
Sri Utami memandangi photo hitam putih dirinya dengan Ryosuke, akhir-akhir ini Ryosuke selalu hadir dalam mimpinya.
"Kenapa Ryosuke selalu hadir dalam mimpiku? apakah dia memiliki keinginan yang belum terpenuhi saat meninggalkan dunia ini?" tanya Sri Utami bertanya seeorang diri.
Sri Utami membuka lemarinya, sebuah kimono merah marun terlipat rapi. Air matanya menetes saat menatap kimono tersebut.
"Iya, aku tidak bertemu dengannya saat terakhir kalinya, itukah alasannya?" ujar Sri Utami sambil menyeka air matanya.
Ceklek
Pintu kamar didorong kuat oleh Van Berg dan ditutup dengan keras, membuat telinga berdengung mendengarnya. Sri Utami memandang dengan penuh tanya pada Van Berg yang emosinya sudah memburu.
"Ada apa Van Berg? Kamu kenapa?" menatap bola mata berwarna abu-abu itu.
"Sri! kenapa kamu mengatakan perkataan kasar pada anakku!" bentak Van Berg dengan mata menyala.
Sri Utami hanya terdiam menghembuskan nafas pelan memalingkan wajahnya.
"Apa yang salah dengan yang ku katakan?" tanya Sri Utami sambil menatap dirinya dalam cermin.
Air matanya menetes, ada kesedihan yang tidak bisa diungkapkan oleh Sri Utami. Hatinya memandang jauh kehidupan setelah mengenal cinta pada Van Berg, dirinya telah membuat banyak orang terluka.
"Kamu mengatakan aku, anakku penjajah! sekasar itukah kamu sekarang Sri!" masih dalam nada tinggi.
"Aku harus mengatakan apa tentang kamu? Pahlawankah?" tanya Sri Utami kembali menatap wajah Van Berg yang merah padam.
"Tidak bisa bukan?" lanjut Sri Utami sambil mengelengkan kepalanya.
Prak
Van Berg memukul cermin dimeja rias, tangannya mengucurkan darah segar yang mengalir melalui jari jemarinya. Sri Utami menatap dingin tangan berdarah itu.
Van Berg memijat pelipisnya, ada rasa sesak didadanya. Dia duduk dipinggir kasur pandangannya menatap lantai ubin. Sri Utami hanya terdiam.
"Mungkin pertemuan kita salah Van Berg! hubungan kita juga salah!" ujar Sri Utami pelan menatap jendela keluar.
Van Berg mendongkakkan kepalanya menatap Sri Utami. Tatapannya tajam.
"Jika kamu menganggap aku penjajah! kau adalah gundiknya!" ucap Van Berg tajam.
__ADS_1
"Lakukan saja Van Berg! aku lelah, " lirih Sri Utami sambil matanya berkaca-kaca.
Dalam hati Van Berg tidak tega melihat Sri Utami yang terlihat rapuh. Tidak ada yang salah dengan yang dikatakan Sri Utami pada anaknya, hanya saja dia tidak sanggup mendengar sebuah fakta.
"Aku akan kembali nanti malam!" suara Van Berg datar keluar kamar Sri Utami.
-----*****-----
"Siapa yang datang Soen?" tanya Nyai Dasimah.
"Lihatlah bu siapa yang datang!" seru Soendari.
Rahman membopong seorang lelaki berdarah Jepang, yang lemah sekali. Mata Nyai Dasimah langsung membulat melihat orang yang dibawa Rahman.
"Bukankah dia komandan Ryosuke?" tanyaa Nyai Dasimah.
"Benar bu, maaf Rahman tidak membawa Sri kemari!" ujar Rahman menunduk hormat pada Nyai Dasimah.
"Sri? dia dimana?" tanya Ryosuke pelan.
"Dia masih di Bandung, dia disekap orang Belanda!" ujar Rahman sambil mengertakkan giginya.
"Disekap?" suara Nyai Dasimah meninggi.
"Aku ingin menemui Sri!" ujar Ryosuke dengan semangat.
"Kita semua ingin menemuinya! Tapi Sri dipaksa menikah dengan orang Belanda!" tatapan Rahman kosong.
"Apa!"seru ketiga orang dirumah tersebut serentak.
"Tidak! aku harus menyelamatkan Sri!" ujar Ryosuke berdiri tertatih-tatih.
"Melihat keadaanmu sangat tidak mungkin bisa melawan pasukan tentara Belanda!" ujar Rahman menatap Ryosuke.
"Lalu apa kita diam saja Rahman! apa yang kau pelajari di organisasi PETA dan Hizbullah! mana semangat seorang samuraimu!" jawab Ryosuke menatap tajam Rahman.
"Kita harus punya rencana! persenjataan akan dicuri disatu gudang Belanda sudah direncanakan! tapi resikonya besar!" jelas Rahman.
"Baiklah kita buat rencana malam ini juga!" tandas Ryosuke.
__ADS_1
"Kau orang Jepang! kenapa harus ikut membantu?" tanya Soendari.
"Aku mencintai Sri!" jawab Ryosuke membuat mata ketiga orang disana membulat penuh.
Percaya diri sekali pemuda ini mengatakan perasaannya! padahal aku calon suaminya!" batin Rahman.
----------******---------
Sri Utami menatap rembulan dimalam hari melalui jendela kamarnya. Dia tidak memperdulikan Madelief yang mengerutu karena Sri Utami tidak memasak makan malam. Setelah puas menatap bulan Sri Utami menutup jendela dan membaringkan badannya meski suara Madelief yang mengeluarkan sumpah serapahnya masih terdengar diluar kamar.
Perlahan Sri Utami menutup kelopak matanya. Suara pintu dibuka dari luar memasuki kamarnya. Langkah tegas seorang lelaki menghampiri kasurnya. Van Berg membaringkan tubuhnya disamping Sri Utami dan menarik Sri Utami dalam pelukannya.
"Maaf aku membuatmu kesulitan," gumam Van Berg yang menyangka Sri Utami sudah terlelap.
Van Berg memandang wajah imut Sri Utami, setiap incinya disentuh, kecupan didaratkan dikening Sri Utami. Semburat merah muncul dipipi Sri Utami.
"Kau belum tidur rupanya!" bisik Van Berg membuat Sri Utami malu.
"Jangan pura-pura! buka matamu!" perintah Van Berg sambil tersenyum.
Perlahan dengan malu-malu Sri Utami membuka kelopak matanya, wajah Van Berg terlihat jelas dimatanya. Van Berg langsung mendaratkan ciuman dibibir Sri Utami.
Sri Utami terkejut dengan serangan tiba-tiba Van Berg. Sejenak tautan itu terlepas, membiarkan Sri Utami bernafas. Lalu Van Berg mengulanginya lagi sedikit lebih lama dan mendalam. Setelah itu dia mengelap bibir Sri Utami yang basah karena ulahnya.
"Cukup cintai aku saja Sri!" bisik Van Berg diteliga Sri Utami.
"Jika kamu tidak ingin berbagi dengan orang lain! begitu pun aku Van Berg, aku tidak ingin dipoligami!" ujar Sri Utami menatap lekat mata Van Berg.
"Aku tidak bisa!"
"Van Berg!" teriak Madelief dari luar kamar.
"Kamu tidur dikamarku bukan!" lanjut Madelief.
Van Berg terlihat mendengus kesal, dia bangkit dari tidurnya diikuti Sri utami. Van Berg berbalik melihat Sri Utami. Dia mendaratkan kecupan dileher Sri Utami, lalu berangjak keluar kamar.
_
_
__ADS_1
_
Bersambung...