Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Lari dari pernikahan


__ADS_3

Ritual pernikahan yang dilakukan dari siang hingga malam cukup melelahkan Sri Utami, ia langsung terbaring pulas di ranjangnya. Saat menjelang subuh, ia sudah dibangunkan untuk dirias. Sri sudah mengunakan kebaya putih dengan bawahan kain motif batik melilit dari pinggang hingga mata kakinya. Mahkota atau sering disebut Siger bertahta dikepala Sri Utami, bunga melati mengiasi rambutnya, riasannya tidak menor, wajahnya Raden Sri sudah bak seorang Ratu kahyangan, dia duduk di kamar pengantin. Matanya tidak memancarkan cahaya kebahagiaan, malah terlihat semakin murung. Semua penata rias keluar dari kamar Sri Utami, dia ditinggal seorang diri didalam sana.


Suasana di pekarangan cukup ramai, orang tua Sri Utami datang menyambut mempelai pria. Nyai Dasimah mewakili sebagai ibu sambung Sri Utami mengalungkan bunga melati ke calon mempelai pria. Tidak berapa lama kemudian suara seorang lelaki teriak.


"Maliiiing! maliiiiing! kudanya dipaling!"


Suasana semakin rusuh ketika Bi Iyem menghampiri Nyai Dasimah.


" Nyai, ampun Nyai. Doro puteri tidak ada dikamarnya." Ucap bi Iyem dengan gemetar.


Mendengar calon isterinya tidak ada dikamarnya, Pangeran Arya terkejut, begitu pun dengan Raden Sugeng yang sudah naik pitam.


" Pasti ini ulah si Belanda S*al*n." Murka Raden Sugeng sambil mengepalkan tangannya.


" Siapkan kudaku, pasti dia belum jauh!" titah Pangeran Arya kepada bawahannya.


***


Raden Sri Utami kini sedang menunggang kuda, dia tidak lihai menunggang kuda tapi karena keadaan terpaksa dia memberanikan diri berusaha mengendalikan kuda, kuda tersebut merupakan kuda milik rombongan pengantin pria.


Tangannya memerah karena memengan tali dengan erat. Berusaha sejauh mungkin menghindari orang-orang yang membuntutinya, Raden Sri berjalan menungangi kuda tanpa arah dan tujuan, ia menerobos hutan belantara untuk pertama kalinya. Hutan itu dipenuhi oleh pohon bambu yang lebat dan juga tinggi-tinggi, sehingga membuat tempat itu terasa gelap. Ia menghentikan kudanya sejenak menghirup nafas dan mengatur pernafasannya dan jantungnya yang masih berdebar. Sekarang dia tidak akan bisa pulang lagi ke rumah, karena dia sudah memutuskan untuk lari.


Sri Utami mendengar suara dari semak-semak, suara orang yang sedang meringgis. Ia melihat dibalik rumpun bambu yang dipenuhi semak belukar itu ada kaki putih yang mengacung ke atas. Karena penasaran Sri Utami turun dari kuda dan mengikatnya di pohon bambu. Berjalan perlahan mendekati semak-semak tersebut. Suaranya seorang wanita semakin jelas terdengar mendesah.

__ADS_1


"Sudah pak! " pinta si perempuan


" Sebentar lagi, tenang saja tidak ada siapa-siapa," kata lelaki yang sedang menindihnya.


Suara desahan wanitanya semakin keras, karena si lelakinya memompanya semakin kencang dan beringas. Sri Utami yang semakin penasaran segera menyibak semak-semak tersebut. Matanya membelalak melihat sepasang wanita dan lelaki tengah bersetubuh. Wanitanya yang sedang terlihat menikmati momen itu kaget melihat Sri Utami yang tengah berada disana dengan wajah memerah.


"pak sudah pak, ada orang pak!."


" Dasar B*ad*b! lelaki keji! Dasar perempuan murahan!" teriak Sri Utami sambil melempari apapun yang didekatnya seperti kayu dan batu ke arah dua insan yang sedang memadu cinta. Kedua orang yang sedang bercinta itu kaget bukan main melihat ada orang yang menyaksikannya mereka segera mengakhiri aksinya dan memakai baju dengan tergesa-gesa. Sri Utami tidak beranjak terus menyaksikan dua orang itu yang kepanikan.


Samar-samar terdengar suara orang yang menunggang kuda, Sri Utami jadi panik.


"Kalian jangan bilang pernah melihatku! aku pun akan menutup mata dan mulutku dengan apa yang aku lihat barusan."ucap Sri Utami.


Sri Utami tidak menyahutinya, ia langsung membalikan badannya, kembali menunggangi kudanya. Ia merasa jijik dengan pemandangan yang baru dilihatnya. Ia juga merasa jijik kepada pemuda yang menyetubuhi wanita tersebut. Pikirannya langsung membayangkan bi Iyem, apa mungkin lelaki itu juga melakukan hal yang sama kepada bi Iyem, menurut batinnya.


Perjalanan yang dilakukan Sri Utami benar-benar kacau, kali ini dia masuk lebih dalam ke jantung Hutan. Pikirannya sudah cukup kalut, kudanya dipacu dengan cepat, namun terhenti ketika dia melihat ada segerombolan lelaki berbaju hitam sedang menjarah barang sebuah kereta yang sudah terongok, pemiliknya sudah tertebas kepalanya oleh samurei. Ia melihat dibalik rumpun bambu nampak kepala seorang Belanda digengam oleh ketua kelompok berbaju hitam. Sri Utami semakin menciut melihat kejadian yang baru saja dilihatnya. Keberadaan Sri Utami tidak disadari kelompok tersebut mereka sedang merayakan kegembiraannya. Dia segera beringsut pelan-pelan meninggalkan tempat tersebut mengambil jalan lain. Air matanya menetes deras, selama ini dia tidak pernah tahu kehidupan begitu kejam.


Sampailah Sri Utami di sebuah pinggiran kampung. Ia berhenti di sebuah sungai diberikan minuman dan makanan kepada kudanya itu. Sri Utami menghirup udara, pikirannya bercabang dia bingung akan pergi menemui van Berg atau tidak. Dia tahu betul Pangeran Arya bukan orang yang mudah memaafkan. Pasti akan terjadi huru-hara akibat ulahnya jika menemui Van Berg.


***


" Van Berg heeft een vrouw naar je op zoek, mooie vrouw! (Van Berg ada wanita yang mencarimu, wanita cantik!) " ujar Vander plass sambil menepuk pundaknya dan tersenyum.

__ADS_1


Van Berg yang sedang rapat dengan bawahannya segera mengakhiri rapatnya, bergegas menemui wanita tersebut. Seorang wanita berbaju putih sepanjang lutut, rambutnya tergerai dan mengenakan topi khas noni Belanda. Wanita tersebut membalikan badannya.


" Blijkbaar ben je echt knap en onstuimig zoals vaders woorden! (Rupanya kau benar-benar tampan dan gagah seperti ucapan ayah!)" ucap Madelief.


" Wat voor zaken heb je gisteren, gisteren?(Ada urusan apa nona datang kemarin?)" tanya Van Berg.


" Pap zei dat ik je moest ontmoeten, zou je niet zeggen dat ik eerst moest gaan zitten? (Ayah menyuruhku menemuimu, apa kau tidak akan menyuruhku duduk dahulu)." tanya Madelief.


" ok, ok laten we gaan," (oke , baiklah mari) ucap Van Berg seraya mempersilahkan wanita tersebut masuk.


Keduanya pun duduk dikursi saling berhadapan. Madelief membenarkan anak rambutnya yang terlihat sedikit menganggu pandangannya. Kemudian menyunggingkan senyuman kepada Van Berg. Madelief merasa sangat senang dan berbinar-binar, kemudian membuka bungkusan yang dibawanya dan disodorkan kepasa Van Berg.


" wat is dit?" (Apa ini?) tanya Van Berg.


" Open het gewoon, ik weet zeker dat je het lekker vindt, je vader zei dat je het eten echt lekker vindt. (Buka saja, aku yakin kau menyukainya, kata ayah kamu sangat suka makanan itu)."


Terlihat dibungkusan tersebut, makanan khas Belanda yang sering dibuatkan oleh ibunya. Namun sudah lama ia tinggal di Indonesia, lidah Van Berg terbiasa dengan makanan Indonesia.


"probeer het, ik heb het zelf gemaakt" (cobalah, aku sendiri yang membuatnya) ujar Madelief.


Van Berg untuk menghargai Madelief kemudian memakannya, rasanya memang persis dengan buatan ibunya. Setiap suapan yang dimakannya semakin membuatnya rindu pada negaranya. Tapi kemudian bayangan Sri Utami terlintas dipikirannya. Ia hampir melupakannya, Van berg tanpa berkata langsung keluar dari gedung dan mengambil kuda kemudian memacunya dengan kencang menuju rumahnya Sri Utami, karena pasti belum terlambat menjemput kekeasihnya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2