
Gemericik air mengenai genting-genting, angin segar berhembus membawa butiran-butiran air ke suatu tempat, bumi pertiwi kini tengah dibasahi oleh hujan. Raden Sri masih duduk dikursi ruangan depan sembari membaca buku. Ia
hanyut dalam buku tersebut, hingga tidak menyadari seseorang mengetuk pintu
rumahnya.
Tok Tok Tok
Pintu berkali-kali diketuk tetapi tidak ada yang membukakan pintu, ketika si tamu akhirnya memberanikan mendorong pintu, maka jelasah si
tamu melihat tuan rumah sedang asyik membaca buku. Tamu itu merasa sedikit kesal melihatnya, ia pun membuat suara untuk mengallihkan konsentrasi tuan rumah.
“ Hem! Hem!Ohok-ohok!” keluar dari mulut seorang wanita yang tidak muda lagi, garis-garis kewanitaan terpampang jelas di wanita tersebut.
Raden Sri merasakan adanya kehadiran seseorang, selain itu angin dingin terasa menusuk ke tubuhnya. Ia pun menoleh ke arah datangnya
suara. Wajahnya kaget melihat kehadiran sosok Nyi Dasimah didepannya.
“Ibu? Bukannya bapak bilang ibu akan datang besok?” tanya Raden Sri seraya menutup bukunya dan menyambut wanita tersebut dengan mencium
tangannya.
“ Bapakmu, sangat khawatir kamu akan keluyuran saat lamaran besok,” Nyai Dasimah sembari duduk.
“ Oh, begitu, bu.”
“ Bapak bilang juga bi Iyem sedang sakit, jadi takut tidak ada yang merawatmu, makanya Ibu datang lebih awal. Kamu sudah makan?” tanya Nyai Dasimah.
Raden Sri hanya menggelengkan kepalanya.
“Kau ini sudah bukan anak kecil lagi, kau harus mulai bisa merawat dirimu. Bagaimana nanti kau menikah, kalau tidak mampu merawat dirimu
sendiri, bagaimana kau akan merawat suamimu,” ujar Nyai Dasimah.
Nyai Dasimah berjalan menuju dapur, diikuti oleh Raden Sri. Baginya Nyai Dasimah ini sosok ibu sambung yang cukup baik padanya dan dapat
dijadikan sosok ibu. Nyai Dasimah melihat ke lumbung beras, dan mengambil seliter setengah beras, kemudian menyuruh Raden Sri mencucinya. Sedangkan beliau beralih ke sayuran dan ikan yang langsung dicucinya. Kompor minyak bumi
dihidupkannya ikan yang telah dicuci dibumbuinya dengan bumbu kuning. Lalu digorengnya. Sedangkan Raden Sri mengambil tugas memasak nasi.
“ Kita walaupun lahir dari keluarga menak, jangan sampai tak bisa memegang urusan dapur Sri.” Ujar Nyai Dasimah sambil membalikan ikan di wajan.
“Ibu juga sering berbicara begitu. Aku bukannya tidak bisa memasak, aku terlalu malas melakukannya,” kata Raden Sri.
“ Jadi perempuan tidak boleh malas Sri, jika ingin
__ADS_1
menyenangkan kaum lelaki,” timpal Nyai Dasimah.
Mendengar ucapan Nyai Dasimah, pikirannya merasa tak sejalan, namun ia segan membantahnya. Ia hanya berbicara dalam hatinya.
Kenapa hanya kaum lelaki yang harus disenangkan, bukankan kaum perempuan juga perlu disenangkan kaum lelaki.
“ kesini! potonglah sayurannya, kalau sudah beres sekalian kau siapkan bumbunya, mulailah belajar memasak!” perintah Nyai Dasimah
menghentikan pikiran Raden Sri.
Raden Sri mendapat perintah itu tidak menolaknya ia segera memegang sayuran dan memotongnya. Keduanya begitu akrab dimalam itu, meski
hujan deras menguyurnya, hingga larut malam.
***
Di barak tentara Belanda malam itu sama juga, hujan menguyurnya. Diruangan yang cukup kedap
suara, Van Berg merasa hancur karena pujaan hatinya akan dilamar orang. Rasanya
ingin sekali membawa kabur gadis yang menganggu hari-harinya, pikirannya tidak
tenang, tidak ikhlas jika ia dimiliki orang lain.
"Ja, dat meisje zal eigendom zijn van iemand",
(Iya, gadis itu akan dimiliki orang), jawab Van Berg dengan
lesu.
"Blijkbaar nog steeds een meisjesprobleem. Vrienden, er zijn veel meisjes in dit land, als er maar één verloren gaat, zijn er nog duizenden in de rij om te verwachten jouw liefde. Maakt niet uit, denk je niet veel na over vrouwen, onze taak hier als bewakers van het Nederlandse koninkrijk. Schiet op en slaap!"( Rupanya masih masalah gadis. Kawan, gadis-gadis di negeri ini banyak, kalau cuma hilang satu, masih ada seribu yang berbaris mengharapkan cintamu. Sudahlah, jangan kau banyak memikirkan wanita, tugas kita disini sebagai penjaga keamanan kerajaan Belanda. Cepatlah lekas tidur!) Ucap Vander Plass beranjak tidur dikasurnya.
“je hebt het niet gezien" (Kau belum melihatnya). Ucap Van Berg dengan senyuman.
"Wauw, ik ben heel benieuwd, is ze zo mooi dat je gek bent" (Wah, aku sangat penasaran, apakah dia sangat cantik sekali sehingga kau tergila-gila) kata Vander palss
Van Berg hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum, temannya melihat hal tersebut, dia hanya langsung menarik selimut dan membaringan badanya diatas kasur. Melihat temannya sudah tertidur pulas. Van Berg berjalan ke meja kerja dan memutuskan membuat surat kepada gadis itu. Jemarinya merangkai kata demi kata yang meluapkan perasaan yang mendalam dari dirinya, ia ingin gadis pujaannya merasakan gejolak asmaranya. Malam semakin larut, rasa kantuk sudah menyerang pemuda tampan itu, surat pun dilipatnya dimasukan kedalam amplop, di simpannya dibawah bantal.
***
Dikediaman Raden Sri Utami, begitu ramai orang-orang berlulalang menyiapkan segala keperluan lamaran. Semua makanan disiapkan untuk
dihidangkan kepada tamu. Sedangkan Raden Sri Utami masih di dalam kamar telah mengenakan kebaya biru tua bawahan kain bermotif bunga dan merak yang warnanya senada dengan bajunya. Rambunya disanggul sederhana, pemerah bibir telah dipolesnya. Dia berdiri didekat jendela memperhatikan orang-orang yang tengah
sibuk. Tidak lama terlihat dari kejauhan rombongan keluarga Pangeran Arya Wiraraja, mereka mengendarai delman. Semakin lama rombongan semakin mendekat ke rumah Raden Sri Utami. Raden Sugeng Wiranatakusumah dengan Nyai Dasimah menyambut rombongan tersebut. Mereka dibimbing oleh tuan rumah masuk kedalam. Raden Sri Utami hanya menghela nafas, merasa berat sekali, dia tidak memiliki rencana apapun kali ini. Suara pintu diketuk dari luar memanggil nama Raden Sri Utami, ia pun segera beranjak keluar kamar dan menemui tamu kemudian menyalaminya dan duduk didekat Nyai Dasimah. Tidak ada aura bahagia tergambar diwajahnya, tatapanya tertunduk lesu.
__ADS_1
“Apakah Raden Sri Utami sedang sakit?” tegur ibundaya pangeran Arya.
“ Oh tidak, Sri mungkin sedang merasa canggung dengan kahadiran calon suaminya.” Sela Nyai Dasimah. Semua orang tertawa mendengar
ucapan tersebut.
Hanya Raden Sri Utami yang sama sekali tidak tersenyum, dua mata terus memandang kecantikan Sri Utami, tidak sedetikpun ia mengaihkan pandangannya, ia sangat ingin sekalli gadis itu melihat kearahnya. Tapi gagal wanita itu terus menunduk sepanjang obrolan kedua calon besan. Sampailah pada keputusan akhir lamaran.
“Jadi Raden Sri Utami, kami ingin mendengar suara ada secara langsung, apakah ananda ini menerima lamaran putera kami?” tanya Ayahanda
Pangeran Arya.
Barulah disana Raden Sri mengangkat wajahnya, melihat kepada yang bertanya, wajahnya nampak berseri-seri.
“Bagaimana jika hamba menolak lamaran ini?” tanya Raden Sri Utami.
Semua mata yang mendengarya langsung membelalak tidak percaya dengan jawaban Raden Sri Utami. Terutama Pangeran Arya merasa tidak senang dengan perkataan Raden Sri utama, ia nampak gusar.
“Apa maksud anda Nyi Raden Sri Utami?” tanya Pangeran Arya
“ Aku menolak lamaran ini, aku tidak setuju menjadi isteri kedua anda pangeran,” jawab Raden Sri Utami dengan tenang.
Ayah Raden Sri Utami wajahnya sudah merah menahan amarah dan malu dari perbuatan anaknya. Emosinya hampir meledak, namun ditenangkan oleh Nyai Dasimah. Ia dengan hormat kepada tamu langsung menarik Raden Sri Utami ke kamar. Wajahny menatap tajam Raden Sri Utami yang matanya tetap melihat ke bawah.
“Tatap aku Utami!”
Raden Sri Utami tetap menundukan pandangannya. Nyai Dasimah menjadi semakin kesal.
“ Jika kau bisa membuat malu keluarga, kau harus mampu menatap mataku Utami!”
Raden Sri Utami bergerak perlahan mengangkat wajahnya melihat dengan tatapan tenang ke wajah Nyai Dasimah.
“Kau seorang ibu, sayang menghormati anda, saya tidak pernah menatap wajah seorang ibu yang sedang marah,” kata Raden Sri Utami.
“Jika kau menghormatiku, kau juga harus menghargai keluarga ini, jangan mempermalukanku dan ayahmu, Sri!” ujar Nyai Dasimah melunak kemudian memeluk Raden Sri Utami.
“Aku akan membereskannya, kau tidak perlu keluar lagi. Tunggu saja disini sampai acara selesai,” lanjut Nyai Dasimah.
Nyai Dasimah meninggalkannya dikamar itu seorang diri. Pikirannya tidak tenang, dia tidak tahu apa keputusan keluarganya. Raden Sri
memutuskan duduk disamping ranjang kasur. Sementara suara diluar masih ramai tapi terdengar sayup-sayup, Raden Sri Utami tidak tahu yang diperbincangkan di ruang tamu itu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like and comment ya..
__ADS_1