Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku

Dia Suamiku Bukan Ayah Angkatku
Bab. 48


__ADS_3

Arifah menjadi salah tingkah dengan apa yang dilakukan oleh Fajar yang sejak dia keluar dari dalam kamar pas, tatapan matanya seolah tak pindah dari wajahnya. Arifah segera memperhatikan dengan seksama tubuhnya dari ujung hijabnya hingga ujung gaunnya paling terbawa.


"Mas apa ada sesuatu di wajahku atau aku tidak cocok memakai pakaian semahal ini?" Tanyanya Arifah yang mulai tidak percaya diri dan kecewa karena dia mengharapkan dari Fajar pujian seperti yang dia dapatkan dari beberapa pegawai butik yang membantunya untuk berganti pakaian gaun pengantinnya.


Fajar sudah berdiri di depan perempuan yang sangat cantik di matanya yang selalu cantik dan tidak pernah pudar kecantikannya dimatanya Fajar Arthur Prayoga CEO muda yang cukup terkenal di Indonesia hingga ke mancanegara terutama daerah Eropa, Asia dan Timur Tengah.


Fajar langsung spontan meraih kedua tangannya Arifah kemudian langsung mencium punggung tangannya Arifah penuh dengan kasih sayang.


"Aku sama sekali tidak melihat kejelekan, keburukan dan kekurangan dari dirimu, semua yang ada pada dirimu aku sangat menyukai dan memujamu, jadi jangan sekali-kali pernah berfikiran kamu itu jelek di mataku karena selamanya kamu adalah bidadari surgaku," tukasnya Fajar.


"Mas Fajar terlalu memuji hingga membuatku seolah terbang melayang tinggi ke langit tingkat tujuh, saking bahagianya aku mendengar segala pujian yang aku dapatkan," ujarnya Arifah yang tersenyum penuh kegembiraan mendapatkan perlakuan romantis dan manis dari calon pendamping hidupnya itu.


"Arifah Azizah Oktarani Zainul mungkin aku tidak sempurna tapi, cintaku padamu sungguh luar biasa hingga hidupku serasa tidak ada artinya tanpa cinta dan kasih sayangmu padaku," ujar Fajar yang membuatnya semakin tersipu memerah menahan rasa malunya dan groginya itu.


Arifah tidak tahu harus berbicara seperti apa lagi setelah mendengar semua ungkapan hati dan perasaannya Fajar pria yang terang-terangan di depan umum menyatakan rasa cintanya itu.


"Kalian berdua memang pasangan yang sangat serasi dan cocok, perempuan cantik bak ratu dan prianya raja penguasa seluruh negeri dongeng, madam berharap dan berdoa semoga pernikahan kalian langgeng hingga kakek nenek dan sakinah mawadah warahmah," ucapnya Madam Maryam yang sudah berdiri di samping keduanya.


Arifah tersenyum lebar," Madam bisa saja, Alhamdulillah makasih banyak atas segala pujiannya dan juga sudah buatkan aku gaun pengantin yang sangat cantik dan bagus ini hingga aku nampak seperti Permaisuri dari kerajaan Inggris saja, aku sangat menyukai hasil jahitannya Madam," pujinya Arifah sambil memeluk tubuhnya Madam Maryam.

__ADS_1


"Madam doakan yang terbaik untuk kalian pak Fajar gaunnya akan kami kirim besok pagi langsung ke kediaman Anda," imbuhnya Bu Maryam.


"Makasih banyak atas bantuannya Madam, Anda terlalu melebih-lebihkan padahal aku itu perempuan biasa saja, saya sungguh terharu dan bahagia mendapatkan pakaian yang sungguh berkualitas bagus dan elegan benar-benar aku seperti calon istri anak sultan saja," candanya Arifah.


"Sama-sama cantik kamu memang pantas untuk mendapatkan semua ini karena kamu perempuan yang baik dan sholehah," pungkasnya Madam Maryam yang berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia.


Ucapannya Madam yang tidak fasih dan tergagap dalam berbicara membuat Arifah dan Fajar tersenyum penuh kebahagiaan dan tangan keduanya saling mengapit satu sama lainnya tanpa keduanya sadari. Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah berpamitan kepada Madam Maryam pemilik butik Azzahrah. Tujuan selanjutnya keduanya adalah akan mendatangi salah satu toko perhiasan emas untuk mengambil pesanannya Fajar beberapa hari yang lalu.


Arifah kembali terperangah dan terbelalak melihat tempat selanjutnya yang mereka kunjungi setelah dari butik ternama. Yaitu, Mall mewah dan terlengkap yang ada di kota besar London. Bukannya Arifah tidak pernah mengunjungi tempat semewah seperti itu, melainkan karena diluar ekspektasinya sendiri yang tidak berfikir akan diajak oleh Fajar ke tempat seperti itu.


"Mas Fajar sekaya apa sih sampai-sampai masuk ke tempat mahal seperti ini padahal dengan gajinya yang standar bahkan bukannya aku sombong malahan, apa yang aku punya lebih banyak lah,kalau memesan cincin disini dan uangnya tidak cukup mau tidak mau aku pakai uangku, kalau gitu itu namanya bunuh diri gak sih," cicitnya Arifah yang mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya Fajar yang diluar dugaannya.


Fajar sama sekali tidak terganggu dan terusik oleh pandangan matanya Arifah yang berubah-ubah itu. Malahan dia tersenyum melihat tingkah lakunya Arifah yang sudah dipahami oleh Fajar.


"Selamat datang Nyonya dan Tuan," sapanya pegawai toko perhiasan itu.


Fajar dan Arifah hanya tersenyum menanggapi sapaan ramah dari semua pegawai yang melihat kedatangannya.


"Apa cincin yang sudah saya pesan sebulan yang lalu sudah jadi?" Tanyanya Fajar ketika sudah duduk di hadapannya penjaga toko yang menjaga deretan banyaknya jenis dan macamnya emas yang terpajang di dalam etalase kaca yang cukup mewah.

__ADS_1


"Atas nama siapa pak?" Tanyanya balik pegawai toko pria itu.


"Atas nama Fajar Arthur Prayoga dari Jakarta, Indonesia," jawabnya Fajar sembari tersenyum tipis.


Pegawai itu segera menghubungi manajer tokonya, karena belum terpajang di dalam etalase.


"Welcome Tuan Muda Fajar, maafkan akan keterlambatan pelayanan kami Tuan Muda, karena saya pikir hari ini Anda belum datang berkunjung," kilahnya manajer perempuan itu yang segera berjalan ke lemari khusus penyimpanan emas yang berkualitas bagus, premium, limited edition dan pastinya hanya beberapa yang dibuat khusus untuk orang-orang tertentu saja.


Arifah hanya terdiam dan sesekali tersenyum ramah dan manis menanggapi perkataan dari beberapa pegawai yang mengajaknya berbicara. Sehingga beberapa pegawai toko saling berbisik-bisik dan menganggap bahwa Arifah itu tidak bisa dan tidak fasih berbahasa Inggris, bahkan parahnya lagi dia dianggap bisu dan gagu.


"Cantik-cantik tapi sayangnya rada-rada bego yah, punya calon suami yang ganteng dan tajir seperti itu membuat prianya rugi deh punya tunangan yang bego dan kampungan," ucapnya sinis beberapa orang yang menatap mencemooh ke arah Arifah yang santai diperhatikan seperti itu.


Fajar hendak berdiri dan menghampiri beberapa pegawai itu, tapi segera dicegah oleh Arifah sendiri dengan menggelengkan kepalanya dan memegang tangan kanannya Fajar.


"Tidak perlu repot-repot Mas ladeni mereka yang kurang kerjaan, biarkan manajernya yang beraksi untuk menegur kedua perempuan kurang dihajar itu," ucapnya Arifah dengan tenang sambil berjalan ke arah menejer toko emas tersebut.


Fajar tidak lagi mencegah ataupun menghalangi Arifah untuk beraksi memberikan pelajaran yang berharga kepada mereka.


Arifah berbicara sesuatu kepada manajer dalam bahasa Inggris dan mengungkapkan ketidaknyamanannya selama berada di dalam toko itu dan melaporkan tindakan kurang mengenakkan tersebut.

__ADS_1


Kedua pegawai itu sungguh terkejut mendengar perkataan dari Arifah yang sangat fasih berbahasa Inggris dengan lancar tanpa tergagap sedikitpun.


Arifah berjalan ke hadapan dua orang itu, " aku tidak bego, tuli, gagu juga tapi aku sayang dengan suaraku yang harus berbicara asal saja yang tidak ada faedahnya!"cibirnya Arifah.


__ADS_2