Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial

Di Bawah Pelukan Tentara Kolonial
Imbalan


__ADS_3

Disebuah gedung bernuansa putih, bau desinfektan menyelimuti ruangan tersebut. Seorang wanita sedang terduduk diatas kasur putih. Sedangkan wanita disampingnya terus mendesaknya berbicara.


" Bi, kumohon bicaralah! Siapa yang melakukannya?," desak Sri Utami.


Hiks hiks hiks bi Iyem kembali menangis, mulutnya seperti terkunci. Sri Utami hanya bisa menghela nafas. Ia beranjak pergi, tapi tangannya ditahan oleh bi Iyem. Sri Utami membalikan badannya menatap bi Iyem.


" Takut... Takut..Takut" ujar bi Iyem matanya bergerak ke kana kekiri ia semakin meringkuk.


Sri Utami melihat kondisi bi Iyem semakin cemas, ia segera merangkulnya.


" Jangan takut bi, sekarang sudah aman, ada aku disini," ujar Sri Utami menenangkan bi Iyem.


Tidak berapa lama seorang pemuda berpakaian serba putih, berwajah indonesia memasuki ruangan.


"Permisi Teh Sri, saya harus memeriksa kondisi pasien." ujar pemuda tersebu sambil tersenyum ke arah Sri Utami.


Sri Utami segera melepaskan pelukannya, ia membalikan badannya menghadap dokter muda tersebut. Ia segera memperrsilahkan dokter memeriksa kondisi Bi Iyem. Melihat seorang lelaki mendekat akan memeriksanya, bi Iyem menjerit.


Aaaaaaaargh Aaaaaaaargh


Dokter dan Sri Utami berpandangan keheranan. para suster berdatangan menenangkan bi Iyem. Dokter muda tersebut membawa Sri Utami keluar dan duduk diserambi rumah sakit.


" Kondisinya semakin parah Teh Sri." kata dokter muda tersebut.


" Apa bisa disembuhkan?" tanya Sri Utami.


" Dia harus dibawa ke psikiater Teh. Kalau disini hanya bisa mengobati fisiknya saja." Ucap dokter muda tersebut.


Sri Utami menelungkupkan kedua tangannya ke wajah, pikirannya kalut. Dokter muda tersebut mengelus punggung Sri Utami.


" Sabar Teh Sri. Bagaimana sudah ketemu pelakunya?"


Sri Utami hanya mengelengkan kepala dengan lemas. Seorang pemuda belanda datang menghampiri dua orang yang sedang duduk tersebut. Pemuda tersebut menatap wanita yang sedang tertunduk.


" Tuan Van Berg! " sapa dokter muda sambil tersenyum bangkit dari duduknya.


" Iya." jawab Van Berg singkat, matanya tidak berhenti menatap Sri Utami, ada kecemburuan melihat Sri dekat dengan dokter tersebut.


" Ada apa tuan kemari?" tanya dokter muda.


Van Berg tidak lekas menjawab pertanyaan, dokter muda juga dipanggil oleh seorang suster sehingga ia pun pergi meninggalkan keduanya. Sri menyadari kehadiran Van Berg didekatnya, ia segera bangkit dari duduknya berbalik hendak meninggalkan Van Berg. Namun Van Berg segera meneluknha dari belakang, dagunya bersandar dipundak Sri Utami.


"Tuan Lepaskan!" ujar Sri Utami dengan pelan.

__ADS_1


Van Berg pun melepaskan pelukannya, namun ia membalikan badan Sri Utami dan menariknya ke dalam pelukan. Tidak ada perlawanan dari Sri Utami dan juga tidak ada balasan dari pelukan tersebut. Sri Utami menyembunyikan wajahnya didada bidang Van Berg, ia terisak pelan. Van Berg mengelus punggung Sri Utami.


Di kejauhan wajah merah padam mendekat ke arah dua insan yang sedang berpelukan, ia segera menarik Sri Utami dengan kasar, dan membalikan badan Sri Utami hendak menampar, namun Van Berg lebih cepat, ia menarik Sri Utami ke belakang punggungnya, sehingga tamparan itu mendarat dipipi putih Van Berg.


PLAAK!


Wanita tersebut kaget karena Van Berg yang terkena tamparannya. Kedua tangannya langsung mengepal disamping badannya. Matanya menatap tajam dan berkaca-kaca.


"Kamu akan menikah denganku, tuan!" ucap Madelief.


"Iya. Dia tidak salah, aku yang terobsesi padanya." Ucap Van Berg.


" Dasar perempuan pengoda!" ujar Madelief menatap tajam Sri Utami yang berada dibelakang punggung Van Berg.


" Ayo pulang! kita sudah selesai tes kesehatannya. Kamu jangan dekat-dekat dengannya, nanti kamu penyakitan!" ucap Madelief berjalan berlalu meninggalkan Van Berg dan Sri Utami.


Van Berg membalikan badannya menghadap Sri Utami. Ia menatap wajah Sri Utami yang sangat kesal. Van Berg memegang wajah Sri Utami, sehingga mereka bertatapan.


" Kamu memang mengoda untukku bawa lari. Jangan dipikirkan perkataannya." ujar Van Berg.


Van Berg mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sri Utami, membuat Sri Utami pipinya memerah dan mematung, bibir Van Berg hendak menyentuh bibirnya, namun Sri Utami segera menutup mulutnya, Van Berg sedikit kecewa. Ia kemudian mencium keningnya Sri Utami dengan penghayatan, Sri Utami hanya bisa memejamkan matanya.


" Lain kali aku akan mengambilnya, jadi berhati-hatilah," ucap Van Berg sambil tersenyum nakal pada Sri Utami.


Van Berg segera berbalik dan berjalan meninggalkan Sri Utami yang jantungnya berdegup tak karuan.


Van Berg menghentikan langkahnya, Sri Utami langsung terdiam. Kemudian Van Berg melangkahkan kakinya meninggalkan Sri Utami. Seorang anak kecil datang menyelipkan secarik kertas ditangan Sri Utami. Secarik kertas tersebut menampilkan dua baris tulisan.


Ketemu di Hutan Bambu sekarang, jika ingin mengetahui pelakunya!


****


Di hutan bambu, wanita dengan pakaian serba hitam, rambutnya di ikat satu. Tangannya menyilang didada. Seorang pemuda dibelakangnya berwajah Belanda datang menghampirinya mengamati punggung wanita berdarah lokal tersebut.


" Nona, saya tahu pelaku pemerkosa terhadap pembantu anda!" ujar Vander Plass.


" Katalah dan tunjukan padaku!" ujar Sri Utami masih membelakanginya.


" Apa imbalan yang aku dapatkan jika aku memberitahu Nona?" ujar Vander Plass.


" Aku akan memberikan kudaku pada anda tuan, dan aku juga akan menambahkan beberapa sen uang asalkan anda mau bersaksi dipengadilan." Ucap Sri Utami.


" Jika aku menolak semua imbalan dari nona." ujar Vander Plass.

__ADS_1


" Lantas kau akan membantuku dengan gratis?" ujar Sri Utami


" Tidak! aku ingin tubuh nona!" ujar Vander Plass.


Sri Utami wajahnya merah padam mendengarnya, ia dengan kilat mengambil panah di punggungnya serta berbalik dan melemparkan panah tersebut tepat menancap di lengannya Vander Plass yang belum siap dengan serangan dadakan dari Sri Utami. Ia langsung meringgis dan memegang lengannya yang mengucurkan darah segar. Sri Utami tersenyum sinis dan mendekat ke arah Vander Plass.


" Aku tidak suka bekerja sama denganmu tuan cabul!" ujar Sri Utami.


" Nona Sri Utami, aku hanya bercanda ternyata kau serius menanggapinya." ujar Vander Plass dengan tersenyum melihat wajah cantik Sri Utami.


"Jangan bercanda dengan sesuatu yang merendahkan kehormatan wanita Tuan!" ujar Sri Utami didepan Vander plass.


" Kemari kalian!" ujar Vander Plass menyeru lima tentara yang bersembunyi dibalik bambu.


Sri Utami langsung membuat ancang-ancang, takut mendapatkan serangan dadakan dari para tentara. Kelima wajah tentara muncul dari semak semak mendekati Vander Plass.


" Ini mereka pelakunya nona!" ujar Vander Plass.


" Oh rupanya," kata Sri Utami kembali ke posisi tenang dan melihat ke arah Vander Plass.


"Menikahlah denganku nona sebagai imbalannya!" ujar Vander Plass.


Sri Utami tersentak dengan permintaan Vander Plass. Sebuah cincin berlian dikeluarkan dari saku Vander Plass, ia meraih tangannya Sri Utami serta memasangkannya di jari manis, kemudian mencium tangan tersebut. Vander Plass tersenyum pada Sri Utami yang masih kebingungan.


" Aku anti penjajah!" ujar Sri Utami


" Kalau begitu aku akan berbelot melawan negaraku!" ujar Vander Plass.


" Aku tidak suka jadi gundik!" ujar Sri Utami.


"Kamu tidak akan menjadi gundik!" jawab Vander Plass.


" Aku tidak suka poligami!" ujar Sri Utami.


"Kamu akan menjadi isteriku satu-satunya!" jawab Vander Plass.


" Aku seorang muslim!" ujar Sri Utami.


" Aku akan masuk agamamu," jawab Vander Plass.


Sri Utami menghela nafas, tidak memiliki alasan lagi menolak Vander Plass. Ia termenung salah satu kakinya menepuk-nepuk tanah.


"Selesaikan dulu urusan ini, baru kita bicarakan imbalannya!" ujar Sri Utami.

__ADS_1


"Baik nona Sri!" ujar Vander Plass dengan senang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2