
BOOOOM!
Bom itu jatuh dari ketinggian beribu-ribu kaki menghantam negeri kincir Angin. Hari itu 10 Mei 1940, Nederland, Belgia, dan Luxemburg menjadi santapan bom-bom yang dijatuhkan oleh tentara Nazi. Nederland yang luasnya hanya seperti Sumatera Barat hancur luluh lantah dibombardir oleh Angkatan Udara Jerman.
Kota-kota megah seperti Den Haag, Rotterdam, Breda, Leiden, dan Amsterdam semua hancur terkena bom yang beratnya berton-ton yang sengaja dijatuhkan tentara Nazi. Keindahan Nederland yang dibangun berabad-abad lenyap dalam hitungan detik, tak ada lagi jembatan-jembatan raksasa, kapal-kapal dagang, gedung-gedung mewah dan pelabuhan Rotterdam yang indah. Melihat negerinya diluluh lantahkan pasukan Nazi, Ratu Wilhelmina orang nomor satu di Nederland mengungsi ke London.
Kegelisahan mulai melanda jiwa orang-orang kolonial, negerinya sudah berada dalam gengaman Jerman. Tekanan bangsa Indonesia ingin bebas semakin kuat. Muncul mosi Thamrin yang menghendaki perubahan sebutan Nederland indie menjadi Indonesia, panggilan Inlander diubah jadi Indonesier langsung dikabulkan oleh Belanda.
Menghadapi situasi yang sulit, untuk pertama kalinya Nederland memberikan pelatihan keprajuritan kepada bangsa Indonesia, hal ini dilakukan semata-mata untuk kepentingannya, karena Nederland mulai goyah kedudukannya di Indonesia. Dalam kondisi kolonialis terjepit, para pengiat perjuangan wanita justru sebaliknya mereka mulai mendapatkan tempat dalam politik.
Memasuki tahun 1941, Belanda semakin terancam oleh Jepang yang memicu perang Pasifik dengan membombardir pangkalan Amerika Serikat. Hanya butuh waktu lima jam akhirnya Gubernur Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachhouwer memutuskan untuk menyatakan perang pada Jepang. Namun Belanda yang tergabung dalam ABDACOM tidak dapat menghentikan imperialis Jepang.
Ditahun baru 1942 Jepang justru berhasil memasuki Indonesia. Hal ini semakin memperjelas kondisi Belanda yang semakin terdesak. Van Berg sebagai seorang tentara KNIL termenung di sudut kursi ditemani gadis pribumi yang resmi bertahta dihatinya.
"Kenapa kau sangat gusar?" tanya Sri Utami.
"Bagaimana aku tidak gelisah Sri, Nippon semakin meraksek masuk ke Hindia Belanda," ujar Van Berg sambil memijit ceruk hidungnya.
Sri Utami hanya terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa ada kekasihnya. Sri Utami hanya mencoba menenangkan kegelisahan kekasihnya tersebut dengan mengelus punggungnya kemudian menyenderkan kepalanya ke lengan Van Berg, melihat tingkah manja Sri Utami, Van Berg akhirnya merangkul pundak Sri Utami agar menyender pada dada bidangnya.
"Sri, aku takut berpisah denganmu lagi!" ujar Van berg.
"Tak perlu mengkhawatirkan yang belum terjadi," ujar Sri Utami sambil menatap lembut netra berwarna abu-abu milik Van Berg.
"Aku harap kita bisa mengalahkan tentara Nippon," ujar Van Berg.
Sri Utami tidak bergeming, jujur dalam hatinya dia tidak mau kehilangan Van Berg tapi itu artinya negaranya tetap terjajah, disisi lain jika Nederland kalah maka Van Berg tidak akan disampingnya lagi.
"Sri?" tanya Van Berg.
" Iya,"jawab Sri Utami masih dalam pelukan Van Berg.
"Aku sangat mencintai negeri ini dan aku juga mencintaimu!" ujar Van Berg.
__ADS_1
"Aku juga," ujar Sri Utami.
Van Berg merubah posisi menghadapkan Sri Utami ke arahnya, ia menatap wajah manis tersebut. Ia memengang kedua pundaknya.
"Sri, jangan menikahi lelaki lain selain aku!" ujar Van Berg.
"Kenapa?" jawab Sri Utami sambil tersenyum.
"Aku tidak sanggup melihatmu dengan lelaki lain!" ujar Van Berg.
"Hmm... Jika kau tidak kembali setelah perang usai, apa aku harus menjadi wanita tidak menikah seumur hidup?" ujar Sri Utami sambil tersenyum memamerkan barisan giginya.
"Bukan begitu! Selama aku hidup, kamu hanya milikku!" ujar Van Berg mendaratkan kecupan dikening Sri Utami.
"Baiklah! kalau begitu berjanjilah padaku kamu tidak akan membunuh rakyatku!" ujar Sri Utami.
Seketika Sri Utami termenung dengan ucapannya sendiri. Apakah ini artinya aku menukar hidupku untuk membebaskan penderitaan rakyatku? batin Sri Utami.
Van Berg terlihat terdiam sejenak, menimbang permintaan dari Sri Utami. Tentu itu adalah permintaan yang sulit bagi Van Berg yang merupakan tentara KNIL.
Melihat raut wajah Van Berg, Sri Utami menyadari topiknya terlalu sensitif bagi Van Berg, ia memilih tidak ingin membicarakannya lagi. Keduanya menikmati sore dalam keheningan.
****
Bulan Februari tahun 1942, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengungsi ke Bandung beserta pejabat-pejabat pemerintah. Hotel Homan dan Preanger dipadati para pejabat tinggi Hindia Belanda.
Diluar dugaan setelah berkecambuk perang di Laut Jawa, Jepang menerjunkan pasukannya ditiga titik yakni di Teluk Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bahkan kolonel Shoji berhasil menduduki Subang kala itu.
Tentara KNIL sudah bersiaga dengan segala senjatanya, untuk menghadang tentara Jepang yang akan hadir ke Bandung. Van Berg dengan seragamnya menyoderkan peluru. Sri Utami mengetahui malam itu mungkin akan menjadi terakhir kalinya bertemu Van berg. Ia berlari menuju barak tentara Nedeland.
"Sri, kenapa kemari?" ujar Van Berg kaget.
Sri Utami hanya terdiam pandangannya penuh dengan kecemasan, ia menghambur memeluk Van Berg.
__ADS_1
"Sri, doakan aku selamat."ujar Van Berg sambil membalas pelukan Sri Utami.
"Berjanjilah, kau akan datang padaku setelah ini!" ujar Sri Utami.
Van Berg meregangkan pelukannya kini menangkup wajah Sri Utami dengan kedua tangannya.
"Aku akan mengingat wajah ini!" ujar Van Berg sambil tersenyum.
"Tenanglah, Nederland hebat, pasti kami menang!" lanjut Van Berg.
Sri Utami hanya menganggukan kepalanya, menatap Van Berg, kedua tangannya memegang dada Van Berg, air matanya berlinang. Van Berg pun menarik kembali Sri Utami dalam pelukannya. Sesungguhnya ia juga sama khawatirnya dengan peperangan ini. Suara pimpinan pasukan membuyarkan kemesraan dua insan tersebut.
"Sri, aku harus berangkat!" ujar Van Berg.
Sri Utami pun perlahan melepaskan dekapannya pada Van Berg. Senyuman Van Berg terukir jelas disana. Van Berg bergegas meninggalkan Sri Utami. Namun Sri Utami kembali memanggilnya yang membuat langkahnya terhenti.
"Van Berg!" ujar Sri Utami sambil berlari menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Van Berg.
Sri Utami dengan segala keberaniannya menjinjit mengecup bibir Van Berg, yang seketika membuatnya terkejut, Ia segera menarik pinggang Sri Utami membalas kecupan tersebut. Van Berg tidak dapat berlama-lama lagi karena rombongan pasukan sudah menunggunya. Ia memberikan senyuman terakhirnya pada Sri Utami. Mobil truk yang mengangkut tentara pun bergerak menjauhi keberadaan Sri Utami.
DOR! DOR! DOR!
Baku tembak langsung terjadi tidak jauh dari keberadaan Sri Utami. Hatinya langsung berdetak keras, setiap ledakan peluru itu terasa menghujam hatinya. Sri Utami dengan berjalan cepat menaiki kereta roda meninggalkan lokasi tersebut sambil bercucuran air mata.
Ketika lewat jalan Braga kondisi jauh berbeda, Sri Utami menyaksikan para perwira Hindia Belanda begitu tenang, masih berdansa riang sambil menengak alkohol. Sri Utami terseyum ketir melihat hal tersebut.
*****
Esok hari tepatnya 8 Maret 1942, Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Jenderal Teer Poorten menyatakan menyerah pada Jenderal Hitosi Imammura pimpinan Jepang. Keadaan ini menyebabkan hilangnya harga diri Nederland.
Kemeja-kemeja militer milik para perwira Hindia Belanda yang lengkap dengan aksesoris pangkatnya, berserakan ditepin kota Bandung. Hal ini menandakan pertanda Belanda sudah tidak punya kekuasaan lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....