Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Bertemu kembali komandan gila


__ADS_3

Suara langkah kaki perlahan Sri Utami dengan pemilik Ianjo menembus udara pagi. Sri Utami dibebaskan dari rumah Ianjo oleh pemilik rumah tersebut.


"Sri, sekarang kau pulanglah! jangan kembali kesini lagi!" ujar pemilik Ianjo.


"Terima kasih bi, aku berhutang budi sama bibi," ujar Sri Utami yang sudah berkaca-kaca.


"Sudah tak usah kau pikirkan, aku ikhlas membantumu, cepatlah! sebelum para kempetai menyeretmu lagi!" ujar pemilik Ianjo.


Sri Utami menganggukkan kepalanya, ia memeluk pemilik rumah Ianjo lalu berjalan menghilang di jalanan yang dipenuhi pepohonan.


*****


Sri Utami pergi ke rumahnya Soendari dan kang Hardi. Melewati pematangan sawah dipagi hari, sejenak langkah kakinya terhenti. Hidungnya menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Andai saja dunia selalu sedamai ini, batin Sri utami.


Sri Utami melanjutkan langkah kakinya menuju satu rumah yang berada di dekat jalan raya. Sri Utami mengetuk pintu rumah tersebut, seorang lelaki membukakan pintu.


"Sri! " ujarnya dengan suara berat matanya membulat karena terkejut.


"Iya Kang," jawab Sri Utami pelan.


Sri Utami pun disuruh masuk ke dalam rumah dengan cepat. Soendari yang mengetahui kedatangan Sri Utami langsung menyambutnya. Sri Utami menceritakan semua kejadian yang baru dialaminya.


"Sri, hari ini aku mau pergi latihan militer anggota Fujinkai, kau bisa disini dulu," ucap Soendari.


"Aku ikut Soen!" ujar Sri Utami.


"Mmm.. Baiklah," ujar Soendari.


****


Sri Utami memutuskan menjadi anggota Fujinkai hari itu juga, ia ikut berlatih perang. Fujinkai adalah satu-satunya organisasi wanita semi militer bentukan Jepang tahun 1943. Ditengah asyiknya berlatih pedang, seorang komandan ikut hadir memantau kegiatan tersebut.


Komandan itu terkejut saat melihat Sri Utami berada disana. Kedua mata mereka akhirnya beradu. Ada segurat senyuman di wajah Sri Utami mengingat kejadian semalam, sedangkan komandan tersebut merasa gelagapan disertai malu.


**FLASHBACK


*Sri Utami digendong oleh Ryosuke lalu dilemparkan diatas kasur. Sri Utami ketakutannya memburu, ketika Ryosuke mulai menanggalkan semua pakaiannya, disertai matanya merah karena alkohol menguasainya. Senyuman terus terukir menatap Sri Utami penuh nafsu birahi. Kesabarannya sudah tidak bisa di tahan ia melompat ke atas kasur berniat menindih Sri Utami. Namun, Sri Utami berguling kesamping lebih dulu, dan Ryosuke kurang perkiraan dalam melompat dia tersandung pinggiran ranjang.


"Awasss tuan! " teriak Sri Utami.


Bugh


Arrrrrrgh


Ryosuke kepalanya terbentur pangkalan ranjang, dia seketika merasa pening akhirnya tertidur karena merasakan sakit dikepalanya*.

__ADS_1


*FLASHBACK OFF**


Komandan langsung berlalu meninggalkan tempat latihan tersebut. Soendari melihat tatapan Sri Utami yang memandang komandan tersebut.


"Sri! hati-hati dia bukan lelaki bener!" Soendari memperingatkan Sri Utami.


"Tenang saja, aku tahu!" ujar Sri Utami menoleh pada Soendari sambil melemparkan senyuman.


"Latihan hari ini cukup!" ujar lelaki yang melatih perang Fujinkai.


Semua wanita membubarkan diri, sedangkan Soendari, Sri Utami serta beberapa wanita yang baru dikenalnya oleh Sri Utami duduk di bangku panjang dibawah pohon. Mereka istirahat sambil bercanda hingga tertawa cekikikan. Tidak lama wajah-wajah wanita itu tegang dan langsung meninggalkan Sri Utami sendiri.


"Soen, Ra tunggu! aku ikut! " Sri Utami berniat menyusul teman-temannya, namun tangannya ditahan oleh seseorang.


Sri Utami matanya terbelalak, Ryosuke sudah berada disampingnya tersenyum. Sri Utami ditarik tangannya dan didudukan dipaha Ryosuke. Tangan kekar itu merangkul pinggang Sri Utami, matanya menatap tajam Sri Utami.


"Hai, manis!" ujar Ryosuke tersenyum mengunakan bahasa Indonesia membuat Sri Utami membelalakan matanya.


"Anda.." suara Sri Utami tercekat kaget Ryosuke bisa berbahasa Indonesia.


"Yeah, aku bisa bahasamu! aku bukan orang bodoh! " ujar Ryosuke sambil tersenyum terus mengamati wajah Sri Utami.


Sri Utami tertunduk, Ryosuke menyukai ekspresi Sei Utami yang mulai melunak. Tanganya mengapai dagu Sri Utami agar terangkat, Sri Utami segera menepis tangan itu.


"Jangan sentuh aku! " bentak Sri Utami.


Sri Utami segera berontak melepaskan tangan Ryosuke yang mencengkram erat pinggangnya.


Cup


Ryosuke mendaratkan kecupan di pipi Sri Utami. Seketika Sri Utami terkejut dan langsung memukul dada Ryosuke.


"Lepas! Lepaskan aku Tuan!" ujar Sri Utami berontak.


Ryosuke tidak bergeming ia tertawa terbahak-bahak dengan sikap Sri Utami. Ryosuke semakin tertantang ia mendekap Sri Utami dalam pelukannya sehingga menghentikan tangan Sri Utami yang memukul dadanya.


Badan Sri Utami yang mengeluarkan aroma lavender tercium oleh Ryosuke. Tangannya bergerak mengelus punggung Sri Utami dengan lembut yang tertutup baju kebayanya. Matanya tergerak melihat leher putih jenjang Sri Utami yang mulus. Ryosuke dengan sigap meletakan bibirnya dileher tersebut menyesap aroma tubuh Sri Utami.


"Tuan! tolong jangan!" teriak Sri Utami yang sudah hampir menanggis.


"Lalu mana yang boleh," bisik Ryosuke ditelinga Sri Utami.


Sri Utami menggeleng keras, membuat Ryosuke semakin tertawa terbahak-bahak. Dekapannya semakin erat pada Sri Utami. Ryosuke kembali menyesap leher jenjang Sri Utami sehingga meninggalkan tanda disana. Sri Utami menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Shirei-kan! Modoranaito! (Komandan! kita harus kembali)," seorang prajurit melapor tanpa merasa risih melihat adegan atasannya dihadapannya.


Ryosuke menghentikan bibirnya yang mencumbui leher Sri Utami, serta meregangkan dekapannya, membiarkan Sri Utami berdiri menjauh serta menginjak kaki Ryosuke.

__ADS_1


"Aw!" teriak Ryosuke merasakan kakinya diinjak keras oleh Sri Utami.


Ryosuke tertawa melihat tingkah dan wajah Sri Utami yang sedang kesal berlalu meninggalkannya.


"Kita akan melanjutkannya nanti!" teriak Ryosuke mengoda Sri Utami.


"Tidak akan pernah! " teriak Sri Utami berlari meninggalkan tempat tersebut.


*****


Disebuah tempat kamp, semua lelaki berjalan dengan peluh memenuhi tubuh mereka. Hal itu, menandakan mereka baru menyelesaikan pekerjaan berat.


"Semua wanita cantik dari kalangan kita di ambil oleh tentara Jepang!"ujar Vander Plass.


"Hmm, " jawab Van Berg.


"Madelief juga berada dirumah bordir!" ujar Vander plass.


"Dia hanya mantan isteri!" ujar Van Berg tidak terlalu tertarik membahas topik pembicaraan Vander Plass.


"Oke, tadi aku mendengar tentara jepang berbicara tentang Sri, " ujar Vander Plass memancing Van Berg.


"Kenapa dengannya? " ujar Van Berg mulai khawatir diwajahnya memburu.


"Dia dibawa ke rumah bordir untuk melayani komandan Ryosuke, " ujar Vander Plass melihat raut wajah Van Berg yang menegang.


"Sepertinya mereka menjalin kasih juga, " lanjut Vander Plass.


"Sri bukan wanita murahan, " ujar Van Berg.


"Hey, dia bisa berubah karena kondisi saat ini! lagi pula dia tidak tahu kau masih hidup!" ujar Vander Plass.


"Aku mengenal sifatnya!" ujar Van Berg menenangkan dirinya.


"Kau yakin? " ujar Vander Plass sambil tertawa.


"Iya, " ucap Van Berg pelan.


"Dia tidak akan menunggu kamu selamanya," ujar Vander Plass.


"Sudahlah! Sekarang pikirkan bagaimana cara agar bisa keluar dari sini! " ujar Van Berg.


"Sri bercumbu dilapangan dengan komandan Ryosuke! " ucap Vander Plass.


Deg..


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2