Dia Milikku!!

Dia Milikku!!
Bab 9 Uang dalam tas


__ADS_3

Pria yg kepanasan itu melempar tas yg berisi pakaian ke atas sofa kemudian mereka berdua pun duduk di sofa panjang yg sama,Raka bersandar di sofa dengan leganya


"Tapi dokter mengatakan kau tak boleh mandi dalam 5 hari ke depan, ini baru 2 hari. kalau kau mandi sekarang luka mu bisa terbuka"


Raka mengibas ngibaskan tangan sebab terlalu pengap


"Aku tidak peduli lagi, Hari ini aku akan mandi, seluruh tubuhku sudah lengket karena keringat. badanku sudah sangat panas kau tau"


Ivan jadi tersinggung dengan kalimat itu


"Sialan kau Raka, aku memang sudah pernah bilang berkali-kali padamu kan,bahwa rumahku tak ada AC, jadi kau tidak usah banyak protes"


Raka melirik pada Ivan, Ia melihat Ivan benar-benar terlihat kesal, itu bisa dilihat dari ekspresinya. Raka mendekat dan merangkul pada Ivan


"Maaf kawan, Jika kau tak ingin mendengar kalimat pedas dari mulutku, sebaiknya kau mengizinkanku mandi di rumah mu" bujuk Raka


Ivan melepaskan rangkulan Raka dengan menghempaskan tangan pria itu perlahan,ia meringis jijik dengan keringat Raka yg benar-benar sudah bercucuran. Namun dia juga tak boleh main mengizinkan Raka mandi tanpa persetujuan dokter.


"Jika kau ingin mendapat izin, Mintalah pada dokter bukan padaku"


Mulut Raka berdecak seraya memutar bola mata malas karena Ivan yg terlalu serius menanggapi itu. ia mengambil tas miliknya lalu berdiri dari duduk dan berjalan menuju kamar mandi tak peduli lagi dengan ocehan Ivan.


"Ya mandilah sana!! Setelah mandi bayar aku!! sekalian beli lah AC untuk rumah ku ini! Kau kan anak orang kaya!!" Teriak Ivan mencoba membuat Raka kesal dengan harapan agar Raka tak jadi mandi


"Ya kau tenang saja kawan!!" Teriak Raka menjawab


Ivan tersentak tak percaya dengan jawaban raka, itu di luar ekspektasi nya


"Padahal kan aku hanya asal bicara" gumam Ivan bingung sendiri sembari menggaruk kepalanya yg tak gatal


******


Raka menghela nafas lega setelah mandi


"Setelah mandi tubuhku jadi terasa ringan" pria itu bergumam sendiri sambil menggosok rambutnya yg masih basah menggunakan handuk


Saat sampai di ruang tamu,ia mendapati Ivan tak ada di sana. Raka ter plango plongo bingung memikirkan kemana perginya anak itu.


"WOI!!" Suara halus namun terdengar horor memasuki telinga raka


"ALLAH AKBAR!!"teriaknya melompat terlonjak kaget


"Kaget? Kasihan" ucap Ivan puas lalu berjalan kembali duduk di atas sofa kemudian menyalakan tv


Raka menghela nafas lega, dia lalu berjalan dan duduk di sofa yg lain. tanpa peduli dengan tingkah Ivan yg baru saja mengerjainya tadi, ia kembali menggosok rambut dengan handuk sampai setengah kering. sungguh ia sama sekali tak marah dengan tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


Setelah selesai dia menatap handuk itu sekejap, di saat yg bersamaan itu juga ide langsung terlintas dipikirannya, ia menatap handuk dan wajah Ivan secara bergantian kemudian disusul dengan senyum jahat.


Handuk yg setengah basah itu Raka lemparkan dengan sekuat tenaga ke wajah Ivan.


Ivan sampai kaget dengan handuk yg tiba-tiba mengenai wajahnya saat sedang serius menonton tv.


Ia melepaskan handuk itu dari wajahnya dengan kesal, matanya langsung mengarah menatap tajam pada Raka yg langsung menjadi tersangka utama. pria yg tersangka itu terlihat tengah menonton tv seolah-olah tak terjadi apa-apa. Wajahnya hanya terlihat datar seperti biasa, wajahnya tak memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun sama sekali.


"Wajah ku ini bukan tempat mengeringkan pakaian. kau kering kan di luar, sana! Jangan kau letakkan sembarang tempat,nanti yg ada menyebabkan bau yg tak enak" oceh Ivan melemparkan handuk kembali pada raka


Raka tertawa kecil dengan suara yg kecil juga,Raka pun mengeringkan handuk di luar terik matahari. Mereka bersantai dengan memakan beberapa camilan sembari menonton tv. Di tengah-tengah keseruan itu Raka teringat sesuatu


"Eh Ivan! Dimana uang hasil balapan liar ku?" Tanya Raka tiba-tiba


Ivan menatap bingung dan mengingat ingat uang mana yg Raka maksud


"Yang yg mana?"


Raka berdecak


"Sebelum terjadi nya kecelakaan, aku mengikuti balap liar, dan aku memenangkan nya, nah sekarang dimana uang itu?"


"Ohhh!!" Saut Ivan sudah ingat sesuatu


"Orang yg mengantarmu ke rumah sakit memberikan ku tas yg berat,katanya itu milikmu. aku hanya mengambil nya dan........"


"Dan sejak kapan kau menyukai tas warna pink?"


Raka mendesis kesal mendengar kata warna pink itu


"Diamlah,katakan saja dimana tas itu sekarang?"


"Ada di dalam kamarku" jawabnya tak menengok ke rah Rama melainkan menonton tv dengan serius


Raka gercep langsung berdiri dan mencari tas miliknya di dalam kamar Ivan


"Hei! Kau jangan mengacak-acak kamarku! Tas mu ada di bawah kolong tempat tidur!" Saut Ivan memperingati serta memberi tahu


Raka menunduk melihat ke bawah kolong tempat tidur,saat menunduk yg ia lihat hanya lah sampah yg berserakan di bawah sana serta beberapa kantung hitam entah apa isinya


"Dimana!? Aku hanya melihat sampah dan Gresek hitam dibawah sini"


Ivan yg tengah asik menonton tv dengan serius memutar bola mata malas Sembari menghela nafas berat terpaksa berdiri dari duduk untuk memperlihatkan Raka dimana letak tas pink itu.


Ivan ikut menunduk dan pada akhirnya dia sendiri juga yang mengambil tas itu

__ADS_1


"Ini ambil tas mu" Ucapnya memberi Gresek hitam besar kepada Raka


Raka dengan cepat membuka ikatan Gresek itu, ternyata isinya adalah tas pink miliknya. Ia lalu menarik tas itu keluar dari Gresek


Untuk memastikan apa isinya masih aman, dia pun membuka dan melihat, Raka menghela nafas lega setelah melihat uang itu masih ada di dalam sana


Pria yg penasaran dengan isi tas itu menyipitkan mata melihat ekspresi Raka sangat serius saat mencari tas tersebut. Itu karena Ivan belum pernah membuka isi tas itu. Dia tidak berani untuk itu.


Sebab penasaran Ivan menyondongkan badan melihatnya, seketika mata Ivan langsung melotot kaget melihat jumlah uang yg sangat banyak berada di tas yg sedikit lagi hampir memenuhi tas itu. Dia belum pernah melihat uang sebanyak itu semasa hidupnya


"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Tanya Raka heran seraya menutup tas kembali


"I-itu u-uang dari m-mana?" Tanya balik Ivan dengan gagap


"Sudah kubilang kan ini uang hasil balapan liar ku" jawab Raka jujur


Ivan refleks memegangi kedua bahu Raka dengan keras sembari menggoyang-goyangkan nya


"Raka ajarkan aku balapan!" Ucapnya tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang sangat serius


Raka lagi-lagi mengerutkan kening


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk mendapatkan uang"


Raka bukannya menerima tawaran tersebut ia malah tertawa mendengar Ivan mengucapkan itu


"Kenapa pulak kau tertawa?"


Raka setelah puas tertawa mulut nya kemudian berdecak beberapa kali seraya menggelengkan kepala merasa miris dengan ucapan Ivan


"Bukankah kau yg pernah bilang padaku bahwa kau tak akan pernah mengikuti balapan liar,dengan alasan bahwa itu adalah penghasilan uang haram. Apa kau tak ingat itu?" Ujar Raka sembari menyengir mengejek


Ivan berdecak satu kali dengan kesal melepaskan pegangan tangan nya dari bahu pria yg ada didepannya


"Yah......soal itu...." Gumam Ivan dengan mata yg jelalatan kesana kemari tak tau harus mengatakan apa lagi


"Sudahlah,lagi pula kau tak akan pernah bisa mengalahkan rekor ku. Apa kau pikir melakukan balapan itu mudah?padahal Kau bisa saja kecelakaan loh, atau terjatuh dari motor saat balapan,dan bisa saja mati di tempat"


Ivan meninju perut Raka satu kali


"Aww!"


"Kau jangan sembarang bicara,apa kau menyumpahi diriku!?" Ucap Ivan semakin kesal

__ADS_1


Mulut Raka melengkung membentuk senyuman,bahkan matanya ikut melengkung membentuk senyuman


"Maaf"


__ADS_2