Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Usaha merebut kembali


__ADS_3

🔥🔥Happy Reading🔥🔥


Setelah diledakannya gedung mesiu oleh Muhammad Toha pada 24 Maret 1946. Bandung telah berubah menjadi lautan api, seorang wartawan bernama Atje Bastaman yang menyaksikan diatas gunung leutik pameungpeuk Garut, bandung memerah.


Semangat perjuangan tidak pernah surut meski darah putera pertiwi menjadi taruhannya. Mati satu tumbuh seribu, perjuangan tidak berhenti hanya karena gugurnya satu pahlawan, gugur bukan berarti mati perjuangan tapi justru awal semangat bangkit merebut kemerdekaan.


TKR dan Para pejuang


" Bung, kita sudah mengikuti perintah kolonel mundur dari kota Bandung, apa kita akan diam saja! sekarang mereka dengan pongah menginjak-injak harga diri kita!" Deru emosi seorang pejuang.


"Sabar bung! Jangan bertindak gegabah!"


" Iya sekali kita ambil keputusan jangan sampai membahayakan banyak nyawa melayang!"


"Sekarang kita sudah menghancurkan tempat-tempat penting, pasti sekutu dan NICA tidak akan bisa memanfaatkan gedung-gedung! Usulku sebaiknya kita serang mereka sekarang!" Usul Rahman.


"Iya, betul mereka pasti tidak menyangka jika kita melakukan serangan setelah menghancurkan gudang mereka! Dan ini kesempatan bagus!" Dukung Ryosuke yang sudah siuman dan menyenderkan badannya.


"Hmm... Kita lakukan perang geriliya! Karena ini cara yang terbaik untuk dilakukan!" Seru anggota TKR.


"Siap Komandan!"


" Segera bersiap!"


Para pejuang dan TKR bersiap menyiapkan senjata dan mulai menyebar berjalan mengendap-mengendap mendekati tempat musuh. Tepat 25 Maret 1946 para pejuang kembali melakukan serangan gerilya ke pihak sekutu dan NICA di daerah selatan Bandung.


[ini hanya ilustrasi persiapan melakukan perang geriliya]


Di hotel Bandung Utara


Sri Utami dan Van Berg telah menghabiskan malam panjang lagi. Semua kerinduan yang sudah ditahan bertahun-tahun membuat Van Berg terus ingin berdekatan dengan Sri Utami. Masih diatas peraduan dan Sri Utami menyeder di dada polos Van Berg.


"Hari ini kita pulang ke rumah"


"Aku tidak sudi terus bertemu Madelief! Aku ingin bertemu ibu!"


"Sri!"


"Iya! Kalau kamu memaksa, aku juga tetap tidak akan pulang! Usir Madelief dari rumahku atau aku ke Rawagede?"


"Shit! Shit! I dont like it! Dont give me choice!" [ Sial! aku tidak suka itu! Jangan berikan aku pilihan!].


Sri Utami menjauhkan tubuhnya dari Van Berg yang menatapnya kesal. Dia bangkit dari kasur dan langsung meninggalkan Sri Utami begitu saja.


"Huh!" Sri Utami menghela nafasnya. Dia perlahan keluar dari balik selimut dan membersihkan badannya.


Tidak lama Sri Utami kembali ke kamar dengan mengenakan handuk, diatas ranjangnya sudah ada kebaya. Itu pasti Van Berg yang menyediakannya. Sri Utami langsung mengenakan kembali pakaian kebaya dan menyangul rapi rambutnya.


Van Berg kembali masuk ke kamarnya dan bersender ditembok menatap pada Sri Utami yang duduk depan meja rias.


"Follow me!" Suara Van Berg terdengar dingin, Sri Utami menoleh dan berdiri mendekati suaminya. " Where? Kamu akan membawaku kemana?" Tanya Sri Utami sambil menatap manik-manik yang meneduhkan.


Tidak ada jawaban dari Van Berg, tapi dia segera menarik tangan Sri Utami paksa, dan menyeret keluar kamar menuju mobil, Van Berg mendudukan Sri Utami di kursi depan mobil dan dia segera mengemudi dengan kecepatan tinggi, hampir membuat Sri Utami sulit bernafas. Beberapa saat kemudian mobil berhenti dipekarangan rumah yang tidak asing bagi Sri Utami.


"Aku tidak suka dipaksa seperti ini Van berg!" Bentak Sri Utami.


"Please! Sri tolong pahami keadaanku saat ini!" timpal Van Berg tidak kalah bernada tinggi.


"Kamu juga harus memahamiku Van Berg!"


"Shut up!"


Terlihat Van Berg emosinya sudah diujung tanduk, Sri Utami kesal juga. Van Berg membuka pintu mobil dan mengendong Sri Utami ala karung goni. Madelief yang menyaksikan pertengkaran diam-diam tersenyum.


"TURUNKAN AKU VAN BERG! KAMU EGOIS!" Sri Utami meronta-ronta saat Van Berg membawanya masuk ke rumah lalu membanting Sri Utami ke atas ranjang.

__ADS_1


Brak


Sri Utami terkapar diatas ranjangnya, dan Van Berg bertolak pinggang menatapnya nanar. Sri Utami langsung bangkit terduduk diatas kasurnya.


"Aku tidak suka diperlakukan kasar Van Berg!" Suara Sri Utami mulai melembut.


"Jangan coba kabur! Aku ada rapat!"


Van Berg berbalik badan keluar dari kamar Sri Utami dan menutup kembali pintunya. Madelief membuntuti Van Berg yang hendak pergi.


" Van Berg, you dont eat lunch?" [ Kamu tidak makan siang? ]


"No!"


" Where are you go?" [ Kemana kamu akan pergi]


" Markas! Aku tidak akan pulang malam ini! Tentara Indonesia menyerang pasukan kita dan sekutu!"


Setelah menyelesaikan perkataan tersebut Van Berg bergegas pergi meninggalkan Madelief yang masih berdiri menatap punggung suaminya. Dan malam itu hanya ada tiga wanita dirumah itu yang hidup tidak rukun.


"Kemana saja kemarin?" Ketus Madelief.


"Di hotel bersama Van Berg!" Jawab Sri Utami sambil melirik ekspresi Madelief.


"Ka-kamu!" Bentak Madelief.


"Aku sudah selesai makan, saya permisi" Kata Sri Utami meninggalkan Madelief yang masih menahan emosinya.


>>>>>>>>


Van Berg dan para tentara sekutu maupun NICA saat ini sedang merumuskan persiapan memberikan serangan balik terhadap tentara Indonesia. Peta wilayah mereka bentangkan diatas meja dilingkari para jenderal, mereka bersiap untuk melakukan penyerangan.


"Dayeuhkolot, itu markas TKR!"


"Kita serang dititik pusatnya dengan meriam gunung!"


Surat kabar beredar luas dimasyarakat, peristiwa bandung lautan api menjadi bentuk pengorbanan rakyat Bandung. Dari sinilah mulai mengema dikalangan masyarakat dan para pejuang lagu 'halo-halo Bandung'.


Halo halo Bandung


Kota kenang-kenangan


Sudah kama beta


tidak berjumpa dengan kau


Sekarang telah menjadi lautan api


Mari bung rebut kembali


Rapunzel anak sematang wayang Van Berg dengan Madelief tengah asyik menyanyikan lagu tersebut yang justru itu lagu kebanggaan bangsa Indonesia. Sri Utami yang membaca koran di ruang tengah hanya tersenyum melihat Rafunzel menyanyikan lagu tersebut.


" Rafunzel, stop! Jangan bernyanyi lagu inlander!"


Bentak Madelif yang entah sejak kapan sudah ada di ruang tengah.


" No, mom! Aku suka lagu ini!"


" No! Kita orang tidak boleh menyanyikan lagu macam itu!"


"Huh!"


Rafunzel terlihat kesal dan membawa bonekanya masuk ke kamarnya, Sri Utami hanya mengelengkan kepalanya, dia kembali membaca koran.


"Segitu saja sudah senang!" Ejek Madelief.

__ADS_1


Sri Utami pura-pura tidak mendengar ejekan Madelief dia sibuk membaca bolak-balik halaman koran. Karena tidak ada respon dari Sri Utami, Madelief modar-mandir melirik keluar rumah menanti kepulangan Van Berg.


>>>>>>>>


27 Maret 1946 Pasukan sekutu sudah menyiapkan meriam gunung di Dayeuhkolot. Sebuah meriam pun di luncurkan. Terdengarlah bunyi.


PLUSIING!!


BOOM!!


DUAR!!


BOOM!!


DUAR!!


Sebuah meriam gunung diluncurkan dari Dayeuhkolot menuju ke selatan, oleh pihak tentara sekutu. Ketar ketir pasukan pejuang menyelamatkan diri dari serangan pasukan sekutu.


" AWAS MERUNDUK!" Pekik tentara pejuang.


Semua tentara pejuang terlihat merunduk dan mulai mencari aman. Hantaman meriam terus dilontarkan oleh pihak sekutu.


" Mereka pasti ketakutan!" Ejek Tentara sekutu


" Hahahahha" serempak tertawa menyaksikan api mengepul dilangit.


Disisi lain Rahman berlari ke arah markas, sementara bom meriam terus mengikutinya. Ryosuke masih belum keluar dari Markas.


" Rahman AWAS!" Pekik seorang laksar Hizbullah.


DUAR!!


CRAT!!


Rahman memegang kakinya yang terkena sedikit hantaman bom, darah mengalir deras, dia meringgis menyeret kakinya menuju pintu markas.


Seorang pejuang berlari menyeret Rahman.


" Sudah Rahman! Ini sangat berbahaya!" Bentaknya.


" Disana Ryosuke! Kita harus membawanya!"


" Biarkan dulu Rahman! Sekarang kita harus selamatkan nyawa kita dulu!" Tegasnya.


"Kau Egois Bung! Seorang pejuang tidak egois!"


Plussing!!!!


Duar!!!!


Bom meriam menghantam markas tempat berkumpul. Api membakar tempat tersebut. Rahman hanya bisa menelan ludahnya, matanya membelalak.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Gengs tinggalkan jejaknya ya like komentar rate and Vote! Haturnuhun....


__ADS_2