Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Terperangkap


__ADS_3

Sri Utami terbaring dikasur putih itu, tangannya di infus. Suara kicauan burung membangunkannya. perlahan matanya terbuka mengamati sekelilingnya, dia tidak mengenal tempat tersebut. Dia hanya mengingat terakhir kalinya dia dihalaman barak bersama Van Berg. Sontak Sri Utami langsung bangkit. Namun seorang wanita berpakaian noni Belanda memasuki ruangan dengan senyuman kecutnya. Berbicara dengan mengunakan bahasa Belanda.


" Nona Inlanders sudah siuman? bagaimana rasanya tertidur berhari-hari. Andai saja ayahku tidak membawamu mungkin kau akan jadi makanan anjing-anjing tentara!" Ucap Madelief sambil tersenyum sinis dan tangannya terlipat didadanya.


Sri Utami dapat menangkap kesombongan wanita Belanda tersebut, dan mendengar pangilan Inlander terhadapnya cukup membuat panas hatinya. Ia memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Ia membalas berbicara mengunakan bahasa Belanda.


" Dimana Van Berg? Bagaimana keadaanya?" ucap Sri Utami dengan mata berkaca-kaca.


Madelief terkejut mendengar Sri Utami fasih bahasa Belanda mulutnya ditutupi oleh tangannya. Dia berpikir wanita tersebut bodoh dan lugu. Tapi, Madelief masih berusaha tetap menyombongkan dirinya.


" Apa hubunganmu dengan Van Berg?" tanyanya.


" Dia kekasihku." jawab Sri singkat.


" Apa kau yakin? mana mungkin seorang Van Berg menyukai wanita lokal yang udik sepertimu? kau mungkin sedang bermimpi nona Inlander!" intimidasi Madelief.


" Aku tidak butuh pendapatmu tentang hubunganku dengan Van Berg, kau bisa menanyakan langsung padanya." jawab Sri Utami.


" Ha..HA..HAa.. Dasar Wanita Gila! berani menyombongkan diri dihadapanku!" jawab Madelief.


Madelief pun meninggalkan ruangan tersebut, dan berganti seorang perawat masuk dan memeriksa keadaab Sri Utami. Dengan bahasa Belanda Sri Utami menanyakan keadaan Van Berg kepada perawat tersebut.


" Suster, apakah ada seorang pria Belanda bernama Van Berg dirawat disini juga?" tanya Sri Utami.


" Iya, tentu nona, pemuda itu sampai sekarang belum siuman, tapi dia sering mengigau menyebut nama Sri." jawab Suster Belanda tersebut, Sri merasa tenang mendengar hal tersebut.


" Dimana ruangannya suster?" tanya Sri Utami.


" Anda belum boleh kesana, ada harus pulih dahulu." jawab Suster.


Sri Utami pun tertegun, melihat dirinya juga sangat lemah. Tapi dalam hatinya ia bersyukur Van Berg masih selamat.


****


Berhari-hari Sri Utami dirawat di rumah sakit tersebut, hingga akhirnya dia sembuh dan diperbolehkan pulang. Saat hendak pulang lelaki berseragam tentara membawanya masuk ke dalam mobil. Sri yang hendak menjenguk Van Berg gagal. Mobil meluncur memasuki rumah putih bergaya Belanda. Sri Utami sudah disambut oleh seorang lelaki umur 50 an tapi badannya masih sehat, ia berseragam tentara dan sudah berbintang banyak. Sri masih bingung dengan situasi yang aneh. Ia segera digiring masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Dirumah tersebut dia melihat foto keluarga. Lelaki itu langsung menjelaskan foto tersebut sambil mengelus punggung Sri Utami genit. Sri segera menepisnya.


" Nona Sri, ini keluargaku. Ini isteriku darinya aku memiliki dua anak putra puteri dan ini isteri keduaku orang Jawa, darinya aku punya anak lelaki." Jawab Komandan Jenderal tersebut.

__ADS_1


Masih berusaha memegang rambut Sri Utami yang tergerai, namun Sri segera menghindarnya. Ia merasa risih.


" Hmm.. Sri kau belum bersuami kan?" tanya Komandan Jenderal yang dibalas Sri dengan tatapan tajam.


"HAHAHAHA... Kau wanita galak, aku semakin tertarik." Ucap Komandan Jenderal sambil mencolek dagu Sri Utami.


Kemudian Madelief datang masuk bersama Van Berg, Sri Utami melihat kedatangan Van Berg langsung terpancar kebahagiaannya. Ia hendak menghambur ke arahnya, tapi diurungkan karena Madelief mengandeng Van Berg dengan erat sambil tersenyum penuh kemenangan. Van Berg melihat Sri Utami tersenyum. Komandan Jenderal kemudian menyuruh semuanya duduk.


" Begini Van Berg, aku sudah menerima surat mutasimu, dan aku akan mengabulkannya." ucap Komandan Jenderal.


Sri Utami dan Van Berg matanya langsung berbinar-binar, karena itu sesuai dengan rencana Van Berg yang akan membawa Sri Utami pergi jauh dari kota Kembang.


" Tapi nanti setelah kau menikah dengan puteriku Madelief." Lanjut Komandan Jenderal.


Sri Utami dan Van Berg langsung terkejut dan saling bertatapan, mereka tidak terima.


"Maaf Jenderal saya tidak dapat menikahi Madelief, saya hendak menikah dengan Sri." jawab Van Berg tegas.


" Kau berani menentangku Van Berg!" Jenderal mulai marah.


BRAK! meja digebrak oleh Jenderal menyebabkan semuanya terkejut.


" Baik.. Baik Van Berg, kalau begitu kau akan dilepaskan jabatannya, kau aku pulangkan ke Belanda dengan tidak hormat. Kau juga harus membayar kerugian terbunuhnya bawahanmu oleh serangan di Barak! Dan jaminan kehidupan keluargamu aku cabut! Apa kau masih tidak akan menurutiku?" ancam Jenderal.


Van Berg termenung mendengar ancaman dari Jenderalnya yang sangat memberatkan. Jenderal kemudian membawa sepucuk surat dan diserahkan kepada Van Berg. Surat itu ternyata berisi permintaan orang tuanya untuk menikahi Madelief agar hutang-hutangnya segera terlunasi. Van Berg menghela nafasnya.


" Bagaimana Van Berg?" tanya Jenderal.


Sri Utami menatap Van Berg dengan gelisah, tidak tenang. Sedangkan Madelief tersenyum bahagia melihat situasi yang akan menguntungkannya.


" Ah.. Dan kau Sri, kau akan menjadi Isteriku!" ucap Jenderal.


" TIDAK! saya tidak mau jadi gundik anda tuan, kenapa saya harus mengikuti keinginan tuan, anda senaknya mengatur-atur pernikahan," sanggah Sri dengan emosi.


" DASAR INLANDERS! teriak Jenderal ia sudah naik pitam.


PLAK! tamparan keras mendarat dipipi Jenderal. Sri lebih dulu menampar Jenderal, dia sudah merasa kesal karena dipanggil Inlander terus. Semua yang melihat langsung kaget, Madelief bangkit hendak melayangkan tamparan ke arah Sri, namun tangannya dicengkram oleh Van Berg. Sri Utami menatap tajam pada Madelief.

__ADS_1


Kemudian Jenderal menjambak rambut Sri Utami sehingga meringgis, rambutnya serasa mau copot dari kepalanya, disertai tamparan keras menghantam pipi Sri Utami. Seorang pemuda campuran menuruni tangga.


" AYAH!" Pemuda itu berteriak.


Ia berlari dan melepaskan tangan ayahnya yang menjambak Sri Utami. Pemuda itu marah dan mencengkram tangan ayahnya sendiri sehingga berhenti menampar Sri Utami.


" Apa begini cara ayah berperilaku kepada wanita? LIHAT MADELIEF! dia juga wanita, apa ayah tidak kasihan jika dia dikasarin oleh orang lain." Teriak pemuda tersebut.


" DASAR sama-sama turunan Inlander! Syaqil!" bentak Jenderal.


Suasana diruang tamu menjadi panas, detak jantung saling memburu penuh emosi. Van Berg merasa tak enak hati menghadapi situasi tersebut.


" Baiklah Jenderal, saya akan menikahi Madelief. Tapi bebaskan Sri, biarkan dia menjalani hidupnya. Jangan libatkan dia dalam perkara ini." ucap Van Berg sambil hatinya bergetar disetiap kata yang di ucapkannya.


Sri Utami menatap Van Berg penuh tidak percaya dengan keputusan yang diambilnya. Ia tidak kuasa menahan air matanya.


" Tuan Van Berg a...a...an...da akan meninggalkan saya?" tanya Sri dengan menguraikan air matanya.


Van Berg hanya mematung tidak menatap Sri Utami, sedangkan Madelief langsung berbinar ia memeluk Van Berg.


" Terimakasih tuan, saya akan menjadi isteri yang baik untuk anda." kata Madelief.


Van Berg melirik ke arah Madelief dan membalas pelukannya kemudian menyungingkan senyuman. Sri Utami menatapnya semakin teriris hatinya.


" Pergilah Sri! Hiduplah dengan baik dengan lelaki yang mencintaimu! dan kau harus berjuang untuk negaramu! lagi pula kita punya arah perjuangan yang berbeda." ucap Van Berg tanpa melihat Sri Utami.


" Van Berg!" ucap Sri.


Hiks Hiks Hiks Sri tidak dapat melanjutkan kata-katanya ia hanya menguraikan air matanya. Sri terus menatap Van Berg yang terbenam dalam pelukan Madelief. Sri Utami pun melangkah menghampiri Van Berg.


" Jika itu keputusanmu, aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi! Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, aku membencimu sangat membencimu!" ucap Sri Utami.


" Aku akan bahagia dengan keputusanku, dan kau pun akan bahagia." ucap Van Berg masih merangkul Madelief.


Mata Sri utami sudah panas melihat Van Berg merangkul Madelief. Ia berjalan keluar dari rumah itu dengan hati yang hampa, air matanya terus menetes seiring langkah kakinya. Hatinya terlalu sakit diputuskan dengan cara yang sangat menyakitkan. Kepalanya sekali lagi menengok ke dalam rumah itu, ia memergoki mata Van Berg mengamatinya tapi kemudian dipalingkan. Sri Utami berjalan kembali keluar dari gerbang rumah tentara tersebut.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2