
Setelah menyerahnya Nederland tanpa syarat pada Jepang, berakhirlah sudah kekuasaan negara kulit putih di Hindia Belanda. Jepang membentuk pemerintahan militer, pulau Jawa diserahkan dibawah pimpinan Angkatan Darat.
Kedatangan negeri Sakura ke bumi pertiwi menorehkan sejarah kelam yang baru, mengoreskan tetesan-tetesan darah juang rakyat. Semula angin segar yang ditawarkan ternyata hanya bualan belaka, kemerdekaan yang dijanjikan hanya lelucon sang imperialis.
Bumi pertiwi dilanda kekacauan saat pertama kali pijakan kaki sang imperialis dimulai. Perampokan-perampokan terjadi dibeberapa daerah dilakukan oleh penduduk, mereka merampok toko-toko, gudang-gudang dan pabrik-pabrik. Para pegawai pemerintahan tidak mendapatkan gaji mereka terpaksa banting setir bekerja sebagai pencatut.
Perekonomian rakyat sangat terganggu, dibulan Maret, April, hingga Mei tahun 1942 banyak orang-orang yang menjajakan barang bekas dijalanan dikota-kota besar. Rakyat kesulitan mendapatkan bahan-bahan pokok seperti gula dan beras karena harganya meroket naik. Ubi jalar pun menjadi pilihan pengganti makanan pokok. Rakyat lebih banyak yang memakan singkong ketimbang beras.
Pemerintah Jepang awalnya menindak tegas kepada siapapun yang menaikkan harga, mereka yang berani menaikan harga dagangannya dihukum pecut dan dijemur seharian, namun usaha Jepang tidak menghasilkan perubahan yang berarti.
Pemerintah Jepang mengambil tindakan dengan kewajiban rakyat menjual bahan-bahan makanan pada tentara Jepang dengan dalih untuk mempertahankan harga. Namun kebijakan ini semakin memperkeruh keadaan.
Setiap hari koran-koran menyiarkan berita-berita tanah air, Sri Utami hanya bisa menghembuskan nafasnya menghadapi kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil, ditambah lagi semenjak kedatangan Jepang, semua organisasi pergerakan dibubarkan termasuk Isteri Sedar, Sri utami merasa hampa karena organisasi yang sudah mendarah daging itu kini tidak dapat beroperasi lagi.
Sri Utami yang kehidupannya bertumpu pada Nyai Dasimah itu hanya bisa merenggut, dirinya tidak biasa bekerja selama ini, ia hanya berkutat dengan organisasinya, namun kondisi saat ini memaksanya untuk bekerja serabutan. Sri Utami mulai mengeluti pekerjaan menjahitkan pakaian sesuai pesanan, selain itu diwaktu sengangnya Sri Utami jika tidak ada pesanan jahitan ia membuat sabun herbal dan bedak yang kemudian dijajakan dipasar.
"Sri! apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nyai Dasimah yang muncul tiba-tiba digawang pintu.
"Ah, aku hanya merasa miris bu!" ujar Sri Utami sambil menyungginkan senyuman.
Nyai Dasimah akhirnya menghampirinya dan duduk dibangku sebelahnya, gadis yang disampingnya kini sudah beranjak dewasa dan garis kecantikannya semakin mempesona setiap pemuda.
"Sri! apa kau tidak berniat menikah?" tanya Nyai Dasimah memandangnya.
Sri Utami yang mendengar pertanyaan itu hanya membalasnya dengan senyuman, lalu menghembuskan nafasnya dengan bebas.
"Aku pasti menikah, tapi tidak sekarang," balas Sri Utami mengakhiri ucapannya dengan menyunggingkan senyuman.
"Apa kau masih memikirkan pemuda Belanda itu?" tanya Nyai Dasimah menyelidik ke sudut mata Sri Utami.
"Aku selalu merindukannya bu," ujar Sri Utami sambil tertunduk menahan hatinya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Semakin lama kau pun akan semakin tua Sri, pemuda itu mungkin sudag terbunuh," ujar Nyai Dasimah.
"Iya bu, Sri hanya butuh waktu sebentar, Sri juga tidak akan menunggunya lagi, ujar Sri Utami mengatakannya dengan hatinya teriris-iris.
Nyai Dasimah mangut-mangut dan kembali beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan Sri Utami yang kembali bergelut dengan pikirannya. Dirinya sudah mendengar kabar bahwa para orang Belanda dan barat lainnya dimasukan kedalam kamp-kamp oleh Jepang.
Ditengah lamunannya, Sri Utami tersenyum sumringah melihat kedatangan teman lamanya Soendari yang sambil mengendong bayi kecil dipangkuannya.
"Soen?" ujar Sri Utami yang langsung memeluk Soendari.
Sri Utami mengamati bayi kecil yang berada dipangkuan Soendari, ia mengelus pipi tembeb bayi tersebut. Sri Utami langsung mengandeng Soendari masuk ke rumahnya.
"Soen! Selama ini kau kemana saja?" tanya Sri Utami.
" Aku dirumah saja Sri, jadi ibu rumah tangga," jawab Soendari.
Sri Utami segera mengelarkan karpet dan membawa bantal, karena melihat Soendari nampak sudah pegal mengendong bayinya.
"Tidurkan Soen disini!" ujar Sri Utami.
"Sudah tidak ada yang merepotkan," ujar Sri Utami sambil memandangi bayi yang sudah direbahkan di karpet.
"Kau menikah dengan siapa Soen? kenapa tidak mengundangku?" tanya Sri utami masih tersenyum memainkan pipi si bayi.
"Coba kau tebak, Sri!" ujar Soendar sambil tersenyum.
"Siapa?" ujar Sri Utami sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Kang Hardi, Sri!" ujar Soendari sambil tersenyum.
Sri Utami memandang Soendari tidak percaya," Benarkah?" ujar Sri Utami
__ADS_1
Soendari hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya, Sri Utami terdiam ada rasa kecewa, dia tidak mengetahui pernikahan kakak tirinya sama sekali, bahkan Nyai Dasimah tidak pernah membicarakannya.
"Maaf Sri, aku tahu kamu kecewa!"ujar Soendari sambil tertunduk.
"Iya, aku kecewa tidak ada yang memberitahuku!" ujar Sri Utami pelan.
"Kang Hardi sangat menyukaimu, tapi Nyai Dasimah tau kalian sedarah itu perasaan terlarang, jadi kami dinikahkan oleh Nyai Dasimah!" Jelas Soendari.
"Aku tidak apa-apa kau menikahi kang Hardi, tapi kenapa hanya aku yang tidak tahu ini Soen!" lirih Sri Utami sambil meneteskan bulir bulir air dipelupuk matanya.
"Maaf Sri!" ujar Soendari memeluk Sri Utami.
Mereka pun menanggis bersama dalam pelukan, sudah lebih dari tujuh tahun tidak bertemu ada kerindukan, kemarahan, dan kekecewaan yang dilampiaskan oleh dua sahabat ini. Hingga akhirnya suasana menjadi cair lagi setelah mereka merubah topik pembicaraan.
" Sri, aku sangat miris melihat orang-orang Belanda, Arab, China saat ini!" ujar Soendari sambil menyusui bayinya.
"Hemm, mungkin itu yang dinamakan karma Soen, mereka harus mendekam di kamp interniran, aku pikir juga terlalu kejam Jepang ini. Tapi apalah daya, kita juga bukankah sama saja ditindas!" ujar Sri Utami.
"Iya, Sri. Para pemuda tidak boleh bicara pakai bahasa Belanda, para bruder dimasukan ke kamp-kamp. Lebih parahnya semua orang harus berpenampilan seperti Jepang," timpal Soendari.
"Iya, mereka bilang nippon cahaya asia, nippon pemimpin asia, nippon pelindung asia, bukahkan begitu?," ujar Sri Utami yang keduanya sambil cekikikan.
"Hus, hati-hati kalau keciduk bisa-bisa kita ditebas oleh samurai tentara nippon!" ujar Soendari yang masih menyunggingkan senyuman.
****
Kondisi awal pendudukan Jepang menjadi jurang kesakitan bagi orang-orang barat terutama orang Belanda. Mereka yang tidak sempat melarikan diri kembali ke tanah airnya, terpaksa harus menjalani kehidupan pahit, dan menghadapi perlakuan tidak senonoh dari tentara Jepang. Tidak sedikit orang - orang kaya Belanda yang diseret ke kamp-kamp tahanan, harta bendanya digasak habis, para gadis dan perempuan Belanda mendapatkan pelecehan.
Ruangan yang pengap dan bau belum lagi pencahayaan yang kurang, para tentara Belanda berada didalam tahanan tersebut. Mereka menjadi tawanan perang Jepang. Setiap hari mereka dipaksa untuk bekerja membangun jalan kereta api.
Pemuda Belanda yang garis-garis ketampanannya masih terukir duduk termenung dipojokan ruangan, ia mengamati buku yang membawa kenangan dengan gadis pujaannya Sri Utami. Bayangan senyuman gadis tersebut masih teringat, hangatnya sentuhan Sri Utami saat melepaskan kepergiannya masig tergambar jelas di benaknya.
__ADS_1
"Sri! aku merindukanmu!" ujar Van Berg tertunduk.
BERSAMBUNG...