
Pinggit adalah salah satu tradisi masyarakat feodal suku Jawa yang sudah berkembang sejak abad 19, tradisi ini sudah mengakar sejak masa kesultanan Yogjakarta dibawah pimpinan Sultan Hamengkubuwana I. Pinggit ini diterapkan kepada para gadis kaum menak dan priyayi yang hendak menikah. Pinggitan ini berlangsung selama satu sampai dua bulan lamanya. Selama masa pingitan si gadis tidak diperbolehkan keluar rumah, ia diajarkan mengenai urusan rumah tangga, dimulai dari memasak, mencuci, menjahit, berhias, dan menyulam. Serta gadis itu harus meminum jamu " sawanan" setiap hari. Jamu itu untuk mencegahnya dari marabahaya selama masa menuju ke pernikahan.
Raden Sri Utami pagi itu harus mulai menjalani pinggitan. Dia terduduk di kursi depan rumah menikmati air teh dan goreng pisang yang dibuatkan oleh bi Iyem. Jiwanya masih ingin memberontak dengan keputusan ayahnya. Baginya, ayah adalah sosok yang otoriter, dirinya tidak dapat merasakan kasih sayang sang ayah. Ibunya telah lama meninggal sehingga dirinya merasa telah kehilangan tempat mengadukan keluh kesahnya. Bi iyem datang menghampiri Sri Utami sambil bersimpuh duduk di lantai. Sri yang melihatnya langsung membelalakan matanya, penuh ketidaksukaan.
" Bi, Jangan duduk dibawah, kenapa bibi bersimpuh selayaknya aku inI Tuhan? cepatlah duduk disampingku." Pinta Sri Utami.
"Tidak, Nyi Raden. Ini perintah bapak dan tradisi kita juga," tutur bi Iyem sambil masih bersimpuh dan menundukan.
Raden Sri Utami menghela nafasnya, membuang segala penat didadanya, dia merasa muak dengan segala tradisi di negarinya.
" Negeri ini akan tetap dijajah, jika antara sesama manusia saja tidak dihargai. Kita memang di jajah Belanda secara nyata, tapi diri kita juga ternyata dijajah oleh tradisi sendiri," tutur Raden Sri Utami.
" Punten, Nyi Raden hamba tidak bermaksud membantah kehendak Nyi," Ucap bi Iyem.
" Baiklah, aku tahu bi Iyem. Sekarang sepertinya bi Iyem ada kehendak terhadapku? ada apa bi?" tanya Raden Sri Utami.
Bi Iyem dengan malu-malu mengeluarkan secarik kertas dari tangannya kemudian diserahkan kepada Sri Utami. Dia sudah paham maksud dari bi Iyem, segera mengambil kertas itu dan membukanya. Tulisannya mengunakan bahasa Belanda.
" Hem.. Aku akan membantu membacakannya Bi, tapi ada imbalannya, apa bibi bersedia?" tanya Sri dengan sumringah.
Bi Iyem menegadah ke arah Sri. Dengan tatapan yang bingung , kemudian menganggukan kepalanya, menandakan setuju. Raden Sri Utami pun senang sekali, segera ia membacakan isi surat itu.
"Mm.. Pemuda tamatan MULO itu bilang ingin bertemu dengan bibi, dia tergila-gila akan kecantikan bibi dan ingin segera bertemu. Malam minggu nanti dia akan datang menemui bibi ditempat biasa, " ucap Sri membacakan isi surat.
Bi Iyem tersipu malu, wajahnya bersemu merah karena isi surat dari kekasihnya. Raden Sri Utami yang melihatnya langsung mengodanya.
" Wah, bibiku ada yang naksir sampai tergila-gila, pemuda itu memang tidak salah bibi memang sangat cantik", tutur Rade Sri Utami sambil menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
" Ah, bisa saja Nyi Raden, saya tidak secantik Nyi Raden," balas Bi Iyem semakin malu digoda majikannya.
" Tapi bibi mulai sekarang harus mulai belajar bahasa Belanda, agar bibi dapat setara dengannya. Datanglah nanti besok ke perkumpulanku bi, disana ada kursus bahasa Belanda. Bibi bisa datang bersamaku," kata Raden Sri.
" Tidak Nyi Raden, Nyi tidak boleh keluar rumah," rajuk Bi Iyem.
" Kenapa tidak, Bi iyem juga bukankah akan menemaniku ke pasar hari ini? aku ingin membeli sesuatu dan mencari udara segar. Sekalian kita beli kebutuahan untuk pertemuan bibi. Ayoo!" Ajak Raden Sri.
Raden Sri bangkit dari duduknya dan berjalan kedalam rumah bersiap-siap, Bi Iyem tidak bisa mencegah Raden Sri karena itu imbalan dari permintaannya. Keduanya naik delman yang dikendarai si Ujang. Jalanan hari itu sudah cukup ramai, banyak para petani yang sedang menuju ke sawah berpapasan dengan delman yang di kendarai Raden Sri Utami. Setiap Delman itu melewati petani yang menuju sawah, mereka melemparkan senyuman dan sedikit membungkuk saat melihat Raden Sri. Para bujang yang ikut ke sawah tidak luput mereka akan memperhatikan Sri Utami sampai Delmannya tak terlihat lagi.
Pasar pagi itu sangat ramai, para ibu rumah tangga berseliwuran membeli barang-barang kebutuhannya, ada yang sedang asyik menawar harga dengan penjual, ada yang sedang menenangkan anaknya karena menginginkan membeli sesuatu, Adapula yang sudah menenteng banyak belanjaan. Raden Sri Utami berkeliling mendatangi toko kain. Memperhatikan kain kebaya, itu.
" Sabaraha ieu mang?" (Berapa harga yang ini Mang?) tanya Raden Sri sambil memegang kain kebaya berwarna ungu.
" Nyuwun Neng Geulis, seringgit Nyi," ujar penjual kebaya.
Di toko buah-buahan seorang pemuda Belanda sedang memakan buah apel, melihat sosok yang dikenali tidak jauh darinya. Segera dengan langkah dipercepat berjalan menghampiri Raden Sri Utami, yang masih memilih dan menilai bahan kebaya. Pemuda itu menegurnya karena sosok wanita cantik itu tidak merasakan kehadirannya.
Yang disapa langsung kaget dan menolehnya sambil melemparkan senyuman kepada Van Berg.
"Ja, wat doe je hiere?" ( ya, sedang apa kau disini?) Sri bertanya balik.
" op zoek naar eten", ( mencari makan) jawab Van Berg sambil tersenyum kedua tangannya masuk ke saku celana. Mata terus menatap Sri Utami melihat bola mata gadis jelitanya.
"op zoek naar eten?" of ingehuurd worden door kooplieden," ( mencari makan? atau sedang mempalak pedagang), jawab Sri sedikit menekan.
" Ha..Ha...Haa, Ik heb geld, ik tart geen kooplieden, ik kan ook betalen voor de kleding die je gaat kopen," (Ha..ha..ha.. aku punya uang, aku tidak mempalak pedagang, aku juga bisa membayar pakaian yang akan kau beli) jawab Van Berg sambil tertawa mendengar tuduhan si gadis.
__ADS_1
Raden Sri, tidak menjawabnya hanya menyungingkaan senyuman kepada pemuda itu. Kemudian Sri meminta penjual membungkus dua kain kebayanya.
" Mang, pemuda ini akan membayarnya, " kata Raden Sri sambil melirik ke Van Berg dan menerima barangnya.
"Bedankt, meneer, voor uw vriendelijkheid," ( terima kasih tuan atas kebaikannya) sambil menundukan sedikit badannya ala-ala noni noni Belanda.
Raden Sri berjalan meninggalkan pemuda itu, Van Berg yang mendapatkan perilaku itu tidak menyangka dan tersenyum melihat tindakan Sri. Van Berg semakin merasa terpacu ingin memiliki Raden Sri Utami, dia lekas memberikan bayaran kepada penjual kain. Berjalan mengikuti dua wanita yang sedang cekikian.
" Nyi, pemuda itu tampan, kenapa Nyi mengerjainya,?" tanya Bi Iyem.
" Tidak apa bi, kita harus menguji kesombongan orang kolonial itu," jawab Sri penuh kepuasan sambil tersenyum.
Kedua gadis itu lalu naik ke delman, namun tidak disangka Van Berg ikut pula menaiki delman tersebut, dan duduk di sebelah Raden Sri Utami.
Semua mata tertuju pada Van Berg dan melototinya. Van Berg hanya tersenyum kemudian melirik ke arah Raden Sri Utami. Bi Iyem pun buka suara.
" Tuan Belanda, anda tidak boleh duduk disamping Nyi Raden," rajuk Bi Iyem.
" Bi, dia tidak akan paham bahasa kita, biarkan saja, timpal Nyi Raden Sri.
Jauh dilubuk hatinya, Raden Sri merasa sangat senang sekali sehingga terulas sedikit senyuman dan hal itu tertangkap oleh sorot matanya Van Berg, yang membuatnya ikut senang, bahwa dia tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku juga paham perkataan tadi, " ucap Van Berg sedikit kaku masih ada logat Belandanya.
Membuat mata bi Iyem dan Raden Sri melirik ke arahnya. Mereka berdua saling berpandangan. Van Berg memasang wajah tenang dan penuh wibawa seulas senyuman terpancar di wajahnya. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, Van Berg hanya memperhatikan Raden Sri sepanjang jalan, seperti tidak ingin melewatkan pemandangan indah dihadapannya.
" Jangan terus memandangku, nanti ku colok matamu," ucap Sri yang merasa tidak nyaman sambil memperagakan tangannya yang akan mencolok mata Van Berg. Tapi tangan itu diraih oleh Van Berg dan kemudian diciumnya.
__ADS_1
Raden Sri langsung menarik lagi tangannya, melihat delman sudah berada dipekarangan rumah, dan mata galak sudah menanti dihadapannya. Sri turun dari delman bersama bi Iyem yang diikuti pula oleh Van Berg. Ayah Sri sudah bertolak pinggang aura rahwana murka sudah terpampang jelas di wajahnya. Dia berjalan sambil membawa sandal jepit melempar ke arah Van Berg, yang dilemparin sendal langsung kaget, lempar terus dilakukan oleh ayah Raden Sri, membuat Van Berg lari terbirit-birit. Sri menyaksikan itu cekikikan bersama bi Iyem.
BERSAMBUNG....