
Keheningan malam kepulangan Sri Utami dari Barak tentara.Ia dengan gontai berjalan memasuki pekarangan rumahnya, memasuki rumah dan langsung berbaring di ranjangnya. Sri Utami bangun kesiangan tidak seperti biasanya, rumahnya sudah mulai ramai oleh orang-orang yang sedang mempersiapkan untuk pernikahannya. Ia berjalan keluar kamar dan membersihakan badannya. Ia melihat kesibukan para ibu yang menata rumahnya dan juga memasak berbagai macam makanan, ia hanya dapat menghela nafasnya. Nyi Dasimah menepuknya dari arah belakang.
" Calon pengantin, antarlah makanan ini ke rumah calon mertuamu." ujar Nyi Dasimah sambil menyerahkan baskom berisi masakan, Sri Utami hanya mengangguk dan mengambilnya bergegas naik delman.
****
" Akhirnya kamu setuju juga menikah dengan anakku, Sri." Ucap ibu wiraraja calon mertuanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tapi Sri Utami hanya diam saja tidak menyahuti semua perkataan calon mertuannya, sesekali hanya menjawab 'iya'. Dibalik pintu kamar, Arya Wiraraja sedang mengintip menyaksikan gadis cantik yang akan menikah dengannya, mengembang senyumannya. Arya sudah memiliki satu isteri dan satu anak. Namun, sudah menjadi kebiasaan para ningrat tidak cukup satu isteri.
Sri Utami tidak betah berlama-lama dirumah tersebut, ia sesekali melihat ke arah delmannya, dia ingin segera melarikan diri. Setelah si baskom di berikan isi penukar, Sri langsung bangkit dan berpamitan.
Ditengah perjalanan Sri mengamati jalanan, ia bersiap menyusun rencana kaburnya dihari pernikahan. Ia diam -diam menandai siap jalan yang dilalui. Kemudian dari arah yang berlawanan para tentara sedang olahraga pagi dengan telanjang dada, inspekturnya disana terlihat Van Berg memimpin pasukannya. Melihat pemandangan tersebut, membuat Sri Utami merasa bahagia dan bangga kepada Van Berg. Menyadari sepasang mata sedang mengamatinya Van Berg memandang ke arahnya dan memgedipkam matamya serta memberikan hormat kepada Sri Utami yang berada diatas delman. Melihat tingkah Van Berg, Sri utami tertawa sambil menutup mulutnya.
Rupanya Van Berg juga mengejar Delman yang ditumpangi Sri utami dan menghentikannya kemudian menerobos masuk dan duduk dihadapan Sri Utami. Keringatnya bercucuran deras dari dahi dan anggota tubuh yang lainnya. Sri tidak membawa minuman, ia kemudian membuka isi penukar makanan dibaskom dan memberikan buah jeruk kepada si tentara, ia pun segera memakannya.
" Kau habis dari mana?"
" Dari rumah calon mertua."
" Kenapa pergi kesana, bukannya kamu membenci pernikahannya?"
" Aku punya rencana lain."
" Aku ikut ke rumahmu?"
"Untuk apa?"
" Sepertinya aku harus mengenalkan diri ke bapakmu yang galak, sekalian aku akan melamarmu?"
__ADS_1
" Di adatku mana bisa seperti itu, wanita yang sudah menerima lamaran laki-laki tidak boleh menerima pinangan lain."
" Tidak masalah, kita coba dulu aja, lagi pula kau terpaksa menikahinya bukan?"
Sri Utami tidak menjawab hanya mengela nafasnya, membuang semua yang membuat sesak hatinya. Terlalu berani si tentara kolonial ini menurut pikirannya. Tapi dia juga tidak menolak saat si tentara ini ingin ikut ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian, delman berhenti dipekarangan rumah Sri Utami, yang berseliwuran orang sedang sibuk dengan persiapan pernikahan. Sri Utami turun lebih dulu dari Delman, yang kemudian diikuti oleh Van Berg, keduanya masuk ke dalam rumah. Semua yang melihat hal tersebut merasa heran bercampur kaget, karena wanita yang sudah dipinang duduk berdampingan dengan pemuda lain tidak lumrah.
Van Berg duduk di ruang depan, Sri Utami ke belakang membawa baskomnya, kemudian memberitahukan Nyai Dasimah dan ayahnya
bahwa mereka kedatangan tamu. Keduanya langsung menjumpai Van Berg, yang dikuti oleh Sri Utami. Betapa terkejut Raden Sugeng saat melihat yang datang Van Berg.
" Ada apa anda kemari tuan? bukankah kami tidak ada urusan?" tanya Raden Sugeng dengan sinis.
" Pak Raden Sugeng memang tidak ada urusan dengan saya, saya yang ada urusan dengan pak Raden," jawab Van Berg dengan ramah.
" Cepat katakan, kami sedang sibuk sekarang!" ucap Raden Sugeng dengan sombong.
"SEMBARANGAN KAU BICARA! KAU TIDAK LIHAT JANUR KUNING ITU! Sri sudah dipinang orang lain! Jangan berani kau melamarnya, aku pun tak sudi bermenantukan orang penjajah seperti anda tuan. Kaummu orang miskin semua, mengeruk harta kekayaan bangsa kami, nafkah apa yang kau berikan kepada anak saya nanti? Uang hasil nyuri? Uang hasil menindas rakyat? Heh!" Jawab Raden mengebu-ngebu penuh emosi.
" Saya memiliki pengasilan dari jabatan saya sebagai tentara, saya tidak mengambil uang rakyat pak Raden," menjawab dengan tenang.
" Kau pikir uang itu asalnya darimana HEH! Itu Dari KAMI!" Pak Raden Sugeng semakin naik pitam.
Van berg hanya diam tertunduk, menyadari lawan bicaranya sudah membenci begitu dalam kepada orang Belanda. Ia memutuskan untuk berpamitan kepada tuan rumah tersebut. Keesokan harinya Van Berg kembali datang bertamu dengan niat yang sama meminta restu untuk menikahi Sri Utami. Tapi pendirian Raden Sugeng juga tetap kokoh, tidak mau menerima lamaran Van Berg. Sri Utami hanya bisa menangis sesegukan di kamarnya, melihat pemuda yang dicintainya terus dicaci maki oleh ayahnya. Van Berg keluar dari rumah Sri Utami tidak membawa hasil apapun. Dia melihat ke arah jendela kamar Sri Utami, terlihat bayangan wanitanya sedang menangis sesegukan. Van Berg hanya bisa menghela nafasnya, bingung haruskah dia menculik gadis tersebut.
***
Sebagaimana umumnya dalam pernikahan adat sunda, beberapa ritual harus dilaksanakan sebelum pernikahan dimulai, sehari sebelum pernikahan Sri Utami harus menjalani ritual Siraman dan Ngeuyeuk Seureuh. Di pekarangan rumah sudah duduk Sri Utami dengan rambut tergerai disampingnya kendi. Raden Sugeng memanjatkan doa kemudian Sri Utami diguyur air dari gayung oleh Raden Sugeng, diikuti saudara-saudara Sri Utami. Terakhir pemimpin ritual menguyurkan air sambil melapalkan jangjawokan (mantra):
__ADS_1
cai suci cai hurip
cai rahmat cai nikmat
hayu diri urang mandi
nya mandi jeung para Nabi
nya siram jeung para Malaikat
kokosok badan rohani
cur mancur cahayaning Allah
cur mancur cahayaning ingsun
cai suci badan suka
mulih badan sampurna
sampurna ku paraniam
Setelah itu rambut Sri Utami di potong sedikit oleh kedua orangtuanya. Sementara Sri Utami kembali dirias, para ibu dan anak muda dipekarangan berebut beubeutian dan hahampaan. Sri Utami keluar lagi, satu tumpeng sudah disiapkan, Nyai Dasimah dan Raden Sugeng memotong tumpeng kemudian secara bergantian menyuapi Sri Utami, sebagai terakhir kalinya ia berstatuskan anak. Setelah itu rambut Sri Utami ditanam ditanah depan pekarangan.
Pada malam harinya, Sri Utami harus menjalani ritual Ngeuyeuk Suereuh ( mengolah sirih). Pemimpin ritual yang disebut Pangeuyeuk mempersilahkan Raden Sri Utami dan Pangeran Arya Wiraraja meminta restu kepada kedua orang tuanya diiringi oleh Kidung yang dibacakan oleh Pangeuyeuk. Keduanya bersimpuh didepan kedua orang tua kemudian mempelai disawer oleh beras dan dipukul pelan-pelan oleh lidi sembari diberikan wejangan. Pangeuyeuk membuka kain putih penutupnya. Setelah itu, Pangeran Arya digiring ke tempat yang sudah disediakan mayang jambe dan buah pinang, ia harus membelahnya, selanjutnya dia harus menumbukkan alu ke lumbung sebanyak tiga kali.
Pangeyeuk membuat lungkung dan terakhir melakukan saweran. Kedua pengantin kemudian digiring bersama sesepuh menuju perempatan jalan dan membuang air bekas ngeuyeuk seureuh. Lalu 7 buah pelita dinyalakan sebagai simbol jumlah hari yang diterangi matahari.
Selama ritual dilaksanakan, Sri Utami hanya melamun dan pandangannya kosong, tidak tersirat sedikit pun kebahagiaan di wajahnya. Hal itu disadari betul oleh Nyai Dasimah, yang merasa iba melihat Sri Utami. Esok adalah hari yang tidak pernah dinantikan oleh Sri Utami, dapatkah ia meloloskan diri dari pernikahannya tersebut?
__ADS_1
BERSAMBUNG....