Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 16


__ADS_3

"Ya Allah… kenapa hari ini aku meski bertemu dengan pria itu lagi sih, semoga saja aku enggak sial gara-gara bertemu dengan pria yang telah merenggut ciuman pertamaku," gerutunya Ariestya salah satu sahabat Arifah Azizah Oktarani Zainul.


Hingga ia tidak menyadari dengan langkahnya sendiri dan melupakan untuk mengucapkan salam ataupun meminta ijin terlebih dahulu sebelum memasuki area rumah orang lain saking jengkelnya dengan keadaan yang terjadi padanya. Disebabkan oleh pertemuan keduanya dengan seorang pria yang mampu membuatnya kehilangan kewarasannya dalam sekejap.


"Maaf Anda cari siapa yah?" Tanyanya Bibi Ani yang melihat seorang perempuan berjalan tergesa-gesa ke dalam rumah majikannya itu.


Ariestya Fathia Lubis segera memalingkan wajahnya ke arah samping," maaf saya temannya Arifah Mbak, apa saya boleh bertemu dengan Arifah?" Tanyanya Ariestya sambil cekikikan menertawai kelakuan dan sikap impulsif nya itu.


"Nona Muda ada di dalam kamarnya Mbak Alifah Arsana Mbak, kalau gitu saya akan panggilkan, Anda bisa duduk di sana dulu sambil menunggu kedatangan Nona Muda Arifah," pintanya Bi Ani yang mengusulkan agar Ariestya menunggu di salah satu sofa ruang tamu.


Ariestya tersenyum tipis," makasih banyak Bibi sudah bantuin saya,"

__ADS_1


"Sama-sama Non,"


Sedangkan di dalam ruangan tersebut, seorang perempuan duduk dengan santainya di atas ranjang yang sedang menginterogasi dan mewawancarai seorang perempuan yang hanya terpaut lima tahun darinya itu yang siap-siap menunggu keputusan ketokan palu pengadilan menyatakan jika ia terbebas dari pernikahannya yang seperti neraka itu bersama dengan pria yang bernama Fadil Syam Wahidin.


"Ya Allah… Aunty gercep amat deh sampai-sampai ambil langkah seribu lebih agresif padahal teman aku itu orangnya pendiam, kalem dan tidak banyak macam-macamnya, tapi ternyata bertekuk lutut dihadapan aunty," pujinya Arifah.


"Sahabat kamu itu cukup pandai membahagiakan aku hingga kemampuannya melebihi dari mantan suamiku Fadil loh, goyangannya hot banget lah," ucapnya Alifah blak-blakan.


"Fatir sudah mengkonfirmasi kepada kedua orang tuanya yang masih di tanah suci Mekkah yang melakukan ibadah umroh, katanya insya Allah… setelah balik dari sana mereka akan melamar ku rencananya kami sebelum bulan puasa kami akan menikah pestanya resepsinya nanti setelah idul Fitri saja," jelasnya Alifah yang sudah berseri-seri gembira memikirkan hal itu.


Arifah yang mendengar hal itu segera memeluk adik iparnya sekaligus teman curhatnya tanpa filter itu.

__ADS_1


*Syukur Alhamdulillah… saya turut bahagia mendengarnya aunty, Fatir Muhammad Iqbal itu pria yang baik, penyayang, setia dan insha Allah… aunty cantik akan bahagia jika menikah dengannya," ucapnya Arifah yang sangat antusias.


"Makasih banyak, doakan aku yah semoga semuanya lancar hingga kami resmi menjadi pasangan suami istri, amin ya rabbal alamin,"


"Amin ya rabbal alamin, aku selalu doakan yang terbaik untuk seluruh anggota keluargaku, kalian bahagia pasti aku juga bahagia, tapi jika ayah menikah dengan Aqila Sera Wijaya aku akan menderita dan gila memikirkan itu semua," ucapnya sendu Arifah.


Mereka masih saling berpelukan satu dengan yang lainnya, Alifah menyeka air mata kebahagiaan sekaligus kesedihannya yang datang sekaligus menghampiri hidupnya.


Alifah kembali teringat dengan perkataan dari Uncle Fahmi Idris Sardi Khaerul tentang siapa orang yang paling tepat untuk membantunya memutuskan dan menggagalkan rencana pertunangan ayah angkatnya sekaligus suaminya itu.


"Aunty tapi, aku penasaran kenapa tadi uncle Fahmi ngomong kalau untuk menggagalkan rencana pernikahannya ayah harus meminta bantuan sama Uncle Faiz Aksan, apa maksudnya yah? Saya tidak ngerti loh aunty," tuturnya Arifah.

__ADS_1


"Mungkin kau tanyakan langsung dengan Faiz saja jika kamu penasaran dari arti perkataannya Fahmi, karena terus terang aunty juga kagak mudeng," imbuhnya Alifah yang sama sekali tidak mengetahui permasalahan mereka.


__ADS_2