
Jugun Ianfu adalah istilah yang melekat bagi para wanita yang menjadi wanita penghibur. Para wanita ini ditempatkan disebuah ianjo-ianjo yang dibangun dibekas rumah-rumah perwira Belanda. Para wanita yang menjadi jugun ianfu diambil dari tanah gingseng dan negeri tirai bambu, mereka dibawa bersamaan dengan kedatangan Jepang ke tanah air.
Semua menjadi tidak baik ketika para tentara Jepang mulai mengambil gadis-gadis desa pribumi secara paksa untuk menjadi jugun ianfu untuk melayani para perwira rendahan. Sedangkan wanita Belanda akan melayani perwira tinggi Jepang.
Ini adalah sesuatu yang mendebarkan bagi setiap wanita, karena para tentara akan datang dengan tiba-tiba dan meruda paksa gadis-gadis dari rumahnya.
*****
Seorang perwira muda berahang tegas, memiliki manik coklat yang indah, berhidung mancung, dengan bentuk bibir kriting, dan kulitnya putih susu, sekilas lebih cocok menjadi artis daripada seorang perwira tentara. Banyak wanita yang terpikat karena wajahnya yang tampan, yang tanpa mereka sadari dia adalah sosok perwira terkejam yang menjajakan setiap wanita untuk bawahannya. Perwira muda Jepang bernama Ryosuke Yamada yang duduk diruang kerjanya membolak balikan koran mencari info terbaru. Seorang bawahannya masuk ke ruangan tersebut.
"Konnichiwa Shirekan! (Selamat siang Komandan)! " seru seorang prajurit kempetai sambil hormat.
"Donna joho ga e raremasu ka ?(Informasi apa yang kau dapat)," ujar komandannya sambil tidak mengalihkan pandangan dari koran yang dibacanya.
"70-Ri no shojo no onnanoko ga konya no junbi ga dekite imasu (70 gadis perawan sudah siap untuk malam ini)!", lapor kempetai tersebut.
"Otsukaresama desu! (terima kasih atas usaha dan kerja keras anda)" ujar Komandan muda tersebut sambil tersenyum samar.
"Repoto wa kanzenna shiki kandesu, (laporan selesai komandan) " ujar kempetai tersebut sambil memberi hormat keluar dari ruangan.
Malam tiba disebuah Ianjo, ini bukan kunjungan pertama perwira muda tersebut ke rumah bordil. Dia didampingi prajuritnya suatu memasuki ruangan. Nampak para gadis pribumi usia belasan tahun sudah berbaris. Perwira tersebut berdecak kagum menatap barisan gadis perawan tersebut. Para gadis disana semuanya terpana jatuh cinta melihat ketampanan sang perwira.
"Misu. Konya wa ganbatte, (nona-nona selamat bekerja keras untuk malam ini)" ujar Komandan Ryosuke sambil tersenyum manis.
"Apa yang akan kami lakukan disini?" ujar seorang gadis menatap komandan Ryosuke.
Seorang penerjemah berbisik pada komandan Ryosuke, yang detik kemudian senyuman samar terpancar diwajahnya.
"Kuni ni hoshi suru, (mengabdi kepada negara) ", ujar Komandan Ryosuke dengan tenang sambil menyerigai.
"Sugu ni karera o hatarakasemasu!!, (cepat bawa mereka untuk bekerja)!" teriak komandan Ryosuke.
__ADS_1
Para kempetai pun segera menyeret gadis-gadis muda tersebut di setiap kamar. Para penikmat nafsu sudah berbaris dengan membeli karcis berupa kartu domino berwarna coklat.
"Mottomo utsukushī shiki-kan wa, shiki-kan no tame no tokubetsuna heya ni hokan sa rete imasu, (Komandan, yang tercantik sudah disimpan di kamar khusus untuk komandan)" ujar seorang kempetai pada komandan Ryosuke.
"Arigato!" ujar Komandan Ryosuke sambil berjalan cepat dengan senyuman menyerigai menuju ruangan yang ditunjukan.
Jeritan para gadis dan desahan para pemangsa birahi itu mengelegar di keheningan malam itu. Gadis-gadis itu harus melepaskan masa mudanya ditempat terhina.
*****
Sri Utami saat itu sedang disibukkan dengan pesanan pakaian dari para tetangganya yang sibuk menikahkan puteri mereka agar tidak diseret oleh tentara Jepang.
"Sri, ibu rasa kamu pun harus menikah! " ujar Nyai Dasimah gelisah sambil membantu Sri Utami membuang benang.
"Ibu khawatir Sri akan seperti para gadis didesa ini yang dibawa ke rumah Ianjo itu? " ujar Sri Utami sambil fokus memotong kain.
"Jika mereka tahu, ibumu ini punya seorang gadis cantik, kau akan diseret dan di p*rk*sa, gak sanggup Sri membayangkannya! " ujar Nyai Dasimah sambil menanggis.
"Tenang bu, Sri tidak akan seperti mereka, " ujar Sri Utami.
"Sri, jeritan para gadis itu sangat memilukan, mereka dipaksa melayani sampau 20 orang dalam sehari, " ujar Nyai Dasimah sambil menanggis.
"Ibu tau itu darimana? itu berita masih simpang siur! "ujar Sri Utami mencoba menenangkan walau sebenarnya hatinya tidak tenang.
"Sri, gadis tetangga desa itu sebelum meninggal dia menceritakannya sama ibu! " ujar Nyai Dasimah.
"Sudah bu, jangan berpikir yang tidak-tidak. Nanti siang Sri mau mengantarkan jahitan ke desa sebelah sekalian beli bahan, " ujar Sri Utami sambil tersenyum.
*****
Sri Utami tersenyum senang saat mengantarkan pakaian yang dijahitnya kepada tuan rumah disana. Lebih tepatnya pelayan rumah disana, karena rumah tersebut dihuni oleh seorang perwira Jepang. Saat sudah mendapatkan uang bayaran Sri Utami hendak pergi tapi ditahan oleh pelayan tersebut.
__ADS_1
"Maaf Sri, tuan rumah ingin berbicara dengan kamu," ujar pelayan yang sudah akrab dengan Sri Utami.
"Kenapa? apa dia kecewa dengan jahitanku?" tanya Sri Utami.
"Tidak, dia sangat menyukainya, dia ingin memberikan hadiah, mari ikut denganku! " ucap pelayan tersebut sambil memegang tangan Sri Utami ke suatu ruangan.
"Benarkah aku mendapat hadiah? " ujar Sri utami sambil mengikuti pelayan tersebut.
"Sudah sampai, masuklah tuan ada didalam!" ujar pelayan mengabaikan ucapan Sri Utami lalu pergi, membiarkkan Sri Utami mematung depan pintu.
Sri Utami merasa bimbang, akhirnya dia membuka perlahan pintu ruangan. Nampak seorang pemuda berpakaian perwira sedang menatap keluar jendela membelakangi Sri Utami.
"Tuan, saya penjahit baju tuan!" ujar Sri Utami dengan sopan.
Mendengar suara seorang wanita, pemuda tersebut tersenyum, berbalik menghadap Sri Utami, wajahnya sedikit kaget melihat gadis dihadapannya ternyata sangat cantik dan manis.
" a, anata wa wakai onnanokodesu. A, kore wa anata e no okurimonodesu, (oh rupaya kau seorang gadis muda. Ah iya ini hadiah untukmu)" ujar Komandan Ryosuke tersenyum seramah mungkin menyerahkan kotak kecil.
Sri Utami mengulurkan tangannya menerima kotak tersebut namun beberapa saat kemudian Ryosuke manarik tangannya ke dekapannya, membuat jarak mereka sangat dekat sekali, Sri Utami terkesiap dengan tingkah orang tersebut.
"Onamaehanandesuka? (siapa namamu?) " ujar Ryosuke sambil membelai pipi Sri Utami yang tangannya terus berontak.
Sri Utami hanya menatap penuh ketidaksukaan dengan sikap lelaki dihadapannya yang merangkul seenaknya, tanganya terus berontak, dan dia tidak paham yang diucapkan lelaki tersebut. Lelaki tersebut langsung mendorongnya ke dekat meja hendak menidurkan Sri Utami diatas sana, namun Sri Utami berontak dan menginjak kakinya.
"Tuan jaga sikap anda! saya kesini bukan untuk mendapatkan pelecehan seperti ini! " ujar Sri Utami sambil berjalan cepat ke arah pintu dan berlari keluar dari tempat tersebut.
Ryosuke tertawa, kemudian memanggil seorang prajuritnya ke ruangannya dan wajahnya tampak serius memerintah.
"Konya wa sono josei ga hoshi, (aku ingin wanita itu malam ini!)" tegas Ryosuke pada bawahannya.
"Kashikomarimashita! (Siap komandan! )" ujar Prajurit tersebut sambil hormat berlalu untuk melaksanakan perintah atasannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....