Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Surat


__ADS_3

Deg


Degup jantung Van Berg berdebar sesaat mendengar perkataan Vander Plass yang tidak mungkin dia berbohong. Van Berg menatap buku yang dipinjam dari Sri Utami, buku mengenai 'sejarah demokrasi dan kebebasan wanita' adalah satu-satunya pengobat dikala ia merindukan wanita itu.


Setiap saat Van Berg selalu berharap dapat bertemu dengan Sri Utami, meski sangat tidak mungkin. Setiap detik hatinya selalu berdesir untuk Sri Utami, mungkin dirinya terlalu berlebihan mencintai gadis Priangan itu.


"Ken je iemand die een brief bezorgt? (apa kau tahu seseorang pengantar surat?)" ujar Van Berg menoleh pada Vander Plass yang sudah meringkuk dilantai dingin itu.


"Waarom vraag je dat? (untuk apa kau menanyakan itu?) " ujar Vander Plass sambil membuka kembali kelopak matanya.


"Sri moet mijn verblijfplaats weten, (Sri harus mengetahui keberadaanku)," ucap Van Berg menatap punggung Vander Plass.


"Alles wat hier in en uit gaat, wordt onderzocht door het Japanse leger, (Semua hal yang masuk dan keluar dari sini akan diperiksa oleh tentara Jepang), " jawab Vander Plass.


"Ik weet het, dus heb je een andere manier? (Aku tahu, jadi apa kau punya cara lain?)" tanya Van Berg.


"Waarom hou je zoveel van hem? (Kenapa kamu begitu mencintainya?)" tanya Vander Plass.


"Ze is een andere vrouw, assertief, dapper en slim, (Dia wanita berbeda, tegas, pemberani dan cerdas)," jawab Van Berg sambil tersenyum membayangkan kebersamaannya dengan Sri Utami.


"Morgen is er een krantenbezorger, probeer een brief bij hem achter te laten, (Besok ada pengantar koran, cobalah menitipkan surat padanya)," ujar Vander Plass sambil menutup matanya.


"Dank u (terima kasih)," ujar Van Berg sambil ikut merebahkan diri dilantai dingin itu dengan memeluk buku.


*****


Waktu terus bergulir, berita kekalahan Jepang dalam perang Asia Pasifik terus memenuhi berita harian Jepang. Peningkatan jumlah tentara terus dilakukan, usaha menarik simpati rakyat Indonesia semakin gencar.


Komandan Ryosuke menatap kosong, pikirannya semakin kalut, tuntutan semakin besar dari pimpinannya untuk meningkatkan setoran kebutuhan pokok untuk Jepang. Komandan Ryosuke memang terkenal kejam, tapi dia masih memiliki sisi kemanusiaan. Romusha sudah terlalu banyak menyengsarakan jiwa rakyat pribumi.


"Shirei-kan, watashitachiha mondai o kakaete imasu, sakumotsu no shippai ga hassei, shimashita. (Komandan, kita dapat masalah, terjadi kegagalan panen)," laporan seorang prajurit Jepang.


"Yoshi, jibun de fukushu suru yo, ( Baiklah aku akan meninjaunya sendiri), ujar Ryosuke seraya bangkit.


"Hai" ucap Prajurit tersebut sambil membungkuk saat Ryosuke melewatinya.


*****


Ryosuke berjalan mengamati sawah yang padinya sudah mengering kekurangan air. Wajah-wajah petani itu murung tidak ada yang berani menatap Ryosuke.

__ADS_1


"Perbaiki secepatnya, buka lahan baru ditempat yang subur!" perintah Ryosuke dengan bahasa Indonesia yang logat Jepang.


"Baik, Tuan, " ucap semua petani tersebut.


Ryosuke berjalan menuju satu gedung sekolah yang diperuntukan bagi orang Indonesia. Dari kejauhan wajah cantik yang selalu menganggu pikirannya tengah mengajar didepan para siswa.


Sri kamu memang luar biasa, batin Ryosuke mengamati dari jauh Sri Utami.


"Tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki paruh baya sambil membungkuk.


"Sri Utami, aku ingin bicara dengannya, " ucap Ryosuke pada lelaki tersebut.


"Hai, saya akan memanggilnya setelah mengajar. " ujar Lelaki tersebut.


Sri Utami menutup pelajaraannya, sambil tersenyum pada para muridnya. Sebagai anggota Fujinkai, Sri utami memiliki kewajiban memberikan pengajaran dan kursus pada wanita. Langkah kakinya terhenti saat melihat Ryosuke berada diruangan pengajar.


"Hai, aku datang menjemputmu, " sapa Ryosuke dengan memamerkan barisan giginya yang rapi.


Sri Utami hanya memutar bola matanya melihat Ryosuke. Hatinya masih kesal akibat ulahnya yang sesononoh.


"Hey, kau mengabaikan seorang komandan? " ucap Ryosuke.


"Bisakah anda tidak mengangguku tuan! " ucap Sri Utami menatap tajam Ryosuke.


"Bisakah anda tidak bersikap kurang ajar pada saya tuan! " ucap Sri Utami tajam.


"Tidak bisa! kamu sangat mengoda! " ujar Ryosuke sambil terkekeh.


"Hentikan ucapan anda tuan! " bentak Sri Utami.


"Kau gadis pemarah rupanya, " ucap Ryosuke sambil tersenyum membuat Sri Utami semakin kesal.


"Ini Sri Utami?" tanya seorang yang membawa setumpuk koran tiba-tiba muncul.


"Iya saya," ucap Sri Utami menghampiri pembawa koran.


"Ada koran untuk anda," ucap orang tersebut membuat Sri Utami berkerut dahi.


"Baik, tugas saya selesai, " ujar pembawa koran tersebut berlalu setelah menyerahkan koran pada Sri Utami.

__ADS_1


Ryosuke memandang Sri Utami yang masih kebingungan, Sri Utami membuka koran tersebut dan tidak sengaja terdapat surat yang jatuh dari koran tersebut, Ryosuke lebih dulu mengambil surat itu.


"Apa ini? surat cinta?" ucap Ryosuke sambil memiringkan kepalanya.


"Kembalikan pada saya tuan!" bentak Sri Utami sambil mendekat ke arah Ryosuke.


"Ambillah kalau kau bisa! " ucap Ryosuke tersenyum.


Sri Utami menghembuskan nafasnya, ia berjalan semakin dekat mencoba merebut surat dari tangan Ryosuke. Tapi, Ryosuke mengangkat tangannya tinggi dan menyimpan tangan dibelakang kepala. Sri Utami mencoba meraih surat, tangannya diulurkan ke belakang kepala Ryosuke. Wajah keduanya begitu dekat, Ryosuke mengambil kesempatan meraih pinggang Sri Utami dengan salah satu tangannya. Lalu mendaratkan kecupan di bibir Sri Utami. Menyadari Ryosuke menjebaknya, ia langsung mendorong Ryosuke menjauhi badannya.


"Aku akan memberikan padamu, kalau kau datang ke rumahku! " ujar Ryosuke terkekeh sambil berjalan meninggalkan Sri Utami.


Sri Utami sudah mengepalkan tangannya, tidak tahan dengan sikap Ryosuke yang bertindak semaunya.


*****


Sri Utami kini berada diruangan Ryosuke, sekalipun dia sangat tidak mengharapkan kembali ke ruangan yang pertama kali dia bertemu Ryosuke.


Ceklek


"Tidak ku sangka kau, hanya karena sebuah surat datang kemari nona, " ujar Ryosuke memasuki ruang kerjanya.


"Aku menghargai pengirim surat itu! Jadi cepat berikan padaku!" ujar Sri Utami tanpa basa basi.


Ryosuke mendekat ke arah Sri Utami, sikap Ryosuke cukup membuat Sri Utami kelabakan, kekhawatiran menyergapnya. Sri Utami mundur perlahan mendekati pintu. Ryosuke dengan sigap meraih rambut Sri Utami dan memasangkan konde berhuruf kanji. Sri Utami terkesiap melihat sikap Ryosuke, ia memunggungi Ryosuke. Tangan kekar pun merangkulnya, dagunya disandarkan di bahu Sri Utami.


"Mulai sekarang cobalah fokus padaku saja," ujar Ryosuke sambil dadanya berdegup kencang.


Sri Utami terdiam, "apa maksudnya aku harus fokus padanya! Jelas-jelas memikirkannya membuat aku ingin muntah, " batin Sri Utami.


"Simpan dan pakailah konde dariku, itu hadiah dariku, " ujar Ryosuke melembut.


"Apa-apa dia ini! aku sungguh tidak mengerti!" ujar Sri Utami dalam hatinya.


"Kenapa kau diam saja? apa sekarang kau mulai nyaman denganku?" ujar Ryosuke tersenyum.


Sri Utami menyadari posisinya yang tengah dipeluk Ryosuke langsung melepaskannya dan berbalik menatap Ryosuke.


"Mana suratnya!" ujar Sri Utami menagih.

__ADS_1


"Sudah ku bakar! itu bukan hal penting! " ujar Ryosuke dingin.


BERSAMBUNG...


__ADS_2