Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Huru Hara di Barak tentara


__ADS_3

Sri Utami terbangun saat mendengar lonceng tentara, dikamarnya yang kini dia berada sudah kosong, tidak ada Van Berg disana. Sri Utami pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut. Ia melihat diberanda gedung yang luas itu para tentara sudah berbaris rapi, dan Van Berg terlihat fokus mengomandoi pasukan untuk latihan fisik.


Para tentara yang telanjang dada itu terlihat berlari bersama-sama membentuk tiga barisan, suara hentakan kaki itu terdengar berirama, sambil menyanyikan lagu kebangsaan Belanda:


Wilhelmus van Nassouwe ben ik van Duitsen bloed


Den vaderland getrouwe blijf ik tot in den dood


Een Prinse van Oranje ben ik vrij onvervaard


Den Koning van Hispanje heb ik altijd geëerd


Mijn schild ende betrouwen zijt gij o God mijn Heer


Op u zo wil ik bouwen verlaat mij nimmermeer


Dat ik doch vroom mag blijven uw dienaar t’aller stond


De tirannie verdrijven die mij mijn hart doorwondt


Sri Utami hanya memperhatikan kegiatan pagi tentara yang baru pertama kalinya ia lihat. Dia baru tahu kalau ternyata Van Berg adalah seorang kapten, semakin membuat Sri utami terkagum -kagum. Pemuda itu dengan seragam dan gaya kepemimpinannya menjadikan ia semakin gagah. Mata Sri Utami tidak pernah teralihkan melihat gerak gerik Van Berg. Semua tentara setelah pemanasan di seru untuk mengambil senjata dan memakai peralatan lengkap. Lantas semua berbaris kembali untuk latihan membidik. Van Berg berseru setengah teriak kepada pasukannya.


Voorkant van wapens! (Depan Senjata!)


Linker schouderwapen! (Pundak kiri senjata!)


Rechter schouderwapen! (Pundak kanan Senjata!)


Jouw wapen! (Hormat Senjata!)


Rechtop wapen! (Tegak Senjata!)


Front Line Maak je klaar! (Baris Depan Bersiap!)


Schiet! Schiet! Schiet! (TEMBAK! TEMBAK! TEMBAk!) Van Berg sambil berjalan melewati baris penembak. Suara tembakan pun bersahutan terdengar.


DOR! DOR! DOR! DOR!

__ADS_1


Semua peluru itu menerobos bidikannya yang digantung dipepohonan secara tidak teratur dengan jarak 10 meter. Penembak itu langsung berlari ke belakang bergantian dengan temannya. Saat semua sedang Hidmat berlatih tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat dasyat.


BOOOOM! BLUDAK! BLUDAK! DOR! DOR! DOR!


Si jago merah dengan cepat melahap barak tentara Belanda tersebut, kayu dan bahan bangunan terpental kemana-kemana. Para tentara seketika langsung tiarap, sementara Van Berg panik berlari menuju gedung yang setengahnya sudah terbakar, ia ingat Sri Utami masih berada di dalam Barak.


" Sriiiiiiii...Sriiiiii" teriak Van Berg.


Suara dari arah kanan gedung terdengar pasukan yang cukup banyak bergerak meraksek ke arah barak menyerang para tentara yang masih syok karena ledakan.


" SERBUUUUU! SERBUUUU!" pekik pemimpin pasukan yang tidak lain Pangeran Arya.


Van Berg melihat hal tersebut ia segera berlari ke gudang senjata yang belum meledak, ia mendobrak pintunya dan mengambil senjata laraspanjangnya peluru di selendangkan di pungungnya. Ia berlari menghadap pasukan yang tidak kenal ampun menghajar bawahannya dengan bambu runcing dan parang, hingga disana sini tergeletak para tentara dengan leher tergorok, perut tertusuk bambu sehingga memuntahkan isi perut, kepala para tentara banyak yang melayang kesana kemarin disertai darah bermuncratan.


Van Berg mulai naik emosinya, ia menembak ke setiap orang yang mendekatnya sehingga bergeletakan korban, namun hal itu semakin mengundang fokus masa mengarahkan serangannya ke Van Berg. Sebuah pisau melayang ke arahnya dan mengenai lengan kirinya, kemudian berurutan tombak dan panah silih menyusul menghujaninya, tapi Van Berg tentara yang cukup berpengalaman di medan perang, ia pernah diterjunkan dalam perang dunia 1 selagi disekolah militer, sehingga ia cepat naik jabatan menjadi kapten.


Van Berg menghadapi setiap senjata yang diarahkan kepadanya, ia berguling, tiarap, kemudian merangkak sambil menembakan senjata laras panjangnya.


DOR! DOR! DOR! DOR!


SRET SRET SREEET


Bambu runcing melukai leher dan perut lelaki yang berpakaian celana setengah lutut dan kepala mengenakan iket. Ia langsung sekarat, terkapar ditanah.


GEDEBUG ...GEDEBUK.. Kuda berlari dari arah belakang...Heaaak! BRUK!


Kaki kuda menghantam punggungnya Van Berg sehingga ia memuntahkan darahnya dan terjatuh. Penunggang kuda turun, dan mengamati wajah Van Berg yang sudah pucat.


"HEH! tidak cukupkah kau mencuri harta negaraku!! sehingga kau mencuri juga calon isteriku!" bentak Pangeran Arya di wajah Van Berg, kemudian meludahinya.


" CARI SRI HIDUP ATAU MATI!" Teriak Pangeran Arya ke pengikutnya.


Sebagian pengikut meninggalkan lawannya, mengikuti seruan pangeran Arya dan mulai mencari Sri Utami diantara orang-orang yang tergeletak. Van Berg yang masih tersadar, berusaha bangkit dan menarik kedua kaki pangeran Arya yang sedang membelakanginya, sehingga Pangeran Arya terjerembab wajahnya menghatam tanah dengan keras,


BRUK! "ARrrrGh!" raungan Pangeran Arya kesakitan, darah mengucur dari hidungnya. Belum sempat bangkit. Kepalanya dihantam oleh senjata laras panjang, sehingga ia pun tak sadarkan diri seketika itu juga.


Van Berg sekuat tenaga berdiri, dengan dadanya yang merasa sesak disertai punggungnya yang berasa remuk. Matanya masih berkeliling mencari sesosok wanita yang dicintainya sambil meringgis menahan sakit. Dari kejauhan samar- samar diterlihat seorang wanita berkebaya putih tergeletak tak sadarkan diri. Van Berg segera berjalan setengah berlari memburu Sri Utami. Ia langsung mendekapnya, dia periksa denyut nadi ditangannya, dan ternyata masih berdenyut lemah. Van Berg langsung mendekapnya, air matanya mengalir antara sedih dan bahagia menyelimutinya. Si gadis yang didekap mengerjapkan matanya karena terkena tetesan air mata dari Van Berg.

__ADS_1


"Tuan.." Suara Sri sangat lemah, namun cukup terdengar oleh Van Berg.


Van Berg mengendorkan dekapannya, melihat wajah kekasihnya. Nampaklah oleh Sri Utami, lelaki itu menangis dihadapannya untuk pertama kalinya, Sri Utami pun tersenyum, dan tangannya meraih pipi Van Berg yang banjir air mata. Diusapnya air mata pemuda tersebut. Tapi pemuda itu tetap saja masih menangis.


Hiks Hiks Hiks


Sri Utami melihatnya tidak tega, ia pun mengelus pipi Van Berg, sambil mengelengkan kepalanya, meminta Van Berg dengan bahasa tubuhnya untuk berhenti menangis. Ditengah situasi tersebut, tiba-tiba Sri Utami matanya terbelalak melihat seseorang dibelakang Van Berg akan menghantamkan batu besar, Sri Utami sekuat tenaga menarik Van Berg menjauhi hantaman tersebut. Namun seketika itu juga terdengar tembakan.


DOR! BRUK!


Orang tersebut jatuh terkulai ditanah, peluru panas bersarang di punggungnya. Batu dalam gengamannya terjatuh. Suara gemuruh kaki kuda mendekati barak. Dan suara tembakan menghatam jiwa-jiwa pengikut Pangeran Arya.


DOR! DOR! DOR!


Suasana menjadi hening, Sri Utami masih sadar namun masih sangat lemah, sedangkan Van Berg yang mendekapnya sudah tak sadarkan diri tergeletak disamping Sri Utami. Perlahan Sri mengengam tangan pemuda tersebut dengan sangat erat menyalurkan kehangatan, karena tangan pemuda tersebut mulai dingin. Air matanya Sri perlahan menetes melihat pemuda disampingnya pucat pasi.


Hiks Hiks Hiks


Tuan ku mohon bangun jangan tinggalkan aku. Ku mohon yang kuat Tuan... Tuan... Tuan.. bangunlah, batin Sri Utami.


Sri Utami yang menahan tanggis luka hati karena melihat yang terkasih tergeletak tak berdaya, sakitnya hingga ke ulu hati dan menyesakkan hingga akhirnya ia menutup kelopak matanya, tapi telinganya masih mendengar suara orang berbicara mengunakan bahasa Belanda.


" DASAR INLANDERS! B*J*NG*N! Berani sekali mereka menghancurkan tentara kita! Bawa mayat-mayat B*d*b*h ke alun- alun! gantung mereka! jadikan tontonan semua rakyat!" Teriak Komandan Jenderal Belanda hatinya dipenuhi emosi.


" Komandan, Kapten Van Berg kami temukan!" teriak seorang tentara Belanda.


Komandan Jenderal Belanda yang saat itu datang bersama puterinya Madelief langsung menghampiri ke arah tentara yang menemukan Van Berg. Madelief melihat pemandangan Van Berg disamping wanita Indonesia dan saling mengengam tangan, seketika hatinya langsung terbakar cemburu.


" Cepat Bawa Tuan Van Berg!" ujar Madelief.


Tubuh Van Berg pun diangkat, tangannya terlepas dari Sri Utami, ia digotong dimasukan ke dalam kereta. Sedangkan Sri Utami tergeletak tidak ada yang memperdulikannya. Komandan Jenderal kemudian mengamati Sri Utami, kemudian mengelus dagunya.


" Madelief, mungkin kamu butuh teman. Angkat juga wanita ini!" suruh Komandan Jenderal.


Madelief yang menyaksikan ayahnya yang membawa serta wanita lokal itu langsung merasa kesal. Tapi ia tidak bisa menentang ayahnya, ia pasrah.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2