
Tentara Kolonial pergi meninggalkan pekarangan rumah Raden Sri. Hatinya sangat bahagia setelah mengetahui langsung cintanya berbalas. Setelah kepergian tentara itu, Raden Sri kembali masuk ke rumah, malam minggu ini bi Iyem akan pulang malam. Raden Sri merapihkan piring dan gelas di meja serta membawanya ke belakang.
***
Pagi hari yang ce rah, dikediaman aden Sri, kebaya berwarna kuning emas dikenakannya, ia hendak menghadiri rapatIsteri Sedar setalah hampir seminggu vakum. Raden Sri sesekali melihat dirinya dibalik cermin merapihkan kain yang melilit tubuhnya, merapihkan rambutnya dengan teliti, kemudian diambilnya mawar merah diselipkan disisi sanggulnya. Pintu kamar diketuk oleh seseorang, Raden Sri berjalan membuka pintu. Tidak disangka Nyai Dasimah sudah berada dirumahnya lagi.
“ Kamu hendak pergi kemana Sri?”
“Aku ada rapat organisasi.”
“Sekali ini saja kau bisa pergi keluar dengan bebas Sri. Setelah itu kau tidak boleh melakukannya lagi. Kau masih dipinggit,” jelas Nyai Dasimah.
“Sampai kapan aku akan dipinggit? Bukankah sudah ku tolak lamaran Pangeran Arya? Bapak mengatakan dia akan menjadikan aku perawan tua kalau aku menolaknya lagi,” tutur Sri.
“ Kamu salah Sri. Keputusan hasil lamaran kemarin bapak yang buat. Kau akan tetap dipinang oleh Pangeran Arya. Sudah ditentukan tanggal pernikahannya kaping tilu kamis Sri. Jelas Nyai Dasimah.
“Kenapa bapak mengambil keputusan sendiri, dan itu artinya 4 hari lagi aku akan dijadikan isteri oleh Pangeran Arya?” tanya Sri.
“ Iya, aku sudah mengurus segalanya Sri, undangan sudah disebarkan ke teman-temanmu. Jadi berhentilah terus memberontak Sri.” ujar Nyai Dasimah
“ Bu, aku tidak suka dipaksa, aku tidak suka dipoligami, dan aku juga tidak suka Pangeran Arya yang matanya selalu jelalatan melihat wanita.”Jelas Sri.
“Sri, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri menyukai rasa tidak suka itu.” ucap Nyai Dasimah.
Bibirnya mulai begrgetar menahan amarah dan sedih, setetes demi setetes air matanya berjatuhan, sorotan mata Sri Utami masih memandang Nyai Dasimah, sehingga membuatnya iba yang kemudian merangkulnya. Tangisan yang tidak terbendung lagi tumpah dipelukan Nyai Dasimah yang tidak berhenti mengelus punggungnya.
“Sudah anakku Sri. Aku pun terpaksa terjebak dalam poligami Sri. Aku pun ingin keluar dari lingkaran ini. Tapi aku tidak berdaya, aku melihatmu seperti aku melihat masa mudaku Sri. Dan aku pun tak ingin Sri, kau bernasib sama denganku. Sekarang ikutilah dulu keinginan bapak, lalu nanti kita pikirkan caranya. Nah, kau bukannya ada rencana dengan organisasi hari ini?” kata Nyai Dasimah sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Sri Utami menganggukan kepalanya, air mata dihapusnya dikedua pipinya. Nyi Dasimah merapihkan sanggulnya Sri Utami dan bunganya yang hampir terjatuh.
“Sekarangan pergilah, sebelum bapak melhatnya.” Ujar Nyai Dasimah.
Sri Utami kemudian mencium punggung tangan ibu sambungnya itu, dan berpamitan keluar dari kamarnya. Ketika didepan pintu Sri bertemu dengan bi Iyem, matanya tertuju ke leher bi Iyem yang banyak warna merah-merah. Sri Utami sebagai wanita modern tahu betul akan hal seperti itu walaupun tidak pernah mengalaminya.
“Bi Iyem, kenapa bibi biarkan lelaki itu seenaknya bertindak kepada bibi?” tanya Sri Utami.
“Maksud Nyi?”
Sri menunjuk ke leher bi Iyem yang memiliki tanda merah, bi Iyem menyadarinya langsung gelagap karena malu ia menyembunyikannya dengan kedua tangannya. Sri berjalan ke depan rumahnya sambil menghela nafasnya panjang, kemudian dia berbalik lagi menghentikan bi Iyem yang hendak pergi ke dapur.
“Bi, jangan bersikap lemah kepada lelaki. Bibi jangan mudah dirayu olehnya.” Ujar Sir Utari.
Kemudian dia berlalu, keluar dari rumahnya dan menaiki delmannya yang sudah mengunggu sedari tadi. Delaman dipacunya oleh si Ujang menuju gedung perkumpulan Isteri Sedar.
***
“Hmm... organisasi ini sudah berjalan hampir 5 tahun dari diresmikan, tapi saya masih belum puas dengan perjuangan kita. Kita adalah organisasi yang netral terhadap agama dan dibangun untuk kaum wanita terpelajar dan dari rakyat jelata. Melihat persoalan saat ini, kita harus mulai terjun dalam politik.”
“Apakah itu artinya organisasi ini akan menjadi organisasi politik bu?” tanya Sri Utami
“Tidak Sri, Organisasi ini tetaplah organisasi wanita, tapi kalian sebagai anggota harus terjun ke perpolitikan, agar suara kita lebih didengar lagi. Maka harus ada yang mewakili suara wanita di parlemen. Agar hak-hak kita bisa diperjuangakan.” Jelas Suwarni Pringgodigdo dengan mantap.
“Nah, untuk perkembangan organisasi Isteri Sedar, saya butuh masukan dari rekan-rekan!” lanjut Suwarni.
“ Saya bu, mungkin baiknya kita membuat komisi di organisasi ini.” Usul Soendari
__ADS_1
“Saya setuju juga, dan perjuangan kita juga harus terus mengaktifkan majalah kita.” Tambah Ratna.
“Baik kalau begitu komisi yang akan dibentuk?” tanya Suwarni.
“Saya mengusulkan komisi besar untuk sekolah, mengingat banyak wanita dikalangan rakyat yang tidak pandai membaca, tidak bisa berbahasa Belanda, selain itu kita juga bisa mengajarkan keterampilan kepada kaum wanita.” Usul Sri Utami.
“Oke bagus, usul dari Sri Utami.”
“Menurut saya perlu juga kiranya kita memperhatikan kaum buruh perempuan, mengingat masih banyak yang bertindak diskriminatif terhadap perempuan.” Usul Amirah.
“Oke, usul dari rekan-rekan, tolong dicatang Sulastri! Nah sekarang aku ingin menanyakan mengenai pengelolaan majalah Sedar.” Ucap Ketua.
“Saya bersedia menjadi jurnalis dimajalah Sedar, jika bu Suwarni mengijinkan.” Sri utami mengusulkan dirinya.
“Baiklah, boleh Sri. Tapi apakah ini tidak akan menganggu aktivitasmu yang akan segera menikah?” tanya Suwarni.
“Sepertinya tidak akan ada yang berubah bu, apalagi saya menikahi lelaki yang suka poligami, saya memiliki banyak waktu sendiri.” Ujar Sri Utami
Semua orang yang berada didalam ruangan tersenyum mendengar ucapan Sri Utami yang sangat mengemaskan, para anggota yang rata-rata sudah menikah.
“Hem, Sri pada akhirnya kau terjebak juga dengan hal itu.” Ujar bu Suwarni.
“ Saya tidak bisa menentang kehendak Tuhan bu,” jawab Sri Utami sambil melayangkan senyuman lembut.
“Ya Kau benar, Tuhan pengatur segalanya, kita hanya merencanakan. Baiklah rapat kali ini sepertiya cukup. Silahkan kalian mengisi dengan sendiri ingin menduduki posisi dikomisi mana. Saya akan menyetujuinya.” Tutup Ketua rapat.
Semua orang menuliskan komisi yang hendak dipilihnya dipapan tulis yang sudah disediakan oeh sekertaris Isteri Sedar. Sri Utami sudah memilih dengan mantap akan menjadi jurnalis di Majalah Sedar, serta ia akan berpartisipasi mengajarkan bahasa Belanda. Setelah selesai semuanya keluar dari gedung tersebut. Sri Utami juga keuar berbarengan dengan sahabat karibnya Soendari sambil berbincang-bincang. Namun dari kejauhan sudah ada yang menantikan Sri Utami untuk bertemu.
__ADS_1
“Sri, sepertinya pacarmu menunggumu, jangan membuatnya menunggu, eh jangan sampai ketahuan sama bu Suwarni. Nanti kau kena omelannya.” Goda Soendari sembari berlalu meninggalkan Sri. Sri melihat ke arah tentara kolonial itu yang sedang duduk melihat ke arahnya.
BERSAMBUNG.....