
Sri Utami berjalan keluar dari gedung pengadilan. Dua lelaki dibelakang mengikutinya, Sri Utami merasa risih diikuti dua pemuda Belanda tersebut. Ia segera berbalik dan menatap dua pemuda tersebut bergantian.
" Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Sri kesal.
" Aku ingin memastikanmu kamu selamat sampai rumah," jawab Van Berg tersenyum.
" Iya betul," jawab Vander Plass mengiyakan ucapan Van Berg.
" Kenapa wajahmu?" tanya Sri Utami ke Vander Plass.
" Ah iya, aku dipukul..." Ucapan Vander Plass terhenti karena disikut oleh Van Berg.
Vander Plass kesal karena Van Berg menyikut perutnya, Sri Utami merasa keheranan melihat tingkah dua pemuda tersebut.
" Kenapa kamu tidak mengatakan padaku masalahmu, Sri," ujar Van Berg.
" Sudahlah, lupakan saja lagian aku tidak akan menang melawan hukum disini, " ujar Sri Utami.
" Seharusnya kamu meminta bantuan padaku, bukan padanya" ujar Van Berg menunjukan kecumburuannya pada Vander Plass.
" Aku tidak memintanya, dia yang datang sendiri," ujar Sri Utami.
" Kalau begitu kamu setidak berterima kasih padaku Sri, lihatlah aku dipukuli oleh atasan karena menyerahkan pelaku itu. Dan aku menyesal seharusnya aku menghajar mereka sebelum aku serahkan ke polisi," ujar Vander Plass kesal.
" Kalau kamu menghajarnya, kamu bakal terkapar di rumah sakit sekarang!" ucap Van Berg sambil berjalan mendahulu agar bisa beriringan berjalan dengan Sri Utami.
Sri Utami berjalan beriringan dengan Van Berg, melihat hal tersebut, Vander Plass tidak mau kalah ia segera berjalan disamping kanan Sri Utami. Mereka berjalan bersamaan sampai Sri Utami menaiki delmannya.
" Terima kasih tuan Vander Plass sudah membantu, aku berhutang padamu." ujar Sri Utami sambil menaiki delmannya.
Vander Plass menangapi perkataan dengan senyuman dan mengedipkan sebelah matanya pada Sri Utami, Van Berg langsung meninju wajah Vander Plass, ia pun meringgis kesakitan. Delman melaju meninggalkan tempat tersebut. Sri Utami baru menyadari kalau dua pemuda tersebut berlari mengikuti delmannya. Sri Utami hanya tersenyum melihat tingkah lucu kedua pemuda tersebut.
****
__ADS_1
Delman terparkir didepan rumah Sri Utami, dua pemuda tersebut ngos-ngosan disertai keringat mengucur diwajahnya, Sri Utami akhirnya membiarkan kedua pemuda Belanda itu istirahat dirumahnya. Sri Utami mengambil kotak obat, Van Berg tahu Sri Utami akan mengobati Vander Plass segera merebut kotak tersebut.
" Biar aku saja yang melakukanya!"ucap Van Berg sambil menyungingkan senyuman pada Sri Utami.
" Baiklah." ujar Sri merasa ada yang janggal dengan tingkah dua pemuda tersebut.
Vander Plass yang sudah kesenangan akan diobati oleh Sri Utami langsung merasa kesal. Van Berg tersenyum menyerigai pada Vander Plass, ia segera membuka kotak obat tersebut.
" Aawwww...Aawww. " teriak Vander Plass.
Sri Utami muncul dengan membawakan minuman segar, keheranan mendengar teriakan Vander Plass. Melihat Sri Utami sudah ada diruangan tersebut, Van berg menghentikan tingkahnya pada Vander Plass.
"Diem, jangan lebay!" ujar Van Berg dengan kesal.
" Kamu mengobati kayak mau bunuh orang!" ujar Vander Plass.
" Kalau sudah beres, kalian boleh pergi!" ujar Sri Utami menatap dua pemuda yang sedang duduk dihadapannya.
" Ah.. Cukup Berg!" ujar Vander Plass menghentikan Van Berg yang sedang mengobatinya.
" Kau gila, kamu yang akan menikah besok, harusnya kamu pulang jangan keluyuran dirumah wanita lain," ujar Vander Plass.
" Kalian berdua harus pulang!" ujar Sri Utami dingin.
Keduanya akhirnya berdiri setelah menyeruput air yang disuguhkan oleh Sri Utami, mereka berjalan keluar dari rumah Sri Utami.
*****
Angin malam berhembus kencang, menerpa seorang gadis berbaju serba hitam dan mengunakan masker hitam, rambutnya dikuncir kuda sembari duduk diatas kuda mengamati keadaan barak tentara dari kejauhan. Setelah dirasa aman ia turun dari kudanya dan mengikatkan kuda ke pohon mahoni. Ia berjalan mengendap-ngendap sambil memegang panah seperti orang yang hendak berburu. Seorang lelaki dengan bertubuh besar melengangkan kakinya sambil membawa sebotol minuman, satu panah dilepaskan melesat dan mengenai telapak tangan orang tersebut.
"Aaaaaarghh" teriak tentara tersebut darah segar mengucur deras dari tangannya.
Gadis itu segera bergerak perlahan menjauh dari tempat tersebut, mencari sosok yang lain. Ia berjalan perlahan ke dekat tandon air. Dilihat seorang tentara dibalik sana sedang asik bercinta, ia langsung menarik busur panahnya.
__ADS_1
Blussssss! Cleb! Bucraaaaaat! darah memuncrat dari pantat tentara tersebut.
"Aaaaaargh" raung tentara tersebut, si perempuan yang menemaninya bergumul menjerit ketakutan.
Senyuman sinis terukir diwajah gadis berbaju serba hitam itu. Ia segera melesat berlari perlahan menuju menara. Yang bertugas menjaga menara adalah salah satu orang yang di incarnya. Si gadis mengeluarkan belatinya. Dia mengamati sekitar, setelah keadaan dirasa aman, ia melemparkan belati dan tepat merobek teliga salah satu penjaga tersebut. Raungan si tentara terdengar, seketika juga langsung ia terkapar, darah memenuhi bajunya.
Ia berjalan mendekati korban ketiga diambil belatinya, lalu menaiki tangga menara sampai dipuncak, ia mengamati keadaan di barak. Korbannya tinggal dua orang lagi. Kedua matanya menyisir tempat seperti elang mencari mangsa. Pandangannya jatuh pada seorang tentara yang sedang mengandeng wanita sambil minum, mereka berjalan memasuki barak, orang tersebut Fredrik. Senyuman mengembang disudut bibir si gadis, busur siap ditarik dan diarahkan ke kepala Fredrik, namun tangannya terhentik saat seseorang menepuk bahunya.
Matanya sontak kaget, ia menurunkan busurnya perlahan, badannya berbalik dengan salah satu kaki memutar menyerang kaki orang tersebut, namun gagal, si lawan lebih gesit. Kemudian si gadia menyerang salah satu lutut kaki lawannya hingga tersungkur. Segera ia lari perlahan, lagi-lagi pundaknya dihentikan oleh orang tersebut, ia berbalik menangkis tangan itu. Tapi kedua tangan orang tersebut mencengkaram pundaknya dan mendorongnya ke tembok, si gadis berusaha menangkis cengkraman, ia menginjak kaki orang tersebut hingga ia meringgis. Gadis itu berusaha berlari tapi kain penutup wajahnya ditarik orang tersebut, membuatnya berbalik sebentar. Terlihat wajah si gadis , orang tersebut langsung menarik tangan gadis itu di tekan ke tembok menara. Kedua matanya saling bertatapan, tubuhnya saling menempel.
" Sri apa yang kau lakukan disini?" ucap Van Berg lirih.
Si gadis tidak berbicara hanya menundukan wajahnya. Hening tiada jawaban, suara sepatu tentara terdengar mendekat ke arah kedua orang itua. Van Berg dengan sigap mendaratkan ciuman kebibir Sri Utami. Si penjaga menara berjalan mendekat ke arah mereka, penjaga menelisik kemudian tersenyum malu.
"Maaf kapten, saya menganggu anda, saya pikir ada penyusup kesini." ujar si penjaga.
Van Berg masih mencium Sri Utami, memberikan tanda dengan tangannya mengibas menyuruhnya pergi. Tentara tersebut sambil tersipu malu langsung berlalu meninggalkannya. Van Berg melepaskan ciumannya. Ia melihat wajah Sri Utami sudah memerah. Van Berg hanya tersenyum melihatnya.
Sri Utami segera mendorong Van Berg tapi Van Berg tidak bergeming masih menepel padanya. Sri Utami menatap Van Berg dengan tatapan tajam. Van Berg melonggarkan tubuhnya Sri Utami pun berjalan hendak pergi. Namun pinggangnya ditarik oleh Van Berg dengan satu tangan, wajah keduanya bertatapan. Van Berg memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Sri Utami. Satu tangan Sri Utami memukul dadanya namun Van Berg tidak melepaskannya, ia malah semakin ganas dan mendorong Sri Utami ke tembok. Sri Utami pun pasrah terdiam tangannya kini memengang lengan kekar tersebut, mulai menikmati kecupan Van Berg.
Dari kejauhan seorang tentara kaget melihat Madelief, datang ke Barak. Tatapan Madelief hanya tertuju pada dua insan yang masih bercumbu diatas Menara. Hatinya bergemuruh melihat pemandangan yang menyakitkan dimalam sebelum pernikahannya.
****
Van Berg mengantarkan Sri Utami kembali ke rumahnya. Sri Utami masih terdiam sepanjang jalan, pikirannya sedang tidak beres memikirkan yang baru saja terjadi. Sampai pekarangan rumah Van Berg menatap Sri Utami. Kemudian membuka suaranya.
" Jangan membalas dendam Sri, kumohon!" ucap Van Berg.
" Aku hanya ingin membuat mereka kapok," jawab Sri Utami masih tertunduk.
Van Berg menghela nafasnya kemudian memeluk Sri Utami, ia membelai rambutnya. Ditatap kedua bola mata wanita tersebut yang menitikan air mata. Van Berg segera mengecup kedua kelopak matanya. Sri Utami menengadah melihat wajah Van Berg yang tersenyum, kemudian mengelus bibir Sri Utami, Van Berg lalu menyambar bibir tersebut yang disambut pula oleh Sri Utami. Cukup lama bagi mereka menuntaskan nafsu bercumbu tersebut. Van Berg melepaskan kecupan tersebut kemudian mengacak rambut Sri Utami dan meninggalkan pekarangan tersebut dengan girang. Sri Utami melihat rumahnya terasa ada sesuatu yang tidak beres.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Kalau suka ceritanya dilike ya.