
"Sri!" wajah Ryosuke berubah menjadi serius menatap lekat wajah Sri Utami.
"Iya?" Sri Utami menatap wajah Ryosuke dengan memperhatikan dua bola mata Ryosuke.
"Bagaimana perasaanmu terhadapku?" Ryosuke memberanikan diri menanyakan sesuatu yang selama ini dipendamnya.
"A-Aku, " Sri Utami tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Iya, kau tidak mungkin mencintaiku," tebak Ryosuke dengan memaksakan senyuman.
"Bukan begitu," ujar Sri Utami membuat Ryosuke bergetar hatinya.
Sri Utami menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menambah kekuatan mengatakannya pada Ryosuke. Disisi lain Ryosuke sudah gusar menantikan kalimat yang akan diucapkan Sri Utami.
"Tuan Ryosuke memang sedikit nakal awalnya aku sangat kesal setiap bertemu. Tapi semakin sering tuan menemuiku, perasaan itu memudar berubah menjadi sebuah kenyamanan," ujar Sri Utami dengan rona dipipinya muncul.
Ryosuke dengan hati yang berbunga-bunga tersenyum girang, apalagi melihat Sri Utami yang terlihat mengemaskan dengan rona diwajahnya. Ryosuke memberanikan diri mendekap Sri Utami dan mencium pipinya.
"Terima kasih Sri, aku akan tenang melepaskanmu sekarang!" ucap Ryosuke sambil mengecup pangkal rambut Sri Utami.
"Baiklah, aku sepertinya harus segera masuk ke rumah," ucap Sri Utami yang merasa canggung dan malu.
Sri Utami langsung berlari masuk ke dalam rumah, Ryosuke nampak tersenyum lebar menatap kepergian Sri Utami. Detak jantung keduanya terpacu. Sri Utami memegangi dadanya sambil bersandar dibalik pintu. Soendari memperhatikan gelagat Sri Utami dengan heran.
"Kau kenapa Sri?" tanyanya membuat Sri Utami tersadar.
"Ah tidak apa-apa," berusaha tenang.
"Kau pergi dengan komandan Ryosuke? kau akhir-akhir ini sering bersamanya!" cerca Soendari mengintrogasi Sri Utami.
"Oh, Iya hanya menemani saja," ucap Sri Utami menghindar dari pertanyaan Soendari.
"Kau berpacaran dengannya? " tanya Soendari semakin menelisik.
"Sudahlah Soen, kenapa kau menanyakan hal itu! " ujar Sri Utami.
"Ini penting Sri! aku kakak iparmu dan sahabatmu perlu tahu!" bentak Soendari yang mudah emosi akhir-akhir ini.
"Aku tidak berpacaran dengannya, kami hanya dekat saja! " tandas Sri Utami.
"Aku tidak percaya!" ujar Soendari sambil bertolak pinggang.
"Aku minta maaf, tidak bisa memenuhi janjiku, aku tidak menemukan kang Hardi," ucap Sri Utami mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kau mengalihkan pembicaraan Sri! aku tahu kang Hardi tidak akan kembali, " ujar Soendari sambil meneteskan air matanya.
Sri Utami pun melangkah memeluk Soendari yang kembali rapuh, kehilangan Hardi membuatnya sangat terpukul. Sementara, Nyai Dasimah setiap hari hanya menatap pakaian Hardi. Kedua wanita tersebut sangat terpuruk.
*****
Sri Utami sudah menyelesaikan pakaian pesanan untuk Ryosuke, dia membungkusnya dengan koran lalu dimasukan dalam plastik bening. Hatinya berdesir menatap pakaian tersebut.
"Sri!" suara dibalik pintu memanggilnya.
"Iya bu?" jawab Sri Utami sambil membukakan pintu.
"Cepat kemari, lihat siapa yang datang!" ujar Nyai Dasimah begitu sumringah.
Sri Utami mengikuti langkah Nyai Dasimah menuju ruang depan, seorang lelaki lokal tengah duduk menikmati teh yang disuguhkan. Wajahnya tercengkat saat melihat Sri Utami dihadapannya.
"Sri," senyuman mengiringi sapaannya.
"Iya, kenapa kau kemari Rahman?" tanya Sri Utami.
"Dia berniat melamarmu, Sri, " ujar Nyai Dasimah tampak begitu bahagia.
Sri Utami menatap tidak percaya pada Nyai Dasimah dan bergantian menatap Rahman.
"Benar Sri!" ujar Rahman sambil meletakan cangkirnya
"Aku tidak peduli dengan isu kamu sudah masuk rumah ianjo, aku sudah bertekad akan menikah denganmu!" suara Rahman terdengar mantap menjelaskan pada Sri Utami.
"Oh, iya Rahman, " ucap Sri Utami pelan.
"Jadi bagaimana? apa kau bersedia menjadi isteriku?" tanya Rahman dengan mata penuh harap.
Sri Utami memandang Nyai Dasimah yang nampak senang, pikirannya sangat kacau dan lebih kacau lagi dengan lamaran tiba-tiba Rahman.
"Man, Aku-" ucapannya terhenti karena tatapan tajam Nyai Dasimah yang sudah menebak jawaban Sri Utami.
"Sebentar ya nak Rahman, Sri ikut ibu! " ujar Nyai Dasimah menyeret Sri Utami ke dapur.
Nyai Dasimah menghembuskan nafasnya, menatap lekat Sri Utami.
"Ibu tau kau akan menolaknya Sri! tapi mau sampai kapan kau akan menolak menikah Sri!" tegas Nyai Dasimah.
"A-Aku tidak pernah berpikir akan menikah dengan Rahman," jawab Sri Utami sambil tertunduk.
__ADS_1
"Sri, ibu mohon kali ini aja! kamu penuhi keinginan ibu," ujar Nyai Dasimah sambil memelas.
Sri Utami tidak kuasa melihat Nyai Dasimah yang sudah dianggap ibu kandungnya memohon padanya.
"Iya bu, biarkan Sri mempertimbangkannya dulu!" ujar Sri Utami mencoba menenangkan ibunya.
"Jangan mengecewakan ibu," ujar Nyai Dasimah yang sudah berkaca-kaca.
"Iya bu," lirih Sri Utami.
Sri Utami dan Nyai Dasimah akhirnya kembali lagi menemui Rahman yang duduk di ruang depan.
"Man, kamu tau aku tidak suka dimadu?" lontar Sri Utami.
"Aku bahkan tidak berpikir memiliki wanita lebih dari satu," ujar Rahman sambil tersenyum.
"Baiklah, kapan kita akan menikah?" ujar Sri Utami memberanikan diri memutuskan menerima Rahman.
"Benarkah Sri?" ucap Rahman tidak percaya.
*****
Sri Utami berlari memasuki halaman rumah Ryosuke sambil membawa bungkusan berisi pakaian pesanan Ryosuke. Sri Utami terduduk lemas melihat mobil Ryosuke tidak berada ditempatnya. Lamaran tiba-tiba Rahman membuatnya terlambat menemui Ryosuke terakhir kalinya.
Kakinya perlahan mendekat ke arah pintu rumah yang sudah sepi. Air matanya menetes merasa kesal, kecewa, sedih karena tidak menjumpai Ryosuke untuk terakhir kalinya, dan benar-benar tidak akan melihatnya lagi. Sri Utami berjongkok menanggis membelakangi pintu.
Seorang wanita berpakaian kebaya sedehana, membuka pintu saat mendengar suara isak tangisan seseorang.
"Sri?" tanya membuat Sri Utami bangkit dan menatap pembantu sinis tersebut.
"Tuan Ryosuke menunggumu begitu lama, tapi dia orang tepat waktu, dia sudah berangkat!" ujar pembantu tersebut.
"Iya aku terlambat!" ucap Sri Utami.
"Ooh. Ini dia menitipkan sesuatu untukmu!" ujar pembantu tersebut sambil menyerahkan surat dan pakaian kimono.
Sri Utami menerima surat dan kimono tersebut, dan air matanya terus menetes, masih merasa bersalah pada Ryosuke.
******
Untuk Sri,
Kalau kamu menerima surat ini, tandanya aku sudah berada di atas awan. Sri, kamu adalah orang pertama yang menanggisi kepergianku. Aku tidak pernah bertemu wanita selembut kamu. Seandainya pertemuan kita lebih awal, aku ingin banyak menghabiskan waktu denganmu, aku akan terus menganggu kamu Sri, sampai kamu marah. Aku sangat ingin menikahimu, tapi aku seorang tentara yang harus patuh dan mengemban tanggungjawab, hidupku dan nyawaku milik negaraku Sri. Tapi aku bersyukur didetik kematianku, aku merasakan jatuh cinta. Kamu adalah wajah terakhir yang akan dilihat bola mataku. Pakailah kimono itu saat kamu merindukan aku.
__ADS_1
Surat itu dilipat kembali oleh Sri Utami, matanya sembab membaca setiap bait kalimat yang ditulis oleh Ryosuke. Memang benar, beberapa orang akan pergi dari hidupmu, tapi itu bukan akhir dari ceritamu. Tapi akhir dari bagian mereka dalam ceritamu.
BERSAMBUNG...