
Sore itu suasana dikota Bandung yang diluputi bau karet dan bangunan yang terbakar menyengat disepanjang jalanan. Gedung-gedung sisa-sisa pembakaran masih berdiri dan terlihat gosong. Sepi tidak ada yang lalu lalang, kebanyakan para tentara Sekutu dan NICA yang berkeliaran.
Kejadian peledakan gedung mesiu masih membuat kesal dan godok para tentara Sekutu dan NICA pasalnya, gudang itu adalah amunisi terbesar yang disiapkan untuk melawan serangan dari para pejuang.
Van Berg berdiri diatas tanah lapang yang mengepul asap meliputi awan. Matanya tertuju pada markas pejuang tanah air yang sudah hangus terbakar. Desas desus terdengar bahwa didalam sana masih ada orang berdarah Jepang terbaring sakit, tidak salah lagi orang tersebut adalah saingan sekaligus lawan dimata Van Berg.
Biarlah orang berkata Van Berg egois, jahat karena ingin menguasai tanah air wanita yang dicintainya dan juga ingin memiliki seutuhnya Sri Utami tanpa ada penghalang. Selama Ryosuke lelaki yang hadir menemani kekasihnya selama tiga tahun itu belum mati, setiap waktu hatinya merasa tidak pernah tenang, ada rasa takut Sri Utami akan meninggalkannya dan pergi bersama Ryosuke.
Namun, melihat api yang mengepul dimarkas tersebut, senyumananya melebar, ini adalah bentuk kemenangan hatinya. Van Berg melangkah dengan riang meninggalkan Dayeuhkolot. Hari ini bisa dikatakan kemenangan telak bagi bangsanya.
Van Berg berjalan dengan tegas disertai siulan, semua yang menatap berkerut dahi dengan sikap Van Berg yang tidak biasanya. Para prajuritnya terlihat berbisik-bisik.
" Bukannya mengapai kemenangan mengalahkan bangsa pribumi itu sudah biasa, apa yang nembuat kapten begitu bahagia?"
" Entah, aku juga tidak paham! Tapi yang penting kita pesta malam ini!"
" Yey!"
Para prajurit Sekutu dan NICA berbondong-bondong memasuki truk tentara sambil menyanyikan lagu kemerdekaan negara Belanda, mobil melaju menuju markas tentara Sekutu dan NICA di Bandung Utara.
Perjalanan menuju Bandung Utara cukup memakan waktu 2 jam lamanya. Setelah sampai mereka sudah disambut oleh para noni-noni Belabda dan isterinya untuk berpesta.
Minuman seperti arak dan musik dansa menemani kebahagiaan para tentara sekutu dan Belanda. Mereka melakukan cheers sambil mengacungkan gelas sloki.
" Ladies and Gantelment! For Wilhelmina! For Nederland and For Glory!" Sorak Gubernur Jenderal AFNEI.
Ting
Suara gelas saling beradu suara gelak tawa memenuhi ruangan, mereka menunjukkan kebahagiaan atas kemenangan memporakporandakan pasukan tanah air. Van Berg terlihat beberapa kali meminum arak sampai dia mabuk berat. Madelief terlihat khawatir meminta agar berhenti meminumnya. Ditemoat itu tidak ada Sri Utami, dia sengaja engan menginjakkan kakinya ditempat tersebut, meskipun Van Berg sudah menyuruhnya untuk hadir.
" Van Berg, Please Stop! Kamu bisa sakit!" Kata Madelief.
" No.. No.. Madelief, biarkan aku bahagia hari ini dengan meminum arak sepuasnya!"
" No.. Van Berg!"
" Emm!" Van Berg melihat Madelief tersenyum lalu bangkit dari duduknya sambil sempoyongan.
Madelief memburunya hendak membantu Van Berg yang sudah mabuk berat tapi tangan Madelief ditepisnya.
" Ish! Sttt! Aku mau pulang!" Kata Van Berg sambil matanya setengah tertutup.
" Aku akan mengantarmu!"
__ADS_1
" No.. Aku mau pulang sendiri!"
" No. Van Berg, kamu tidak boleh pulang sendirian!"
" Emmm... Aku akan menyuruh Vander Plass menyetir!" Katanya sambil berjalan menuju Vander Plass.
Madelief tidak bisa mencegah kehendak Van Berg, dia hanya bisa melihat Van berg yang sempoyongan berjalan dibopong Vander Plass. Mereka pergi dengan mengendarai mobil.
" Van Berg, are you oke?" Kata Vander Plass.
" Hmm!" Kata Van Berg menyeder dikursi mobil sambil memegangi kepalanya.
" Aku rasa tidak baik menemui Sri dalam keadaan begini!"
" Why? Sri harus tahu aku bahagia sudah membunuh Ryosuke!" Kata Van Berg masih memejamkan matanya.
" Segitu cemburunya kamu pada Sri" Kata Vanderplass sambil tersenyum menoleh ke arah Van Berg.
"Hmm.. Bangunkan aku kalau sudah sampai!"
" Iya!"
Vander Plass kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Van Berg menidurkan dirinya yang menahan sakit kepala yang disebabkan terlalu banyak minum.
Vander Plass melirik pada Van Berg yang terlihat tertidur pulas, dia mengoyangkan badan Van Berg sampai terbangun. Van Berg denganl kesadaran belum pulih keluar dari pintu mobil berjalan sempoyongan, lalu tidak lama dia memuntahkan isi perutnya, Vander Plass langsung turun dari mobil membantu Van Berg yang muntah.
" Wow Bro! Aku rasa kamu benar-benar overdosis! Cepat masuk rumah dan istirahatlah." Kata Vander Plass.
Van Berg dengan berjalan sempoyongan melangkah menuju pintu, Vander Plass hanya mengelengkan kepalanya melihatnya. Van berg tidak lama terlihat mengedor pintu dengan keras. Seorang wanita dengan rambut tergerai cantik sepinggang keluar membukakan pintu, Van Berg pun terjatuh didada perempuan tersebut. Vander Plass yang pernah menaruh hati pada sosok wanita itu hanya tersenyum kecut.
" Van Berg!" Lirih Sri Utami.
" Emmm..!" Sahut Van Berg.
Sri Utami langsung membopong Van Berg menuju kursi dan membaringkannya. Lalu dia mengunci pintu. Sri Utami hanya menghembuskan nafasnya melihat kelakuan Van Berg.
Sri Utami melangkah menuju kamarnya hendak membawakan selimut dan bantal untuk Van Berg. Namun baru saja dia berbalik, Van Berg sudah berjalan memasuki kamarnya dan menendang pintu dengan kakinya.
"Mm SRI aku hari ini bahagia sekali! Kamu tahu apa yang membuat aku bahagia?"
" Aku tidak tahu!"
" Aku menghancurkan markas tentara pribumi!"
__ADS_1
Deg
"Lalu?" Kata Sri Utami mencoba tenang.
Kaki Van Berg melangkah cepat ke arah Sri Utami lalu meraih tengkuk Sri Utami dan mencium bibirnya ganas. Satu tanganya memegang pinggangnya.
" Emmp!"
Van Berg tidak memperdulikan Sri Utami yang masih terkejut dan memberontak, Van Berg langsung mendorong tubuh Sri Utami hingga terjatuh bersamaan diatas kasur dengan dirinya menindihkan. Aktivitas cumbuannya masih berlangsung bahkan turun ke leher dan memberikan tandanya, Sri Utami tidak bisa menahan desahannya.
" Teruslah berdesah! Aku suka! Hari ini kemenanganku! Puaskan aku Sri!" Bisik Van Berg dengan suara seraknya.
" V-Va-Van Berg, hentikan" Disela desahannya.
" Tidak!" Kata Van Berg sambil beralih mencumbu kasar bibir Sri Utami.
Perlahan pakaian keduanya terlepas dari tubuh mereka, Van Berg memaksa Sri Utami memuaskannya sepanjang malam, sedetikpun tidak membiarkan Sri Utami beristirahat, Van Berg tidak mendengarkan rintihan Sri Utami. Setiap jeritan Sri Utami bagaikan alunan yang membuatnya terpacu terus mengagahinya.
"Cukup Van Berg! Aku Lelah!" Kata Sri Utami.
Badannya sudah tidak bertenaga melayani suaminya yang kesetanan. Sri Utami hanya pasrah, setitik air mata keluar dari sudut matanya, Van Berg terlihat egois malam ini.
"Ryosuke sudah terbunuh! Hanya aku yang berhak kamu cintai!"Racau Van Berg.
Sri Utami tersentak, melihat wajah Sri Utami yang terlihat kebingungan, Van Berg tersenyum samar, lalu menghentakkan pinggulnya kuat, hingga Sri Utami menjerit. Setelah itu dia tumbang, berguling disamping Sri Utami. Ayam-ayam sudah siap akan berkokok.
Jangan lupakan sepanjang malam yang panas itu, seseorang tengah menanggis dikamar sebelahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1