
Halo reader ini bagian khusus 21+ mohon bijak ya, penulis tidak akan bertanggungjawab untuk hal-hal yang tidak diinginkan setelah membaca part ini 😂😂😂.
Mohon saran, kritikan dan komentarnya dan jangan lupa di like ya..
Selamat membaca...
_________&&________
Api masih membakar gudang mesiu, bau menyengat tercium. Para tentara RI di markasnya bersorak, lalu mengheningkan cipta mengingat gudang mesiu meledak bersama sang tentara RI dari laskar benteng barisan RI.
Sri Utami dan Ryosuke masih hening, tak ada sapaan hangat melepaskan rindu. Ryosuke menjauhkan badannya dari Sri Utami. Gadis dihadapannya masih terlihat kebingungan.
Ryosuke lalu meraih tangan Sri Utami dan mengajaknya berjalan menjauh dari tempat yang terbakar tersebut. Degup jantung Ryosuke berdetak begitu cepat melebihi kecepatan langkah kakinya.
"Ryosuke!" suara Sri Utami keluar ditengah perjalanan.
Ryosuke berhenti langkah kakinya, jantungnya semakin berdebar, entah untuk satu wanita ini begitu lemah hatinya. Ryosuke membalikkan badannya langsung menghambur memeluk Sri Utami begitu erat.
Ryosuke menenggelamkan kepalanya diceruk leher Sri Utami, menyalurkan kehangatan hatinya yang sudah begitu rindu akan kekasih hati. Sri Utami menghela nafasnya, senyuman tipis tersunging, tangannya perlahan membalas pelukan Ryosuke.
Jangan lupakan sepasang mata yang awalnya berlari menyelamatkan diri, terhenti melihat seseorang yang dikenalinya berada dihadapannya dengan seorang lelaki.
"SRI!"Teriak Van Berg dengan mata menyala-nyala terbakar api cemburu.
Sri Utami terkejut langsung menguraikan pelukannya dan membalikan badannya kearah sumber suara. Matanya tidak kalah terlonjak, niat hati kabur darinya ternyata malah bertemu dengannya disini.
Sri Utami mencengkram kuat lengan Ryosuke yang berada disampingnya, Ryosuke keheranan melihat Sri Utami yang terlihat ketakutan. Saat Van Berg berjalan semakin mendekat ke arah mereka berdua. Ryosuke memperhatikan Van Berg yang belum dikenalnya.
Apa ini lelaki yang bernama Van Berg? Tapi kenapa Sri terlihat takut?" pikir Ryosuke mengamati Van Berg.
Tatapan dingin Van Berg tertuju pada Sri Utami yang sudah tertunduk menatap tanah merah yang dipijaknya. Lalu tatapan Van Berg beralih pada Ryosuke dengan perasaan tidak suka. Kedua lelaki itu saling berpandangan dengan aura dingin dari sorot matanya.
"Saya Ryosuke!" kenal Ryosuke datar pada Van Berg.
"Aku tahu!" jawab Van Berg singkat dan dingin.
"Sri pulang!" lanjut Van Berg dingin beralih menatap tajam Sri Utami yang menunduk semakin dalam
"Aku tidak mau pulang Van Berg! Kita akhiri pernikahan kita!" ujar Sri Utami sambil menunduk.
"Apa maksudmu?" ujar Van Berg memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Sri akan ikut denganku!" jawab Ryosuke menatap Van Berg, Sri Utami mendongkakkan kepalanya menatap rahang tegas Ryosuke yang sedang serius.
Rahang Van Berg langsung mengeras disertai tanganya mengepal, tatapan tajam seperti menyalurkan aliran listrik menyetrum setiap jiwa yang menerimanya. Sri Utami dengan takut-takut menatap Van Berg.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi! kamu selamanya milikku!" tandas Van Berg beralih menatap Sri Utami.
"Van Berg cukup sampai disini, hubungan kita berakhir!" bantah Sri Utami.
"Tidak!" bantah Van Berg dengan nada tinggi dan dingin.
"Van Ber_" ucap Sri Utami terpotong karena Van Berg menyeret tanganya.
Ryosuke menahan tangan Sri Utami yang hendak dibawa pergi Van Berg secara paksa.
"Jangan memaksanya!" bentak Ryosuke menatap marah pada Van berg.
"Siapa kamu! aku suaminya! Aku punya hak atas dirinya!" ujar Van Berg.
Ryosuke terdiam tersadar siapa dirinya, tapi dia tidak mau Sri Utami pergi dari sisinya.
"Sri tidak mau pergi dengan mu!" jawab Ryosuke.
"Aku tidak peduli!" jawab Van Berg langsung merebut kedua tangan Sri Utami dan memanggulnya seperti membawa karung goni.
"Van Berg kamu membunuhnya!" teriak pSri Utami memukul-mukul punggung Van Berg.
Van Berg tidak memperdulikan teriakan berontakan dari Sri Utami, langkah kakinya semakin cepat, amarahnya sudah berada dipuncak ubun-ubunnya.
Van Berg membawa Sri Utami dengan mobil truk tentara menuju hotel di Bandung Utara yang merupakan markas sekutu. Sri Utami kembali dipanggul seperti karung goni, semua tentara yang melihat hanya menatap sekilas dan kembali pada aktivitasnya.
"Kapten Van Berg siang-siang sudah tidak tahan!" celetuk seorang tentara dalam bahasa Belanda, yang disambut gelak tawa tentara sekutu yang lainnya.
Van Berg melemparkan Sri Utami ke atas ranjang kasur, Sri Utami terkejut berada diatas ranjang empuk. Van Berg langsung naik ke atas ranjang dan menindih Sri Utami.
Srek
"Van Berg!" jerit Sri Utami saat Van Berg merobek kebayanya.
Tangan Sri Utami menutupi tubuh bagian atas yang terekspos. Ketakutan merasuk ke dalam dirinya, saat Van Berg yang dipenuhi emosi semakin merobek hancur pakaiannya. Sri Utami semakin beringsut sibuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa? kamu tidak mau melayani suamimu? tapi kamu mau melayani lelaki lain? " tanya Van Berg dingin sambil mengejek.
__ADS_1
Sri Utami terdiam menatap mata Van Berg yang sudah gelap mata, aura kemarahan memenuhi tatapannya. Sri Utami merasa kecewa dengan sikap Van Berg.
Sikap diam Sri Utami dimanfaatkan Van Berg menyerbu bibir merah Sri Utami. Kedua tangan Sri Utami dicengkram diatas kepalanya dengan satu tangan. Ciuman Van Berg sangat kasar, dari bibir turun ke leher dan memberikan tanda-tanda hasratnya yang membara.
Pakaian Van Berg entah kapan sudah tidak berada ditubuhnya lagi, kini keduanya polos, Van Berg menarik selimut menutup tubuh polos itu dan memulai aksi heroik seorang lelaki perkasa menguasai seorang wanita.
Sri Utami menahan rasa sakit dibagian mahkota terpenting yang pertama dikorbankan untuk Van Berg. Sri Utami mengigit bibir bawahnya, seketika Van Berg terhenti dari nafsu syahwatnya melihat buliran air mata keluar dari sudut mata Sri Utami.
Ada hal yang disesali Van Berg, dia merasa sudah meruda paksa Sri Utami yang menjaga kesuciannya, Van Berg mengecup kedua mata Sri Utami dengan lembut, kemudian menciumnya lembut dibibir Sri Utami hingga terbuai dan melupakan rasa sakit.
Ranjang kembali berderit, disertai suara-suara manja keluar, selimut itu bergoyangan dengan hebat. Keduanya dipenuhi nafsu birahi yang membara. Sekitar satu jam terlewati untuk aksi panas.
Keduanya sudah dipenuhi peluh kenikmatan, Van Berg yang berada diatas Sri Utami berguling ke sampingnya, keduanya mengatur nafasnya. Sri Utami memunggungi Van berg, ada rasa ketidaknyaman dalam dirinya setelah melakukan aktivitas tersebut.
Punggung putih polos itu ditatapnya, Van Berg menghela nafasnya kasar, Van Berg beringsut memeluk Sri Utami dari belakang, dan mengecup punggung polos Sri Utami dan ceruk leher putih yang sudah penuh dengan kemerahan.
Van Berg melingkarkan tanganya di perut Sri Utami, nafasnya berhembus memenuhi leher Sri Utami.
"Maaf!" suara serak Van Berg di belakang punggung Sri Utami.
"Jangan pergi dariku," lirih Van Berg sambil mengeratkan pelukannya.
Sri Utami masih terdiam tidak menyahuti perkataan Van Berg, merasa Sri Utami mendiamkannya, Van Berg memberanikan diri membalikan badan Sri Utami menghadapnya.
"Aku menginginkannya lagi!" ujar Van Berg dengan serius menatap netra Sri Utami.
Seketika Sri Utami tercekat wajahnya menatap tidak percaya pada Van Berg dengan yang barusan dikatakannya. Van Berg terkekeh melihat ekspresi Sri Utami.
"Tidak apa kalau tidak mau," ujar Van Berg sambil merangkul badan Sri Utami bersandar didadanya yang polos.
Detak jantung Van Berg masih berdetak begitu merasakan kedekatan yang intim dengan Sri Utami. Rasa cinta itu masih berdetak sama seperti dulu hanya keadaan membuat rasa itu seolah berubah.
"Aku... " Sri Utami membuka suaranya.
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...