
Teruntuk: Gadis bermata jeli
Tiada asap tanpa api
Tiada laut tanpa garam
Sampai kapan aku harus menanti
Sedang gejolak hati tidak pernah padam
(Tentara yang jatuh cinta)
Kudengar berita, kau telah dilamar orang, maka tak pantaslah diriku menyatakan hati pada nona berkebaya merah. Tapi apalah daya, aku selalu memikirkan dirimu, sedang apa kau disana? Bagaimana hatimu? Apakah sudah ada yang
memiliki? Maka kedatangan surat ini aku ingin mengatakan akhir-akhir ini aku resah, hatiku sering menyebut namamu. Saat pertemuan pertama kita di gedung Volkraad itu aku telah jatuh hati kepadamu nona.
Dilipat kembali surat itu, senyuman mengembang disudut bibirnya. Hari itu Nyai Dasimah sudah tidak dirumah lagi, hanya bi Iyem dan Ujang
yang menemani. Raden Sri Utami merasa kehidupannya sudah kembali normal. Dari arah depan Ujang masuk dengan buru-buru ke rumah.
“ Kenapa Ujang?”
“ Itu Nyi Raden, sudah lima hari pemuda berbaju tentara walanda itu mondar-mandir didepan rumah Nyi,” lapor Ujang.
“ Sudah ditanya dia ada keperluan apa?”
“Saya tidak pernah sempat menanyakannya, Nyi. Tentara itu hanya diam sejenak kemudian pergi lagi.”
Raden Sri hanya menganggukan kepala. Kemudian melirik keluar melalui jendelanya.
“Jam berapa dia biasanya datang?”
“Tidak tentu Nyi, kadang sore, kadang malam, kadang pagi,” tutur Ujang.
“ Kalau dia datang lagi, jamulah,” pinta Raden Sri
“ Baik Nyi Raden,” jawab Ujang sambil mengundurkan diri.
Diliriknya surat yang ada didalam gengamannya, senyuman mengembang kembali. Hatinya masih risau sekaligus bahagia mendapatkan surat
pernyataan cinta dari sang tentara. Surat itu kemudian diselipkan disalah satu buku favoritnya. Diliriknya jam dinding, malam ini adalah malam pertemuan bi Iyem dengan kekasihnya. Raden Sri sudah memberikan ijin kepada pembantunya
untuk keluar. Ia pun bangkit dari duduknya. Tapi suara diluar terdengar ada tamu yang datang.
“Assalamualaikum, Sampurasun!”
“Waalaikumusalam, rampes,” jawab Raden Sri sambil membukakan pintu.
Pemuda berwajah asli lokal ini nampak mengembangkan senyuman yang malu-malu ke arah Raden Sri Utami. Raden Sri melihatnya dan membalas senyumannya.
“Apa ini, kekasih bi Iyem?”
“Iya, betul Nyi.”
__ADS_1
“Oh iya, silahkan duduk, bi Iyem sedang siap-siap. Jadi tunggulah dulu.”
Pemuda lokal itu melihat Raden Sri Utami tanpa berkedip, matanya terus menunjukan betapa dia sangat terpana dengan pesona Raden Sri yang
baru pertama kali dilihatnya secara langsung. Raden Sri mengenal sekali gelagat lelaki ini, dia langsung memecah fokus lelaki itu.
“Aa, kenapa matanya merah?”tanya Raden utami menguji pemuda tersebut.
“Benarkah?” kata lelaki itu sambil memagang matanya mencari kaca.
Sri Utami langsung tersenyum, melihat lelaki itu sangat panik mendengar candaanya yang disangka serius. Sri Utami langsung berbalik
masuk ke rumah, mata pemuda itu tetap tertuju ke badannya Sri Utami dia kembali terlihat terpukau. Diluar pagar seorang tentara tengah mengamati kejadian itu, setelah melihat Sri Utami telah hilang di balik pintu. Dia segera menyerbu lelaki itu dengan memukul kepalanya mengunangan pentongan.
“Hey, kau Siapa?” melirik ke arah pemukul,wajahnya menjadi semakin marah.
“Aku, kau jangan memandang tubuh wanita terhormat dengan pandangan seperti itu.” Jawab Van Berg datar.
“Rupanya kau, si pencuri harta negara kami!” pemuda ini langsung melayangkan tinjunya ke wajah Van Berg yang belum siap.
Pertikaian pun terjadi dihalaman depan rumah, sang pemilik rumah merasa heran dengan kerusuhan yang terjadi didepan, segera menghambur keluar rumah. Raden Sri dan bi Iyem melihat dua lelaki itu saling meninju. Raden Sri menatap tajam ke arah Van Berg, yang langsung disadari oleh tentara itu dia melirik ke arah Raden Sri dan sebuah tinjuan menghantam pipinya yang
putih. Mata Raden Sri langsung terperajat, pemuda lokal pun menghentikan serangannya. Bi Iyem menghampiri kekasihnya dan memegangnya sambil didudukan diserambi rumah. Sedangkan Van Berg berjalan ke arah Raden Sri dengan melemparkan senyuman tanpa dosa. Raden Sri
pun memberikan kode menyuruhnya masuk ke rumah. Luka lebam di wajah tentara itu diobatinya dengan telaten, sedangkan hatinya penuh dengan gemuruh rasa yang membuncah, namun Raden Sri Utami menyembunyikannya. Tapi, pemuda yang
dihadapannya bukan lelaki yang polos, dia paham betul perasaan wanita didepannya
“Apa kamu menyukai lelaki itu?” tanya tentara itu sambil menatap wajah Sri Utami.
“ Yang mana? Yang didepan?” Sri Utami menanyakan.
“Iya, apa dia calon suamimu?”
“ Yang didepanku saat ini anda tuan? Apa anda sedang melamarku?” goda Sri Utami tersipu.
Van Berg memutar otaknya dengan perkataan Sri, dia menyadari sedang dipermainkan dengan kata-kata oleh gadis tersebut. Ia tertawa gemas
mendengar lelucon wanita idamannya.
“Ha.. Ha...Ha, tidak kusangka wanita secantik nona suka berterus terang” jawab Van Berg.
“ Saya akan menyiapkan kudapan untuk anda tuan.” Mengalihkan pembicaraan, berjalan ke dapur.
Melihat Sri utami berjalan ke dapur, Van Berg mengikutinya. Sri dengan telaten membuatkan kudapan ringan untuk tamunya, dia menyiapkan kue, merebus air panas serta mengoreng singkong. Van Berg terpukau pada gadis didepannya ternyata dapat memasak. Sri Utami masih dengan fokus melakukan pekerjaannya, tidak menyadari Van Berg memperhatikannya. Van Berg mendekatinya serta memeluk Sri Utami dari belakang, membuatnya terperajat, lelaki itu memeluk Sri sangat kuat, seperti menyalurkan
semua kehangatan.
“ Apa kau menyukaiku, Sri?” tanyanya, Sri utami hanya terdiam.
“Katakan apa kau menyukaiku?” Van Berg bertanya kembali.
“Lelaki yang anda pukuli, itu kekasih pembantuku,” ucap Sri.
__ADS_1
“Kau mengalihkan pembicaraan Sri,” ucap Van Berg,
“ Bisakan anda tuan melepaskan pelukannya, aku tidak bisa melakukan pekerjaan ku, “ Sri memohon.
Van Berg pun melepaskan pelukannya, dan memperhatikan gerak-gerik Sri Utami menuangkan air panas menyeduh kopi. Kemudian menyimpan kudapan dipiring. Dibawanya makanan tersebut ke ruang depan.
“Makanlah tuan, setelah ini anda boleh pergi,” ucap Sri Utami.
“Aku datang kemari seperti pengembara, baru datang disuruh makan lalu diusir pergi,” kata Van Berg menatap mata gadis didepannya.
Sri Utami tidak menjawabanya hanya melemparkan senyuman kepada Van Berg, melihat tanggapan pemilik rumah, ia langsung menyeruput kopi yang disajikan kemudian melahap beberapa potong kue dan goreng singkong.
“Negara ini sedang dalam kondisi kritis, orang-orang Priangan harus mulai membiasakan diri mengikuti perkembangan revolusi industri.”Jelas Van Berg.
“Tentu tuan, sudah saatnya tidak menolak revolusi industri, tetap menolaknya toh tetap akan merepotkan sendiri,” jawab Sri Utami.
“ Nona paham betul kondisi perkembangan negara, apa karena nona membaca buku-buku itu?” Van Berg menunjukan ke rak buku yang biasa dibaca Sri Utami.
“ Jika waktu sengang saja tuan,” jawab Sri utami.
Van Berg bangkit dari kursinya memperhatikan deretan buku yang tertata rapi dirak tersebut, buku disusun berdasarkan temanya. Satu buku diambilnya, kemudian di buka dan ia melihat surat yang dikirimnya beberapa waktu lalu terselip disana, Van Berg melirik gadis itu. Menunjukan surat itu kepadanya.
“Kenapa kau menyimpannya disini.”
“Bukan apa-apa, hanya ingin saja”
“Apa artinya surat ini spesial?”
Sri Utami hanya memberikn jawaban dengan bahasa tubuh yang menandakan arti ‘mungkin’, lalu dia bangkit dari duduknya berjalan mendekati
Van Berg.
“Itu buku favoritku tuan.”
“Kalau begitu aku akan meminjamnya, kalau kau ingin bukunya kembali kau harus menemuiku. Tapi suratnya kau berhak menyimpannya. Simpanlah
yang rapi ditempat yang spesial, oke aku sekarang pamit.” Van Berg berjalan dengan cepat keluar dari rumah dengan girang. Sri dari gawang pintu berseru kepada Van Berg.
“Tuan! Anda salah, surat itu tidak spesial, yang spesial itu adalah pembuat surat itu.”
Pernyataan tersebut cukup menghentikan langkah Van Berg, kemudian dia berbalik berjalan mendekati Sri Utami yang masih mematung di
gawang pintu. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan.
“ Jadi kau jatuh cinta padaku?” selidik Van Berg sambil melihat bola mata Sri Utami mencari jawaban, dan ia menemukan jawaban dari
bahasa tubuh Sri menganggukan kepalanya sambil tersipu.
Setelah puas mendapatkan jawaban itu, Van Berg langsung menghirup udara kuat-kuat dan melihat langit-langit genting itu. Kemudian matanya beralih kembali pada wanita yang berada dihadapannya. Dengan tanpa aba-aba, Van Berg mendaratkan kecupan dipipi Sri Utami, membuat Sri membelalakan matanya, pipinya berubah bersemu merah merona. Van Berg langsung
berbalik meninggalkan Sri Utami yang masih mematung.
BERSAMBUNG....
__ADS_1