Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Dibawa ke barak tentara Kolonialis


__ADS_3

Sri Utami berjalan beriringan dengan Van Berg menyurusi jalanan yang rimbung dengan pepohonan bambu. Sri Utami masih cangung terjadap Van Berg mengingat tindakannya tadi malam. Ia hanya berjalan menunduk, sesekali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, berbeda dengan Van berg yang justru terus menatap Sri Utami.


" Kau cantik," kata itu meluncur dari mulutnya Van berg.


Kalimat yang barusan keluar dari mulut Van Berg cukup membuatnya tersipu malu dan salah tingkah. Van Berg melihatnya merasa gemas dengan perilaku Sri utami.


" Apa kau baru pertama dicium lelaki?" goda Van Berg.


Pertanyaan itu semakin membuat Sri Utami memerah wajahnya menahan malu. Van berg semakin senang melihat ekspresi wajah Sri utami yang sedang menahan malu.


" Aku pernah beberapa kali memiliki kekasih sewaktu sekolah militer. Semuanya gadis eropa, tapi aku cepat bosan dengan mereka. Mereka terlalu mudah ditaklukan. Sehingga aku sewaktu di Amsterdam dikenal sebagai playboy."tutur Van Berg memecah kesunyian.


" Tentu saja tuan cepat bosan, tiap hari selalu menemuinya." ujar Sri Utami sambil menatap wajah Van Berg.


"Benarkah? Tapi bukankah kau senang kalau aku menemuimu," ujar Van Berg sambil melangkah ke hadapan Sri Utami.


Terlihat jelaslah ekspresi Sri membulatkan matanya. Senyuman terlihat jelas di sudut bibirnya yang merah. Van Berg sangat tergoda melihatnya, namun niatnya diurungkan, dia sadar wanita dihadapannya bukan gadis sembarangan.


" Sekarang kita akan kemana?" tanya Sri Utami mengalihkan topik.


" Ke tempatku," ucap Van Berg.


" Apa masih jauh?" tanya Sri Utami.


" Apa kau ingin cepat sampai? kalau aku akan mengendongmu," goda Van Berg.


" Tidak perlu, kita nikmati saja perjalanannya." cegah Sri Utami.

__ADS_1


****


Sebuah gedung yang kokoh, disertai hilir mudik para lelaki berseragam tentara Belanda. Kehadiran Sri Utami kehadapan mereka membuat seisi gedung berhenti sejenak dari aktivitasnya. Karena selama ini tidak pernah ada wanita lokal berkunjung ke barak tersebut. Para lelaki itu terlihat begitu tertarik melihat Sri Utami. Namun segera Van Berg menutupi badan Sri Utami.


"Dia wanitaku, jadi jangan menganggunya dimana pun kalian melihatnya. Jika ada yang melanggar titahku, bersiap dengan hukuman yang sudah menanti." Ucap Van Berg dengan tegas dan penuh wibawa.


Van Berg kemudian mengandeng Sri Utami dan membawanya ke atas menara pengintai. Meski Sri Utami kesulitan naik ke atas menara tersebut karena tangganya berbelit-belit. Ketika sampai diatas menara tersebut dia bisa melihat cahaya malam diataa ketinggian, angin berhembus sangat kencang, membuatnya merekatkan badanya. Van Berg membawanya untuk duduk melihat pemandangan.


" Bagaimana? Kau suka?" tanya Van Berg.


" Baru pertama kalinya aku melihat ini." ujar Sri Utami menunjukan ketakjubannya terhadap keindahan malam dinegerinya.


" Apa mungkin ini terakhir kalinya aku melihatnya tuan?" tanya Sri.


" Kenapa berkata begitu?" Van berg balik tanya dengan penuh keheranan.


" Pernikahanku dengan Pangeran Arya tidak dapat dihentikan, apa yang harus aku lakukan tuan?" tanya Sri Utami.


" Hatiku sangat kacau tuan, didepan rekan organisasi dan rakyat aku mengemborkan antipenjajahan. Tapi saat ini aku malah tertarik padamu. Tuan, aku ini seorang nasionalis. Haruskah aku gadaikan cintaku pada bangsaku, demi hatiku? tanya Sri Utami.


Van Berg tidak menjawab pertanyaan Sri, ia hanya menatap gadis yanh dicintainya itu, kemudian mengengam tangannya dan mengalihkan pandangan ke langit yang bertaburan bintang, nafasnya dihembuskan. Wanita disampingnya ini mengajukan banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab tanpa perenungan. Suasana menjadi hening, hanya ada hembusan angin malam yang menerpa dua insan yang saling mencintai.


" Jika aku lari dari pernikahan? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sri Utami melirik ke Van Berg.


" Aku akan membawamu pergi, sehingga tidak ditemukan lagi oleh calon suamimu." Ucap Van berg Serius.


" Lalu setelah itu, apa yang akan kau lakukan padaku? dimana kita akan sembunyi?" tanya Sri Utami.

__ADS_1


" Di barak ini!" jawab Van Berg singkat.


" Ada banyak lelaki disini, apa kau tidak khawtir?" tanya Sri Utami.


" Hanya ini untuk sementara tempat yang kupunya. Aku akan mengajukan mutasi dinas militer, lalu kita akan pergi bersama." tutur Van Berg


" Benarkah? Apa tuan akan menikahiku?" tanya Sri Utami.


" Mungkin Sri." Jawab Van Berg denhan sendu menatap Sri Utami.


Van Berg mendekatkan dirinya kepada Sri Utami, kemudian mendekapnya, Sri merasakan degup jantung pemuda itu didadanya yang bidang. Ia meraba dada tersebut. Mencari ketenangan akan kegelisahan hatinya yang akan segera menikah dengan Pangeran Arya.


" Jika aku menikah denganmu jangan jadikan aku gundikmu. Dan aku juga tidak suka berbagi hati dengan perempuan lain." Ucap Sri Utami dalam pelukan Van Berg.


" Ha ha ha ha.. Iya Nyonya, hanya kau yang memilikiku." jawab Van Berg senang dengan setiap kalimat jujur Sri Utami sambil mencuit hidung Sri Utami.


"Aku akan benar-benar akan kabur dipernikahan itu tuan." Ucap Sri Utami seraya menutupkan kelopak matanya, ia ingin istirahat sejenak di pelukan kekasihnya.


Van Berg membelai kepala Sri Utami yang sudah terlelap dipelukannya. Kemudian mengubah posisi duduknya jadi terlentang dan kedua tangannya dilipat dibelakang kepalanya. Sri masih tersandar didada bidangnya Van Berg. Keduanya membiarkan malam berlalu bersama dibawah bintang-bintang. Sri Utami kemudian tersentak bangun, dia teringat dirinya harus pulang, tapi bahunya masih dirangkul Van Berg yang tertidur pulas. Ia kemudian menepuk halus pipinya Van Berg, meminta untuk diantarkan pulang. Van Berg masih setengah sadar. Langsung mereka berangkat dengan menunggani kereta. Beberapa kali Van berg menguap, hingga akhirnya terjatuh dipundak Sri Utami. Kereta berjalan cepat saat melewati hutan bambu, membuat Sri Utami sedikit bergindik, merasa takut karena ini pengalaman pertamanya melakukan perjalanan ditengah malam. Ia tidak melihat seorang pun lulang dijalan, semuanya sepi hanya cahaya lampu dirumah-rumah penduduk yang terlihat. Untuk menenangkan hatinya ia melirik Van Berg yang pulan tidur dipangkuannya. Senyuman terulas dibibirnya, dibelainya kepala tentara yang sedang tidur itu dengan lembut. Ia kemudian mengarahkan si kusir menuju alamat rumahnya. Cahaya lampu jelas terlihat di rumahnya, kereta pun berhenti. Sri Utami berbisik ditelinga Van Berg.


" Tuan, aku sudah sampai didepan rumah," bisik Sri Utami.


Mendengar bisikan itu, seketika mata Van Berg terbuka dan mengosoknya, dirinya benar-benar mengantuk. Ia bangkit dari pangkuan Sri Utami, dilihatnya wanita itu tersenyum. Sri kemudian turun dari kereta.


" Terimakasih tuan". sambil menyungingkan senyuman.


Van Berg melihat itu, langsung menganggukan kepalanya.

__ADS_1


" Besok aku akan menemuimu lagi, setelah latihan." ucap Van Berg.


Sri Utami mengiyakanya dengan bahasa tubuhnya dan melambaikan tangannya. Si kusir kemudian memecut lagi kudanya, sehingga kereta berjalan cepat meninggalkan pekarangan rumah Raden Sri Utami.


__ADS_2