Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Pilihan


__ADS_3

Ayam-ayam sudah bersahutan, namun sama sekali tidak menganggu kedua insan yang masih terlelap karena lelah habis melakukan percintaan semalaman.


Hingga akhirnya Van Berg mengeliat, dia bangkit terduduk sambil memegang kepalanya yang terasa sangat pening. Pandangannya tertuju pada pakaiannya yang berserakan dilantai, ia pun menoleh kesampingnya, seorang wanita berdarah pribumi tengah meringkuk dibalik selimut membelakanginya.


Segurat senyuman terukir jelas dibibirnya, dia tidak melupakan malam yang menyenangkan itu. Perlahan tangannya mengelus pundak Sri Utami yang terekspos dan mengecupnya.


" Emmm... " Sri Utami nampak terganggu dengan sentuhan tersebut tapi dia engan membuka matanya.


Kini Sri Utami berbalik mengubah posisi tidurnya menghadap Van Berg, senyuman merkah menghias bibir Van Berg. Wanita pribumi selalu saja membuatnya tergila-gila. Van Berg mengelus pipi putih mulus itu dengan lembut tidak lupa di mendaratkan kecupan hangat disana.


" Morning kiss bebe!" Bisik Van Berg.


Lagi-lagi Sri Utami hanya mengeliat lalu kembali terlelap, Van Berg mengulum senyumannya melihat tingkah Sri Utami. Van Berg kembali meletakan kepalanya di bantal memandangi wajah natural yang cantik tanpa polesan make up dihadapannya itu.


Rasanya dia tidak pernah bosan melihat wajah jelita itu. Setiap incinya dia pandang dengan seksama, rambut lurus hitam, kening mulus, mata belo, pipi, hidung yang sedikit mancung, bibir tipis semerah cherry dan dagu.


"Aku ingin terus memilikimu selamanya Sri! Jangan pernah berpaling dariku, aku akan menyingkirkan siapapun yang mencoba memilikimu! Kamu hanya untukku." Guman Van Berg.


Ditengah asyiknya Van Berg memandang wajah sang kekasih yang masih bergelut dialam mimpi tiba-tiba jendela kamarnya dilembari batu dan mengenai cermin.


Brak


Van Berg terkejut begitu pun Sri Utami yang tersentak ikut terbangun. Van Berg merasa geram karena ada yang menganggu tidurnya Sri Utami, dia segera memeluk Sri Utami.


" Ssttttt bukan apa-apa tidurlah lagi! Kamu pasti sangat lelah bebe!" Ucap Van Berg menenangkan Sri Utami yang matanya masih sayu.


"Aku sudah terbangun, dan tidak perlu tidur lagi!" Kata Sri Utami langsung menjauhkan tubuh Van Berg yang memeluknya.


Van Berg melonggarkan pelukannya dan menatap Sri Utami yang terlihat langsung mencari pakaiannya, Van Berg terus memperhatikan Sri Utami yang melilitkan kain jarik menutup tubuhnya. Tapi pemandangan tersebut justru dimata Van Berg sangat seksi.


"Jangan terus memandangku seperti itu!" Tegur Sri Utami.


" Kenapa? Kamu isteriku dan aku berhak memandangmu seperti apapun, bahkan aku berhak melihatmu dalam keadaan tel*nj*ng sekali pun!" Goda Van berg sambil mengendipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Sri Utami langsung memutar bola matanya sambil memungguti pakaian yang berserakan dilantai. Pemandangan seperti itu sangat membuat malu karena mengingatkan pada kejadian semalam.


" Sri.. Aku..!"


" Aku masih ingat yang kamu katakan semalam!" Kata Sri Utami memotong perkataan Van Berg.


" Kamu terlihat sangat kecewa? Apa itu karena Ryosuke mati?"


Sri Utami terdiam dan tangannya terhenti sejenak saat mengambil pakaian Van Berg, namun tidak lama langsung mengambilnya lagi tanpa mengubris perkataan Van Berg. Melihat sikap Sri Utami yang diam saja, Van Berg sangat penasaran dengan reaksi Sri Utami.


Sri Utami melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, baru saja Sri Utami memegang gagang pintu, Van Berg memancingnya dengan sebuah pertanyaan.


" Kamu marah padaku karena membunuh Ryosuke? Bukankah dia pantas mati karena dia bisa jadi perusak rumah tangga!" Kata Van Berg sambil mengepalkan tangannya disamping badannya.


" Iya!"


" Jadi kamu marah karena hal itu? Kamu mencintai Ryosuke?" Geram Van Berg yang tanpa sadar dia langsung bangkit dari kasur tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Sri Utami mengalihkan pandangannya, jarak tubuhnya dengan Van Berg sangat dekat. Deru nafas Van Berg saja terdengar jelas.


" Cukup Sri! Kami tau betul negaramu tidak akan mampu berdiri dan bersaing dengan negara-negara diluar sana! Seharusnya bangsamu tunduk pada kami jangan terus melawan sambil berlagak pintar padahal kalian masih bodoh dalam mengelola negara!" Timpal Van Berg.


" Cukup! Cukup! Cukup Van Berg! Kamu menghina bangsaku! Aku tidak suka! Sebelum kamu menghina bangsaku, sadarlah kalian makan dari tanah kami! Dan jangan lupa pakai celanamu! "Ketus Sri Utami seraya keluar dari kamar.


Van Berg yang hendak marah langsung memukul pintu, lalu disana dia sadar belum mengenakan sehelai benang pun. Van Berg pun mengacak rambut.


Kakinya berjalan kearah lemari tapi dia tersandung batu. Van Berg berjongkok memunggut batu yang berbalut kertas berisi tulisan umpatan kekesalan.


[BEDEBAH WALANDA! MEMBUSUKLAH DI NERAKA, Aing teu sieun ku sia! Lemah cai ieu Lemah Cai Aing, marantog siah ti lemah cai Aing! Nurustunyung!]


* Ehek Mrs gak sanggup buat terjemahin ya soalnya itu mengunakan bahasa kasar sama Mrs. Intinya isi umpatan itu menyuruh Bangsa Belanda untuk meninggalkan tanah air.


Van Berg bangkit dari duduknya, dia meremas tulisan tersebut. Dia segera mencari celana dilemari lalu keluar dari kamar saat dia melirik ke meja makan, tampak Madelief tengah menyiapkan sarapan pagi. Madelif segera menoleh ke arah Madelief.

__ADS_1


" Aku sudah buatkan sup untuk menghilangkan sakit kepalamu!" Kata Madelief sambil mengoleskan roti gandum dengan selai untuk Rafunzel.


Tanpa menjawab, Van Berg langsung berjalan mendekati meja makan dan duduk disana. Rafunzel nampak memicingkan matanya saat bertatapan dengan Van Berg.


" What happen?" Kata Van Berg.


" No problem!" Sahut Rafunzel.


" I know, kamu sedang marah padaku! Ada apa? "Tanya Van Berg.


" Dad sudah membuat Mom menanggis semalaman! Dad tidur dengan wanita inlander itu! So i dont like you, Dad!" Jelas Rafunzel.


" Stop Rafunzel! Kembali ke kamarmu! Mom akan bicara dengan Dady mu!" Kata Madelief.


Rafunzel dengan kesal menghentakkan kakinya berjalan meninggalkan ruang makan. Kini disana hanya ada Madelief dan Van Berg yang terdiam membisu.


" Aku tau, kamu hanya membodohiku dengan menikahiku! Kamu masih sangat mencintai Sri kan?"


"Aku menyanyangi kalian!"


"Stop say it, i hate! Kamu hanya memanfaatkan aku! Kamu pikir aku tidak tahu apa saja yang kamu lakukan di hotel saat tiga hari tidak pulang ke rumah! Aku tahu Van Berg. Aku sudah cukup menahan diri untuk semua ini! Tapi tolong jangan kamu lakukan saat dirumah ada Rafunzel juga!"


Van Berg terdiam mendengarkan ocehan dari Madelief, meskipun jauh didalam hatinya dia cukup terkejut. Tapi dia juga bisa memahaminya memang tidak ada yang bisa dia sembunyikan, mungkin saja bawahannya ada yang melaporkannya.


" Kamu mendengarkan aku kan?"


" Iya Madelief!"


" Sekarang aku mau ketegasan kamu Van Berg. Tinggalkan wanita itu dan hiduplah bersamaku kembali ke Belanda atau hiduplah bersama wanita itu dan aku tidak memberikan ijin kamu menemui anakmu lagi!"


" Apa-apaan ini Madelief, jelas aku tidak bisa melepaskan kalian, aku tidak bisa melepaskan kamu dan anakku!"


" Kalau begitu kamu memillhku!"

__ADS_1


>>>>>> Bersambung...


Sorry gaes dikirain gak ditunggu-tunggu ceritanya, jadinya Mrs gak up up lagi... Oke sebagai bonus Mrs up dua eps. Mrs ada rencana untuk menamatkan ceritanya di eps. 50 Tapi gimana nanti aja ya, pengennya sih lebih dari 50 eps. Thanks yang sudah nunggu!


__ADS_2