
*****
Sarapan pagi seperti biasanya,namun sarapan kali ini tidak lengkap disebabkan Raka belum turun dari kamarnya, sukuna dan Lisa juga heran,ada apa gerangan dengan anak itu? Karena penasaran, sukuna menyuruh bibi yg berkerja di rumah itu untuk melihat sekaligus bertanya ada dengan Raka.
Dalam kamar raka....
Tok! Tok!
"Siapa?"
"Saya bibi Ira tuan" saut bibi dari luar kamar
"Masuk!"
BI Ira pun masuk sesuai arahan Raka, saat masuk ke dalam sana ia mendapati Raka masih berbaring di atas tempat tidur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Maaf tuan. ini sudah jam sarapan pagi. Tuan besar menyuruh ku untuk melihat tuan Raka, dia juga menyampaikan pertanyaan, katanya kenapa tuan tidak turun sarapan pagi seperti biasanya? Apa tuan tidak enak badan?"
Raka membuka selimut sampai setengah badannya
"Bi, bawakan saja makanannya kemari,dan bilang padanya, ITU BUKAN URUSANNYA!" ucapnya nada menekan di tiga kata terakhir
"Baik tuan"
BI Ira pun pergi menyampaikan pesan Raka pada sukuna.
"Apa yg dia katakan?" Tanya sukuna semakin penasaran
"Den Raka bilang....." Ujarnya lalu mengambil pose untuk berusaha meniru raka
"ITU BUKAN URUSANNYA!"
Pfttt!! Lisa berusaha menahan tawa melihat bibi Ira menirukan ekspresi Raka maupun nada bicaranya. Sukuna sekejap menoleh ke arah istrinya merapatkan bibir lalu kembali menatap ke arah bi ira
"Itu yg dia katakan?"
BI Ira mengangguk-anggukan kepala beberapa kali "iya tuan"
"Katakan padanya, dia harus turun Sekarang untuk sarapan bersama kami"
"Baik tuan"
Sebelum naik kembali menyampaikan pesan,bi ira mengambil beberapa makanan dan minum meletakkan nya di atas nampan bermaksud membawakannya untuk raka.
"Apa yg kau lakukan? Untuk siapa makanan itu?" Tanya sukuna
"Untuk Den Raka tuan"
__ADS_1
"Jangan bawakan makanan untuknya!"
"Tapi tuan, den Raka yg memintaku untuk membawanya"
"Aku bilang tidak ya tidak, suruh dia sarapan disini"
"Baik Tuan" jawab BI Ira menurut dan sedikit ketakutan dengan nada bicara sukuna
Ia pun kembali menaruh nampan dia tas meja yg tadinya ia angkat.
Bibi Ira walaupun sudah penat naik turun tangga beberapa kali,dia harus tetap menuruti perintah Tuannya, dia takut jika dia tak menurutinya dia akan dipecat.
Tok! Tok!
"Masuk"
BI Ira pun masuk dengan gelagapan sebab ia tak membawa makanan seperti yg diperintahkan Raka padanya
Raka menatap mencari sarapan yg ia minta untuk dibawakan,namun ternyata tak ada satupun yg dipegangi oleh BI Ira
"Mana makanannya?" Tanya Raka
"Maaf tuan, tuan besar menyuruh ku untuk tak membawanya, dia bilang tuan harus sarapan di bawah,bukan di kamar"
Raka terdiam sejenak,mimik wajah datarnya berubah menjadi sedikit kesal, dikarenakan dia tak ingin menyusahkan bibi Ira terus naik turun tangga hanya untuk menyampaikan pesan perdebatan tak penting ini,dia pun menyerah untuk itu
"Baik Bi, katakan padanya aku akan segera turun" ucapnya bangun dari tempat tidur
"Baik tuan"
Raka sarapan seperti biasanya,tak ada obrolan, tak ada tatapan langsung, sampai sarapan selesai.
Setelah selesai sarapan Raka kembali menaiki tangga menuju kamarnya, sukuna dengan Lisa menatap langkah Raka sampai ke dalam kamar, mereka semakin heran,kenapa dia tak keluar rumah seperti biasanya? Mereka berdua saling menatap bingung, Lisa mengangkat kedua bahu ke atas sembari tersenyum miris setelah melihat tingkah Raka hari ini.
Di hari kedua Raka masih tak keluar rumah. dia benar-benar istirahat seperti yang diperintahkan dokter dan teman-temannya. sementara Lisa yang semakin penasaran dengan Raka, dia pun memilih untuk bertanya padanya secara langsung.
Dengan pekerjaan wanita itu yg hanya menghabiskan uang,tentunya tak ada yang bisa menghalangi dirinya untuk melakukan apapun yang dia mau.
Tok!!Tok!!
Mulut Raka berdecak kesal mendengar ketukan pintu yang sangat mengganggu tidur siangnya
"Siapa?"
"Ini Lisa, Apa aku boleh masuk?"
Raka refleks tertegun mendengar suara nenek lampir itu
__ADS_1
"Tidak!"
"Akhirnya kau bicara juga padaku"
"Sialan" gumam Raka
"Baiklah jika aku tak boleh masuk,aku akan masuk sendiri" ujarnya sembari membuka pintu yang tak terkunci
Mata Raka melotot setelah sadar bahwa pintu kamarnya benar-benar tak terkunci, dia mencoba berlari untuk mengunci pintu berharap masih sempat, namun sayangnya Lisa keduluan masuk dibanding Raka yang mencoba untuk mengunci pintu. Mereka hampir saja bertabrakan, Tanpa berkata-kata Raka langsung mendorong Lisa untuk mengeluarkan wanita itu dari kamarnya, tetapi Lisa tidak mau kalah,ia pun juga ikut mendorong dengan sekuat tenaga,ia mendorong dirinya masuk melawan dorongan keluar Raka. pria itu yang masih lemas dikarenakan baru saja bangun dari tidurnya ditambah kondisinya yang belum sepenuhnya pulih membuatnya kalah oleh dorongan wanita tersebut.
Mereka berdua terjatuh duduk di atas lantai. Posisi mereka di luar dugaan, Lisa dengan kikuk tak tahu harus bergerak bagaimana untuk melepaskan diri dari kecanggungan ini.
"Hei nenek lampir minggir dari atasku!" Ucap Raka dengan wajah dingin
Perasaan wanita ini yang tadinya deg-degan,kini ekspresinya langsung berubah dengan mengerutkan kening mendengar panggilan Raka padanya yang tak pantas dan tidak cocok sama sekali untuk dirinya yang cantik jelita, itu menurut nya.....
Lisa berdiri dengan perasaan kesal sembari mendengus. Raka menyusul berdiri setelah Lisa,wanita itu terdiam sejenak mencoba mengatur emosi nya
"Setelah sekian lama akhirnya kau bicara juga denganku" ucap Lisa tersenyum sinis mencoba memanas-manasi Raka untuk membalas perkataan anak itu
Kali Ini Raka bukannya tersinggung dengan perkataan Lisa,dia malah tak menjawab,dia tak memberi respon apapun, mau itu ekspresi kesal ataupun perdebatan kata. Dia hanya berjalan mengambil beberapa baju ganti dan menaruhnya ke dalam tas tanpa peduli apapun yg dikatakan wanita gila itu. ia Kemudian memakai jaket biasa dan celana panjang lalu meraih kunci mobil pribadi nya.
Wanita yg diacuhkan tersebut mengerutkan kening melihat Raka sedang mengemas seperti orang yg ingin pergi dari rumah
"Kau mau ke mana?" Tanya Lisa
Raka tak menjawab, Iya melainkan berjalan melewati wanita itu keluar kamar dan meninggalkan wanita Tersebut sendirian di dalam sana. Lisa menghentakkan kaki beberapa kali sembari mendengus kesal layaknya seperti tingkah anak kecil yang tak dituruti maunya.
****
Raka mengemudi mobil dengan kecepatan normal untuk mencegah terjadinya kecelakaan, tentunya itu dia lakukan agar kejadian kecelakaan tak terulang kembali. Tujuannya saat ini adalah rumah Ivan, dia sebenarnya masih ingin beristirahat di rumah untuk memulihkan diri dan kekuatannya, Namun karena si nenek lampir itu mengacaukan semuanya, Raka jadi terpaksa untuk meninggalkan rumah.
Tok! Tok!
Ceklek! Pintu terbuka
"Eh kawan! Kenapa kau kemari, Bukankah aku sudah bilang kau harus banyak istirahat di rumah" oceh Ivan
Raka menghela nafas berat
"Bukannya disambut dengan bahagia,malah langsung dapat ocehan darinya" ucap Raka dalam hati
"Mau kau memang begitu, tapi si Lisa mengacaukan semua istirahatku"
"Oh iya van, boleh aku numpang mandi?"
"Boleh, tapi-"
__ADS_1
"Ayo masuk dulu, mengobrolnya di dalam saja" ucapnya memotong pembicaraan Ivan seraya mendorong pria itu masuk ke dalam rumah kemudian menutup pintu
Raka masuk dengan tak sabaran karena sudah merasa sangat pengap berada di luar dengan terik matahari yang sangat panas.