
Di beranda kantor organisasi Isteri Sedar, sepasang kekasih yang kandas tersebut masih berdiri berhadapan. Tidak ada suara yang keluar, tidak ada senyuman, tidak ada kehangatan seperti biasanya.
"Sri" ucap Van Berg dengan pelan.
Tidak ada jawaban dari Sri Utami, hanya diam seribu bahasa. Mulutnya terasa terkunci untuk sekedar menjawab sapaan Van Berg. Hal tersebut membuat hati Van Berg semakin sakit. Van Berg menyodorkan surat undangan berwarna merah muda. Sri Utami menatap surat tersebut, kemudian mengambilnya.
" Datanglah! walaupun sebentar Sri, setidaknya aku melihatmu terakhir kalinya, karena sekarang aku tidak punya alasan lagi bertemu denganmu." Ucap Van Berg menatapnya.
"Cukup hari ini menjadi terakhir kalinya kita bertemu! jangan menyiksaku dengan permintaanmu tuan." Jawab Sri Utami.
" Sri maafkan aku, tidak bisa memenuhi janji kita. Aku sangat mencintaimu. Tapi aku tidak punya pilihan." ucap Van Berg dengan pilu.
"Iya, aku akan memahami pilihanmu. Kamu punya keluarga yang membutuhkanmu. Kita lupakan perasaan kita mulai sekarang, kau akan menikah dan hiduplah bahagia dengannya. Hormati dia sebagai seorang wanita." ucap Sri Utami
"Iya Sri." jawab Van Berg.
" Aku masih banyak pekerjaan, aku pamit. Terima kasih undangannya dan maaf tidak bisa hadir." ucap Sri Utami sambil membalikan badannya.
Sri Utami meninggalkan Van Berg yang masih mematung. Setiap langkah Sri menjadi luka didalam hati Van Berg. Semuanya menjadi akhir dari hubungan keduanya.
***
Surat Undangan merah muda itu ditatapnya, terukir nama Madelief dan Van Berg. Ia hanya mampu tersenyum kecut. Soendari menghampirinya.
" Sri, aku melihatmu begitu bersedih, apa yang terjadi?" tanya Soendari.
" Tidak ada Soen. Mungkin sedang banyak pikiran, aku berniat melaporkan p*m*rk*s*an terhadap bi Iyem. Tapi aku belum punya buktinya. Bi Iyem juga belum bisa diajak ngobrol." ujar Sri Utami menyembunyikan soal percintaannya.
" Hemm... Aku juga belum bisa membantu untuk urusan tersebut." ucap Soendari dengan sendu.
" Tidak apa Soen." ucap Sri Utami sambil menatap Soendari dengan senyuman.
__ADS_1
Soendari kemudian melihat surat undangan warna merah muda, yang berbahasa Belanda. Soendari mengeryitkan keningnya.
" Sri, kau mendapatkan undangan pernikahan dari orang Belanda?" tanya Soendari.
" Iya, Soen. Tapi aku tidak akan datang sepertinya, aku tidak suka berada dilingkungan para kolonial itu." jawab Sri Utami.
"Hey, Sri! Sesekali tak ada salahnya kita menghadiri undangan mereka. Agar kita tahu budaya mereka juga," ujar Soendari.
Sri Utami mendengar hal tersebut, ia mulai berpikir jika ia menghadirinya. Seketika itu juga pikirannya membayangkan, kehadiran dia disana hanya memanaskan hatinya, ia harus menyaksikan kekasihnya menikahi wanita lain. Hanya membayangkannya saja, terasa sesak didadanya. Sri Utami pun langsung menghempaskan nafasnya dan mengelengkan kepalanya.
" Hey, Sri. Ini kesempatan emas kita bergaul dengan mereka. Kau tau? cara terbaik melumpuhkan musuh adalah dengan menjadikan mereka teman kita, sehingga kita tahu kekurangan mereka." ujar Soendari merajuk Sri Utami.
" Mungkin lain kali Soen. Tapi kali ini aku belum berniat, lagi pula aku tidak terlalu dekat." Ucap Sri Utami.
" Yaaah, kau ini. Kalau kamu malu datang sendirian, aku akan menemanimu Sri." Ucap Soendari tersenyum berbinar-binar kepada Sri Utami.
"Baiklah Soen. Kalau aku sudah memutuskan akan menghadirinya, aku akan mengajakmu." ujar Sri Utami dengan senyuman.
Sri Utami mendapatkan ajakan pulang, ia langsung bangkit dari kursinya. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantor organisasi tersebut. Matahari sudah tergelincir ke arah barat, kini panasnya cukup menghangatkan punggung dua gadis tersebut yang sedang berjalan menuju rumahnya masing-masing.
Sesampainya di pekarangan rumah, Sri Utamj tertegun melihat seorang noni Belanda tengah menunggu kedatangannya. Ujang langsung memberitahukan tamu tersebut sudah menunggu cukup lama. Sri Utami pun hanya menganggukan kepalanya dan berjalan menghampiri tamunya.
" Maaf nona Madelief telah membuat anda menunggu. Jika anda mengabarkan terlebih dahulu kunjungannya ke rumahku, aku tentu akan bergegas pulang." Ucap Sri Utami dengan santun.
Madelief hanya menatap Sri Utami dan topinya dikipaskan kepadanya menunjukan ia merasa kepanasan. Wajahnya sudah menunjukan betapa dia sudah sangat kesal sekali. Sri Utami melijat gelagatnya langsung tersenyum.
" Mari nona masuk, diluar sepertinya panas. Sekalian akan aku buatkan minuman segar." ujar Sri Utami, mempersilahkan masuk.
Madelief tidak lantas duduk, ia masuk mengamati seluruh isi ruangan bagian depan rumah Sri Utami yang sederhana. Lemari setengah potong itu berisi piring-piring cantik. Diatasnya terdapat poto hitam putih keluarga Sri Utami. Pot bunga juga mengisi ruangannya. Disisi yang lain, di isi oleh barisan rak buku yang tersusun rapi. Sedangkan kursi ruang tamu berbentuk L. Madelief masih asyik mengamati ruangan tersebut, Sri Utami datang dengan membawa air kelapa segar dan lapis legit. Madelief melihat tuan rumah sudah datang, dia pun duduk dengan menyilangkan kakinya menunjukan betisnya yang putih.
" Kau tinggal dengan banyak orang disini?" tanya Madelief.
__ADS_1
" Tidak justru aku hanya tinggal dengan 3 orang saja. Tapi sekarang pembantuku sedang sakit jadi hanya ada aku dan Ujang, ibuku sudah tiada, sedangkan bapaku tinggal bersama isteri-isterinya." ucap Sri Utami.
" Oh, begitu. Maaf aku bertanya urusan pribadimu. Hmm... Kedatanganku kesini hanya ingin menunjukan kepadamu, pernikahanku dengan Van Berg tinggal menghitung hari. Aku harap kamu sudah bisa melupakan Van Berg. Tapi aku ingin menghargaimu sebagai wanita yang pernah disukai Van Berg, jadi datanglah ke pesta pernikahanku." ucap Madelief sambil menunjukan senyuman sinisnya.
" Sepenting apa sampai aku harus menghadirinya, nona Madelief?" tanya Sri Utami.
Madelief mendengarkan kalimat yang terucap dari Sri Utami, langsung mendelikan mata, menunjukan ketidaksukaannya.
" Tidak ada yang PENTING darimu bagi Van Berg. Aku ingin mengingatkan kamu, bahwa dia menjadi miliku. Jadi kau harus datang!" ucap Madelief.
" Oh rupanya hanya karena alasan tersebut. Nona Madelief seperti takut saya akan merebut Van Berg. Bagiku mudah saja mengambil Van Berg dari nona, jika saya berniat." Ucap Sri Utami menunjukan senyuman membanggakan dirinya.
Madelief seketika wajahnya langsung berubah masam kepada Sri Utami. Ia segera mengeluarkan gaun berwarna putih polos berendra lengan pendek, panjangnya sejengkal kebawah dari lutut. Motif bunga dipinggangnya, bagian bawah baju tersebut bervolume. Pakaian tersebut disodorkan kepada Sri Utami.
" Datanglah dengan mengunakan gaun ini. Kedatanganmu akan sangat aku hargai Sri!" ujar Madelief sambil menyeruput air kepala yang disuguhkan.
Sri Utami menatap pakaian khas noni Belanda tersebut. Ia tidak pernah mengenakan pakaian model orang Barat. Sri Utami lebih merasa bangga mengunakan kebaya.
" Haruskah aku mengenakan ini?" ujar Sri Utami menunjuk gaun tersebut.
" Tentu saja, Sri. Semua orang mengenakan gaun. Jika kamu mengunakan kebaya. Kamu akan jadi pusat perhatian, dan orang akan berpikir kamu tidak tau cara berpakaian ke pesta, jangan salah orang-orang besar banyak hadir disana! aku cukup berbaik hati padamu membelikan baju" ucap Madelief.
" Terimakasih, Madelief." ucap Sri Utami pelan.
" Baiklah, kalau begitu, aku tunggu kehadiranmu. Aku pamit." ujar Madelief.
Madelief beranjak keluar dari rumah Sri Utami. Keheningan diruangan tersebut membuat Sri Utami tertegun. Ia mulai gelisah haruskah ia hadir atau tidak?
BERSAMBUNG...
Kira-kira pembaca maunya hadir jangan nih?😂😂
__ADS_1
jangan lupa vote like and comment, aku tunggu ya respon kalian. Thank you❤❤❤