
Saat langkah kaki Jenderal semakin dekat pada Sri Utami, tiba-tiba saja datang seorang bawahan menghadap padanya.
" Lapor maaf Jenderal! Ada tamu ingin bertemu dengan anda sekarang!"
" Aarghh!! Mengganggu saja!! Andai saja saya Jenderal Nazi sudah ku penggal kepalamu!" Kesalnya sambil berbalik dan kembali mengancingkan bajunya.
Setelah kepergian mereka, Sri Utami pun merangkak meraih kebayanya yang sudah koyak. Perlahan dia memakainya ditubuhnya, cahaya diwajahnya nampak redup, dunianya sudah hilang.
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki pelan mendekati ruangan tempat dirinya di kurung.Tatapan kosong menatap pada wajah gadis yang lemah terkulai dilantai kotor dan dingin itu. Sungguh hatinya teriris berkeping-keping.
Aarrghhhhhh
Van Berg memukul tembok itu, membuat Sri Utami seketika melirik ke arah tembok dekat pintu. Senyumannya terukir, secercah harapan hadir dengan kedatang Van Berg saat ini.
" Van Berg!" Ucapnya pelan.
Secara paksa Van Berg menghapus air matanya, dia berjalan ke arah Sri Utami yang terduduk lemas dengan pakaian koyak. Van Berg menatap seluruh tubuh Sri Utami yang penuh dengan luka-luka, dia segera melepaskan bajunya dan memakaikannya ditubuh Sri Utami.
"Aku ingin pulang" Ucap Sri Utami.
"Kita akan pulang!" Kata Van Berg sambil mengangkat tubuh Sri Utami dan mengendongnya dengan gaya bridal.
Sambil mengendongnya, Van Berg dipenuhi perang batin, untuk bisa menyelamatkan Sri Utami dia harus merelakan Sri Utami jauh dari kehidupannya agar tidak di usik lagi oleh Jenderal.
Semua tentara menatap ke arah Van Berg yang mengendong Sri Utami dari penyekapan. Tapi satu pun tidak ada yang bisa mencegah Van Berg membawa Sri Utami, disamping itu saat ini Jenderal sedang bersiap pergi Jakarta, untuk menantikan keputusan mengenai tanah Hindia Belanda. Sehingga tidak ada yang bisa menganggunya dengan urusan sepele.
"Sorry kapitein, u kunt er niet tegen! Dan zal de generaal boos zijn (Maaf Kapten! Anda tidak boleh membawanya! Nanti Jenderal Marah)" Kata seorang bawahannya menghadang Van Berg.
"ga uit de weg" ( Menyingkirlah). Balas Van Berg dengan tatapan dingin dan tajam menusuk.
Satu bataliyon pun langsung memberikan jalan, dan Van Berg dengan tenangnya membawa Sri Utami ke delman dan mendudukannya. Tatapannya penuh rasa pilu melihat sang wanita tercintanya. Dia mengelus pipi dan bibir Sri Utami yang terluka.
" Pergilah Sri! Temui ibumu!" Ucap Van Berg dengan mata berkaca-kaca, diakhiri kecupan dikening. Mungkin inilah kecupan terakhir dari Van Berg sebagai suami kepada Sri Utami.
__ADS_1
" Van Berg.." Kata Sri Utami mengengam tangan Van Verg.
"Kusir akan membawamu ke tempat ibumu! Pimpinlah bangsamu untuk melawan bangsaku yang biadab!" Ucap Van Berg sambil menangkup wajah mungil isterinya.
" Van Berg.. Dank U"
" Kau benci Belanda, jangan pakai bahasa belanda Isteriku!" Ucap Van Berg sambil mengelus kepala Sri Utami, dia tidak ingin melewatkan apapun untuk terakhir kalinya.
"ik hou van je" ( aku mencintaimu) Ucap Sri Utami sambil berlinang air mata.
"ik ook! ( aku juga) sangat! Maafkan aku tidak menjadi suami yang baik untukmu!" Ucap Van Berg.
Sri Utami menyadari memang Van Berg begitu kasar, begitu banyak memberikan rasa sakit, tapi jauh dilubuk hatinya, Van Berg tidak sepenuhnya ingin menyakitinya. Sri Utami memeluk Van Berg dan menanggis, setelah itu dia mengecup pipi suaminya. Lalu Delman pun beranjak pergi meninggalkan jalanan itu.
****
Kondisi perpolitikan dunia menjadi efek domino bagi negara-negara lain, setelah Perang Dunia II, negara Vietnam telah resmi menjadi negara merdeka yang berada dibawah kekuasaan federasi indo-china. Atas kondisi ini Belanda mulai merapatkan kedekatan dengan Indonesia.
Van Mook yang merupakan seorang Belanda memberikan usulan agar Indonesia setuju menjadi wakil Jawa dalam pembentukan negara yang bebas dalam lingkup Belanda.
Pertemuan antara Syahrir dan Van Mook pun terjadi di Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta. Pertemuan yang terjadi setelah perang 10 November di Surabaya ini diprakarsai oleh Inggris yang bertujuan untuk menyampaikan maksud kedatangan sekutu dan Pbb kepada Indonesia.
Pertemuan selanjutnya terjadi kembali antara Indonesia dengan Belanda, disana Belanda mengajukan agar Indonesia menjadi persemakmuran Belanda, namun hal ini ditolak mentah-mentah.
...Kedaulatan Republik Indonesia secara penuh atas pulau Jawa dan Sumatra diakui oleh pemerintahan Belanda....
...Kedua belah pihak bersama-sama membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS)...
...RIS secara bersama-sama dengan Suriname, Netherland dan Curacao menjadi anggota kenegaraan dibawah kendali kerajaaan Belanda....
Terjadilah pertemuan kembali antara Syahrir dengan Van Mook.
"Ik heb niet de macht om beslissingen te nemen. Dan zal ik het voorstel van de heer Syahrir voorleggen aan de Nederlandse regering" (Saya tidak memiliki kuasa untuk memberikan keputusan. Maka saya akan membawa usulan tuan Syahrir ini ke Pemerintahan Belanda) Ucap Van Mook ( sekedar ilustrasi)
"Prima, ik wacht de beslissing van uw regering af" (Baik saya akan menunggu keputusan dari pemerintahan Anda) Jawab Syahrir ( ilustrasi percakapan)
Archibald Clark Kerr selaku penengah dalam perundingan tersebut tampak senang dan mereka menyepakti pembicaraan antara Syahrir dengan Van Mook yang dikenal Batavia Concep, ini akan dibawa ke perbincangan di Hooge Valuwe, Belanda.
Delegasi Indonesia diberangkatkan ke Belanda pada 4 April 1946 dengan menumpangi pesawat terbang milik maskapai penerbangan Belanda KLM.
__ADS_1
Suasana di tanah air masih memanas, pertempuran di Jawa dan Sumatera masih terjadi. Sama halnya dengan perundingan sengit di Hooge Veluwe yang terjadi.
Diruang perundingan yang dihadiri pemerintahan Belanda dan kabinetnya serta delegasi Indonesia yang dihadiri Sutan Syahrir, Suwandi, Pringgodigdo, dan Sudarsono.
"We weigeren, we willen geen gelijke positie hebben met Indonesië" ( Kami menolak, kami tidak mau memiliki kedudukan yang setara dengan Indonesia)" Ucap perwakilan pemerintah Belanda.
"We kunnen niet onderhandelen met Indonesië, wat dacht je ervan, we hebben gewoon een protocol idee" (Kami tidak bisa berunding dengan Indonesia, bagaimana kalau kita mengadakan gagasan protokol saja) Lanjut delegasi Belanda.
" Sorry, we willen het Protocol-idee niet! (Maaf kami tidak menginginkan gagasan Protokol!) Tolak Suwandi
"De vorm van het protocolidee verschilt van de overeenkomst the "(Bentuk gagasan protokol itu berbeda dengan perjanjian) Lanjut Mr Suwandi.
"De vorm van het akkoord is zeer in strijd met de Nederlandse Grondwet en met politieke partijen in Nederland, vooral religieuze partijen in de Tweede Kamer die geen onderhandelingen willen." ( bentuk perjanjian sangat bertentangan dengan UUD Belanda dan partai politik di negeri Belanda khususnya partai keagamaan di Majelis Rendah (Tweede Kamer) yang tidak menghendaki adanya perundingan) Ujar Prof Dr. Ir W.Schemerhorn.
"U zult de facto Java en Madura eens zijn, niet Sumatra" ( Kamu akan menyetujui secara de fakto Jawa dan Madura, tidak dengan Sumatera) Tutur delegasi Pemerintahan Belanda.
Kondisi perundingan yang carut marut pun, tidak menemukan titik temu, hubungan antara Belanda Indonesia semakin memburuk, Van Mook membawa usulan kepada delegasi Indonesia, tapi ditolak mentah-mentah. Delegasi Indonesia bersikukuh mempertahankan keinginannya. Karena keduanya tidak ada yang mau mengalah, akhirnya delegasi Indoensia kembali ke tanah air dengan tangan hampa.
*****
Seorang lelaki keturunan Belanda termenung, dia menatap gadis lokal yang sudah hampir sebulan tak bersamanya lagi. Sakit bukan main rasanya, semangat hidupnya sirna, meski disampingnya Madelief dan Rafunzel berusaha menghiburnya, Van Berg menjalani hidup tetap tak bergairah.
" Ini keputusanmu Van Berg! Bisakah kamu sedikit perhatian padaku!" Bentak Madelief.
" Maaf!" Ucap Van Berg berdiri dari duduknya dan mengambil peralatan perangnya, dia terlihat sangat malas menimpali perkataan dan protes Madelief.
" Dad! Where are you going?" Cegat Rafunzel sambil membawa bonekanya.
" Dad went to headquarters!" Jawab Van Berg tersenyum dan mengelus pipi puterinya itu.
" Sudahlah ayahmu itu sangat lemah! Terlalu dimabuk cinta wanita inlander!" Ketus Madelief.
" Jaga ucapanmu dihadapan Rafunzel, Madelief!" Kata Van Berg.
" Kenapa? Itu fakta Van Berg! You are too blinded by love!" Ucap Madelief menatap tajam ke arah Van Berg.
" Dad berangkat! Jaga diri kalian!" Ucap Van Berg tidak menimpali Madelief yang tengah murka.
Sejurus matanya memandang ke arah kamar yang dulu ditempati Sri Utami, dan kini kamar itu menjadi kamar dirinya sendiri. Bayang-bayang Sri Utami masih terperangkap dalam pikirannya. Senyumannya terukir, seolah dia berpamitan pada bayangan Sri Utami yang selalu duduk.manis depan cermin.
__ADS_1
Setelah itu Van Berg yang dingin itu melangkah keluar dari rumah. Dia pergi ke Markas Tentara Belanda, karena akan diadakan diskusi penting dengan Jenderal. Selain itu, Van Berg akan memanfaatkan aksi yang akan digelar untuk bertemu Sri Utami, dia sudah sangat merindukannya.
# Bersambung...