Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Mencari Hardi Wiranatakusumah


__ADS_3

Sri Utami mengendurkan pelukannya terhadap Soendari yang masih menanggis histeris. Ada rasa tidak tega melihatnya begitu rapuh, Sri Utami tahu betul perasaan Soendari begitu dalam terhadap kakaknya, jika kakaknya pulang dalam keadaan tak bernyawa mungkin Soendari akan berani mengakhiri hidupnya. Sri Utami sangat mengenal sahabatnya yang lemah menghadapi masalah.


"Aku akan membawa kang Hardi pulang, " ujar Sri Utami menatap lekat wajah sendu Soendari mencoba menyakinkannya.


"Benarkah?" Soendari mengangkat wajahnya menatap Sri Utami mencari jawaban dari manik gaddis dihadapannya.


"Iya, kau bisa memegang janjiku! sekarang kuatkan dirimu, kau harus ingat ada anakmu yang membutuhkanmu, " suara Sri Utami melembut.


Soendari menganggukkan kepalanya, sedangkan Sri Utami bangkit dan berjalan keluar dari rumahnya. Sejujurnya ia juga bingung bagaimana cara mengetahui keberadaan Hardi dan kemana dia harus mencarinya. Satu-satunya orang yang dapat membantunya Ryosuke.


"Aku harus menemuinya, aku harus membawa kang Hardi pulang!" guman Sri Utami disepanjang jalan menuju rumah Ryosuke.


*****


Tok


Tok


tok


Wajah wanita oriental dengan pakaian kebaya membukakan pintu. Matanya sedikit membelalak melihat kedatangan Sri Utami. Pikiran wanita itu melayang menilai Sri Utami yang berada dihadapannya.


"Wanita ini sudah jadi simpanan tuan Ryosuke? murahan sekali dia" pikirnya.


"Aku ingin bertemu dengan tuan Ryosuke, " ucap Sri Utami memecahkan pikiran pembantu tersebut.


"Dia sedang tidak ada di rumah! " ujar pembantu tersebut tidak ramah.


"Kapan dia akan kembali? atau dia pergi kemana? " tanya Sri Utami dengan perasaan gelisah.


"Mana aku tahu Sri!" sahut wanita tersebut dengan nada tinggi.


"Kalau begitu aku akan menunggunya, " ujar Sri Utami.


Aku tidak boleh pulang sebelum mendapatkan informasi tentang kang Hardi, ucap Sri Utami dalam hatinya.


Pembantu tersebut menatap Sri Utami dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sinis.


"Terserah kamu Sri! Tapi aku tidak bisa membiarkan kamu menunggu di dalam, takut ada barang yang hilang," ucapnya sambil melengos masuk menutup pintu kembali.


Sri Utami menghela nafasnya, tidak mau mengambil hati ucapan sarkasme pembantunya Ryosuke yang selalu menatapnya tidak senang. Sri Utami duduk dikursi depan menunggu Ryosuke. Hingga mata hari sudah tergelincir ke arah barat, suara deru mobil menghancurkan lamunan Sri Utami. Lelaki yang berbadan tegap dengan memakai seragamnya keluar dari pintu mobil, menatap tidak percaya padanya.


"Sri? Kenapa kamu ada disini?" kalimat pertama yang keluar dari Ryosuke sambil mendekat.

__ADS_1


"Aku menunggumu, ada yang ingin aku bicarakan," balas Sri Utami sambil tersenyum membuat Ryosuke mendesir.


"Baiklah, ayo kita bicara di dalam," ujar Ryosuke merangkul Sri Utami ke dalam rumah.


Ryosuke membawa Sri Utami ke ruang kerjanya. Ryosuke tidak pernah mau berbicara di ruang tamu saat bersama Sri Utami karena merasa tidak bebas.Setelah keduanya duduk disatu kursi. Ryosuke memulai obrolannya.


"Jadi kenapa Sri?" tanya Ryosuke dengan menatap lekat wajah Sri Utami.


Sri Utami membalas tatapan Ryosuke mencari kalimat yang tepat untuk memulai berbicara dengannya.


"Aku mendengar anggota PETA ditangkap," ujar Sri Utami perlahan memberikan pembukaan pancingan, wajahnya mencari respon ekspresi Ryosuke.


"Lalu, apa hubungannya denganmu?" Ryosuke wajahnya berubah serius.


"Saudaraku juga anggota PETA, aku ingin tahu kondisinya dan keberadaannya, orang tuaku sangat mengkhawatirkannya, " kalimat tersebut meluncur dari mulut Sri Utami tanpa rem.


"Oh!" hanya jawaban singkat itu yang keluar dari Ryosuke. Sri Utami cukup kaget dengan respon Ryosuke.


"Mungkin tuan bisa memberitahuku?" ujar Sri Utami memberanikan diri.


"Sri, anggota PETA sangat banyak! aku hanya menerima laporan saja dari bawahanku," jawab Ryosuke sambil menyandarkan badannya ke punggung sofa.


Wajah Sri Utami langsung tertunduk, tangannya meremas ujung kebayanya. Ryosuke merasa iba melihatnya.


"Aku ingin bertemu dengannya!" ujar Sri Utami raut wajahnya berubah merasa ada harapan.


"Ini sudah sore Sri, besok saja kita pergi ke Subang," ujar Ryosuke menepuk bahu Sri Utami sambil tersenyum.


"Subang?" ujar Sri Utami sambil melongo.


"Iya, tapi aku tidak bisa menjamin saudaramu ada disana," ucap Ryosuke.


"Iya, " ujarnya pelan hatinya kembali tidak tenang memikirkan Hardi kakaknya.


"Sri! Aku ingin berfoto denganmu," ucap Ryosuke sambil tersenyum mencoba menghibur Sri Utami.


"Iya?" Sri Utami sedikit terkejut dengan permintaan Ryosuke.


Tanpa menunggu jawaban dari Sri Utami, Ryosuke mempersilahkan juru kamera masuk ke ruang kerjanya dan memotret keduanya. Ryosuke nampak merangkul bahu Sri Utami.


****


Para lelaki berwajah lokal itu terus fokus bekerja dibawah terik matahari untuk membangun benteng. Keringat mereka bercucuran deras, wajah kelelahan tergambar jelas saat Sri Utami menangkap mata setiap lelaki yang sedang bekerja. Hatinya terasa sakit melihat mereka dipaksa bekerja.

__ADS_1


"Apakah kau menemukan wajah saudaramu Sri?" tanya Ryosuke membuat Sri Utami beralih memandang Ryosuke sambil mengelengkan kepala.


Ryosuke menghembuskan nafasnya, wajah Sri Utami juga nampak suram dan kecewa. Ryosuke tidak tahan melihat Sri Utami yang sedih.


"Siapa nama saudaramu, Sri?" ujar Ryosuke.


"Hardi Wiranatakusumah, " ujar Sri Utami sambil sibuk melihat ke sekelilingnya.


"Oke, tunggu sebentar disini!" ujar Ryosuke sambil pergi mendekat ke sekumpulan tentara Jepang.


Sri Utami hanya melihatnya dari kejauhan, Ryosuke nampak berbicara serius mengunakan bahasa Jepang dengan seseorang. Tidak lama Ryosuke kembali dengan wajah sedikit ditekuk.


"Maaf Sri, Hardi tidak ada disini!" ujar Ryosuke membuat air mata Sri Utami meluncur deras.


"Dimana? " lirihnya.


"Tidak ada yang tahu Sri!" ujar Ryosuke sambil menarik Sri Utami kedalam dekapannya.


Sepanjang perjalanan pulang, Sri Utami hanya terdiam saja, Ryosuke tidak berniat menganggunya dengan mengobrol karena dia ingin memberikan waktu Sri Utami untuk sendiri.


Mobil Ryosuke terparkir depan halaman rumah Sri Utami. Ryosuke keluar dan membukakan pintu untuknya. Sri Utami dengan lemah keluar dari mobil sambil melemparkan seulas senyuman dan mengucapkan terima kasih padanya sambil berjalan masuk.


"Sri!" seru Ryosuke menghentikan langkah Sri Utami dan membalikan badan.


"Aku akan berangkat besok!" lanjut Ryosuke membuat Sri Utami membulatkan matanya.


"Pergi ikut operasi kamikaze?" ujar Sri Utami menyakinkan.


"Iya, dan ini foto yang kemarin," ucap Ryosuke sambil merongoh sakunya mengeluarkan satu buah foto.


Sri Utami pun melangkah mendekat ke arah Ryosuke dan menerima sodoran fotonya yang diberikan Ryosuke.


"Apa ini benar-benar pertemuan terakhir kita?" ucap Sri Utami masih memandangi foto hitam putih ditangannya.


"Iya bisa jadi, tapi kalau kau besok datang ke rumahku maka besok adalah terakhir kita ketemu," ujar Ryosuke sambil tersenyum.


"Tuan, anda masih bisa tersenyum, padahal kau akan menjemput kematian!" ucap Sri Utami berdelik sebal.


"Hey, memangnya aku salah memberikan senyuman, ini bisa jadi senyuman terakhir yang kau lihat Sri," ujar Ryosuke sambil nyengir kuda.


"Apa sekarang aku sedang mendengarkan kata-kata terakhir orang yang akan meninggal?" ujar Sri Utami sambil tersenyum.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2