
"Saya bukan wanita lemah yang mudah kalian tindas begitu saja, saya akan cari waktu yang baik untuk membalas dendam perlakuan kalian ini!" Geramnya Arifah seraya memasak nasi goreng seafood untuk Aura.
Arifah menambahkan sedikit obat pencahar ke dalam nasi goreng itu," berhasil atau tidaknya tergantung dari kondisi tubuhnya Mbak A-u-r-a," ucapnya yang mengeja nama perempuan tidak tahu diri itu harus jadi benalu di dalam rumahnya.
"Andaikan aku tahu jika Ayah sudah menikah dengan wanita lain, aku tidak mungkin terobsesi untuk meminta ayah menikahiku walaupun aku sangat mencintainya, aku masih punya harga diri dan hati nurani seorang perempuan," gumamnya Arifah seraya mengaduk-aduk makanan itu agar tercampur rata dengan spatula.
Berselang beberapa menit kemudian, masakan yang dimasaknya sudah matang berarti waktunya untuk mengantarkan makanan tersebut ke kamar suaminya bersama madunya itu.
"Semoga saja kalian berdua menyukai masakan ala chef Arifah yang begitu lezat dan menggugah selera makan bagi siapa saja yang melihat dan mencium aroma wangi dari nasi goreng seafood buatan ku khusus untuk Aura Ramdani dengan Fauzi As'ad Anwar," cicitnya Arifah yang tersenyum penuh maksud itu yang sudah membayangkan bagaimana reaksi keduanya setelah menghabiskan sepiring nasi goreng hangat plus pelengkapnya sambal terasi dengan kerupuk udang kesukaannya Fauzi.
Arifah segera menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati mengingat perutnya yang membesar itu sehingga membuat pergerakannya terbatas. Arifah berjalan ke arah atas tangga karena bersiap membawakan masakan request dari Aura istri sah suaminya itu. Dengan nasgor yang sudah tercampur manis dengan obat pencahar yang akan membuat keduanya bergoyang.
"Ternyata seperti ini dulu ketika mami Aliya mengandungku,thank you so much mami Aliya atas pengorbananmu hingga aku bisa terlahir ke dunia ini, besok insya Allah… aku akan berziarah ke makamnya mami dan papi Zainul, aku merindukan kalian berdua," cicitnya Arifah yang terus menapaki satu persatu undakan tangga itu hingga kakinya sudah berada di depan pintu masuk kamar pribadinya Fauzi ayah angkatnya itu.
Hingga kedua panca indera pendengarannya, mendengar suara seseorang yang mampu membuatnya marah dan kesal.
"Kenapa nggak sekalian memakai mc sih! Agar suara keduanya terdengar keluar hingga ke sekitar wilayah komplek," dengusnya Arifah.
Dengan berat hati,ia mengetuk pintu itu walaupun pintunya tidak tertutup rapat, dengan enggan Arifah berdiri di ambang pintu sambil menunggu suaminya mengambil nampan berisi beberapa makanan itu.
"Tunggu!" Teriak kesal dari arah dalam kamar.
Fauzi segera mencabut benda pusakanya dari dalam sangkarnya itu dengan terpaksa, hanya melilikkan selimut ke sebagian tubuhnya itu.
"Maaf ganggu permainan kuda-kudaannya, ini nasi goreng pesanan Mbak Aura sudah jadi, entar keburu dingin loh kalau dingin enggak enak lagi rasanya," imbuhnya Arifah yang berusaha untuk tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya itu.
Arifah sekuat tenaga berusaha untuk tersenyum walaupun dalam hatinya berteriak frustasi dan sedih serta kecewa dan benci bersatu padu dalam benaknya itu.
__ADS_1
Aura memperhatikan raut wajahnya Arifah yang tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya, ia membayangkan Arifah menangis tersedu-sedu dan ketar ketir perasaannya karena melihat kegiatan panas keduanya. Tetapi, dugaannya salah besar apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan faktanya di lapangan.
Aura meremas dengan kuat badcovernya itu," ish dasar bermuka dua, kenapa juga ia tidak menangis atau bertindak kasar padaku setelah melihatku seperti ini, sial aku kali ini gagal, terbuat dari apa sih hatinya sampai-sampai sekuat ini menahan amarahnya," umpat Aura yang duduk di atas ranjang dengan melilitkan bedcover ke dalam tubuhnya itu.
"Selamat menikmati masakan khusus buatan ku dengan sepenuh hati aku memasaknya semoga sesuai dengan lidahnya ayah dan Mbak Aura, kalau gitu aku pamit dulu ayah mau ke pasar soalnya sudah pagi juga, assalamualaikum," pamitnya Arifah yang tersenyum tapi, hatinya menjerit melihat pria yang masih disayangi dan dicintainya itu berduaan dengan wanita idaman lain suaminya.
Arifah bersenandung kecil mendendangkan sebuah lagu gembira yang tidak mencerminkan dan menggambarkan isi hatinya yang begitu hancur lebur tak berbentuk hingga,ia kesulitan untuk membedakan apakah ini rasa cinta ataukah rasa benci yang dia rasakan.
Arifah berjalan kaki menunggu angkutan umum, karena ia tidak mungkin naik ojek online dengan perut buncitnya itu. Arifah berjalan kaki sambil sesekali menyapa beberapa orang yang kebetulan lewat dan berpapasan dengannya.
"Saya yakin obat itu sudah bereaksi, semoga saja kalian menikmati dengan nyaman masakanku itu," cicitnya Arifah sambil menolehkan kepalanya ke arah rumahnya.
Ada beberapa orang yang iba melihat ketidakberdayaan dan kondisinya itu. Ada juga sebagian no komentar dengan apa yang sudah terjadi dengan nasib malang yang dialami oleh Arifah, bahkan ada yang mencibirnya dengan pilihannya sendiri.
Tapi, semua itu ia balas dengan senyuman saja. Walaupun ia sering menangis,kecewa tapi, tetap berusaha untuk tegar menghadapi ujian hidupnya yang begitu memilukan.
Arifah sesekali berdiri sesekali duduk menunggu kedatangan busway atau mobil angkot. Tetapi hingga beberapa menit kemudian, satupun kendaraan belum ada yang melewati jalan itu. Hingga suara deru mesin motor berhenti di belakangnya.
"Waalaikum salam, maaf siapa?" Pertanyaannya menggantung setelah Arifah melihat dengan jelas siapa pria yang berdiri di sampingnya dengan senyuman termanisnya yang dia berikan khusus untuk Arifah.
"Akhirnya ketemu lagi, ngomong-ngomong berapa bulan sudah perutmu? Hingga kamu berani banget keliuran ke sana kemari,wara wiri dengan perut buncitmu itu," ucapnya Fajar Arthur Prayoga.
Pria yang beberapa bulan lalu sekitar lima bulan lalu itu sempat menolongnya, ketika tiba-tiba mesin motornya mogok di tengah jalan ketika pulang dari tempat kursus masaknya di hari pertamanya itu.
"Mas Fajar? Benar gak tebakanku," ujarnya Arifah dengan ramah.
"Betul sekali tebakannya, ternyata daya ingatnya tajam juga," candanya Fajar.
__ADS_1
"Mas Fajar juga daya ingatnya bagus loh, masih ingat dengan jelas namaku sampai nyebutnya lengkap segala," balasnya Arifah dengan candaan pula.
Fajar tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari Arifah perempuan yang semakin membuatnya penasaran untuk lebih dekat dengannya.
"Ngemeng-ngemeng neng geulis mau kemana? Baru jam enam pagi sudah berdiri di halte bis,"
"Saya mau ke pasar Mas, kebetulan kebutuhan pokok di dapur stoknya sudah habis, jadi sekalian jalan-jalan santai sambil mencari udara segar di luar," tuturnya Arifah.
Fajar diam-diam memperhatikan raut wajahnya Arifah dan ada setetes embun di ujung pelupuk matanya yang belum sempat Arifah seka. Fajar refleks segera membantu menyeka sisa tetesan air matanya itu. Arifah yang diperlakukan manis seperti itu hanya bereaksi terdiam tanpa penolakan atau pun memberontak disentuh oleh pria lain yang bukan suaminya ataupun saudaranya sendiri.
Arifah seolah terhipnotis dan hanyut dalam perhatian tulus yang diberikan dan ditujukkan oleh Fajar kepadanya itu. Arifah segera tersadar dari sikapnya yang menurutnya kelewatan itu.
"Maaf,saya sudah lancang menyentuhmu, saya hanya salah lihat tadi saya kira ada kotoran yang menempel tapi ternyata saya keliru," kilahnya Fajar.
"Tidak apa-apa kok Mas," sanggahnya Arifah.
Suasana di tempat itu menjadi canggung, keduanya menjadi salah tingkah hingga sebuah busway berhenti tepat di depan keduanya itu.
"Maaf aku pamit dulu yah Mas Fajar," assalammualaikum,"
Arifah berjalan terburu-buru masuk dalam bis tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun ke arah Fajar yang masih terdiam membisu.
"Aku sudah mengetahui apa yang terjadi padamu, sungguh malang nasibmu diusianya yang baru dua puluh tahun sudah dihadapkan pada situasi yang sungguh pelik,"
Sedangkan di tempat lain, Fauzi sudah hampir empat kali keluar masuk toilet, setelah menyantap makanan yang dibuat spesial oleh Arifah. Tetapi, keduanya sama sekali tidak mencurigai jika arifah memasukkan benda asing ke dalam makanannya itu.
"Ini sih gara-gara ulahnya Mas sendiri yang makan sambel kebanyakan, coba tadi Mas dengerin perkataan ku pasti tidak akan seperti ini jadinya," dengusnya Aura yang jengkel melihat Fauzi yang seperti itu karena kegiatan keduanya tidak tuntas hingga membuat Aura kalang kabut.
__ADS_1
"Kamu bukannya dicariin obat malah hanya ngomel-ngomel gak jelas saja," sarkas Fauzi yang raut wajahnya sudah pucat pasi dengan keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu.
Sedangkan Arifah sesekali tertawa cekikikan jika membayangkan apa yang terjadi di dalam kediaman peninggalan kedua orang tuanya itu. Walaupun, salah sasaran tapi setidaknya rencananya berhasil sukses besar. Apa yang dilakukan oleh Arifah mendapat pelototan dari beberapa orang-orang yang kebetulan bersamanya di atas bis.