
BOOM!
Sebuah ledakan hebat menghantam kota yang padat penduduk, kepanikan menghantui penduduk. Bom Atom bernama Little boy tersebut memberanguskan kota kebangaan Jepang. Hanya dalam hitungan detik, penduduk tersebut lenyap, tinggal hanya suara jeritan kesakitan dengan tangisan mengiris hati memenuhi kota tersebut.
Selang berapa lama, para relawan mulai berdatangan menyelamatkan yang masih memiliki kemungkinan diselamatkan. Bau menyengat dari tubuh-tubuh yang terbakar memenuhi hidung, banyak mayat yang tidak dapat dikenali lagi wajahnya karena terlalu gosong. Kuburan masal mulai digali, banyak yang selamat namun mengalami kecacatan fisik.
Berita jatuhnya bom atom AS menghantam kota Hirosima membuat Jepang terpukul, sikapnya terhadap Indonesia mulai melunak. Sebuah misi perjalanan rahasia 8 Agustus 1945 untuk menjemput kemerdekaan bagi bangsa RI dilaksanakan, tiga tokoh besar Indonesia dijemput dari Bandara Kemayoran dengan dikawal perwira Jepang untuk melakukan perjalanan ke Dalat. Ketiga tokoh tidak lantas dibawa ke Dalat melainkan singgah di Singapura. Tepat 9 Agustus 1945, kota Jepang dilanda kepahitan kembali, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom bernama 'Fat man' di Nagasaki. Asap hitam kembali mengepul dinegeri Jepang, nyawa-nyawa tanpa dosa melayang kembali jalanan dipenuhi oleh mayat-mayat yang bergelimpahan hangus terbakar terkena ledakan bom atom bernama Fat Man.
Pada 12 Agustus 1945, tiga tokoh besar RI baru dapat menemui permira Jepang. Marsekal Terauci yang merupakan anak dari Marsekal Masatake.
"Tuan Soekarno, tuan Hatta, dan tuan Rajiman, saya mengundang anda sekalian kesini, karena Jepang saat ini sudah berada diujung tanduk, dua kota penting Hirosima dan Nagasaki sudah hancur, serta kami mengalami banyak kekalahan di perang Asia Raya, cepat atau lambat Jepang akan takluk. Indonesia harus segera bersiap-siap merdeka, ini menjadi tugas tuan Soekarno, tuan Hatta, tuan Radjiman, dan anggota PPKI untuk mempersiapkannya. Kapanpun Indonesia siap, kemerdekan boleh dinyatakan," janji Terauchi.
Ketiga tokoh RI tersebut nampak khusus mendengarkan penjelasan dari Marsekal Terauchi, binar kebahagiaan nampak dari ketiga tokoh mendengar janji kemerdekaan dari pihak Jepang.
"Tapi pemerintah Jepang menyarankan 24 Agustus kemerdekaan Indonesia dinyatakan, karena mengingat banyak yang harus dipersiapkan,"lanjut Terauchi.
"Bagaimana jika tanggal 25 Agustus sudah boleh bekerja?" tanya Soekarno.
"Iya, silahkan terserah tuan-tuan," ujar Terauchi.
"Akhirnya setelah perjuangan lama untuk mencapai Indonesia Merdeka, terwujud hari ini 12 Agustus bertepatan dengan ulang tahun saya," sahut Hatta sambil tersenyum.
******
Semenjak mengajukan lamaran pada Sri Utami, Rahman menjadi semakin sering datang ke rumah Sri Utami, Rahman setiap berkunjung tidak pernah bertangan hampa selalu membawa sesuatu, entah membawa ikan, buah-buahan, atau kue. Sedangkan Sri Utami yang masih setengah hati menerima lamaran, pikirannya akhir-akhir ini tidak fokus.
"Apakah Ryosuke sudah menerbangkan pesawatnya, apakah dia sudah ...." gumam Sri Utami terpotong menghembuskan nafasnya, sedangkan tangannya mengambil garam tanpa disadarinya dan dimasukan ke cangkir kopi lalu mengaduknya.
__ADS_1
"Sri! " Nyai Dasimah menegurya sambil menepuk bahunya.
'Iya bu!" Sri Utami tersentak.
"Sudah jadi kopinya? kasihan Rahman sudah nunggu lama didepan!" tegur Nyai Dasimah.
"Oh, udah kok bu, Sri ke depan dulu bu," Sri Utami bergegas membawa nampan ke ruang depan.
Rahman yang sudah tidak tenang duduknya karena terlalu lama sendirian di ruang tengah, matanya langsung berbinar melihat kedatangan Sri Utami dengan nampannya, senyumanya terukir jelas.
"Maaf lama ya," ucap Sri Utami sambil menyimpan nampan dan menyodorkan kopi ke hadapan Rahman.
"Gak apa-apa kok, mungkin kamu sedang membuat kopi yang spesial rasa cinta," goda Rahman dengan menunjukan senyuman yang dapat membuat kaum hawa melayang-layang, Sri Utami mengakui senyuman Rahman memang manis.
Sri Utami mendengar godaan dari Rahman langsung tersipu malu, Rahman langsung menyambar kopi yang dibuatkan oleh Sri Utami. Seteguk air kopi melewati kerongkongannya, rasa asin memnuhi lidahnya, raut wajahnya seketika berubah. Sri Utami melihat perubahan wajahnya Rahman.
"Unik rasanya,, sepertinya air laut tumpah ke kopinya," ujar Rahman sambil menyungingkan senyuman.
Sri Utami kebingungan tidak mengerti perkataan kiasan dari Rahman, segera merebut gelas kopi dari tangan Rahman yang sempat dihalangi oleh Rahman, seteguk air membasahi kerongkonngannya, asin bikin lidah melet-melet. Wajah Sri Utami berubah murung dan malu.
"Maafin aku Man, aku salah memasukan gula ke kopimu," lirih Sri Utami menunduk.
"Gak apa-apa, tenang aja Sri," ucap Rahman sambil tersenyum.
"Aku buatkan lagi ya Man," ujar Sri Utami bangkit dari duduknya.
"Tidak usah Sri, aku kesini bukan mau mencicipi kopi, aku kesini ingin berbicara banyak denganmu," cegah Rahman menahan Sri Utami untuk melangkah ke dapur.
__ADS_1
Sri Utami pun kembali duduk dihadapan Rahman yang wajahnya terlihat bahagia.
"Sri! aku ingin segera menghalalkanmu sebenarnya, bagaimana menurutmu?" Rahman membuka pembicaraan sambil menatap lekat gadis dihadapannya.
"Aku tidak keberatan, Man," hanya itu yang diucapkan oleh Sri Utami, ia tidak mau membuat Nyai Dasimah kecewa lagi, meski jauh dilubuk hatinya, masih ada perasaan besar pada Van Berg yang sudah tiada menurutnya.
"Aku tidak ingin kamu terpaksa menikah denganku Sri," ucap Rahman menatap lekat bola mata Sri Utami.
Sri Utami terdiam mendengarnya, ada keinginan mengatakan sebenarnya dirinya sangat tertekan harus menikah, hatinya memang belum mencintai Rahman tapi kembali mengingat ucapan mendiang ibunya yang berputar di pikirannya.
Sri, anakku, jangan kau menikah hanya karna cinta saja. Menikahlah karena kamu harus menjalankan ibadah. Jika ada seseorang lelaki yang mencintaimu begitu besar dan berani datang ke rumah untuk menjadikanmu sebagai isteri, jika dia baik akhlaknya menikahlah dengannya. Karena dialah lelaki yang akan memuliakanmu dan akan sangat bertanggungjawab padamu.
" Man, aku sudah memutuskan menjadi isterimu, dan aku ingin kamu menjadi pemimpin dan imamku" ucap Sri Utami membalas tatapan Rahman yang mangut-mangut mendengar jawaban Sri Utami.
"Baiklah, kalau begitu aku tenang setelah mendengarnya darimu," ucap Rahman.
"Bagaimana dengan orang tuamu, aku belum bertemu dengannya, apa mereka setuju Man?" tanya Sri Utami.
"Tentu Sri, mereka menyerahkan sepenuhnya padaku mengenai pasangan hidup, oh iya aku akan melamarmu secara resmi dengan orang tuaku setelah kemerdekaan Sri,"ujar Rahman membuat Sri Utami berkerut dahinya.
"Apa kamu mendapat info baru Man?" tanya Sri Utami.
"Iya Sri," dengan semangat sahut Rahman.
" Aku mencuri informasi dari para pemuda yang sudah berdiskusi dengan Sutan Syahrir, bahwa Jepang sudah menyatakan menyerah pada Sekutu, dan kita sudag bersiap untuk mendesak proklamasi dimasa vacum of power, cepat atau lambat kita akan merdeka Sri." Lanjut Rahman dengan berbinar menunjukan kebahagiaan yang besar, Sri Utami pun tersenyum merkah mendengar ucapan Rahman.
"Sri begitu cantik saat tersenyum, aku tidak akan membuatnya hilang senyuman saat nanti kau jadi isteriku Sri." Batin Rahman saat melihat gadis yang dihadapannya tersenyum bahagia.
__ADS_1
BERSAMBUNG....