang Danu sambil menyerahkan anak bambu tersebut.


" Kenapa mereka mengira aku mati Kang?" tanya Sri keheranan sambi ikut melangkah mengikuti Kang Danu.


" Polisi menemukan tengkorak yang gosong dikamarmu Sri." ujar Kang Danu.

__ADS_1


" Jadiii? Madelief menyimpan mayat Ujang dikamarku!" ujar Sri Utami tangannya mengepal.


" Sudah, kita ikuti alurnya, semua demi kebaikanmu Sri. Darimana kamu mendapatkan baju itu!" ujar Kang Danu yang melihat Sri Utami memegang pakaian.


" Aku mendapatkan dari wanita yang sedang berzina dirumput ilalang itu," ujar Sri Utami.


" Kau! kenapa kau biarkan dia telanjang?" ujar Kang Danu.


" Biar dia kapok kang," jawab Sri Utami.


" Jangan begitu! kembalikan pakaian itu, jangan mencurinya Sri!" ujar Kang Danu.


" Aku tidak mencuri Kang! dia yang menyerahkannya padaku!" sangkal Sri Utami sedikit emosi.


" Apa kau memerasnya Sri!" tekan Kang Danu menatap Sri Utami tajam.


Sri Utami cemberut, ia berjalan mendahulu Kang Danu, kemudian menghilang dari pandangannya. Kang Danu hanya bisa menghela nafas. Ia melanjutkan perjalannya ke gubuk. Hingga petang Sri Utami tidak muncul juga, Kang Danu mulai khawatir, namun kemudian Sri Utami muncul dari remang-remang. Kang Danu hatinya senang ia terharu Sri Utami pulang ke gubuknya.


" Maafkan aku Sri." ujar kang Danu.


" Tidak apa-apa kang, aku kemari untuk pamitan sama akang. Aku sudah memutuskan akan bertemu kawanku. Maafkan aku sudah merepotkan Kang Danu." ujar Sri Utami sambil tertunduk.


" Aku tidak mau terus sembunyi Kang, orangtua ku sangat sedih mengira aku mati. Aku tidak tega melihat air mata mereka," lanjut Sri Utami.


" Aku tidak menghendakimu pergi Sri! tapi semua keputusan ada ditanganmu Sri, tunggulah besok pagi, sekarang sudah larut malam." Ujar Kang Danu penuh kecewa akan ditinggalkan seorang diri.


Sri Utami menganggukan, mereka berdua masuk kedalam gubuk tersebut, lalu menyantap hidangan makan malam yang sudah disediakan Kang Danu.


Pandangan Kang Danu setiap saat melihat Sri Utami yang sangat menikmati masakannya.


****


BRUG! Bucrat!

__ADS_1


Sesuatu yang keras terjatuh dari atap rumah sakit menghantam aspal halam rumah sakit. Suara histeris seorang wanita melihat sesosok yang berlumuran darah jatuh tepat dihadapannya. Semua orang berhamburan mengerubungi sosok yang sekarat tersebut.


BERSAMBUNG....


__ADS_2