
Seorang wanita berwajah ayu, berlarian ke barak tentara dimalam itu. Para tentara sedang pesta minuman keras. Wanita itu mendekat ke barak dengan wajah polos.
" Tuan- tuan bagaimana keadaan Nyai Sri? Bisakah aku bertemu dengannya? ucap bi Iyem.
Para lelaki yang sudah mabuk dengan alkohol tersebut, menatap Bi Iyem dengan tatapan aneh. memandang ke arah d*d*, sambil menyerigai.
" Hey, gadis. Ini barak tentara mana ada seorang wanita disini! kau jangan pura-pura, kau kesini ingin melayani kami bukan?" ucap seorang tentara.
" Tidak tuan-tuan, saya pamit." ucap bi Iyem ketakutan melihat keadaan bahaya baginya.
Bi iyem lari sekuat tenaga tapi badanya tertangkap oleh para tentara yang kekar, itu dan mengotongnya. Bi Iyem meronta-ronta tapi dia tidak dapat berbuat apa- apa. Kemudian bi Iyem di lemparkan ke kasur, tangannya dipegangi oleh dua lelaki, seorang lelaki menelanjangi bi Iyem, dia juga menelanjangi dirinya, bi iyem meronta-ronta kakinya menendang -nendang tangisannya menjerit-jerit, lelaki itu itu langsung menindih bi Iyem seketika bi Iyem merintih kesakitan. Para tentara tertawa terbahak-bahak. Tentara tersebut mencumbui tidak ada habisnya. Selesai menyelesaikan birahi seorang tentara kini gantian mereka. Bi Iyem digilir oleh 5 tentara dalam satu malam. Bi Iyem terkulai lemas di atas kasur dia masih tidak berbusana, darah mengucur deras dari k*m*lu*nnya, ia mengalami pendarahan hebat, mukanya pucat pasi. Para tentara tersebut mulai kaget, mereka kemudian mengotongnya dan melemparkannya dihalaman tidak jauh dari Barak.
****
Keadaan terlunta-lunta dijalanan, dan kemudian ia memilih tidur disalah satu lorong pasar. Ia tertidur cukup pulas, hingga seorang pedagang membangunkannya dipagi hari. Sri Utami kemudian berdiri ia mencuci wajahnya, menyisir rambutnya dengan tangannya.
Sekarang aku seperti orang gilakah?
Kenapa bisa begini keadaanku. Batinnya Sri.
Sri kemudian berjalan melewati alun-alun. Ia terkejut melihat ada mayat yang sudah dikerubuni lalat tergantung di tengah-tengah alun-alun. Ia pun menghampirinya. Bau tidak sedap menerobos lubang hidungnya. Ia menatap setiap orang yang digantung ditengah alun-alun itu, air matanya kembali mengalir. Manusia dari kalangannya diperlakukan seperti hewan, bahkan disaat mereka sudah meninggal pun oleh para penjajah tersebut. Tanganya mengepal keras.
" Ini semua salahku, aku menjadi penyebab kematian rakyatku!" gugam Sri Utami.
Sri Utami mengutuki dirinya, tidak bisa berhenti mengalirkan air matanya. Sayup-sayup terdengar suara orang bercengkrama sambil berjalan menuju pasar.
"Hmm kasian pembantu keluarga Wiranatakusumah. Sepertinya dia jadi korban pemerkosaan." ucap si ibu baju merah.
" Iya, aku rasa. Kejam sekali mereka sampai dibuang seperti sampah." ucap temannya.
" Aku yakin itu ulah para tentara itu." tutur si ibu baju merah.
Sri Utami mendengar hal tersebut langsung berlari ke arah si ibu-ibu dan mencegatnya.
" Nyi Sri?" ucap ibu-ibu.
" Iya bu. Dimana pembantu saya sekarang? bagaimana keadaannya?" tanya Sri tidak sabaran.
__ADS_1
" Oh..i..itu neng dia masih ada dipinggir jalan, orang-orang menutupinya pakai daun." jawab si ibu baju merah.
Sri mendengar hal tersebut langsung berlari menuju barak tentara Belanda. Sepanjang jalan ia masih tetap menangis. Benar saja, sesosok wanita yang paling dekat dengannya terbujur di pinggir jalan dengan hanya ditutupi dedaunan. Sri langsung menghambur ke arah sosok yang terkapar tersebut. Pipinya ditepuk-tepuk menyadarkannya. Tapi kemudian, Sri melihat darah keluar diantara dua kaki bi Iyem. Sri Utami matanya terbelalak, ia menanggis menjerit.
" Aaaaarghhhhh! hiks hiks hiks"
Semua orang yang berlalu lalangan dijalanan tersebut hanya merasa iba. Sri Utami kemudian mencabut kedua antingnya dan menawarkan kepada yang lewat untuk ditukar dengan kain. Akhirnya ada salah seorang yang memberikan 2 helai kain kepada Sri Utami. Sri segera menyelimuti tubuh Bi Iyem dengan kain tersebut, dan memapahnya.
Tik tak Tik Tuk Tik tak tik tuk
Suara sepatu kuda menghampirinya. Seorang lelaki diatas kuda tersebut hanya tersenyum sinis ke arah Sri, kemudian berlalu. Sri menatap lelaki tersebut dengan nanar. Setelah sepatu kuda diiringi lagi kereta kuda. Sri melihat kearah kereta tersebut. Van Berg berada didalam sana bersama Madelief. Sri Utami melihatnya semakin sakit, Van Berg dengan Madelief sedang bercanda ria. Dia kemudian menyusit air matanya, dia tidak.mau terlihat lemah dihadapan orang yang mencampakannya.
Sri Utami dengan susah payah mengendong Bi Iyem, seorang pemuda akhirnya membantunya.
" Mau dibawa kemana?" tanya pemuda tersebut.
" Aku tidak tahu." jawab Sri Utami dengan tatapan kosong ke depan
Si pemuda keheranan dia mengeryitkan dahinya. Tapi dia terus mengikuti langkah Sri Utami yang berjalan disampingnya. Lelaki itu terus melirik ke arah Sri Utami.
" Sri? kau tidak ingat denganku?" tanya pemuda tersebut.
" Rahman." jawab Sri Utami singkat.
" Iyah betul Sri, ternyata ingatanmu panjang." ucap pemuda tersebut girang, Sri hanya tersenyum tipis membalasnya.
" Rahman, kita bawa ke rumahku saja." Kata Sri. membuat Rahman tersentak.
" Wow, Sri rumahmu jauh, aku bisa patah tulang mengendongnya." ujar Rahman cengegesan.
Sri Utami pun sedikit terhibur dengan Rahman. Ia mulai menghirup udara dalam-dalam.
" Kalau begitu, apa kamu punya uang? kita naik delman saja kesana?" kata Sri utami sambil tersenyum manis.
" Tentu saja, oke kita naik delman saja." ucap Rahman yang cukup terpukau hanya dengan senyuman Sri Utami.
Mereka kemudian menghentikan delman yang melaju. Memasukan Bi Iyem ke sana dan mereka berdua duduk saling berhadapan. Sepanjang jalan Sri hanya menatap bi Iyem yang sudah pucat. Wajahnya sangat sedih dan terpukul, sesekali air matanya masih terjatuh membasahi pipinya. Rahman melihatnya merasa iba kepada Sri Utami. Ia memberikan sapu tangannya pada Sri yang langsung diterimanya.
__ADS_1
Delman memasuki pekarangan rumah Sri Utami. Ujang terkejut melihat Sri Utami datang ke rumah tersebut dan langsung menyambutnya, tapi hatinya sangat sesak melihat ada bi Iyem terbujur kaku. Ujang tidak banyak bertanya hanya membantu Rahman mengotong bi Iyem ke dalam rumah, dan menidurkannya di kamar belakang. Nyai Dasimah yang berada dirumah tersebut kaget melihat kehadiran Sri Utami. Dia langsung memelukanya, tidak ada kata yang ditanyakan, dia hanya merasa rindu kepada anak sambungnya tersebut. Sri Utami menerima pelukan tersebut sambil bercucuran air mata, begitu lama Sri menangis dipelukan Nyai Dasimah, tangisannya hingga membuatnya sesegukan.
" Sudah nak ku! Ibu sangat rindu" ucap Nyai dasimah lembut sambil mengelus rambut Sri Utami.
Sri Utami melepaskan pelukannya, Nyai Dasimah memengang kedua pipi anak sambungnya sambil tersenyum.
" kamu belum makan nak, ayo makan dulu setelah itu istirahat." ucap Nyai Dasimah.
" Ambu.. Mereka jahat, mereka melecehkan bi Iyem. Mereka jahat bu..." ucap Sri Utami.
" Cup..cup.. anakku anaking." Nyai Dasimah membelai kepala Sri Utami.
" Ambuuu.uuu... Van Berg bu..." ucap Sri tak kuasa.
" Iya, anakku. Sabar anakku semua akan cepat berlalu. Nanti ceritakan sama Ambu, sekarang mandi dulu lalu makan terus istirahat. Kau terluhat lusuh nak ku. Tak malu disampingmu ada Rahman." ucap Nyai Dasimah menenangkan Sri Utami.
Rahman tersipu malu mendengar namanya disebut oleh Nyai Dasimah. Sedangkan Sri Utami hanya melirik Rahman dan menyungingkan senyumannya.
"Man.. tunggu ya, aku bebersih dulu, nanti kita makan bersama, bolehkan ambu?" tanya Sri Utami.
"Tentu saja boleh." ucap Nyai Dasimah.
Sri pun beranjak pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya, memilih pakaiannya yang sudha ditinggalkan beberapa minggu olehnya. Sri melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
Aku tidak boleh terlihat rapuh dihadapan Van Berg,
Aku harus terlihat baik-baik saja dan melupakannya. Bisik hatinya Sri Utami.
Sri berjalan melangkah keluar kamarnya dan menemui Rahman yang sudah menunggunya dengan secangkir kopi. Rahman terpesona dengan penampilan Sri Utami, hingga air kopi yang sedang diseruputnya tumpah ke celananya. Sri pun tersenyum melihat kelakuan Rahman. Ia segera mengajak Rahman makan bersama di ruang makan. Rahman mengikuti Sri Utami dengan gugup, keringetnya bercucuran saat duduk disamping Sri Utami. Melihat hal tersebut membuat Sri Utami merasa lucu, ia pun mengodanya dengan mengambilkan makanan untuk Rahman dan menatap wajahnya. Rahman semakin gemeteran dibuatnya.
" Man, kamu kenapa? kamu kepanasan?" tanya Sri Utami kemudian mengeluarkan sapu tangan dari Rahman dan mengelapkannya.
" Sri, aku tidak apa-apa." ucap Rahman dengan cepat.
"Hmm.. baiklah, makanlah yang banyak ya Man, kamu sudah banyak membantuku hari ini." ucap Sri Utami.
Nyai Dasimah hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya didepannya. Sedangkan Bi Iyem sudah ditangani oleh dokter karena mengalami kerusakan v*g*n* cukup serius. Dia dirujuk dirawat dirumah sakit. Pada hari itu juga bi Iyem diberangkatkan ke rumah sakit dan dirawat inap, Sri Utami menungguinya di rumah sakit.
__ADS_1
BERSAMBUNG....