Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Persidangan bi Iyem


__ADS_3

Ruangan tersebut telah dipenuhi sesak oleh orang- orang lokal dan beberapa tentara Belanda. Hakim duduk membacakan duduk perkara permasalahannya. Sri Utami tengah duduk dekat bi Iyem yang didampingi oleh dokter. Seorang terdakwa sudah terduduk dihadapan hakim.


"Silakan terdakwa memberikan pembelaannya!" ujar Hakim.


" Terima kasih tuan hakim. Saya bersumpah dengan semua yang saya utarakan disini tidak ada kebohongan sedikit pun. Pada malam itu wanita tersebut datang ke barak kemudian dia mengoda kami dan menawarkan tubuhnya untuk mendapatkan beberapa sen."


" KAU BOHONG TUAN! teriak Sri Utami berdiri.


"Nona Sri mohon anda tenang, mohon dengarkan penjelasan terdakwa terlebih dahulu. Lanjutkan! " kata Hakim pada terdakwa.


" Iya, selanjutnya dia setuju untuk menjual dirinya pada lima tentara dalam satu malam." ujar tentara tersebut


" Anda memiliki bukti tuan Fredrik?" tanya Hakim.


" Ada," jawab tentara bernama Fredrik.


Ia segera menunjukan celana dalam wanita dan beberapa ******. Yang kemudian langsung diambil oleh pengamat.


" Hakim saya ingin menanyakan beberapa hal kepada tuan Fredrik!" ujar jaksa penuntut.


" Silahkan, permintaan diterima!" ujar Hakim.


" Apa yang dapat ada buktikan dengan bukti tersebut!" tanya Jaksa.


"Tuan jaksa, jika saya memperkosanya tentu celana dalamnya sudah koyak, majunya juga koyak." ujar Fredrik


" Baik, bagaimana jika kalian berlima memeganginya kemudian membuka pakaiannya dengan baik-baik? bukankah bisa saja seperti itu!"ucap Jaksa.


Fredrik terdiam mendapatkan pertanyaan tersebut, ia tidak dapat berkutik dan menyangkalnya. Jaksa melihat gelagat Fredrik langsung tersenyum, ia segera menghadap hakim.


" Tuan Hakim terhormat, terlepas dari pernyataan terdakwa. Kenyataan membuktikan para tentara tersebut memakai korban secara beramai-ramai. Ini dapat dikatakan sebagai kejahatan seksual. Sekian dari saya, terima kasih." ujar Jaksa.


Hakim kemudian menerima pernyataan dari Jaksa, terdakwa segera dipersilahkan duduk. Seorang saksi dihadirkan, dokter yang menangani bi Iyem duduk dikursi saksi.


" Saya bersaksi sebagai dokter yang menangani pasien, semua yang saya katakan sesuai dengan pengamatan kami sebagai dokter!" ujar Dokter tersebut.


" Baik, silahkan saksi berkata!" ujar Hakim.


" Saya mendapatkan panggilan malam itu dari rumah Nyi Sri Utami, saya bergegas datang. Pertama kali saya melihat korban sudah pucat, saya memeriksa sekilas, dan mendapati tubuh korban memar dipergelangan tangan, dan kedua kakinya. Saya mendengarkan penjelasan dari Nyi Sri Utami bahwa darah terus keluar dari V*g*n* korban. Kemudian saya merujuknya untuk dibawa ke rumah sakit." ujar dokter menghentikan ucapannya.


" Ketika kami memeriksa kondisi korban, keadaannya sangat mengkhawatirkan bagian vital korban robek parah. Kami menemukan bekas sp*rm* banyak sekali di bagian vitalnya. Sekian kesaksian saya!" lanjut dokter.


"Baik ada yang mau menyanggah? tuan pengacara tentara?" tanya Hakim.


" Baik saya akan menanyakan beberapa hal kepada saksi, hakim?" ujar pengacara tentara.

__ADS_1


" Silahkan!" ujar hakim.


" Bukankan tidak perlu heran jika korban terdapat bekas sp*rm* dan mendapatkan robekan dibagian vital? dia melakukannya karena kerelaannya sendiri dan itu konsekuensi dirinya sebagai wanita penghibur." ujar pengacara tentara.


" TIDAAAAK TUTUP MULUTMU TUAN PENGACARA! dia bukan wanita penghibur!" ujar Sri Utami emosinya meledak.


Hakim meminta Sri Utami untuk tenang. Dokter pun kembali memberikan sanggahan atas pernyataan pengacara tentara tersebut.


" Tidak bisa seperti itu tuan pengacara! bagaimana dengan lebam ditangan dan kakinya, bukankah itu cukup membuktikan ada pemaksaan dari para tentara tersebut?" tanya dokter.


" Kenapa wanita tersebut dengan sukarela datang ke barak tentara?" tanya pengacara tentara. Doktee terdiam.


" Semua diluar batas pengetahuan saya, cukup sekian kesaksian dari saya tuan hakim."Kata doktee seraya bangkit kembali ke posisi semula.


Hakim mengetuk palunya , persidangan ditunda dahulu untuk istirahat. Semua orang bangkit dengan mengerutu meninggalkan ruangan.


****


" Bi, kumohon bicaralah nanti didalam, agar mereka penjahat itu dihukum." ujar Sri Utami memelas.


Bi Iyem tertunduk menanggis mendengar permintaan Sri Utami. Kemudian pintu ruang sidang dibuka, menandakan akan segera dimulai kembali persidangan, Sri Utami didampingi dokter membawa bi Iyem masuk dan didudukan di kursi depan untuk memberikan kesaksiannya. Sidang dibuka dengan pernyataan kesaksian yang diberikan bi Iyem.


" Silahkan korban memberikan pernyataannya!" ujar hakim. Semua mata melihat ke arah Bi Iyem.


" Saya datang bukan sebagai p*l*c*r, tapi mereka membawaku ke kamar, dan melucuti baju saya dan..." Ujar bi Iyem tidak dapat melanjutkan kata-katanya Hiks hiks hiks.


" apa masih bisa dilanjutkan nona Mariyem?" ujar Hakim yang disambut anggukan oleh bi Iyem.


" Dua tentara memegang tangan saya, duanya lagi memengang kaki saya. Yang satunya.. hiks hiks hiks ( kembali menangis), saya kesakitan mereka tertawa, mereka terus melakukannya bergiliran." ujar bi Iyem hiks hiks hiks, terus menangis.


" Tuan Hakim, saya mau menyanggah pernyataan nona korban!" kata pengacara tentara


" Silahkan!" jawab hakim


"Nona apakah anda malam itu meminum alkohol?"tanya pengacara tentara.


" Saya dipaksa minum!" jawab bi Iyem.


" Baik hakim, pernyataan korban perlu dipertimbangkan! Saya mengajukan saksi tuan Hakim" ujar pengacara tentara.


" Permintaan dan saksi diterima" ujar Hakim.


Seorang pemuda lokal memasuki ruangan dan berjalan ke depan hakim kemudian duduk. Semua mata menatapa orang tersebut.


"Saya kekasih bi Iyem, saya disini akan memberikan kesaksian. Wanita yang menjadi kekasih saya ini memang sudah biasa melayani laki-laki. Jadi saya tidak heran jika dia menjual diri pada tentara kolonial." ujar Pemuda tersebut.

__ADS_1


Mata Sri Utami terbelalak mendengar perkataannya, sedangkan bi Iyem segera berlari ke arah pemuda tersebut kemudian memegang kerahnya, matanya memerah menyimpan emosi. Bi Iyem berteriak keras didepan pemuda tersebut


"Aaaaaaaaarg Kamu gilaaaaa!" teriak bi Iyem.


Bi Iyem lalu terkulai lemas, dia sangat kaget hingga akhirnya terjatuh tak sadarkan diri. Sri Utami menghampirinya dan menatap pemuda tersebut. Sri Utami melayangkan tamparan.


PLAAK!


Tamparan keras mendarat dipipi pemuda tersebut. Wajah pemuda tersebut tidak marah, dia diam menatap bi Iyem dengan dingin. Bi Iyem segera dibawa keluar ruang sidang. Sedangkan di ruang sidang pemuda itu melanjutkan kesaksiannya, Sri Utami masih mengikuti persidangan.


" Berapa sering kamu melakukan aktivitas berhubungan b*d*n dengan korban?" tanya pengacara.


" Cukup sering! tiap malam minggu ketemu kami melakukannya sampai pagi." jawab pemuda tersebut.


Sri Utami tangannya mengepal keras, senyuman sinisnya terpancar, ia ingin menghantam wajah pemuda tersebut. Sri Utami berdiri dari kursinya.


" Saya akan memberikan kesaksian setelahnya tuan hakim!" jawab Sri Utami.


" Silahkan nona Sri Utami!" jawab Hakim.


****


Kini Sri Utami duduk dikursi panas tersebut, dia tidak menyadari Van Berg dan Vander Plass sudah duduk dikursi penonton.


" Terima kasih tuan hakim sudah memberikan waktunya kepada saya. Saya mendapati pembantu saya tengah tergeletak tidak berbusana hanya ditutupi dedaunan pada pagi itu. Saya mengenal betul dia, dia tidak pernah keluar rumah tanpa ijin saya, dia hanya pekerja rumahan, memasak, mencuci baju, dan membereskan rumah saya. Dia selalu pergi keluar bersama saya. Jadi salah benar jika ada yang menuduhnya sebagai *******!" ujar Sri Utami sambil mengalirkan air matanya.


" Anda ada dimana saat bi Iyem keluar rumah malam itu?" tanya hakim.


" Saya sedang tidak dirumah, saya mendapatkan perawatan akibat ledakan di barak tersebut!" ujar Sri Utami.


" Jadi hari itu bi Iyem tidak patuh pada anda nona, karena keluar rumah tidak ijin pada nona!" ujar hakim.


" Iya." ucap Sri Utami.


" Kalau begitu nona, bisa saja dibelakang nona dia tidak seperti yang nona katakan!" ujar Hakim.


" Tapi saya yakin, dia keluar rumah terpaksa malam itu!" Jawab Sri Utami.


"Baik nona. Mengingat kurang bukti dan saksi, saya memutuskan hukuman pada keliman tentara dibebas tugaskan pada masa tertentu, tidak mendapat gelar ketentaraannya, tidak mendapat gaji. Sekian! Kasus ditutup! ujar Hakim.


Sri Utami terkejut dengan putusan hakim, ia merasa tidak puas dengan putusan hakim. Tapi hakim sudah mengetuk palunya, semua orang sudah keluar ruangan. Sri Utami melihat Vander Plass babak belur wajahnya disamping Van Berg. Mereka hanya saling menatap.


****


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2