
24 Maret 1946 tepat pukul 21.00 para pemimpin tentara dan Laskar sepakat membumihanguskan kota Bandung.
BOOM!
Asap mengepul di Bank Rakyat. Tentara dan laskar yang meledakkan gedung langsung berlari menuju Banceuy. Granat hasil curian di lemparkan kembali ke gedung tersebut.
Boom!
Boom!
Boom!
Suara ledakan dari beberapa gedung terdengar bersahutan dan mencekap. Dari Cicadas, Braga dan Tegallega, si jago merah melahap dan memancarkan warna kemerahan di langit kota Bandung malam itu.
Sekitar 200 penduduk kota Bandung mengungsi, tidak terkecuali Nyai Dasimah dan Soendari. Mereka dinaikkan truk tentara. Nyai Dasimah pikirannya tidak tenang karena tidak melihat Sri Utami berada dalam rombongan pengungsi.
Rahman bertugas membantu penduduk naik ke dalam truk. Nyai Dasimah berlari menghampiri Rahman.
"Nak Rahman," panggil Nyai Dasimah.
"Iya bu," jawab Rahman turun dari truk dan menghampiri Nyai Dasimah.
"Sri, nak Rahman," ucap Nyai Dasimah.
"Kenapa Sri, bu? " Rahman nampak gusar mendengar calon isterinya.
"Sri, masih di rumah, tadi dia mengatakan akan menyusul tapi sampai sekarang dia tidak ada disini," ujar Nyai Dasimah sambil menitikan air mata.
Rahman terkesiap mendengar perkataan Nyai Dasimah. Sejenak dirinya mematung.
"Ibu tenang saja, saya akan menjemputnya, mungkin Sri terjebak dijalan," seru Rahman dengan sopan menenangkan Nyai Dasimah.
"Terima kasih, nak Rahman. Maaf ibu merepotkanmu," ujar Nyai Dasimah dengan berkaca-kaca.
"Ibu tidak perlu minta maaf, itu sudah tanggungjawabku menjaga calon isteriku, bu." Ujar Rahman sambil melemparkan senyuman pada Nyai Dasimah yang disambut anggukan.
"Ya sudah bu, saya berangkat dulu menjemput Sri," ujar Rahman berpamitan.
*****
Kini Sri Utami sedang berada dikamarnya, hatinya gelisah dengan suasana mencekam. Sedangkan Van Berg dengan bawahannya tengah berdiskusi diruang tengah.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Sri Utami sambil mondar mandir didepan kasurnya.
__ADS_1
Matanya jatuh ke arah koper, Sri Utami langsung memasukan barang-barangnya yang belum selesai di rapikan ke dalam koper. Sebuah photo jatuh, Sri Utami mengambilnya menatap foto dirinya bersama Ryosuke Yamada.
"Ryosuke sekarang aku sedang dalam keadaan hidup dan mati, entahlah sepertinya aku akan menyusulmu," ujar Sri Utami berbicara dengan foto tersebut.
Ceklek
Suara pintu dibuka, membuat Sri Utami terkejut melihat Van Berg berjalan kearahnya. Sri Utami gelisah ia menyembunyikan foto tersebut dengan menarik tangannya ke belakang.
Van Berg masih terlihat tampan dengan wajah putih bersih, tubuhnya semakin terlihat kekar karena rajin bekerja romusa selama pendudukan Jepang. Van Berg berjalan mendekati Sri Utami yang sudah menunduk. Van Berg mengangkat dagu Sri Utami dengan satu tangannya.
Sri Utami terpaksa melihat wajah Van Berg yang menatapnya intens. Matanya memancarkan amarah, membuatnya merasa takut.
"Kamu sekarang gundikku!" ujar Van Berg dengan dingin membuat hati Sri Utami merasa tertusuk belati.
"Aku tidak suka menjadi gundik, bukankah kau tahu itu!" ujar Sri Utami memberanikan diri membalas perkataan Van Berg yang sudah mengangkat satu alisnya.
Van Berg tersenyum samar, memberikan tatapan menindas. Tanpa aba-aba Van Berg mencium bibir Sri Utami dengan brutal. Kedua tangannya memeluk pingggang Sri Utami. Van Berg meraih tangan Sri Utami agar memeluknya, namun mendapati tangan Sri Utami memegang sesuatu, langsung ditarik kertas tersebut.
Van Berg menghentikan aksinya dan menatap foto, Sri Utami jantungnya sudah terpacu tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Van Berg terlihat semakin naik pitam.
"Komandan Ryosuke? Sedekat ini hubunganmu dengannya?" ujar Van Berg dengan menatap dingin ke arah Sri Utami.
Sri Utami hanya bisa menelan salivannya secara kasar.
"Aku tidak seperti itu Van Berg," sanggah Sri Utami.
"Tidak seperti itu? kau pikir aku percaya Sri!" bentak Van Berg membuat Sri Utami bungkam.
"Aku tahu Sri, kamu bermain dengannya, aku tahu kamu bermesraan dilapangan saling mencumbu, aku tahu kamu sering datang kerumahnya dan pulang pagi! Semurahan itukah sekarang kamu Sri! aku pikir kamu wanita berbeda!" lanjut Van Berg dengan nada tinggi.
"Kamu benar-benar bit*h! bit*h! bit*h! " terlihat wajah Van Berg muram dan terduduk disamping ranjang.
Wajahnya ditekuk ke bawah, raut kesedihan yang mendalam terpancar. Sementara Sri Utami sudah meremas ujung kebayanya menahan setiap kata Van Berg.
"Kau benar-benar melupakanku Sri, kau tidak membalas suratku, kau tidak mencariku, kau tidak tahu betapa aku tersiksa setiap hari karena merindukanmu," ucap Van Berg sambil terduduk menyembunyikan air matanya yang sudah menetes.
Sri Utami beringsut mendekati Van Berg, tangannya menepuk pelan punggung lelaki yang terlihat rapuh.
"Jangan memandangku seburuk itu Van, " ujar Sri Utami membuat Van Berg tercekat mengangkat wajahnya menatap Sri Utami.
Sri Utami menampilkan wajah lembut, Van Berg masih mengangumi wanita dihadapannya.
"Van Berg, sebenarnya aku sudah dipinang orang lain, seharusnya kau tidak menikahiku, " lanjut Sri Utami melembut agar tidak memicu amarah Van Berg.
__ADS_1
"Kau mengingkari lagi perjanjian kita!" tegas Van Berg.
"Aku tidak tahu kau masih hidup, aku minta maaf untuk semuanya, kau bisa menceraikanku jika kamu tidak bisa menerima keadaanku saat ini," ujar Sri Utami menunduk.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja? aku akan membalas semua sikapmu Sri!" ujar Van Berg tajam membuat Sri Utami terdiam.
Van Berg mendorong tubuh Sri Utami hingga terlentang di lantai ubin. Van Berg dengan amarah bercampur nafsu merobek kebaya Sri Utami dengan kasar hingga terlepas seluruh kancingnya berhamburan dilantai. Sri Utami menahan tangan kekar Van Berg agar tidak melanjutkan aksinya sambil terisak.
"Jangan seperti ini Van Berg, " lirih Sri Utami sambil terisak mengelengkan kepalanya.
"Lalu aku harus seperti apa? Hah! Kau sudah biasa melayani, kenapa ingin diperlakukan baik!" bentak Van Berg depan Sri Utami.
Van Berg meraih tangan Sri Utami yang menahan tangannya. Tangan itu dicengkramnya, kini tangannya merobek kain songket yang melilit pinggangnya.
"Hentikan Van Berg!" setengah berteriak sambil menanggis.
Van Berg hampir menelanjangi Sri Utami, pakaian yang menutupi tubuhnya sudah dicabik-cabik oleh Van Berg. Sri Utami terus memukul dada bidang lelaki yang berada dipuncak amarah tersebut.
"Jangan berlagak suci Sri, kamu sudah ku nikahi!" bisik Van Berg disamping telinga Sri Utami.
"Daerah mana saja yang sudah di sentuh Ryosuke?"ejek Van Berg menatap Sri Utami yang terisak.
"Cukup Van Berg! kamu bukan orang yang kukenal lagi!" tangis Sri Utami
Tok
Tok
Tok
"Van Berg, we moeten bespreken, er is nieuw nieuws (Kita harus berdiskusi, ada berita baru)" suara Vander Plass dibalik pintu.
Van Berg dengan kesal menghentikan aktivitasnya, ia berjalan membuka pintu kamar, keluar dan menutup pintu dengan keras. Sementara Sri Utami terdiam menatap pakaiannya yang berserakan.
_
_
_
_
BERSAMBUNG...
__ADS_1